
Semenjak ditinggal oleh Dad dan Mommynya, Jaz kini menjadi tanggung jawab Javas. Dari bangun sampai tidur lagi, Javas harus memastikan jika adiknya nyaman dan dalam keadaan baik-baik saja. Setiap satu jam satu Javas harus mengecek keadaan Jaz. Bahkan sudah dua hari ini Javas selalu menyempatkan diri untuk mengantar jemput Jaz kesekolah.
"Makan yang banyak ya...",
"Iya kak..
Mom sama dad kapan pulang?",
"Nunggu Oma sembuh.., paling tiga harian lagi.., kenapa? kamu butuh sesuatu?",
"Nggak.., Jaz tanya aja...",
"Kalo pengen apa-apa, bilang sama kakak..",
"Iya.., Jaz pengen beli mobil-mobilan lagi..",
"Astaga.., emangnya mainan di ruang bermain kamu masih belum cukup ya Jaz? bahkan anak sekecil kamu juga udah dibeliin mobil beneran sama Dad..",
"Bosen kak..",
"Kamu mau mobil apa?",
"Kak Javas kapan bisa nganterin ke toko mainan? Jaz mau pilih sendiri..",
"Besok lusa..",
"Oke.., kalo gitu Jaz semangat ke sekolahnya..",
"Dasar tuyul.., banyak maunya lu..",
"Biarin aja.., nanti Jaz ganti uangnya..",
"Emangnya kamu punya?",
"Minta Dad.., uangnya Dad kan banyak dibandingkan kak Javas..",
"Oh..., kamu belum tau kalo sebentar lagi duitnya kak Javas nyaingin duitnya Daddy..",
"Nggak percaya..",
"Terserah..",
Pagi itu hanya tinggal tiga orang penghuni yang duduk di depan makan. Javas, Jaz juga dokter Kinara yang masih tetap berada di rumah meskipun Aira sedang berada di Spore. Sebenarnya, dokter Kinara sudah meminta izin untuk sementara kembali kost selagi Aira berada di luar negeri. Tapi, sayangnya ditolak dengan alasan kepergian Aira ke Spore hanya beberapa hari saja.
"Jaz ambil tas dulu ya kak..",
"Oke.., kakak tunggu depan ya..",
Jaz berdiri disusul dengan dokter Kinara yang berjalan di belakang Jaz.
Javas celingak celinguk ketika Jaz keluar. Sudah memakai dasi serta topi. Sudah menggendong tas, botol minum yang dikalungkan di lehernya, tapi ada sesuatu yang kurang. Suster Sri.
Tidak ada baby sitter yang mendampingi, justru dokter Kinara.
"Mbak sus, mana Jaz?",
"Mbak sus sakit kak.., makanya hari ini Jaz diantar sama kakak dokter..",
"Emangnya kamu nggak berani sekolah sendiri?",
Jaz menggeleng.
"Saya jadi bingung, sebenarnya anda ini dokter atau baby sitter?",
"Terserah mas Javas mau anggap saya dokter atau baby sitter. Yang penting kita berangkat sekarang, kasian Jaz kalau nanti telat.."
Jawaban pasrah dokter Kina berhasil membuat Javas bungkam.
"Kakak dokter duduk di depan ya, Jaz mau dipangku..",
"Manja banget sih..",omel Javas.
"Boleh ya kak?", tanya Jaz kepada kakaknya.
"Ya udah boleh..",
Javas masih belum berubah. Masih jutek serta dingin dengan dokter Kinara yang sudah menyadari sikap Javas yang terkesan tidak suka dengannya.
"Nanti kakak jemput lagi kan?",
"Iya jemput lagi..",
__ADS_1
"Makasih udah dianter ya kak..", ucapnya dengan meraih tangan Javas lalu mencium punggung tangannya.
Jaz yang biasanya jahil dan kerap membuatnya emosi, kini berubah menjadi anak yang sangat manis. Mungkin, karena saat ini hanya Javaslah keluarga yang dekat dengannya.
"Belajar yang rajin ya, jangan bandel.., biar jadi anak pinter..",
"Oke kak..
Kakak dokter nungguin Jaz sekolah kan?",
"Iya.., kakak dokter tunggu kok.., nggak boleh nakal ya..",
"Oke..,
Jaz masuk dulu ya, bye..",
Kinara dan Javas kompak melambaikan tangannya. Seketika, suasana berubah menjadi canggung diantara mereka.
"Kalo gitu , saya permisi dulu..",
"Iya mas, silahkan..",
Javas berlalu, keluar untuk segera menuju kantor. Namun, ketika baru tiga langkah dia kembali memutar badannya.
"Dok..",panggilnya.
"Iya mas..",
"Titip adik saya ya.., kalo ada apa-apa hubungi saya.."
"Iya mas..",
"Saya tinggal dulu ya..",
Kinara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sudah lebih dari 24 jam, tapi Nathan masih belum menjawab pertanyaan Sharen. Semenjak berada diluar negeri, memang komunikasi diantara keduanya tidak selancar saat di Indonesia dulu.
Tidak ingin terus memikirkan pesan dari Nathan. Sebelum mengawali aktifitas pertamanya di New Zealand, Sharen menyempatkan diri untuk memeriksa pekerjaan, membuka email yang sudah dikirimkan Tama kepadanya.
Tam.., pengajuan yang sudah kamu kirim email, udah aku send balik. Aku approve..
Makasih bos..,
Cepet bener balesnya,
Iya dong, apa sih yang nggak buat kamu? lagi apa Sha?
Lagi jalan-jalan lah, namanya juga liburan.
Udah makan siang? jangan lupa minum vitamin..,biar nggak lemes..
Perhatian banget sih..
Kalo kamu sakit, siapa yang nyakitin aku?
Jiah.., gelo
Sha.., jaga kesehatan disana. Jangan sampai telat makan, jangan kecapekan, banyakin minum air putih.
Sharen mengernyitkan dahinya. Pesan terakhir yang dikirimkan oleh Tama, seperti dejavu untuknya. Tapi, saat memeriksa kembali tidak ada yang salah. Sharen betul sedang bertukar pesan dengan Tama bukan dengan orang lain.
Makasih Tam..,aku bawain oleh-oleh banyak kalo pulang buat kamu..
Nggak usah repot-repot, kamu pulang aja aku udah seneng
Kesambet apa sih kamu?
Oh ya, jangan lupa masukin tissue basah sama antis ke tas.
Sejak kapan kamu berubah perhatian kayak gini?
Oke.., selamat bersenang-senang bos..,
Sharen menggelengkan kepalanya. Meskipun tidak memiliki seorang yang spesial, paling tidak ada yang memberikan perhatian untuknya. Meskipun hanya dari seorang Tama, teman sekaligus asistennya.
Memikirkan keadaan Omanya yang berada di rumah sakit Spore, Sharen sering berkomunikasi dengan mommynya untuk bertanya keadaan oma Widya. Sedikit lega, karena keadaan beliau sudah membaik, hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi disana.
"Jaz sendirian di rumah ya mom?",
"Kan masih ada Javas.."
__ADS_1
"Kenapa nggak diajak aja sih mom?",
"Mom sama Dad disini kan nungguin Oma di rumah sakit, takutnya kalo Jaz ikut malah nanti nggak nyaman Sha.., kasian kan? mending di rumah aja, ada Javas, ada mbak sus, ada dokter Kinara. Lebih nyaman aja..",
"Iya sih mom..",
"Anak cantik lagi apa?",
"Baru aja balik jalan-jalan mom, ini lagi di Apartement..",
"Oke kalo gitu, mommy tutup dulu ya. Kamu istirahat, fokus liburan aja. Oma udah nggak apa-apa..",
"Iya mom.., salam buat Dad mom..",
"Iya sayang..",
Membuka laptopnya kembali untuk memeriksa laporan yang Tama kirimkan. Ada beberapa pengajuan yang dipending dan mengharuskan revisi dari Sharen dan Tama.
Tam.., udah revisi ya. Aku approve,, udah aku kasih catatan dikit. Kamu susun ulang ya..
Oke boss...
Sippp..besok ajuin lagi ke Javas ya.
Lagi apa?
Kenapa?
Tanya aja.., udah makan?
Bentar.., lagi nungguin team ku yang lain.
Gimana hari ini?
Happy lah...
Happy? pasti ketemu bule ganteng.
Banyak.., sayangnya nggak bikin aku tertarik karena . mommyku carinya menantu SNI aja.., nggak mau import..
Aku aja Sha.., keturunan Sunda asli..dijamin sesuai..
Hahaha kesambet.
Kamu kenapa sih? tiba-tiba perhatian kayak gini sama aku.
Kenapa? ada yang marah? kamu kan jomblo.
Ngeledek..
Wkwkwkwkwk, oke Sha selamat makan.
Tam.., mau tanya..boleh?
Apa cantik?
Kamu sering komunikasi sama Nathan?
Kenapa?
Tanya aja.., masih?
Udah nggak.., kenapa?
Nggak apa-apa, aku kirim chat cuma dibaca aja nggak ada balasan sampe sekarang.
Susul dong.., kan Deket.
Ngawur..aku di new Zealand, dia di Aussie.
Cuma mau tanya Nathan doang? mau titip pesen? apa? biar aku sampein.
Tuh kan, kamu pasti sering komunikasi sama dia..
Kamu titip pesen apa?
Bilangin, suruh balas chat aku.
Gitu doang? Oke boss..
Sebuah jawaban dari Tama yang entah serius atau bercanda, Sharen sulit untuk mengartikannya. Meskipun tidak menjawabnya secara gamblang, Sharen tau jika Tama masih berkomunikasi dengan Nathan.
__ADS_1