Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
First Meeting..


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 8 jam, akhirnya Sharen dan Vano mendarat dengan selamat. Vano mendorong trolley yang berisi beberapa koper milik Sharen dan juga miliknya.


Sesampainya di bandara, sudah ada driver menunggu untuk menjemput mereka.


"Kemana mas..?",


"Ke hotel pak..",


Sharen dan Vano langsung menuju hotel tempat mereka menginap. Apartement baru milik Sharen masih disiapkan oleh tim property. Tiga hari kedepan, jika sesuai rencana tempat tinggal Sharen akan siap ditempati.


"Kamar kamu dimana No..?",


"Di depan kak.., kalo ada apa-apa ketuk aja ya...",


"Iya..


Hmm No.., barang-barang kakak nggak apa-apa, dibawa sama driver tadi? kalo ilang gimana? ",


"Barang-barang kakak langsung dibawa ke Apartement. Nggak usah khawatir, dia bagian dari karyawan Prime grup. Jadi aman...",


"Oh..ya udah kalo gitu..",


"Vano mau tidur dulu ya kak, tadi nggak bisa tidur di pesawat. Vano keluar kalo mau makan malam, tapi kalo kak Sharen butuh apa-apa tinggal telepon kamar Vano ya..",


"Iya..Kakak juga mau tidur kok..


Nanti malem makan, sekalian ke swalayan ya..",


"Oke..",


Sharen meletakkan ponselnya di atas nakas. Mengecilkan volume notifikasi dan nada deringnya. Karena dia baru saja memberi kabar pada keluarganya bahwa dia sudah sampai dengan selamat di Sydney. Sharen tidak ingin istirahatnya terganggu karena suara-suara di ponselnya.


Oh ya, sengaja sudah dua hari ini dia tidak mengupload foto atau memasang story pada semua media sosialnya. Padahal, biasanya dia selalu membagikan kegiatannya untuk followersnya. Sharen benar-benar ingin menikmati hidupnya saat ini, tanpa harus dipusingkan dengan komentar-komentar positif maupun negatif.


Sharen mengetuk pintu kamar Vano, dan tanpa menunggu lama, Vano keluar dari kamar.


Jika dilihat dengan kasat mata, Vano dan Sharen justru terlihat seperti sepasang kekasih. Apalagi, Sharen yang berjalan dengan memeluk pinggang Vano.


"Mau makan apa kak?",


"Apa aja deh No..",


"Cari masakan Indonesia yuk..",


"Boleh.., kita naik apa..?",


"Naik mobil..",


"Punya siapa..?",


"Mobil baru lah, Daddy kan udah beliin buat kakak..",


"Masa sih..",


"Iya..


tuh...",tunjuknya pada mobil Mercy warna kuning yang terlihat ngejreng tapi mungil.


"Wih....


lucu nih warnanya...",


"Nanti Vano tunjukkin jalannya ya. Kakak harus hafal..",


"Iya..


tapi, kakak nggak punya SIM internasional No..",


"Nggak apa-apa, SIM indonesia berlaku di Aussie kok kak..",


"Emang iya..?",


"Iya..percaya sama Vano..",


Tidak salah Daddy menyuruh Vano untuk menemani Sharen ke Sydney. Vano memang pernah tinggal beberapa lama untuk menuntut ilmu. Tentu, dia paham dan pasti tahu apa saja yang dibutuhkan selama berada disana.


Selesai mengisi perut mereka, Vano membawa kakak sepupunya berkeliling. Ya, hitung-hitung menunjukkan jalan pada Sharen.


"Enak ya suasananya..",


"Hmm.., ya gini. Nggak macet kayak di indo kan?",


"Iya tenang, damai rasanya...",


"Jadi ke swalayan?",


"Iya.., mau beli cemilan..",


"Oke..",


"Besok kita ke Apartement ya?",


"Iya kak..,


siapa tau Apartmentnya udah bisa ditempatin..",


"Kakak nggak mau maksa kalo belum bisa. Nanti malah ada yang nggak beres ngerjainnya..",


"Iya sih kak...",


Keesokan harinya.


Mereka menuju ke Apartement yang jaraknya dekat dengan Hotel yang mereka tempati. Sekolah modelling yang akan Sharen ikuti juga letaknya sangat dekat dengan Apartement miliknya. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


"Lah..deket banget ini No..",


"Iya emang deket..",


"Tau gitu nggak usah dibeliin mobil...",


"Kalo kakak butuh belanja, atau jalan-jalan kan emang butuh mobil kak..",


"Iya sih, tapi bisa jalan kaki aja..",


"Kalo pagi jalan kaki nggak masalah, kalo malem? jangan..., kakak kan perempuan...",


Apartementnya masih dalam tahap pengerjaan interior. Progressnya sudah sekitar 90%, itu artinya sebentar lagi Apartementnya sudah siap ditempati.


"Kamar kakak udah selesai, tinggal dapur aja. Kalo mau ditempati, sih kayaknya udah bisa kak, gimana?",


"Nggak deh.., tunggu sampai bener-bener jadi aja..",


"Mudah-mudahan sebelum Vano balik, udah beres semuanya ya kak..",


"Iya, mudah-mudahan...",


Vano berada di Aussie hanya selama satu Minggu. Dari Aussie, dia langsung bertolak ke Jepang untuk mengecek bisnis Papi nya yang berada di sana.


Selama 3 hari berada di Aussie, kegiatan Sharen hanya berkutat di hotel serta menengok Apartementnya. Sharen sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan.


Kamar pintu Sharen di ketuk. Malam ini, Vano dan Sharen memang tidak pergi keluar untuk makan malam. Vano akan membawakan makanan ke kamar Sharen.


"Lama banget No...", ucap Sharen membukakan pintu kamarnya.


Vano berdiri, namun tidak sendiri. Di sampingnya, ada perempuan cantik berhijab yang membawa kantong plastik di kedua tangannya.


"Oh..., halo...", sapa Sharen.


Gadis itu memberikan barang bawaannya pada Vano.


"Halo kak..., saya Icha..", ucapnya santun. Dia bersalaman dengan Sharen.., namun Sharen langsung menarik tangannya ketika Icha hendak mencium tangan Sharen.


"Saya Sharen...", ucapnya bingung.


"Kenapa sih kak? kayak jijik gitu..",


"Heh...bukan..., tapi kakak kan bukan orang tua, apalagi ustadzah, jadi nggak usah dicium tangannya...",

__ADS_1


"Oh..iya kak maaf.., Icha udah terbiasa..",


"Ayo masuk dulu...",


Sharen membiarkan Icha untuk mereka bertiga. Ketika Icha berada di pantry, Sharen langsung berbisik pada adik sepupunya.


"Dia siapa..?",


"Pacar Vano..",


"Hah..., baru 3 hari, 4 hari baru besok, tapi kamu udah punya pacar disini..?",


"Nggak kak.., nanti Vano jelasin.


Kita makan dulu...


Makasih Cha..",


"Sama-sama...",


Sharen melahap spaghetti yang malam itu menjadi menu makan mereka. Sesekali dia juga melirik Icha yang sangat cantik dengan hijabnya. Icha terlihat sangat muda, mungkin usianya masih di bawahnya.


"Udah Cha, taruh disitu aja, nanti biar kakak yang nyuci..",


"Nggak apa-apa kak, biar Icha aja..",


"Ya udah, kalo gitu kita cuci bareng piringnya..",


Sharen memiliki kesempatan untuk bertanya pada Icha, mengenai hubungannya dengan Vano.


"Cha.., udah lama kenal sama Vano..?",


"Baru 6 bulanan ini kak..",


"Kok bisa mau sih sama Vano..?",


"Enak aja..kakak ngomong kayak gitu..", sahut Vano yang protes mendengar pertanyaan dari Sharen untuk Icha.


"Kak Vano baik kak...",


"Kamu Sholehah, Vano aja kayak preman. Sukanya clubbing, kok mau..?",


Icha tidak menjawab, dia hanya tersenyum.


Pertemuannya dengan Icha berlangsung singkat, hanya sekitar satu setengah jam, karena Icha harus buru-buru kembali.


"Makasih ya Cha..",


"Sama-sama kak,


assalamualaikum...",


"Waalaikumsalam..


hati-hati ya Cha..",


"Kak..Vano anterin Icha dulu ya..",


"Iya.., hati-hati..",


Pagi ini. Sharen check out dari hotel karena Apartemennya sudah siap untuk ditempati.


Tidak disangka saat berada di lobby hotel, Sharen bertemu dengan orang yang sebenarnya tidak ingin dia temui. Siapa itu? Gladys dan Bian. Dunia memang sempit.


"Sha.., kamu nginep disini juga..?",tanya Gladys.


"Iya kak..",


"Kamu mau ngelanjutin sekolah, karena gagal tunangan? calon tunangan kamu, lagi ada kasus kan? ",


Sebenarnya, Sharen malas menanggapi ucapan Gladys.


"Iya.., kan calon tunangan Sha juga dulunya selingkuh sama Kakak kan..?",


"Siapa maksud kamu? Mas Bian..?",


"Iya tuh, mas Bian yang ganteng...",


"Bukan nggak move on, Sharen justru bersyukur udah putus sama kak Bian. Pantes sih, pengkhianat juga jodohnya sama pengkhianat..


Yuk.., No..kita pergi...", ajaknya pada Vano.


"Dijagain tuh, suaminya kak.., biar matanya nggak jelalatan...",


Sharen dan Vano meninggalkan Gladys dan Bian yang nampaknya juga akan check out dari hotel tersebut.


"Kamu kok nggak belain aku sih By..",


"Belain gimana? kamu kan yang mulai..",


Terdengar suara cekcok dari pasangan suami istri tersebut. Andai saja Gladys tidak mengolok-ngolok, mungkin Sharen juga tidak akan mengeluarkan taringnya.


"Alhamdulillah No, akhirnya pindah juga...", sesampainya di Apartement.


"Iya kak, pas banget..lusa Vano harus ninggalin kakak sendirian disini. Nanti, Vano kirimin nomornya Icha ya, biar kakak ada temennya disini..",


"Oh iya, semalem kan kamu belum cerita. Kok bisa kenal sama Icha, dimana?"


"Dia anaknya temen Mami.., Vano dijodohin sama Mami.."


"Dijodohin sama Tante Vina..?",


"He'em...",


"Kok kamu mau..?",


"Kakak liat dia kan semalem? cantik, kalem, adem.., pertama kali Vano liat dia, Vano langsung tertarik.., ya Vano mau.., kapan lagi kan dapet cewek kayak gitu.., sholehah",


"Kok dia mau sih sama kamu..?",


"Ya nggak tau, mungkin emang jodohnya..., paling tahun depan nikah..",


"Kamu udah siap?",


"Udah, nungguin Icha skripsi, kelar..langsung nikah. Vano nggak mau nyia-nyiain kesempatan emas kak...",


"Kakak masih nggak percaya, kamu mau dijodohin..",


"Vano percaya pilihan mami pasti terbaik..",


"Kakak juga kemarin dipilihin sama Mommy, tapi nggak terbaik, tapi terjebak..",


"Tapi, pilihan Daddy kan terbaik.., kakak aja yang nggak mau. Jangan menyia-nyiakan orang yang udah mau berjuang buat kita kak...",


Dari jawaban Vano, sepertinya dulu juga dia mendukung Daddy untuk menjodohkan Sharen dengan Nathan. Ah, sayangnya itu dulu.


"Sayangnya, kakak udah nyia-nyiain dia, dan sekarang kakak kehilangan..",


"Kalo dia jodoh kakak, nanti pasti ada jalannya. Jodoh itu nggak tau darimana datangnya kak. Kayak Vano sama Gladys, dulu kita pacaran lama, udah saling ngenalin keluarga, tapi nggak jodoh..",


"Iya No..tapi kakak udah nggak mau mikirin jodoh lagi. Mau diduluin sama kamu, atau Rai, ya udah nggak apa-apa..",


"Nggak apa-apa nih, di duluin lagi..?",


"Nggak apa-apa..",


Setelah seharian menemani Sharen, Vano akhirnya pamit untuk kembali ke hotel. Sebenarnya masih ada dua kamar kosong di Apartement Sharen, tapi Vano lebih memilih untuk kembali ke hotel. Alasannya, ingin menjaga perasaan Icha, meskipun Sharen adalah saudaranya.


"Berubah banget emang adik kakak..",


"Daripada batal nikah..?",


"Iya-iya kakak tau..


hati-hati ya No...",


"Oke kak..",

__ADS_1


Jenuh, akhirnya Sharen memutuskan untuk keluar dari unit Apartemennya. Dia berniat untuk pergi ke swalayan yang letaknya di seberang gedung.


Sharen bermaksud berbelanja kebutuhan dapurnya. Meskipun sudah dilarang keras oleh sang mommy untuk memasak atau mencuci, tapi paling tidak di dapurnya ada makanan kaleng siap saji yang bisa dia simpan di kulkas.


Hanya memerlukan waktu tiga puluh menit, Sharen membawa tiga buah paper bag. Tidak hanya berbelanja makanan siap saji, tapi Sharen juga membeli beberapa minuman kaleng, roti, selai, susu serta berbagai jenis buah-buahan.


Ponselnya berdering.., padahal Sharen sudah kepayahan membawa barang belanjannya.


"Halo.....," ucapnya menerima panggilan telepon dengan mencepitkan ponselnya diantara kepala dan pundaknya.


Bugh..........


Sharen menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Aku telepon nanti ya..


Maaf..., saya nggak liat jalan..


Sharen memunguti jeruk yang menggelinding dan memasukkan satu persatu ke dalam paper bag.


"Duh..malah jatuh..", gumamnya.


"Lain kali hati-hati..", ucap seseorang itu dengan memberikan barang belanjaan Sharen yang sudah dimasukkan kembali ke paper bag.


Sharen melihat ke arah laki-laki itu.


"Ma-ma...af...",


Laki-laki itu berjalan menjauh dari Sharen.


"Tunggu...", ucap Sharen.


Dia langsung berlari kecil mendekati laki-laki itu.


"Makasih...",ucap Sharenen.


Tidak menjawab, tapi laki-laki itu hanya mengangguk. Sharen membaca sebuah nama yang tertera pada name tag nya.


"Makasih


Dave...",


Laki-laki yang umurnya sebaya dengannya itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Sharen meletakkan barang belanjannya di pantry. Tidak ada niat sedikitpun untuk membereskan atau menaruh pada tempatnya. Sharen biarkan barang belanja tetap di dalam paper bag.


"Halo Tam...",


"Kenapa tadi di matiin?",


"Aku tadi lagi jalan, terus jatuh..",


"Kamu nggak kenapa-napa?",


"Nggak cuma belanjaannya aja yang jatuh keluar dari tasnya..",


"Tapi, kamu nggak apa-apa kan?",


"Aku baik-baik aja kok..",


"Sha.., aku mau ngasih kabar ke kamu..",


"Tentang dia lagi..? nggak usah Tam..",


"Kalo kamu mau denger, kalo nggak ya udah..


tapi aku mau ngasih kabar tentang aku, bukan dia..",


"Apa..?",


"Aku mau nikah..",


"Hah..? serius..",


"Ya.., aku udah memutuskan Sha, aku nggak mau kehilangan Lisa lagi..",


"Selamat ya Tam, kapan rencananya..",


"6 bulanan lagi..,


kamu datang ya..",


"Pasti..


Nggak kamu, nggak Vano, dia juga mau nikah..",


"Vano mau nikah..?",


"Iya, nunggu pacarnya wisuda..",


"Kamu dilangkahin lagi dong..",


"Ya nggak apa-apa..",


"Gimana hari ini..?",


"Pertama, hari ini aku bertemu dengan orang yang sama sekali nggak aku harapkan, aku bisa ketemu di Aussie...


yang kedua...dari Vano aku belajar..


jangan sesekali mengabaikan orang yang peduli dan mau berjuang buat kita..,contohnya aku..


yang ketiga dari kamu. Kesempatan nggak datang untuk kedua atau ketiga kalinya. Kalo kamu udah yakin, ya ikat dia dengan sebuah ikatan suci..",


"Kamu kayak pujangga ya Sha bahasanya.."


"Hahaha ya gitu..",


"Kamu mau denger satu kali lagi tentang dia nggak Sha..",


"Nggak usah Tam..",


"Beneran nggak mau..?"


"Nggak mau..",


"Tapi kamu harus tau..",


"Apa..?",


"Pertunangan itu nggak pernah terjadi..",


"Bukannya kamu telat ke bandara karena hadir di acara itu..?"",


"Dia nggak pernah datang Sha.., acaranya batal..",


"Aku nggak tau harus senang apa sedih Tam..",


"Kamu masih punya kesempatan Sha..",


"Nggak Tam..",


"Kenapa..? kesempatan nggak akan datang kedua atau ketiga kalinya, seperti kata kamu tadi..",


"Aku baru saja bertemu dengan seseorang Tam..",


"Laki-laki..?",


"Iya.., sepertinya aku tertarik...",


"Siapa..?",


"Dave...", jawab Sharen.


"Semoga kamu berhasil, Sha..",


"Makasih Tam..",

__ADS_1


Sharen memeluk gulingnya dengan erat. Sharen masih saja membayangkan pertemuan pertamanya dengan Dave, pertemuan yang tidak sengaja dan mirip dengan adegan di drama film. Dua orang yang tidak sengaja bertubrukan, bertemu kembali, mereka kencan, hingga berpacaran dan akhirnya menikah. Happy ending...


"Semoga seperti itu...", ucap Sharen dengan menenggelamkan wajahnya.


__ADS_2