
Sharen kembali menyimpan ponsel ke dalam tasnya.
"Mah.., kayaknya nggak usah ke rumah sakit..",
"Lho..kenapa..?",
"Dad sama Mom udah otw ke sini..
Jaz sama Zee udah dibolehin pulang..",
"Alhamdulillah..
ya udah mamah tunggu aja nanti..",
"Mah..jangan sekarang deh ngomongnya..
nanti aja..", ucap Nathan.
"Ya nggak apa-apa, emangnya kenapa?lebih cepat lebih baik kan..?",
"Takutnya Daddy risih, kan lagi repot ngurusin Jaz sama Zee juga..",
"Emangnya kenapa? orang Rendra juga tiba-tiba ngomong kayak gitu ke kalian, padahal anak sama cucunya juga masih di Rumah Sakit..",
"Ngomong apa sih mas..?", tanya Sharen.
"Itu..kalian kan disuruh tinggal sama mereka lagi kan?
ya mamah mau ngomong sama Rendra...",
Sharen melihat ke arah suaminya yang dibalas sebuah senyuman oleh Nathan.
"Katanya mas nggak apa-apa kalo tinggal bareng?", bisiknya di telinga Nathan.
"Ya nggak apa-apa sayang, tapi kan Mamah yang nggak ngebolehin..",
Farah kembali bersuara.
"Kalian kan udah janji, kalo Sharen hamil. Mau tinggal di rumah Mamah. Iya kan?",
"Iya mah, tapi kemarin Daddy nyuruh Sharen pulang..",
"Nggak bisa Sha.., kamu tinggal di rumah Mamah sama Papah aja.., mau kan?",
"Iya mau..tapi nanti kalo Daddy marah gimana?",
"Tenang aja..nanti Mamah yang bilang ke Daddy kamu..",
"Tapi jangan sampe berantem ya Mah..", peringat Nathan.
"Iya..udah tenang aja..",
Nathan sebenarnya sudah bisa mamstikan jika nanti ada perdebatan antara Mamah dan Ayah mertuanya. Apalagi, mendengar cerita Mama Farah yang berucap jika Dad dan dirinya memang kerap beradu mulut.
"Kita belanja dulu aja ya..",
"Iya Mah...",
Nathan dan Papa Aldo hanya jadi pengikut. Jika ibu negara sudah menginginkan sesuatu, mereka hanya bisa menuruti tanpa syarat.
Memasuki salah satu store, Mama Farah dan Sharen langsung di manjakan dengan berbagai macam model pakaian wanita.
"Kamu mau cari apa Sha..?",
"Sebenarnya mau cari dress biasa aja mah, kayak daster gitu tapi yang bisa dipake buat pergi-pergi..",
"Ya udah pilih aja..
nanti mama yang bayar..",
"Jangan mah, Sha udah dibawain uang sama mas Nathan, nih dompetnya aja ada di Sharen..",
"Nggak apa-apa,
mamah udah lama nggak ngasih kamu apa-apa..",
"Tapi, kayaknya nggak cocok deh mah. Sharen pengen cari yang daily gitu..., disini terlalu glamour kayaknya..",
"Ya udah.., mamah dulu yang pilih. Kamu duduk aja disini, apa mau nyusul Nathan sama Papah disana..",
"Disini aja deh Mah..",
Sharen duduk, menunggu mamah mertuanya yang sedang memilih pakaian. Rasanya, senang sekali Sharen bisa pergi bersama seperti ini dengan Mamah mertuanya. Hal yang sepertinya akan menjadi moment langka beberapa bulan kedepan karena keadaannya yang sedang berbadan dua.
"Sha.., menurut kamu badan mamah yang semok ini cocok pake yang mana? kanan atau kiri..?",
"Kanan aja mah, modelnya simple jadi nggak numpuk-numpuk dibadan. Kalo kiri terlalu rame mah modelnya, bikin tambah semok..",
"Oh iya..pinter mantu mamah.
Yang kanan aja, tapi Mamah minta yang Sage, cocok kan?",
"Lebih bagus yang browny aja, ada nggak mah? keliatan elegantnya..",
"Ada kayaknya sayang..
oke..mamah minta ya...",
Melihat istrinya yang hanya duduk, membuat Nathan menghampiri istrinya.
"Sayang.., kok nggak pilih..kenapa? perutnya sakit?",
__ADS_1
"Enggak.., baik-baik aja kok..",
"Terus, kenapa..? capek ya? mau balik aja?",
"Bajunya nggak ada yang cocok, aku nggak suka..",
"Ya udah, ayo cari ke toko lain..",
"Nanti dulu.., mamah lagi pilih..",
"Beneran nggak apa-apa kan?",
"Iya nggak apa-apa.., nunggu mamah pilih dulu ya..",
"Oke.., mas tunggu sana aja ya.., kasian Papah juga sendiri..",
"Iya mas..",
Mamah Farah akhirnya selesai berbelanja. Beliau menenteng 3 buah paper bag, berisi barang belanjaannya. Mereka berempat beralih ke toko yang berada disamping.
Sharen sumringah, bertemu dengan baju yang dia inginkan.
"Gini yang kamu mau..?",
"Iya mah...",
"Ya udah.., pilih aja Sha..",
Mama Farah dan Sharen berpencar. Sharen mencari baju pilihannya, sedangkan Mamah Farah sepertinya belum cukup dengan belanjaan sebelumnya. Beliau juga tampak memilih-milih baju.
Lagi-lagi, Nathan dan Papa Aldo hanya menjadi pengawal. Dia menunggu istri mereka untuk memuaskan nafsu belanjaannya.
Tidak memerlukan banyak waktu, hanya dalam beberapa menit saja Sharen sudah membawa tumpukan baju ke kasir.
"Mbak..udah ya...",
Sharen meminta kasir untuk menghitung belanjaannya.
"Ini juga..sekalian mbak..",ucap Mama Farah yang tiba-tiba datang dengan gunungan baju yang dibawa oleh pelayan toko.
"Mah.., belanja lagi..?",
"Iya..tapi bukan buat Mamah, itu buat kamu..",
"Hah..? mah kebanyakan..",
"Udah nggak apa-apa, itu tadi mamah yang pilihin. Dijamin bagus Sha.., warnanya juga ada merah, navy, hitam, pink, terracotta, ada apalagi ya.., tuh liat sendiri aja..",
"Mah.., padahal Sharen udah milih beberapa. Ini ada ketambahan lagi..",
"Nggak apa-apa, udah akan mamah yang pilihin. Sekalian ini yang bayar juga Mamah..",
"Tenang aja, mamah papah emang nggak sekaya Daddy mommy kamu, tapi mamah papah juga banyak uang, kamu tenang aja..",
"Bukan gitu mah, mas Nathan nggak suka kalo Sharen dibeliin sama orang lain..",
"Orang lain siapa? Mamah itu mertua kamu.., Oma nya bayi yang kamu kandung itu..
nggak usah takut sama Nathan, nanti mamah yang ngomong sama dia..",
Benar kata Sharen, belanjaannya habis banyak. Puluhan juta, dan sepertinya tidak menjadi masalah untuk Mamah Farah.
"Abis ini kemana sayang..? mau beli baju buat baby??",
"Jangan mah, pamali...,
nanti aja..",
"Oh iya.., ya udah.., mau beli tas? sepatu..? mau apa?",
"Udah deh Mah, balik ke hotel aja. Kalo belanja lagi, yang susah tuh Nathan sama Papah disuruh bawain belanjaannya kayak gini..", protes Nathan.
"Ya kalo ibu hamil mau minta sesuatu, masa nggak diturutin? nanti kalo anaknya ileran, gimana? kasian cucu Mamah..",
"Balik aja Mah.., kasian istri Nathan, capek butuh istirahat..",
"Sharen mau dibeliin minum?",
"Nggak usah mah.., Sharen nggak haus..
Kita balik hotel aja mah..",
"Oke.., pokoknya kamu harus happy ya Sha..",
"Iya Mah.., makasih..",
Secara khusus, Mama Farah mengundang Daddy dan Mommy Aira untuk makan malam bersama. Selain memang ingin membicarakan sesuatu, sepertinya moment seperti ini jarang bisa diwujudkan mengingat jadwal mereka yang tidak pernah sinkron.
"Akhirnya bisa kumpul kayak gini lagi ya Far...",
"Iya Ra.., udah lama ya nggak makan malam bareng kayak gini..",
"Kamu ulang tahun Far?, tumben mau traktir kayak gini..",tanya Daddy Rendra.
"Enggak juga..",
"Pasti ada sesuatu..", ucap Daddy.
"Tepat sekali Ren..", jawab Mamah Farah tanpa basa-basi.
"Apa..?",
__ADS_1
"Aku nggak setuju kalo Sharen sama Nathan tinggal di rumah kalian...",
"Lho..kenapa..?
kamu tega liat Sharen yang lagi hamil tinggal di Apartement? lebih enakan tinggal di rumah daripada di Apartement..",
"Sharen sama Nathan bisa tinggal di rumah kami. Nggak kalah gedenya sama rumah kalian kok..",
"Kamu tau kenapa aku nyuruh Sharen tinggal balik kerumah..?",
"Kenapa emangnya..?",
"Aku nggak mau Sharen yang lagi hamil ditinggal tiba-tiba sama suaminya..",
Nathan langsung tertunduk mendengar ucapan Ayah mertuanya.
"Itu nggak bakalan terjadi lagi Ren..",
"Emangnya kamu bisa menjamin? kalo anak kamu itu nggak ninggalin anakku lagi..?",
"Aku memang nggak bisa menjamin itu nggak terjadi lagi Ren.., tapi kalo sampe Nathan lakuin itu lagi, jangan harap aku sama papanya nganggep dia sebagai anak lagi..", ucap Mama Farah dengan melihat anaknya dengan tatapan membunuh.
"Nathan nggak akan ngelakuin itu lagi Mah..",
"Awass aja Nath, kalo sampe itu terjadi. Mamah nggak bakalan nganggap kamu ada di dunia ini..",
"Aku nggak butuh janji omong kosong kayak gitu Far, aku cuma mau Sharen merasa nyaman..",
"Iya..mas Rendra bener Far. Tinggal sama orang tua sama mertua itu beda rasanya. Pasti Sharen lebih nyaman tinggal sama kami..",
"Emangnya kalo tinggal sama mertua kayak aku, kenapa Ra? Sharen bakalan aku suruh-suruh kayak bibik di rumah? atau kayak gimana?aku juga bakalan sayang ke Sharen seperti aku sayang ke Almarhumah Jasmine kok, aku bakalan anggap Sharen sebagai anak Perempuanku..kayak kamu Ra.., pasti udah anggap Kina sebagai anak sendiri kan?
Coba deh kalian bayangin, aku cuma punya Nathan aja. Sehabis dia nikah, bukannya rumah kami tambah rame, Nathan sama Sharen justru minta tinggal di Apartement aja. Dulu, padahal mereka janji kalo Sharen udah hamil, mau tinggal di rumah. Sekarang udah hamil, malah mereka mau tinggal di rumah kalian. Padahal, rumah kalian udah ada Javas, Kina, Jaz Zee, sebentar lagi juga ada bayi lagi. Rumah kalian makin rame rumah kami tetep sepi..", mamah Farah yang awalnya ngeyel akhirnya justru seperti menunjukkan kesedihannya.
Daddy dan Mommy terdiam karena apa yang diucapkan Mamah Farah benar adanya.
"Ya udah, kalo gitu mau kamu Far..", ucap Daddy.
"Gimana? Sharen sama Nathan tinggal di rumahku kan..?",
"Iya...,
asalkan Sharen mau..",
"Sharen mau kok, iya kan sayang..?",
"Iya mah..",
"Titip Sharen sama bayinya ya Far..",
"Pasti aku jagain mereka Ra..",
Nathan dan Sharen akhirnya bernafas bisa bernafas lega. Kedua orang tua mereka akhirnya bersepakat tanpa bersitegang.
"Yank...", ucap Sharen
"Iya.., tidur yuk..mas ngantuk banget..",
"Mas..",
"Kan udah dibikinin susu, mau apalagi sayang..?",
"Mas..,aku pengen dielus-elus...",
"Pengen lagi? kan semalem udah sayang...",
"Semalem kan disentuh, bukan dielus-elus..",
"Terus maunya dielus-elus?gimana?",
Sharen membawa tangan suaminya ke atas perutnya.
"Anak kamu nih minta dielus-elus..",
Nathan tersenyum. Merasakan semakin lama tingkah istrinya semakin aneh, tapi menggemaskan.
"Iya udah, ini mas elus-elus..",
"Sampe aku tidur ya yank..",
"Iya sayang..",
"Jangan berhenti sebelum aku tidur..",
"Iya sayangku..",
Sharen memejamkan matanya. Nathan menatap dalam wajah cantik istrinya. Bersyukur, dia masih diberi kesempatan oleh wanita ini untuk selalu berada disampingnya.
Sharen kembali membuka matanya, ketika elusan di perutnya berhenti.
"Yank....",
"Iya iya sayang...",
Padahal, Nathan sudah sangat mengantuk, tapi terpaksa harus menunda waktu tidurnya demi wanita cantik dan anak yang di dalam perutnya.
"Cantik banget kamu Sha..,
i love you..
tidur nyenyak sayang...",
__ADS_1