
Membatasi pergaulan Sharen adalah salah satu bentuk bagian dari melindungi Putri cantiknya. Rendra memang cenderung posesif kepada Sharen. Termasuk, menyeleksi teman laki-laki yang berniat mendekati putrinya. Sharen yang cantik dan populer, memang kerap kali menjadi incaran pemuda yang tertarik dengannya. Dari kalangan selebriti, pengusaha muda, hingga putra para pejabat.
Namun, tidak jarang mereka langsung ciut nyali dan mundur teratur ketika mengetahui Daddy Sharen yang seringkali berlebihan memproteksi putrinya. Rendra memang tidak mau jika Sharen terjerumus dalam pergaulan yang dapat merusak masa depannya.
Sharen adalah remaja yang sebentar lagi akan menjadi perempuan dewasa. Sharen bukan gadis polos yang tidak mengenal cinta. Hanya saja, dirinya memang tidak ingin mengecewakan orang tua, terutama Daddy nya. Meskipun, ada satu nama yang sebenarnya sudah mengisi hatinya.
"Halo cantik...., lagi apa..?",
"Lagi dikamar, kakak lagi apa?",
"Lagi ngobrol sama bidadari...",
"Alah..gombal..",
"Beneran...",
"Hmmmm...",
"Kamu kapan mau terima aku Sha..?",
"Nggak capek ya tanya itu terus kak?",
"Sebenarnya aku juga bosen loh nanyain itu sama kamu.., tapi aku nggak mau nyerah..",
"Tunggu Sha lulus SMA ya....",
"Kenapa harus nunggu sih.., kan tinggal 3 bulan lagi Sha..?",
"Ya karena dibolehin pacaran sama Dad, kalo udah masuk kuliah..",
"Jadi kuliah dimana? nyusul aku ya..?",
"Nggak kak.., kuliah disini aja.., Dad ngelarang.."
"Kenapa?",
"Nggak ada yang jagain disana..",
"Kan ada Vano....",
"Vano sebentar lagi lulus, dia mau lanjut S-2 disini..",
"Kan ada aku..",
"Justru itu.., Daddy nggak mau kalo kakak yang jagain Sha.., takut kalo pulang jadi bertiga..",
"Bertiga..?",
"Aku, kak Bian, sama anak kita..",
"Om Rendra nggak percaya sama aku?"
"Mungkin..",
"Padahal aku sama om Rendra udah kenal dari kecil. Dia juga kenal sama papi mami.., kenapa coba..?",
"Tanya sendiri lah sama Dad..",
"Besok aku ke rumah ya..",
"Ngapain?",
"Mau minta restu...",
"Nggak usah ngaco..",
" Serius, kok ngaco?",
"Kak Bian lagi di Aussie..",
"Besok aku pulang..",
"Serius..?",
"Iya sayang..",
"Landing jam berapa?",
"Sore.., jemput ya?",
"Hmmmmm..., boleh..",
"Asyek.., ya udah..istirahat dulu sana. Besok masih sekolah kan, sorenya jemput kakak ya...See you tomorrow..",
"Bye...",
__ADS_1
"I love you..",
"Hmmm.....you...",
"Hahaha selalu kayak gitu, udah deh..aku tuh tau kamu juga love me.., tapi gengsi karena belum pacaran. Diajakin pacaran, nggak mau...",
"Bukan nggak mau, tapi pending dulu..",
"Jadi gimana? love me kan?",
"Iya..., bye..",
"Bye sayang.., sweet dream..",
Mereka berdua dekat, sudah sejak lama, bahkan saat Sharen masih kecil. Bian sudah lama menaruh hati pada Sharen. Namun, sayangnya Sharen belum mau menerima Bian karena Rendra yang melarang putrinya untuk berpacaran. Bukan tidak setuju dengan sosok Bian, hanya saja Rendra ingin pemuda itu menunggu putrinya, setidaknya sampai Sharen lulus dari sekolah.
"Ya udah, kalo nggak mau terima syarat dari Dad, nggak usah jemput Bian..",
"Dad.. , tapi kan Sha pake driver.., nggak mungkin Sha macem-macem..",
"Sekali nggak tetep nggak..",
"Mom...",rengeknya pada mommy nya. Sharen berharap Aira akan mau membela dan membujuk Daddy nya. Namun, Sha salah.
"Denger apa yang Dad bilang sayang..",
"Oke-oke..", Sha bersungut-sungut.
"Jadi.., gimana? Javas ikut nggak nih?",tanya Javas.
"Ikut Vas.., temenin kakak kamu..",jawab Aira.
"Kenapa Vas boleh pacaran, padahal dia masih SMA...",tanya Sharn.
"Karena dia laki-laki.., Dad percaya sama dia...",
"Berarti Dad nggak percaya sama Sha?",
"Bukan gitu.., Dad yakin Javas nggak akan berani rusak anak perempuan orang.., Dad percaya kamu , tapi ini bentuk proteksi Dad sama kamu..",
"Berarti om Aldo nggak memproteksi anak perempuannya..?",
"Kenapa kamu ngomong gitu?",
"Berarti Aldo udah percaya sama Javas..",
"Berarti Dad yang nggak percaya sama kak Bian..?",
"Iya..",
"Kalo nggak ngebolehin pacaran, harusnya langsung dinikahkan..", ucap Sharen jengkel.
"Kamu yakin? kalo kamu mau juga Dad nggak masalah.., suruh Bian kesini minta restu sama Dad..",
"Nggak.., kita masih muda. Jalan masih panjang..",
"Ya udah, nggak usah protes..",
"Kak.., jadi nggak? kalo nggak..Javas mau jalan aja sama Mine..",
"Iya-iya..bentar kakak ambil tas di kamar..",
Sharen menjemput Bian ke Bandara dengan ditemani oleh Javas, juga Yasmine . Ini memang atas perintah Rendra.
"Bukannya kalian yang nemenin kakak, tapi kakak yang menemin kalian pacaran...",ucapnya menoleh ke belakang, tempat Javas dan Yasmine duduk.
Yasmine hanya menyengir.
"Ya.., Javas sebenarnya juga nggak pengen sih jadi satpam, tapi ini kan perintahnya Dad.. kak Sha denger sendiri kan tadi?",
"Sorry kak..., Mine juga cuma ngikutin maunya om Rendra aja..",
"Kalian mau ikut masuk, apa nungguin disini?",
"Ya ikut masuk lah.., ayo Bebi..",ajaknya pada Yasmine.
"Mang.., tungguin sini ya..", ucap Sha kepada drivernya.
Menunggu tidak lebih dari lima belas menit, akhirnya Bian muncul dari pintu kedatangan dengan menyeret koper. Pemuda yang perawakannya tinggi bak seorang model itu langsung tersenyum menghampiri Sharen yang melambaikan tangan kepadanya.
"Lama nunggu ya..", coleknya pada hidung mancung Sharen.
"Nggak kok.., baru aja..",
"Hei.., bro.., apa kabar..?", sapa Bian kepada Javas dengan tos ala pemuda jaman sekarang.
__ADS_1
"Baik kak.., kakak gimana? "
"Kangen..",
"Najis..",jawab Javas.
"Bukan sama kamu.., tapi sama kakak kamu...",
"Oh..? kangen? sama nenek sihir ini? pikir-pikir lagi kak.., mumpung belum pacaran...",
"Javas...!!! awas ya..",teriak Sha.
"Kamu pacaran terus ya Vas..",
"Iya..gimana udah dikasih boleh sama orang tua masing-masing..",
"Dikasih boleh? dikasih restu maksudnya?",
"Hmmm kalo restu sih belum.., tapi udah dibolehin pacaran aja..",
"Kak.., ayok..malah ngobrol.., ngobrolnya di rumah aja..",
"Vas.., kakak bisa minta tolong nggak?",tanya Bian.
"Nggak.., nggak boleh.., Javas udah dikasih perintah sama Dad buat nemenin kak Sharen..",
"Kakak belum sampe ngomong lho..",
"Iya..tapi Javas udah tau..",
"Kak Bian cuma minta tolong.., Sharen biar semobil sama kakak aja ya..",
"Tuh kan..sudah kuduga..",
"Gimana?",
"Nggak.., Javas takut dimarahin sama Dad..",
"Please.., cuma semobil aja. Kak Bian janji.., langsung kerumah.., nggak mampir kemana-mana..",
"Tetep nggak bisa..",
"Ehm, mobil kamu dibelakang mobil kakak, gimana?",
"Konvoi gitu?",
"Iya.., oke..",
"Mobil kak Bian mana?",
"Di parkiran udah ada sopir papi, nganterin mobil kakak..",
"Hmm, oke deh.., tapi janji ya jangan ngebut-ngebut. Nyawa Javas jadi taruhannya nih.., takut kalo Dad sampe marah..",
"Iya..iya..",
Tidak mau mengambil resiko, Javas akhirnya menghubungi Daddy nya dan bercerita jika sang kakak semobil dengan Bian.
"Mas.., jangan anak-anak jangan dimarahin. Terutama, Bian. Dia udah punya niat baik loh ketemu sama mas..",
"Nggak sayang..,justru mas salut sama anak-anak. Sharen juga nurut, Javas udah mulai bisa dikasih tanggung jawab buat jagain kakaknya..",
"Mas belum siap ya kehilangan Sharen..?",
"Iya.., meskipun dia udah mau beranjak dewasa, tapi dia tetap putri kecilnya mas..",
"Nggak nyangka ya, waktu cepet banget mas. Tiba-tiba udah gede aja mereka..",
"Jadi gini ya rasanya punya anak perempuan yang udah dideketin sama anak laki-laki. Mas jadi ngebayangin gimana perasaan Ayah dulu, waktu mas ngambil diem-diem anak perempuannya buat dijadiin istri.."
Aira menghela nafasnya panjang. Jika mengingat perjalanan cinta mereka dulu, rasanya sulit. Banyak halangan dan rintangan, termasuk restu dari Ayahnya.
"Mas jadi merasa berdosa karena udah nikahin kamu diem-diem..",
"Itu kan dulu mas.., kita salah. Tapi, udah mencoba memperbaiki semuanya..",
"Satu yang mas takutin..",
"Apa..?",
"Mas takut kutukan itu terjadi sama anak kita. Dinikahin laki-laki diam-diam.., sama kayak mas nikahin kamu dulu..",
"Jangan dong mas..,makanya mas restuin Bian sama Sharen.., biar mereka nggak nekad..",
"Mas bukannya nggak restui, cuma minta Bian bersabar aja..",
__ADS_1