Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Petunjuk


__ADS_3

Kinara mengetahui kabar meninggalnya Mine. Loh, darimana? dari orang yang setiap hari bersama dan mengunjunginya, juga dari media sosial. Diam-diam Kina membuat fake account, sekedar ingin mengetahui dunia luar, sesekali juga memantau dan membuka media sosial milik keluarga dan suaminya.


"Berarti? kamu mau pulang kan? yuk bareng..., aku antar...",


Kinara menggeleng.


"Kenapa? kan udah nggak ada saingan. Kamu ngilang kan karena Mine.., sekarang Mine udah nggak ada, jadi Javas udah pasti ngasih waktu sepenuhnya buat kamu. Apalagi, sekarang kamu lagi hamil...",


"Ini bukan masalah mbak Mine ada apa nggak.., masalah ada di mas Javas. Kalo seandainya mbak Mine masih ada, dia berarti nggak bakal ngasih waktunya buat Na kan? Na bukan prioritas, tapi bayang-bayang. Kalo mbak Mine udah nggak ada, terus muncul mbak Mine lain lagi diluar sana, gimana?",


"Itu kan cuma kekhawatiran kamu aja.., gimana kamu bisa tau suami kamu berubah kalo kamu nggak ada di deket dia?",


"Na masih sakit hati..",


"Ya udah nggak apa-apa.., kamu tenangin diri aja. Tapi, jangan lama-lama..",


"Masih lama..",


"Kamu beneran nggak pengen pulang?",


"Nggak dulu...",


"Ya, aku tau kamu kecewa sama suami kamu. Tapi, pikirin juga anak yang ada dalam perut kamu ya? Dia butuh papa nya..",


"Anak ini pinter kok, nggak pernah rewel.., mungkin karena dia tau mamanya sendirian..",ucapnya dengan mengelus perutnya.


"Ada aku..",


"Makasih...",


"Jangan sedih-sedih.., kamu harus happy. Kalo mau liburan, kita pergi..",


"Ntar ketauan..",


"Keluar kota...",


"Boleh.., tapi nanti nunggu trimester ke 2..


Oh ya, Na lagi cari-cari dokter kandungan yang bagus. Kalo tiap bulan check upnya keluar kota, boleh..?",


"Kalo disini aja, kenapa?",


"Pasti ketauan,


boleh ya? diluar kota aja..",


"Boleh.., tapi nggak boleh sendirian. Aku yang nemenin. Udah dapet dokternya..?",


"Udah..,dokternya perempuan..",


"Oke.., kita pergi bulan depan..",


Mereka berdua pergi ke pemakaman. Kinara ingin pergi berziarah ke makam Mine, sengaja memang menunggu sampai 10 hari lamanya. Untuk berjaga-jaga agar tidak bertemu dengan keluarga Mine atau orang yang mengenalnya.


Hanya sanggup duduk berjongkok selama 10 menit, berdoa , menaburkan bunga segar serta menyiramkan air di pusara Mine.


"Damai di sana ya mbak..", ucapnya.


"Yuk.., nggak usah lama-lama. Kamu pasti capek..",


Tidak ada sama sekali dendam. Permasalahan rumah tangganya memang berakar dari dia dan Javas. Kinara mengizinkan memang, hanya saja Javas yang keblabasan.


"Mau mampir kemana?",


"Muter-muter aja boleh nggak?",


"Pengen kemana emangnya?",


"Ya muter-muter aja pake mobil. Na bosen di rumah terus..",


"Oke.., buat bumil apa aja pasti diturutin..",


Lalu, bagaimana hubungan Javas dengan Kinara? Masih tidak ada komunikasi. Kinara yang memang menggunakan nomor baru, masih enggan untuk menghubungi suaminya.


Sedangkan Javas, masih saja memberikan pesan untuk Kinara melalui mobile banking. Tapi, Kinara enggan untuk membalasnya lagi. Javas masih menunaikan kewajibannya, dengan mengirimkan nafkah untuk istrinya. Baru saja, kemarin memberikan uang 500 juta sebagai uang bulanan Kinara. Diluar itu, dia mengirimkan uang 100 juta lagi , dengan berita transfer: untuk biaya anak kita.

__ADS_1


Setidaknya bagi Javas, meskipun saat ini istrinya jauh darinya, tapi Kinara tidak kekurangan uang.


Pagi itu, sebelum pergi ke kantor. Javas menyempatkan sedikit waktunya untuk mengunjungi makam Mine. Tadi malam, Mine hadir di mimpinya. Menurut orang jaman dulu, kalo seseorang yang sudah meninggal dan hadir di mimpi kita. Itu, tandanya orang tersebut mengharapkan doa dari kita.


Mampir untuk membeli bunga kesukaan Mine. Ya, Javas memang masih hafal segala sesuatu yang menjadi kesukaan Mine. Meskipun, gadis itu sudah tidak lagi ada di dunia ini. Tapi, kenangannya akan selalu ada.


Javas menyadari, ada seseorang yang baru saja berkunjung disana. Bisa dilihat dari taburan bunga serta tanah yang masih basah.


"Mine, kamu pengen kakak kesini? ada apa? kakak masih ada janji sama kamu?", ucapnya seorang diri.


"Mine.., istri kakak belum ketemu. Padahal, kakak kangen banget sama dia. Apalagi, sekarang istri kakak lagi hamil, bentar lagi kamu mau punya keponakan. Tapi, istri kakak marah Mine.. Kamu bilang dong sama Tuhan, biar istri kakak mau pulang..",


Javas ternyata curhat di depan pusara Mine. Tidak lagi menganggap Mine adalah mantan kekasihnya, ya meskipun memang itu faktanya. Tapi, bagi Javas. Mine adalah adik kecilnya. Seseorang yang sangat dia sayangi.


Mata Javas tertuju pada sebuah benda di dekat batu nisan yang memancarkan cahaya. Memastikan, karena sedikit tertutup oleh kelopak bunga. Javas mengambil benda itu. Dan, ternyata cahaya itu berasal dari liontin kalung yang saat ini dia pegang. Javas, sangat mengenal benda itu.


"Na.., sayang..., ini kalung milik kamu kan? kamu abis dari sini..?


Mine.., kak kina abis dari sini ya Mine..?",


Tentu saja Javas yakin ini adalah kalung milik Kina. Ini adalah kalung pemberiannya sebagai kado ulang tahun Kina, beberapa waktu yang lalu.


Javas berlari, dan tanpa sengaja menabrak bapak penjaga makam. Javas lantas bertanya.


"Pak, tadi ada yang ke makam yang ada disana?", tunjuknya ke arah kuburan Yasmine.


"Iya mas.., ada..",


Javas menunjukkan potret Kinara untuk memastikannya.


"Ini orangnya..?",


"Hmmm..iya mas. Salah satunya..",


"Salah satunya? dia datang sama siapa?",


"Sama perempuan juga mas...",


"Pake mobil, motor atau apa?",


"Pake mobil.., warna hitam...",


"Kurang lebih lima belas menit yang lalu mas..",


"Ke arah kanan, atau kiri..?",


"Ke jalan arah kiri mas..",


"Oke pak, makasih..",


Untung saja, pagi ini Javas mengendarai mobil sport miliknya. Selain berkecepatan tinggi, bentuknya yang kecil juga memungkinkan untuk selap selip di jalan.


Jika mobil yang membawa Kinara ke arah kiri, itu artinya jalan searah. Berarti hanya satu jalan itu yang nantinya di lewati oleh Kinara.


Javas menginjak gasnya, membunyikan klakson mobilnya agar diberikan jalan oleh pengendara mobil yang lain. Lalu, apa yang akan diberbuat oleh Javas?


Kina membelalakkan matanya, ketika mobil yang sangat familiar untuknya, melaju kencang menyalip mobil yang ditumpanginya. Ya, mobil merah itu milik suaminya. Kina panik.


"Mas Javas...", ucapnya.


"Hah? mana?",


"Mobil merah tadi..",


"Mobil yang berisik tadi, itu punya Javas ya..",


"Gimana dong..? apa mas Javas tau ya kalo Na abis ke makam mbak Mine?",


"Mana ada..nggak lah..


Palingan juga dia mau kerja, kan ini jalan menuju kantor..",


"Iya sih..",


Tidak sengaja, Kina meraba lehernya. Dan, dia baru menyadari jika kalung yang dipakainya tidak ada.

__ADS_1


"Kalung Na, ilang...",


"Nggak pake kali..",


"Pake kok.., astaga pasti jatuh di makamnya mbak Mine..,mas Javas pasti dari sana dia nemuin kalung Na. Makanya, dia tau..",


"Na..bener deh, kayaknya Javas lagi nyari kita.., liat deh dia turun ke jalan. Ngetuk-ngetuk pintu...",


"Terus gimana? udah sampe disini aja? Na ketauan?


"Semua keputusan ada di kamu, kalo kamu emang udah nyerah. Ya udah, kita pasrah aja. Sampai Javas ke sini..,


Tapi kalo kamu nggak mau ketemu, ya udah. Kita usaha..",


"Caranya..?",


"Kamu mau ketemu Javas atau nggak?",


"Nggak..",


"Oke..",


Mobil yang ditumpangi Kina menepi, lalu masuk ke halaman indom@ret sebelum Javas berjalan menuju ke mobil mereka.


Javas keluar dari mobilnya, ketika lampu merah menyala. Gilanya lagi, dia mengetuk satu persatu pintu mobil. Dan, berharap satu dari banyaknya mobil yang berhenti adalah mobil yang membawa istrinya.


"Maaf pak, saya kira mobil istri saya..",


"Maaf Bu, saya lagi cari istri saya..",


"Sorry mbak..., saya kira ada istri saya..",


"Dijadiin istri juga mau kok mas..", ucap penumpang itu yang tidak dihiraukan oleh Javas.


Sayangnya, usaha Javas tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, ada sebuah mobil yang penumpangnya adalah seseorang yang dia kenal.


"Bangk*e.., malah lu..",


"Santai bos.., kenapa? mau jadi pengamen apa gimana?",


"Ckckck nanti aja ceritanya Tam..,


ikut dibelakangku Tam..",


"Kemana?",


"Udah ikutin aja di belakang mobil...",


Javas masuk kembali ke mobilnya. Dan, Tama mengikuti mobil milik Javas. Tidak tahu akan kemana, sebagai bawahan, Tama menurut saja. Menyisir jalanan hampir 2 jam, dan akhirnya mobil Javas masuk ke pelataran kantor Prime grup.


"Hei.., ada apa sih? mau ajakin test Drive? mobil lu sport, lah mobil gue?",


"Nyari Kina..",


"Nyari nyonya bos..?",


"Tadi istriku ke makam Mine..",


"Kok tau?",


"Kalungnya kayaknya nggak sengaja jatuh. Makanya tadi aku ngejar, aku nunggu di lampu merah.., tapi nggak ada..",


"Nggak lewat jalan itu kali..",


"Lewat Tam.., itu jalan kan searah.., nggak ada jalan lagi..",


"Ya siapa tau kan, dia lewat jalan tikus..",


"Tam, di lampu merah tadi, ada kameranya nggak?",


"Ya ada..",


"Tam, minta ke petugas gimanapun caranya. Aku mau, kamu dapetin rekamannya...",


"Susah banget..",

__ADS_1


"Pokoknya harus dapet..",


"Oke bos..",


__ADS_2