
Kinara dipindahkan ke ruang rawatnya. Namun, tidak dengan bayinya yang harus mendapatkan perhatian khusus selama 24 jam ke depan, karena lahir kurang Minggu. Tapi, secara keseluruhan bayinya sehat. Dokter hanya perlu memastikan saja.
"Anak saya nggak bakalan ketuker kan sus..?", tanya Javas.
"Tidak pak..",
"Awas aja kalo sampe ketuker bayinya, saya tuntut rumah sakit ini..",
"Dasar dodol.., yang punya rumah sakit ini juga Daddy, mau nuntut Daddy..?",
"Oh iya lupa kak..",
Javas memastikan kenyamanan, serta keamanan bagi istri dan putranya.
Inilah moment pertama kali, Kinara kembali bertemu dengan kedua mertuanya. Kinara sebenarnya canggung, takut jika Mommy atau Daddy memusuhinya. Tapi, ketakutannya salah.
"Kina...",
"Mommy...",
Kinara yang hendak bangun dari tidurnya, dicegah oleh mommy Aira.
"Tiduran aja Na...",
Mommy menghampiri Kinara lalu memeluknya.
"Makasih ya, sudah berjuang ngelahirin cucu mommy...",
"Iya mom..sama-sama..",
"Kemana aja kamu selama ini? kenapa pergi...?",
"Maaf mommy..",
"Sayang.., jangan bahas sekarang, kasian kina abis lahiran, biar istirahat dulu. Nanti kita bicara sama-sama, Sharen juga..",
Sharen menundukkan kepalanya, dia pasrah jika nantinya dia akan disidang oleh keluarga besarnya.
"Selama ini kakak umpetin dimana, istri Javas.., tega ya kak..", bisik Javas.
"Bukan kakak yang ngumpetin, tapi istri kamu yang emang nggak mau ketemu sama kamu. Karena suaminya lebih mentingin orang lain daripada dia..",
Javas dibuat diam oleh ucapan Sharen.
"Bener kan..?",
"Nggak gitu kak..",
"Fakta itu...",
"Iya udah, jangan dibahas..",
Sharen dan Javas berbisik, sedang mommy dan Daddy nya terlihat mengobrol dengan Kinara.
Disaat seperti ini, tiba-tiba Surti masuk ke dalam ruang rawat Kinara. Tidak sendiri, melainkan bersama Jaz. Lha kok bisa..?
"Kak Dok....", ucap Jaz yang langsung berlari menuju ranjang Kinara.
"Jaz....",
"Kak Dok.., Jaz kangen..",
"Kakak juga kangen, kamu tambah embul ya..",
"Baby nya dimana?",
"Ada di ruang bayi sayang...",
"Jaz mau lihat...",
"Boleh.., nanti dianterin sus Sri ya..",
__ADS_1
"Mbak sus lagi makan siang kak, ini Jaz sama mbak Susur....",
"Mbak susur?",
"Permisi nyonya..
permisi tuan...", ucap Surti ketika lewat di depan Daddy dan Mommy.
"Mbak Kina.. ya Allah Alhamdulillah udah lahiran mbak.., saya lega..",
"Iya makasih ya mbak...",
"Katanya mbak Kina ditemenin sama suami mbak? mas ganteng mana mbak..?",
Javas menoleh, dia memang baru pertama kali ini melihat Surti.
Kinara diam.
"Mana mbak suaminya..?", tanyanya.
"Mbak Susur cari siapa? kak Javas? tuh..",tunjuk Jaz pada Javas.
Surti bengong. Karena yang dilihat dari foto dan aslinya sangat berbeda. Di fotonya wajahnya putih mulus, tapi saat melihatnya secara langsung wajahnya brewokan.
"Ah..bercanda..,yang di foto waktu itu ganteng banget, ini kok....",
"Jelek ya.., emang.." ucap Sharen.
"Emang, kak Javas jelek aslinya. Jaz lebih ganteng..",sahut Jaz.
Javas geram, tapi dia menahannya. Dia tidak ingin terlihat kejam dihadapan istrinya.
"Anaknya Kai udah lahir juga mom..? cewek atau cowok..?", tanya Kinara.
Aira memandang suaminya.
"Anak Kai.., nggak selamat..", ucap Aira.
"Ya Allah..., kenapa mom..?",
"Bayinya kekurangan oksigen waktu masih di dalam perut ibunya Na..",
"Kasian Sea..",
"Makanya Tante sama Om Revan belum bisa jenguk kamu. Mommy sama Daddy mau pulang dulu, ngikutin acara pemakaman..., anak kamu belum bisa di bawa ke kamar kan?",
"Belum mom...",
"Jaz.., ikut pulang yuk. Tapi, kita nengok dedek bayi dulu..",
"Hore.., ayok mommy. Jaz pengen liat adek bayinya..",
Tinggal Sharen dan Surti yang di dalam kamar Kinara. Javas, sedang pergi menumpang mandi ke kamar sebelah.
"Mbak nggak pulang..?"
"Iya bentar lagi Na., nanti mau langsung ke rumah om Revan..",
"Mbak..., kalo Na udah boleh pulang, kita ke rumahnya mbak Sharen kan?",
"Ke rumah baru aku? nggak Na..",
"Loh kenapa mbak..?",
"Kakak nunggu sidang mommy Daddy, mereka kayaknya marah sama kakak karena selama ini bantuin kamu sembunyi..",
"Terus gimana mbak..?",
"Kok gimana? ya kamu pulang ke rumah mommy Daddy. Lagian, kamu nggak liat kan? di depan kamar kamu ini udah ada 2 orang yang jaga disini..",
"Siapa..? buat apa?",
__ADS_1
"Orangnya Javas, buat jagain kamu.., biar nggak kabur lagi...",
Kinara diam.
"Bukannya kalian udah baikkan?",
"Siapa bilang? belum kok..",
"Lah..kamu aja minta ditemenin lahiran sama Javas..",
"Itu kan karena terpaksa. Kina kasian liat mbak Sharen, mukanya pucat kayak ketakutan gitu..",
"Halah bilang aja kamu emang pengen ditemenin sama Javas..",
"Nggak loh mbak..",
"Bilang aja iya.., nggak apa-apa kok. Kan Javas yang ngadon, ya dia juga kudu tanggung jawab kan..?",
Kinara tersipu.
"Oh ya, udah siapin namanya..?",
"Masih bingung mbak..",
"Yang jelas harus ada nama Perdananya dibelakang ya..",
Kinara mengangguk.
Javas masuk kembali ke dalam kamar rawat Kinara. Kali ini, wajahnya sudah segar. Dan, satu lagi dia sudah mencukur brewoknya sehingga terlihat wajahnya yang terlihat mulus. Dengan begitu, dia tidak akan diledek lagi oleh orang yang selama ini bekerja untuk istrinya.
"Kak..mau bareng nggak..?",
"Ya udah, boleh deh...",
Surti melongo melihat Javas yang wajah aslinya sama persis dengan fotonya.
"Kenapa? kaget ya? mau bilang saya jelek lagi..?",
"Nggak mas ganteng.., kan saya nggak pernah bilang kalo mas ganteng itu jelek...",
"Jagain istri saya yang bener...",
"Iya mas.., siap...",
Surti ini orangnya kocak dan polos. Tapi, jangan tanya loyalitasnya terhadap Kinara. Surti ini tipe ART yang setia dan telaten terhadap majikannya.
"Sur.., awas jangan jadi pelakor. Adik aku ini udah punya istri..",
"Iya mbak.., saya tau. Mana mungkin saya mau saingan sama mbak Kina mbak..",
"Mas pergi dulu ya sayang.., kamu baik-baik disini..", ucap Javas.
Kinara mengangguk, tapi saat Javas hendak mencium keningnya, Kinara menghindar. Padahal, tadi saat di ruang bersalin saja, Kinara tidak lepas dari Javas. Dasar, perempuan memang begitu, suka malu-malu kucing. Mau, tapi malu.
Javas hanya tersenyum. Tak masalah baginya ditolak oleh istrinya. Yang penting, Kina sudah bertemu dengannya, dan Javas tidak akan melepaskannya lagi. Sebagai gantinya, Javas hanya mengusap rambutnya.
"Nanti malam, anak kita sudah boleh dibawa ke sini..",
"Emangnya boleh? bukannya besok?",
"Boleh sayang, tadi mas udah minta sama dokternya, diizinin. Mas nggak tega liat kamu bengong, pasti kepikiran kan sama anak kita..",
Kinara mengangguk.
"Mas pergi dulu ya..,
Sur..jagain istri saya...awas aja ditinggal..",
"Iya bos ganteng..",
Javas menggeleng.
__ADS_1
Dia melenggang pergi bersama kakaknya. Tinggalah Kinara bersama Surti.