
" Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita kan doakan selamat sejahtera sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia..",
Senyum seumringah terukir dari bibir Eljaz yang hari ini berulang tahun yang keempat. Dia meniup kue ulang tahun yang bertema kartun mobil balap Cars kesukaannya. Disambut oleh tepuk tangan ketika Jaz selesai meniup lilin.
"Hore.., Jaz hari ini ulang tahun...., seneng nggak?", tanya Sharen.
"Seneng...",
"Ayo potong kuenya sayang.., Moma bantu ya..",
Sharen memotong kue ulang tahun, lalu memotongnya kecil. Dia memberikannya pada Jaz.
"Potongan pertama, Eljaz mau ngasih ke siapa? Daddy atau Oma?", tanya Sharen.
Jaz memotong kue tersebut menjadi potongan kecil, lalu menyodorkannya pada mulut Sharen.
"Buat Moma..", ucapnya polos.
Sharen membuka mulutnya lebar lalu memakan kue yang diberikan oleh adik yang sudah dianggapnya sebagai putranya sendiri.
"Makasih sayang..",ucap Sharen yang tidak kuasa menahan air matanya. Namun, dengan secepat kilat dia mengusapnya. Tidak ingin Jaz melihat kesedihan dibalik kebahagiaan yang Jaz saat ini rasakan.
"Buat Daddy sama Oma mana?", tanya Rendra.
Jaz bergantian menyuapi Daddy dan Oma Widya. Lalu, dengan polosnya balita itu meminta kado , hadiah ulang tahun untuknya.
"Kado..", ucapnya singkat yang langsung menengadagkan kedua telapak tangannya.
Rendra tersenyum, lalu memberikan sebuah kado berukuran sedang yang entah apa isinya.
"Thank you Dad..",ucapnya.
Jaz memang baru genap berusia 4 tahun. Dia memang hanya sedikit berbicara, tapi ejaan katanya sudah jelas. Bukan speech delay seperti apa yang dikatakan oleh Sharen. Tapi, hanya pelit berbicara.
"Kado yang ada disini, semuanya punya Jaz..", ucap Sharen kepada Jaz.
"Thank you..", ucap Jaz yang langsung berlari naik ke lantai atas dengan membawa kado yang diberikan Dad Rendra untuknya. Sri, langsung berlari menyusul anak asuhnya.
"Jaz.., jangan lari..", peringat Sharen yang tidak digubris oleh Jaz.
Ulang tahun Jaz memang hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja. Hanya perayaan sederhana saja untuk membuat sebuah memori indah bagi Jaz. Ini kali pertama ulang tahun Jaz dirayakan.
"Tante.., om..silahkan hidangannya dinikmati.., yang ulang tahun malah udah kabur.., hehe..", ucap Sharen yang mempersilahkan para tamu undangan yang sebenarnya adalah keluarga dekatnya sendiri.
"Kok nggak bilang Tante kak? tau gitu Tante bantuin..",ucap Vina.
"Sharen aja nggak bilang sama aku Vin, kalo ada acara ulang tahunnya Jaz.., beli kadonya dadakan tadi..", ucap Fafa.
"Hehe.., cuma acara kecil-kecilan aja kok Tan..",
Tidak seperti ulang tahun balita yang mengundang badut atau sulap untuk memeriahkannya. Undangan saja malah kebanyakan di hadiri oleh orang dewasa. Acara ulang tahun rasa acara pertemuan keluarga tepatnya. Namun, tidak apa. Meskipun hanya dihadiri oleh orang terdekatnya, Jaz sudah terlihat sangat happy.
Suasana mendadak menjadi canggung dan mencekam. Ketika tiba-tiba Javas masuk ke dalam rumah. Semua pandangan tertuju kepada pemuda yang saat itu memasang wajah datarnya.
"Eljaz - is - turning - four..",
Javas membaca backdrop dengan mengejanya perlahan.
"Oh.., ada yang ulang tahun ya..", ucap Javas yang langsung memandang ke arah Fafa.
Bunda Fafa mengangguk, sudah tahu apa yang harus diperbuat.
"Mah.., kita ke belakang dulu ya..", ucap Fafa yang langsung mendorong kursi roda yang duduki oleh mertuanya menuju ke rumah bagian belakang.
Rupanya, Javas mengode aunty nya untuk membawa Omanya menjauh. Dan, keributan sudah pasti akan terjadi.
"Siapa yang ngadain acara ulang tahun Jaz? Oh.., sudah pasti Daddy..",
__ADS_1
"Dek..,tenang ya.., kakak yang nyiapin ini semua. Jangan marah.., kita bicara dulu..", ucap Sharen yang berbicara mendekat ke adiknya.
"Stop Queen.., nggak usah deket-deket aku..", tunjuknya pada Queen.
Sharen bukan satu-satunya perempuan yang dibuat panik oleh kedatangan Javas yang tiba-tiba. Ada Yasmine yang jantungnya berdegup kencang seperti mau copot.
"Bebi...",ucapnya.
"Mine..., kamu bohong sama kakak. Katanya mau ke salon? tapi nyatanya? kamu ada disini..ikut ngerayain ulang tahun? ",
"Kak..maaf..Mine cuma..",
"KALIAN SEMUA GILA..!!!", teriak Javas.
"JAVAS...STOP!!!", ucap Rendra dengan keras.
"Kenapa Dad? Javas salah bilang kayak gitu?",
"Disini bukan cuma ada Sha atau Yasmine, disini ada orang tua nak..",
"Ya disini memang banyak orang, kenapa? Daddy takut kalo Javas bilang kesemuanya kalo apa yang terjadi sama Mom, adalah kesalahan Dad?",
"Dek..stop dek..., udah Vas..",
"Ini beneran acara ulang tahunnya Jaz?atau acara perkenalan Dad untuk calon istrinya yang baru?", sorot mata tajam Javas tertuju pada perempuan yang berdiri tepat disamping Rendra. Perempuan itu langsung menundukkan pandangannya ketika matanya bertemu dengan mata Javas.
"Hah.., perempuan kayak gini yang mau jadi penggantinya mommy? Dad..dad..., bukannya upgrade tapi downgrade..",ucap Javas lagi.
"Vas.., tutup mulut kamu..", peringat Rendra lagi.
"Kenapa!! salah?? bela aja terus...",
Kehadiran Yasmine disitu tidak mempan untuk meredam kemarahan Javas. Justru, Javas semakin murka.
"Dek.., mommy pasti sedih kalo liat anak kesayangannya bicara kayak gini.., tenang ya Vas..",
"Javas.., udah ya.., udah..", Sharen memelas.
"Dad.., nggak perlu nunggu izin Javas untuk menikah.., cukup nggak usah anggap Javas sebagai anak lagi..",
Kata-kata ekstrim Javas akhirnya keluar. Dia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Kedatangan Javas sudah pasti ada tujuan. Mustahil dia mau pulang kerumahnya. Pasti ada barang yang tertinggal di kamarnya.
"Mine.., nggak usah disusul, Javas lagi emosi..", ucap Nathan yang melihat adiknya hendak menyusul Javas.
"Nggak apa-apa. Semarah-marahnya kak Javas, dia nggak pernah mukul Yasmine.., oke.."
Ternyata keributan yang disebabkan oleh Javas di dengar dan dilihat langsung oleh Eljaz. Anak kecil itu melihatnya dari lantai atas. Sejak pertama kali Javas datang, Eljaz sudah mengamatinya. Kemana Sri?Ada dibelakang Jaz. Baby sitter itu gagal membawa Eljaz masuk ke dalam kamarnya kembali.
"Kak..",
"Keluar Mine..keluar..", Javas mengusir Mine dari kamarnya.
"Maafin Mine..",
"Kamu ikut ngerayain hari ulang tahun Jaz, itu sama aja artinya kamu ngerayain hari kepergian Mommy..",
"Bebi.., mom Aira masih ada..", ucapnya memeluk kekasihnya dari belakang.
"Antara ada dan tiada..", Javas menunduk. Kedua tangan Mine basah. Air mata Javas turun membasahi. Javas menangis.
"Bebi.., don't cry. Kamu kangen sama Tante Aira? kita kesana ya?",
"Aku mau ambil sesuatu dulu..",
Adegan romantis sekaligus menyedihkan itu dilihat oleh Eljaz dan pengasuhnya yang berdiri di ambang pintu kamar. Tangan Jaz di tahan oleh Sri, namun Jaz bisa melepasnya dan meneruskan niatnya untuk masuk ke dalam.
"Jaz sayang sama kak Javas.., tapi kenapa kak Javas selalu benci sama Jaz? Kak Javas jahat!!!!!!",ucapnya dengan lantang. Bahkan Javas tidak menyangka adiknya bisa berbicara selancar dan sepanjang itu.
__ADS_1
"Javas terlalu kecil untuk mengerti ini semua sayang.., tenang.. oke.., biar dia pergi..", bujuk Yasmine dengan mengelus dada kekasihnya. Dan usahanya berhasil. Javas hanya diam, menatap punggung kecil milik Jaz yang terlihat bergerak. Jaz sepertinya menangis. Dengan cekatan, Sri langsung menggendongnya.
"Anak ganteng.., cup..cup..",usahanya untuk menenangkan Jaz.
Tit..tit..tit..tit..tit..
Suara yang berasal dari monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh. Hidupnya ditopang oleh berbagai alat untuk membantunya agar bertahan hidup.
"Mom..., Javas kangen. Mom kapan bangun? mom nggak capek tidur terus? Javas kangen mom..", ucapnya dengan memegang tangan Aira.
Yang diajak bicara diam, mulutnya menganga karena alat yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Hari ini, tepat empat tahun yang lalu, mom mengawali tidur panjang. Javas kira mommy cuma tidur sebentar, tapi kenapa selama ini mom? Mommy nggak kangen sama Javas? Mommy bangun.., nanti kita jalan-jalan. Terakhir, mommy pengen ke Paris kan? kita pergi mom.., berdua aja. Mommy sama Javas.., ayo mom..bangun..." ucapnya lirih.
Yasmine hanya diam, memberikan usapan kecil pada bahu Javas dirasa cukup dibandingkan harus ikut berbicara ketika kekasihnya mengobrol dengan mommynya.
"Javas kesini karena kangen banget sama mommy.., oh iya..ini Javas bawain foto kita berdua. Javas taruh disini ya mom.., anggep foto ini adalah Javas yang selalu temani mom disini. Javas nggak kemana-mana.., Javas disini mom..",
Javas mencium kening Aira, dalam dan lama.
"Javas berharap, mommy itu seorang putri yang dikasih racun sama nenek sihir. Dan, ketika ada pangeran yang mencium mommy, saat itu pula mommy bangun. Tapi, Javas salah ya mom...",ucapnya menyeka air mata.
Sharen memainkan jarinya, dengan pandangan lurus kedepan. Nathan yang berada disampingnya hanya memperhatikan tingkah Sharen. Nathan mengerti perasaan Sharen.
"Sha...",
"Maksud aku cuma mau bikin Jaz seneng, itu aja Than. Aku nggak maksud ngerayain hari perginya mommy.., nggak Than..",
"Iya aku ngerti.., Javas memang sensitif apapun hal yang menyangkut Tante Aira...",
"Kata pengasuhnya, Jaz tadi liat marahnya Javas. Jaz tadi berani ngomong lantang sama Javas.., aku nggak tau cara ngejelasin Jaz kalo dia tanya ke aku Than..",
"Kamu jujur aja Sha...",
"Aku nggak bisa......., aku nggak tega. Jaz belum ngerti ini semua. Aku mau bilang kalo mommy-nya bukan aku? terus kalo dia tanya, mommy-nya yang asli dimana? aku harus jawab mommy kamu hidup tapi mati aku harus gitu Than..??",
"Coba dulu..pelan-pelan Sha..",
"Aku pertimbangkan.., aku butuh banyak waktu Than..",
"Iya.., bilang ke aku kalo kamu udah siap, aku pasti bantu..",
"Dulu, Daddy adalah orang yang sangat disegani sama Javas, tapi sekarang kebalikannya..",
"Kemarahan Javas sama Daddy kamu udah menumpuk Sha.., belum lagi tadi dia liat Tante Erna..",
"Tante Erna bukan calon istri Daddy, mereka cuma teman ngobrol.., Daddy nggak ada perasaan apa-apa..",
"Om Rendra mungkin emang nggak punya perasaan, gimana sama Tante Erna? bukan nggak mungkin dia punya perasaan sama Daddy kamu kan? ",
"Aku bahkan nggak punya pikiran untuk punya ibu tiri Than..",
"Aku nggak berhak mencampuri urusan keluarga kamu Sha.., cuma aku liat.., kondisi saat ini, yang membuat Javas semakin marah sama Daddy kamu. Salah satunya, Tante Erna...",
"Yang aku liat, kedekatan mereka cuma sekedar temen ngobrol aja, nggak lebih..",
"Temen ngobrol, tapi hampir tiap hari Tante Erna ke rumah?",
"Terus aku harus gimana? larang Daddy Deket sama Tante Erna?",
"Yang tau cuma kamu Sha..",
Sharen memegang pelipisnya. Pusing yang dia rasakan saat ini. Javas, Daddy, Jaz semuanya memenuhi pikirannya.
"Aku pusing Than..",
"Kita masuk ke dalam aja, kamu istirahat.."
__ADS_1