
"Yank...",
"Hmmm...", ucapnya dengan memainkan rambut Sharen.
Saat ini mereka sedang bersiap untuk tidur, namun sebelum itu Sharen melakukan pillow talk dengan suaminya.
"Yank..kalo kita cek kesehatan, gimana?",
"Kamu sakit?!",
"Bukan itu.., tapi cek kesehatan reproduksi..",
"Kenapa tiba-tiba gitu?", tanyanya dengan menurunkan pandangannya ke arah istrinya.
"Ya kalo kita udah tau sehat..., nggak ada problem kan lebih tenang gitu yank...",
"Kamu emang beneran mau cek, atau karena ada yang desak kamu aja..?", tanya Nathan balik. Dia tahu karakter Sha, dan itu sudah hafal di luar kepalanya.
"Nggak ada mas..",
"Kamu emang udah pengen banget punya baby? udah siap?",
"Udah..",
"Atau karena desakan mommy kamu aja.., iya..? atau malah mama? kalo mama yang bilang kayak gitu, biar nanti mas yang bilang..",
"Nggak kok...", ucapnya berbohong. Padahal, sebenarnya memang salah satu faktor dari ibu mertuanya.
"Nikmatin aja dulu sayang..
nggak usah buru-buru...",
"Ya ini juga dinikmati kok..,
kita bisa pacaran dulu..
tapi kalo udah ditinggal kerja, aku kesepian...",
"Kan bisa ke rumah Mama, atau ke rumah Mommy yang lebih rame...",
"Ya kan beda yank..",
"Nanti dulu aja..",
Berusaha membujuk suaminya tapi sepertinya gagal.
"Mendingan kita usaha lagi..", ucap Nathan.
"Gimana..?",
"Usaha lagi..",
Nathan mulai bergerilya melucuti pakaian istrinya satu persatu. Nathan dan Sharen mencoba kembali untuk membuat anak mereka berada di dalam perut Sharen.
"Nanti mau dijemput jam berapa..?", tanya Nathan ketika mereka sudah sampai di rumah Mama Farah.
"Kalo mas pulang aja, terus kita langsung ke rumah Mommy...",
"Oke..,
mas berangkat kerja dulu ya...",
"Iya hati-hati mas..",
"Mah..berangkat dulu ya..
Mama cepetan sembuh...",
"Iya..
hati-hati Nath.., jangan ngebut-ngebut..", nasehat Mama.
"Iya Mah.."
__ADS_1
Hari ini, Sharen berada di rumah mertuanya. Mana Farah sedang tidak enak badan, dan sebagai wujud perhatiannya, Sharen mengunjungi rumah sekaligus memastikan keadaan Mama mertuanya baik-baik saja.
"Mama kepengin apa? Sharen beliin ya? atau mau dimasakin apa? tapi Sharen belum pandai masak Mah...",
"Nggak usah Sha, kamu disini aja Mama udah seneng banget...",
"Kalo masih belum enakan, kita ke rumah sakit aja ya Mah..",
"Nggak usah,
Mama cuma butuh istirahat aja..",
"Ya udah, Sha tinggal keluar ya Ma..",
"Iya sayang..",
Sebenarnya Sharen tahu, ada sesuatu yang ingin Mama Farah katakan kepadanya. Tapi, sepertinya masih ragu-ragu.
Mama Farah beristirahat di dalam kamarnya. Jam makan siang tiba, namun beliau belum keluar. Sharen, membawakan makan siang untuk Mama.
"Mah.., makan dulu ya...",
"Pahit banget mulut mama Sha..",
"Dipaksa mah, dikit aja..",
"Nggak bisa..",
"Bisa..,
dua atau tiga sendok Mah.., nanti langsung minum obatnya ya..",
Setelah dibujuk oleh Sharen, akhirnya Mama Farah mau untuk memaksa mulutnya makan. Setelahnya, beliau meminum obat dan kembali beristirahat.
Suasana di rumah mewah itu sudah seperti kuburan. Sepi dan sunyi. Rumah sebesar ini memang hanya dihuni oleh dua orang dan beberapa pegawainya. Sharen jadi berpikir, keputusannya bersama Nathan untuk tinggal sementara di Apartement adalah hal yang salah. Andai saja...............
"Yank..
tengokin Mama dulu gih..
"Nginep disini..?", tanya Nathan.
"Iya..nginep..",
"Tumben, kenapa..?",
"Kasian Mama..",
"Iya..,
aku ke kamar Mama dulu...",
Entah apa yang dibicarakan oleh Ibu mertua dan suaminya di dalam kamar tadi. Namun, saat keluar Nathan memasang muka kusut.
"Yank, airnya udah aku siapin...",
"Iya..", jawabnya singkat.
Sharen yakin, ada sesuatu yang menjadi bahan perbincangan. Tapi, entah itu apa. Bisa jadi mengenai dirinya yang belum hamil hingga kini.
"Yank...", tanyanya saat mereka berdua berada di dalam mobil.
"Hmmmm..",
"Kenapa? kayaknya ada sesuatu.."
"Kenapa kamu nggak cerita..?",
"Cerita apa?",
"Mamah..",
"Mamah kenapa?",
__ADS_1
"Mamah kan yang nyuruh kamu periksa ke dokter?",
"Nggak yank..",
"Jangan bohong..
Mamah bilang sendiri ke aku tadi..",
Mamah, kenapa harus bilang sih. Padahal Sharen udah nutupin dari Nathan.
"Iya kan?", tanya Nathan lagi.
"Ya mungkin Mamah udah pengen nimang cucu..",
"Jadi bener..?",
"Enggak..", gelengnya sambil memegang tangan suaminya.
"Mamah nggak bilang secara langsung sama aku. Tapi, mamah bilang sama mommy...",
"Jadi karena ini kamu minta check up?",
Sharen mengangguk.
"Berarti kamu nggak terbuka kan sama aku?",
"Yank.., bukan gitu...,
aku cuma nggak mau kamu salah paham sama Mamah, itu aja kok...",
"Aku nggak suka aja..",
"Mas kan harapan satu-satunya..",
"Terus, kalo kamu yang nggak bisa ngasih keturunan, aku harus nikah lagi? kalo sebaliknya gimana? aku yang nggak bisa buat kamu hamil, kamu bakalan ninggalin aku..?",
"Nggak yank, kamu mikirnya terlalu jauh...",
"Tujuan orang nikah, emangnya cuma biar punya anak? Kalo nggak ada anak, emangnya nggak bisa bahagia?",
"Yank,
emang tujuan orang nikah bukan cuma punya anak doang, tapi kalo orang tua kan berharap keturunannya nggak berhenti di kita aja yank..",
"Nanti kita langsung balik ke Apartement, nggak ada nginep di rumah Mamah..",
"Mamah lagi sakit loh mas..
mas tadi marah sama Mamah kan pasti? kasian..",
"Nggak..,
malahan nggak ngomong apa-apa..",
Suasana hati Nathan yang buruk menjadikan wajahnya ditekuk selama berada di rumah Mommy dan Daddy. Sebenarnya Sharen ingin sekali bercerita kepada Mommy tentang masalahnya. Tapi, Sharen tidak ingin memperlebar. Apalagi, Mommy juga sepertinya sedang memiliki konflik dengan Kinara, adik iparnya.
Ada apa dengan keduanya? entahlah. Yang jelas, Kinara terlihat sangat sedih. Apalagi, Mommy yang terus-terusan bersikap.
"Ada masalah Sha..?",tanya Daddy. Takut jika bercerita dan Daddy akan salah paham. Tapi, menutupi pun rasanya percuma.
"Cuma salah paham aja Dad..",
"Selesaikan baik-baik ya..",
"Iya Dad..",
"Kalo kamu nggak bisa nyelesain, bilang ke Daddy. Nanti kita selesaikan sama-sama. Daddy perantaranya...",
"Ini masalah sama Mamah juga Dad.., Sharen bingung jadi penengahnya..",
"Sabar.., memang kita sebagai menantu kadang harus bersikap netral.
sabar ya Sha..",
__ADS_1
"Makasih Dad..",
Jadi ini tuh, POV Sharen waktu makan malam di rumah Mommy. Inget kan? waktu Sharen bilang muka suaminya ditekuk?