
Hari masih gelap, belum juga ada tanda matahari akan muncul. Namun, Javas terbangun oleh suara istrinya yang terdengar muntah-muntah. Mengucek matanya, mengumpulkan nyawa dan meyakinkan benar jika itu suara Kina. Javas segera bangun dan beranjak dari tidurnya.
Javas mendapati Kina yang berada di depan wastafel, terlihat sedang memuntahkan isi dalam perutnya.
"Hueeeekk....hueeeekkkkk...",
Javas memegangi tekuk kepala istrinya. Kina menoleh setelah menyadari jika tangan suaminya mendarat di leher belakangnya.
"Muntahin sayang...",
Kinara menggeleng. Dia menegakkan badannya, lalu mengambil tissu dihadapannya dan mengusap mulutnya.
"Udah mas...",
"Mual..?",
"Hum...., tiba-tiba kebangun, haus banget. Pas udah diminumin air malah mual banget...",
"Kamu baik- baik aja..?",
"Iya udah nggak apa-apa..
Mas Kok bangun?suara Kina ganggu mas istirahat ya..?",
"Nggak apa-apa sayang...",
Javas membopong istrinya menuju kembali ke ranjang.
"Mas..apaan sih..?",
"Biar nggak capek jalan...",Javas mendapatkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia ikut tidur disamping Kinara.
"Mau dibalurin minyak angin nggak?",
"Nggak usah, Kina nggak tahan sama baunya..",
"Dulu..waktu hamil Zee..juga kayak gini sayang..?",
"Hmmmm...nggak
Zee nggak rewel.., sesekali aja..",
"Maaf ya..",
"Apa sih mas..? kan udah dulu..ya udah lupain aja..",
"Seharusnya dulu mas lebih merhatiin kamu sama Zee yang ada di dalam perut, bukan malah mentingin orang lain...",
"Kina udah maafin kok..",
"Mas minta maaf..", ucapnya dengan mencium tangan istrinya.
"Kina yang hamil, kok mas yang sensi..?",
"Mas merasa bersalah sama kamu.., sama Zee. Seharusnya mas ada disamping kamu, apalagi itu kehamilan pertama kamu..",
"Udah jalannya kayak gitu, mau diapain..",
"Mas nyesel sayang...",
"Asal nggak diulangin aja..",
"Nggak akan, percaya sama Mas...
Mas janji, apapun yang kamu mau, sesulit apa ngidam kamu, pasti mas turutin.
Mas akan selalu anter kamu, kemanapun kamu mau. Cukup Zee aja yang dulu di dalam perut nggak kenal sama Papanya, adiknya jangan..",
"Makasih sayang..", ucapnya mengecup bibir suaminya.
"Mas mau sholat dulu..
kamu mau bareng?",
"Bentar lagi ya mas..Kina lemes banget rasanya..",
__ADS_1
"Mau diambilin apa? minum lagi..?",
"Nggak usah,
Kina rebahan dulu bentar mas.., abis itu langsung sholat ya..",
"Iya sayang..",
Javas berjanji pada dirinya sendiri. Kali ini dia akan bertanggung jawab penuh dengan kehamilan kedua Kinara. Dia akan menjadi suami dan papa yang siap siaga untuk istri dan anak-anaknya.
"Baju kerjanya udah Kina siapin mas..", ucap Kinara pada Javas yang baru selesai mandi.
"Nggak usah sayang..
Hari ini mas nggak kerja..",
"Kenapa..? katanya ada pertemuan sama klien?",
"Biar diwakilin sama kak Nathan aja..",
"Mas nggak boleh gitu..",
"Mas khawatir sama kamu..",
"Nggak apa-apa, mual muntah itu hal yang wajar, apalagi ini trimester pertama..",
"Vitaminnya yang kemarin emang nggak pengaruh ya? kok masih mual muntah..",
"Namanya juga vitamin mas..,
mas berangkat aja.., Kina nggak apa-apa kok..",
"Nggak..mas off hari ini..",
"Kalo Kina masih muntah, besok juga masih off..?",
"Iya...",
"Kalo Kina muntah terus, berarti off terus mas ?"
"Ini tuh wajar mas..",
"Halo anak papa..
jangan rewel ya di dalam sana..,kasian Mama sampe susah mau makan minum.., kamu kenapa? pengen dimanjain sama Papa ya?pengen ditungguin Papa ya..?",
"Iya papa..", ucap Kina menirukan suara anak kecil. Keduanya tertawa bersama.
Kehamilan kedua ini, memang menjadi hal yang spesial untuk Kinara. Dia ditemani oleh Javas yang selalu memperhatikannya. Berbeda saat dulu mengandung Zee yang hanya dia lalui seorang diri.
"Maaf ya sayang..
nggak bisa nemenin kamu..
nggak enak kalo nolak Javas..",
"Ya udah, mau gimana lagi..udah resiko pekerjaan..",
"Nggak apa-apa kan kalo ngambil hasilnya sendirian?",
"Nggak apa-apa..
Yank..",
"Hmmmm?",
"Aku takut...",
"Nggak usah takut..
hasilnya pasti yang terbaik buat kita. Aku nggak akan pernah berubah, apapun hasilnya nanti, dan aku harap kamu juga gitu..",
"Iya sayang..,
bismillah ya..",
__ADS_1
"Aku antar ke mobil..",
Mobil yang dikendarai Nathan berada di belakang mobil yang dikendarai Mamang dengan Sharen yang berada di dalamnya. Nathan bertujuan ke Prime grup sedangkan Sharen ke rumah sakit tempat mereka menjalani tes tempo hari.
Sebenarnya, ada kekhawatiran yang teramat dalam. Takut jika nanti hasil yang dibacakan oleh dokter menunjukkan jika ada yang salah diantara mereka atau justru dari mereka berdua. Namun, hati Sharen sedikit tenang ketika Nathan dan dirinya berkomitmen. Apapun yang terjadi nanti, tidak akan ada yang mempengaruhi keadaan rumah tangga mereka.
Menempuh perjalanan cukup jauh dan lama, akhirnya Sharen sampai di rumah sakit tersebut. Dia menunggu gilirannya.
Sepanjang waktu, Sharen terus berdoa agar hasilnya nanti sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Menghirup nafasnya panjang, sebelum memasuki ruang dokter agar rasa deg-degannya hilang, namun tidak berhasil. Hati Sharen tetap was-was.
"Silahkan duduk Bu..",
Shaene tersenyum tipis.
"Sendiri Bu? suaminya?",
"Kerja dok..ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan...",
"Oke..
sebelumnya saya belum buka hasil tesnya. Coba saya liat dulu ya....",
Dokter membaca hasil tes tersebut dan mulai menjelaskannya kepada Sharen.
Sharen keluar dari ruangan dokter dengan jutaan tanya. Sebenarnya, apa yang sudah direncanakan oleh Tuhan untuknya? disaat orang lain sangat mudah mendapatkan anak, bahkan ada yang rela untuk menundanya dengan KB, mengapa dia dan Nathan berbeda.
Sharen menitikkan air matanya ketika melihat ibu hamil yang sedang mengantri dengan diantar oleh suaminya. Seumur hidup mungkin Sharen tidak akan pernah merasakannya.
Sharen duduk..., entah apa yang akan dikatakannya pada Nathan nanti.
"Sayang.., gimana? udah..?", tanya Nathan yang menghubunginya melalui video call.
"Iya udah..",
"Gimana hasilnya?",
Bukannya menjawab dengan kata, Sharen justru menjawabnya dengan air mata yang keluar dari matanya. Tidak perlu lebih jauh untuk bertanya dengan maksud Sharen, Nathan sudah tau jawabannya.
"Its oke.., nggak apa-apa..
nggak ada berubah sayang..nggak usah nangis.."
"Nath...aku nggak bisa.......",
"Udah..udah..
nggak usah diterusin, nanti kamu jadi sedih terus. Ini mas udah dijalan, satu jam lagi sampe kok.., tunggu ya sayang...",
Sharen mengangguk.
Mungkin, ini adalah cobaan rumah tangga mereka. Dan, mereka harus menguatkan satu sama lain.
"Sha.....", ucap Nathan.
"Yank...", Sharen berlari ke arah Nathan dan langsung memeluknya.
"Nath...aku sedih...huuuu.....", Sharen menangis di pelukan suaminya.
"Iya aku tau..boleh nangis, tapi sekarang aja. Nanti harus happy lagi..
Dokter bilang apa..?",
"Aku sulit hamil...",
"Itu kan kata dokter..,kita kan bisa berdoa terus..",
"Kita lewatin ini bareng-bareng ya..",
"Pasti sayang..",
"Aku nggak bisa kayak gitu Nath...", tunjuknya pada ibu muda yang baru saja melahirkan, duduk di kursi roda dengan memangku bayinya. Ibu muda itu bersiap untuk pulang.
"Nggak boleh sedih terus..
__ADS_1
Mas sayang banget sama kamu..", ucapnya dengan mencium pucuk kepala istrinya.