
"Pake mobil apa tadi..?", tanya Nathan dengan nafas tersengal, karena dia membopong Sharen.
"Minicooper..",
"Ya udah pake mobil gue aja.., nih kuncinya ambil di saku..",
"Mobil apa ini Nath...",
"Mobil gue..masih aja tanya..",
"Mobilnya apaan be*go...", ucap Tama balik mengatai Nathan.
"Rubicon...
masih tanya parkir dimana?",
"Kagak.., cuma lu yang punya Rubicon.. karyawan disini nggak ada..",
Nathan masuk ke dalam lift, sedangkan Tama memilih untuk melewati tangga dengan berlari cepat.
"Ada apa mas..?",tanya security yang melihat Nathan keluar dari lift dengan membopong Sharen.
"Mbak Sharen pingsan pak..,
mau saya bawa ke rumah sakit..",
Tama memarkir mobil dengan tepat di depan pintu utama kantor Prime grup saat Nathan sudah sampai di lantai 1.
. Security bergegas membantu Nathan masuk ke dalam mobil.
"Makasih pak...", ucap Nathan.
"Udah Nath..?",
"Udah...
cepetan Tam..., sat set nggak pake lama..",
"Iya - iya..",
Nathan berada di kursi belakang, dengan memangku Sharen. Nathan masih berusaha membangunkan Sharen, tapi gadis itu sama sekali belum merespon.
"Sha..bangun...Sha....",
"Kalian berantem tadi..?",
"Berantem? nggak...",
"Kenapa Sharen bisa pingsan..?",
"Lah, mana gue tau..., kan lu yang nemuin dia tadi...",
"Tapi tadi baik-baik aja Nath...",
"Tadi dia bilang lagi nggak enak badan...",
"Terus nggak lu tanya kenapa?",
"Nggak...",
"Pantesan...
Kenapa nggak lu tanya?",
"Nggak mau dikira sok peduli..",
"Anj*ing lu..",
"Lu temennya anj*ing bego..",
"Kenapa lu jadi kayak gini sih Nath..,
tau nggak? gue juga ikutan sakit ati..",
"Gue cuma nurutin kemauan Sharen aja..",
"Ini pasti bagian dari rencana lu sama Om Rendra biar Sharen sadar kan?",
"Gue nggak ada rencana apa-apa..",
"Gila..",
"Udah lu diem aja.., nyetir yang bener. Cepetan bawa mobilnya..
gue mau telepon om Rendra...",
Tama diam, kembali berkonsentrasi. Nathan menghubungi Dad Rendra untuk mengabarkan keadaan Sharen.
"Halo..., ada apa Nath..?",
"Om, dimana?",
"Lagi di rumah sakit, jemput Kina..
Gimana Nath? mau ketemu? ",
"Pas banget om.., tolong Om tunggu disitu aja ya.., ini Sharen pingsan di kantor...",
"Sha pingsan Nath..?",
__ADS_1
Sha kenapa mas..?, terdengar suara Tante Aira dari belakang.
"Iya Om, ini sebentar lagi Nathan sampai. Tunggu ya Om.."
"Oke, hati-hati ya Nath..",
Sepuluh menit kemudian, ketiganya sampai di rumah sakit milik keluarga Perdana. Didepan ruang IGD sudah menunggu Om Rendra, Tante Aira, Javas, serta Kinara. Yang paling penting sudah standby tim medis dengan brangkar yang sudah disiapkan.
"Ya Allah, anak mommy kenapa?", mommy Air menghampiri Sharen.
"Udah sayang, biar di tangani dulu Sharennya..",
Sharen segera di bawa masuk ke dalam ruang IGD, dan giliran Nathan yang langsung mendapat cecaran pertanyaan dari Tante Aira.
"Kenapa Nath? Sharen jatuh atau gimana?",
"Nggak Tan, dia pingsan di ruangannya..",
"Nggak jatuh kan?",
"Nggak Tante...",
"Dari kemarin emang dia lagi nggak enak badan.., masih aja kerja..", gumam Mommy Aira.
"Vas.., kamu pulang aja duluan. Kasian istri kamu.., Ze juga udah nunggu di mobil..", kata Daddy pada Javas.
"Iya Dad..kabar-kabarin keadaan kak Sharen ya Dad..",
"Iya..nanti Daddy kabarin..",
"Javas sama Kina pamit dulu...",
"Hati-hati...",
Nathan dan Daddy Rendra tampak mengobrol. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, karena memilih untuk menjauh dari posisi Mommy dan juga Tama yang ikut menunggu Sharen.
"Tadi kenapa nggak dicegah aja Tam..? Sha lagi sakit..",
"Dia maksa lho Tante.., bilangnya udah ada janji meeting...",
Setelah diperiksa sekitar 15 menit lamanya, dokter menghampiri mommy.
"Gimana dok..?",
"Tekanan darahnya rendah Bu..",
"Tapi nggak kenapa-napa kan dok..?",
Daddy dan Nathan yang melihat dokter, segera mendekat.
"Nggak apa-apa. Pasien cuma butuh istirahat saja, jangan sampai stress ya Bu..pak...
"Nggak ada yang serius kan dok..?", tanya Nathan.
Tama membuang mukanya sambil bergumam lirih.
"Katanya nggak peduli, tapi masih aja khawatir..",
"Nggak apa-apa mas..",
"Anak saya, sudah siuman dok..?",
"Sudah..tapi biar istirahat dulu saja Bu, kalo mau nengok gantian dulu ya. Maksimal 2 orang.., 30 menit lagi dipindah ke ruang rawat, nunggu pasien stabil dulu..",
"Baik..terima kasih ya dok...",
"Kalian mau masuk duluan?", tawar Daddy Rendra pada Nathan dan Tama.
"Boleh om, habis ini Nathan juga mau balik ke kantor..",
Keduanya masuk.
Sharen sudah siuman, tapi sangat terlihat pucat.
"Apa yang kamu rasain?", tanya Tama.
"Pusing Tam..", jawab Sharen dengan suara seraknya.
"Istirahat yang bener ya..",
"Iya...
aku tadi pingsan..? dimana Tam..?",
"Di ruangan kamu..,
aku sama Nathan yang bawa kamu ke sini..",
"Makasih ya...",
"Sama-sama..
Nath, diem aja lu. Tadi aja khawatir banget sama Sharen..,"
Nathan tetap diam.
"Sha.., pengen makan apa? aku beliin..", ucap Tama lagi.
"Nggak usah Tam..makasih ya..",
__ADS_1
"Lu beneran nggak mau ngomong apa-apa ya Nath,
dasar aneh...",
"Sha..aku pamit dulu. Masih ada kerjaan yang harus aku urus..", pamitnya pada Sharen.
"Makasih ya Nath..",
"Sama-sama..
Istirahat ya..", Nathan mendekati Sharen dengan mengusap kening gadis itu. Nathan keluar tapi tidak dengan Tama yang tampaknya masih ingin berada di dekat Sharen.
"Aku panik tadi Sha..takut kamu kenapa-napa. Tapi, Nathan yang lebih panik.., aku dikata-katain tadi.., disuruh nyetir yang bener lah, suruh cepatan..",
"Masa..",
"Yang bopong kamu kan dia..,
diluarnya aja keliatan sok cool, aslinya khawatir banget..",
"Ehm...", respon Sharen singkat. Jujur, dia tidak sepenuhnya percaya dengan Tama. Karena Sharen tau jika Tama masih berharap jika dia dan Nathan bisa bersatu.
"Aku pamit dulu ya, kalo butuh apa-apa bilang aja..",
"Hape aku mana Tam..?",
"Masih di kantor lah, tas kamu juga.
Kenapa? mau hubungi Satria baja hitam..?",
"Ya nggak gitu...",
"Ya udah, aku ambilin ya.
Aku pamit dulu, biar gantian Om sama Tante yang masuk kesini..",
Diluar sana, terjadi perdebatan kecil antara Mommy dan Daddy. Lagi-lagi soal Nathan.
"Liat sendiri kan? anak kita sakit pun, yang ada disamping dia juga Nathan. Yang peduli juga Nathan, bukan yang lain..",
"Terus harus gimana sih mas? harus nungguin Satria balik dulu dari luarkota, gitu..?",
"Cuma Nathan yang bisa diandelin Ra.., bukan yang lain..",
"Tuh tadi ada Tama..",
"Ya masih mending Tama daripada Satria. Kalo Tama mau sama Sharen, udah mas nikahkan saat ini juga..",
"Kenapa jadi Tama sih mas?",
"Seenggaknya nggak ada catatan hitam.., nggak kayak Satria, kebanggaan kamu itu..",
"Emang Satria kenapa? mas juga nggak mau bilang sama Aira kan?",
"Kalo mas bilang sama kamu, kamu bakalan percaya? palingan juga nggak. Pokoknya kalo ada apa-apa sama anak kita, kamu yang tanggung jawab...",
Aira merengut, dia meninggalkan suaminya dan masuk ke IGD menemui putrinya.
"Sayang.., udah enakan?",
"Kepalanya masih pusing mom, tapi udah nggak dingin..",
"Kinara keluar rumah sakit, tapi gantian kamu yang masuk...",
"Sha dirawat di rumah aja deh mom..",
"Udah disini aja, nanti Dad marah kalo kamu minta pulang..",
"Daddy mana?",
"Di luar, lagi ngobrol sama Tama..",
"Mommy udah hubungi Tante Rida, bilang kalo kamu sakit, biar Tante Rida juga bilang sama Satria. Hape kamu di kantor kan?",
"Iya mom..makasih..",
Daddy masuk ke ruang IGD.
"Kamu tertekan Sha..? kenapa?",tanya Daddy tanpa basa-basi.
"Pertanyaan apa sih mas itu? anak kita sakit bukannya tanya apa yang dirasain..?",
"Kamu denger nggak kata dokter tadi. Sha itu stress.., mungkin juga tekanan dari kamu.., karena kamu paksa..",
"Paksa apa? Aira nggak pernah maksa dia...",
"Udah mom.., Dad..
Sha nggak kenapa-napa, cuma kecapekan aja..",
"Ya udah, istirahat di rumah sakit aja dulu.
Dad mau bilang ke suster biar kamu di pindahin..", ucap Daddy .
Daddy Rendra menemui penjaga IGD meminta agar putrinya segera dipindahkan ke kamar rawat yang lebih nyaman.
"Jangan didengerin apa kata Daddy ya..",
Sharen mengangguk. Tapi, ada rasa gemuruh di dadanya. Daddy telah berubah.
__ADS_1