
Hari masih pagi, tapi Sharen sudah berkutat di dalam dapur. Dia sibuk memasak untuk membuatkan satu menu untuk keluarganya.
Tidak ada yang spesial apalagi ulang tahun. Mungkin, tangan Sharen terasa kaku karena beberapa hari setelah sampai di Indo dia tidak melakukan aktivitas apapun. Bekerja hanya dia lakukan melalui layar laptop atau ponsel. Memang, selama di Aussie dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah seorang diri. Tapi, ini di rumahnya yang mempunyai belasan Maid di rumahnya.
Maid saja merasa heran dengan nona mudanya yang sepagi ini sudah sibuk di dapur. Kinara yang mendapatkan predikat majikan paling rajin di rumah saja, belum menampakkan batang hidungnya.
"Non.., biar saya aja yang nerusin...",
"Nggak apa-apa bik..biar Sha aja..",
"Nanti tangan mulusnya jadi kotor Non..",
"Kan ada air..,gitu aja repot
Bibik takut dimarahin mommy? tenang aja kan Sharen yang mau...",
Maid menyerah untuk melarang Sharen. Akhirnya, mereka memilih untuk melanjutkan tugas masing-masing, dan salah satu diantara mereka ada yang membantu Sharen.
Anggota keluarganya sudah berada di ruang makan, kecuali Kinara yang mungkin masih repot mengurus Ze.
"Selamat pagi semua..
Nih.., makanannya udah siap...",
"Lho..ini semua kamu yang masak Sha..?",
"Nggak mom.., yang masak Bibik..
Sha cuma buat pancake aja kok..",
"Hmmm..emang bisa ?",
"Bisa dong..,
Selama di Aussie kan Kakak sering masak. Iya kan Dad..?",
Daddy hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Anak Daddy udah dewasa sekarang....
"Cobain deh Vas pasti enak..",
Javas mencoba pancake buatan kakaknya, dan ternyata memang enak.
"Boleh juga...",
"Moma.., Jaz mau dong..",
"Mau disuapin nggak..?",
"Nggak..., Jaz mau makan sendiri aja..",
"Ya udah, gini caranya ya...", Sharen mencontohkan mengiris pancake yang dilihat Jaz dengan seksama.
"Hmmm...enak-enak..", Jaz mengacungkan jempolnya ketika sudah mencobanya.
Selama LDR, mereka memang intens berkomunikasi melalui video call. Tiga hari lagi, Nathan pulang. Dan, bagi Sharen masih terasa lama.
"Mau dibeliin oleh-oleh nggak..?",
"Nggak usah.., kamu pulang dengan selamat, utuh aja aku bersyukur banget..",
"So sweet banget sih pacar aku..",
"Iya dong..,
udah sarapan kan?",
"Udah sayang..,
Mommy, Daddy gimana kabarnya..?",
"Baik.., mereka juga sehat..",
"Jaz, Javas..dokter Kina?"
"Sehat juga.., cuma Ze aja yang agak kurang enak badan..",
"Sakit..?",
"Nggak sih, kebanyakan gerak jadi kayak mungkin pegal gitu. Tapi, ini lagi di pijat..,
Kamu nggak tanya kabar aku gimana?",
"Nggak..,
kan udah tau sayang..",
"Padahal aku lagi sakit..",
"Sakit? kamu flu..?",
"Sakit rindu...",
"Sabar sayang, sebentar lagi aku pulang kok..",
"Lama banget Nath..",
"Sebentar lagi, sabar ya..",
"Iya..",
"Sha.., kamu udah siap ketemu sama Mama Farah..?",tanya Nathan.
Sharen menggeleng. Ya, dia memang belum siap, Sharen takut mendapatkan penolakan.
"Kenapa sayang..?",
"Aku takut Mama kamu nggak bisa menerima hubungan kita..",
"Boleh atau nggak..
setuju atau nggak..
direstui atau nggak..
Pilihanku tetep kamu...",
"Kalo Papa kamu, gimana?",
"Papa udah tau hubungan kita..",
"Udah..?
terus gimana reaksinya?",
"Papa nggak seribet Mama.
Papa selalu dukung apa yang menjadi keputusanku..",
"Jadi, Om Aldo udah bolehin..?",
Nathan mengangguk
"Om Aldo tau dari Daddy ya Nath..?",
"Nggak.., aku yang bilang ke Papa.., dan aku minta Papa nggak usah bilang ke Mama..,
biar aku yang ngomong sendiri..",
"Hmmmm..",
"Kamu nggak tanya?",
"Tanya apa?",
"Kesiapan aku ketemu sama keluarga kamu..,
yang aku hadepin nanti nggak cuma Daddy, tapi ada Javas, Jaz, apalagi Mommy..",
"Aku selalu percaya kamu bisa ngeyakinin mereka..",
"Iya sayang..., tenang aja..",
"Aku cuma takut kalo hubungan kita mendapat penolakan dari mereka.., terus kita dilarang buat ketemu.., aku nanti gimana Nath..?",
"Katanya masih ada Javas..? masih ada Om Revan kan..?",
__ADS_1
"Kamu mau nikahin aku diam-diam gitu..?",
"Nggak sih..,
kan aku udah bilang, yang aku jabat tangannya waktu ijab cuma Daddy, bukan yang lain..",
"Sebenarnya aku juga takut sama keluarga ku sendiri Nath, apalagi waktu kamu punya masalah sama Dewi. Javas keliatan marah banget..",
"Karena Javas nggak mau kamu sakit hati, itu aja kok.., nggak apa-apa sayang.., Javas kan udah tau kalo itu bukan anak aku, nyentuh Dewi aja nggak pernah.."
"Kamu cepetan pulang dong..",rengek Sharen.
"Iya sabar, kan sebentar lagi..
Kalo aku udah diindo, apa hal yang kamu pengen lakuin?",
"Pengen kencan seharian, muter-muter kota, nonton bioskop, ke pantai.., kemana aja pokoknya sama kamu..",
"Iya sayang, apapun yang kamu mau, pasti aku penuhin..",
"Terus, kamu kapan mau ketemu sama Mommy Daddy..?",
"Kita ketemu sama Mama dulu, baru aku ke keluarga kamu..",
"Takut Nath..",
"Nggak apa-apa sayang, kan ada aku...",
Sharen mengangguk.
Mama Farah bukan tidak suka dengan pribadi Sharen. Tapi, hanya kurang setuju jika Sharen berhubungan dengan putranya. Dua hal yang berbeda, kan?
"Sayang.., aku kerja dulu ya...",
"Iya.., hati-hati..",
"Jaga kesehatan.., sebentar lagi aku pulang.., kita jalan-jalan sepuas kamu, ya..?",
"Iya.., bye..
I love you..",
"Love you, too..",
Hari ini adalah weekend. Seluruh anggota keluarganya berada di rumah. Suasana juga terasa hidup dan ramai oleh suara Jaz yang sedang bermain dengan Ze. Ya, putra Javas dan Kinara memang masih berusia 3 bulan, tapi bayi itu sudah bisa merespon jika ada yang mengajaknya berinteraksi.
"Nanti kalo udah gede jangan kayak uncle Jaz ya Ze.., dia selalu kepo, udah gitu usil...", goda Javas kepada adiknya.
"Enak aja,
Jaz kan ganteng, pinter.., iya kan Ze.., iya kan...",
"Tuh kan, Ze aja senyum kak..", ucap Jaz yang memamerkan karena mendapat dukungan oleh Ze.
"Iya, kayaknya kalian nanti kompak deh..,
Punya uncle, tapi kecil ya Ze.., kalo dia macem-macem.., pukul aja Ze.., jangan mau kalah sama uncle..",
"Mas.., jangan ngajarin anaknya gitu ah..., nggak baik..",ujar Kinara.
"Bercanda sayang...",
"Kak...., kalo nanti Jaz gede.., boleh minta mobil merah kayak punya kak Javas, nggak..?",
"Boleh.., duit Daddy kan banyak..,
kenapa emangnya Yul..?",
"Ya pengen aja kayak kak Javas, kalo lagi naik mobil itu jadi keren..",
"Tuyul.., masih bocil tapi udah mikir pengen punya mobil sport..., tuh Alphard punya kamu aja di tuker sama mobil merah..",
"Emangnya boleh kak..?",
"Boleh.., coba tanya aja sama Daddy..",
"Daddy dimana?",
"Di ruang kerja..",
"Heh yul.., nanti aja ketemu Daddy nya..", teriak Javas. Namun, terlambat Jaz sudah keburu berlari menuju ruang kerja Daddy.
"Tuh, kan mas.., Jaz gangguin Daddy. Nanti kalo Daddy marah, gimana?",
"Nggak bakal, Jaz kan kesayangan Daddy...",
Jaz terus merengek pada sang Daddy, meminta mobil Alphardnya dijual dan dibelikan mobil sport seperti kepunyaan kakaknya.
"Jaz kan pengen kayak pembalap Dad. Kan Jaz sama-sama anak Daddy kan? kenapa Kak Javas dibeliin, Jaz nggak..,
"Kak Javas kan udah gede, kalo Jaz belum waktunya, nanti kalo kamu udah kuliah aja...",
"Kelamaan Dad, Jaz aja baru mau masuk SD..",
"Ya udah, SMA aja kalo gitu..
Daddy beliin kalo kamu udah gede ya..",
"Beliin sekarang Dad..",
"Emangnya Jaz udah bisa nyetir..?",
"Belum..",
"Kalo Jaz belum bisa nyetir, berarti nanti mamang yang nyetirin. Yang jadi pembalap kan Mamang, bukan Jaz. Iya kan?",
"Iya ya Dad..
Ya udah kalo gitu.., beliin mainan aja..",
"Iya Daddy beliin..",
"Uangnya mana..?", tangannya meminta pada Daddy.
Daddy menurunkan Jaz dari pangkuannya. Beliau menuju lemari brangkasnya, mengambilkan uang untuk putranya.
Daddy mengambil dua gepok uang pecahan 100 ribu yang langsung diberikan kepada Jaz.
"Nih.., buat beli mainan.
Yang satu buat Jaz , yang satunya kasihin ke kak Kina.., bilang buat Ze..",
"Sepuluh juta ...", bacanya pada kertas bandle dari sebuah bank.
"Wah..., banyak banget Dad, ini boleh dibeliin mainan semua Dad..?",
"Boleh.., sama es krim juga boleh..",
"Asyik.., makasih ya Dad..",
"Iya.., sama-sama..,
Sekarang Jaz keluar ya, terus panggil kak Sharen kesini..",
"Siap bos...",
Jaz berlari, dia menuju ke ruang keluarga lalu memamerkan hasil kerjanya.
"Jaz punya banyak uang..",
"Wih.., tuyul.., dikasih Daddy uang..",
"Iya dong, buat beli mainan...
Nih kak dok.., buat Ze..", Jaz memberikan satu bandle uang kepada Kinara.
"Buat Ze ya..? makasih ya Jaz..",
"Heh tuyul, Ze aja dipangku sama kak Javas nih, kenapa uangnya dikasih ke kak Kina..?",
"Ye.., orang Daddy nyuruhnya dikasih kak Kina aja, buat Ze kok..,
Oh ya.., kak Sharen disuruh Daddy ke ruang kerja..",
"Hmmm, mau dikasih duit juga Jaz..?",
"Iya kali..",
__ADS_1
Sharen lantas berjalan menuju ruang kerjanya. Duit tidak penting untuknya, Sharen justru berdoa semoga kali ini Daddy membahas hubungannya dengan Sharen.
"Dad..",
"Duduk Sha...",
Sha duduk di hadapan Daddynya.
"Daddy mau tanya sama kamu, boleh..?",
"Iya Dad..",
"Kamu udah yakin sama Nathan?",
"Udah Dad..",
"Kalo tiba-tiba Nathan ngajakin nikah, kamu siap?",
"Siap Dad..",
"Ya udah.., Daddy kesini juga nggak mau bahas itu.., Daddy mau ngasih ini ke kamu..",
Daddy menyodorkan satu buah amplop kepada Sharen.
"Apa ini Dad..?",
"Buka aja..",
"Uang Dad..?",
"Iya...",
"Buat apa Dad.., kan tiap bulan Sha juga selalu ditransferin Daddy buat uang jajan..",
"Buat kamu...disimpan aja",
"Ya sudah makasih Dad.",
Sharen keluar. Sedikit bingung, karena Daddy sedikit membahas hubunganya dengan Nathan, lalu memberikannya uang. Tapi, mungkin Daddy ingin terlihat adil, karena barusan beliau memberikan uang kepada Jaz dan putra Javas.
"Kak Sharen dikasih Daddy uang juga..?",
"Huum...nih..",
"Berapa..?", tanya Jaz.
"Kepo...", celetuk Javas
Sharen menghitung uang tersebut.
"Berapa kak..?",
"Sembilan ribu Jaz...",
"Cuma sembilan ribu?
dikit dong, Jaz sama Ze aja dikasih sepuluh juta..",
Mommy, Kinara dan Javas lalu menertawakan kepolosan Jaz.
"Dasar tuyul..,
uang kamu sama uang Kak Sha, itu banyakan uang kak Sha..,
sok-sokan pamer, tapi nggak ngerti..",
"Ye, kan sepuluh juta sama sembilan ribu juga banyakan sepuluh juta..",
"Uang kak Sharen itu dollar Aussie Jaz, bukan rupiah. Jumlah uang kak Sharen itu hampir seratus juta kalo dirupiahin.
Alah udah, dijelasin juga nggak bakalan ngerti kamu..",
"Masa.., kak Javas boong...",
"Ye.., dibilangin nggak percaya..",
"Mommy..ayo kita ke mall beli mainan..., nih Jaz, udah punya uang...",
"Kalo mommy pengen beli mainan juga gimana? Mommy minta Daddy uang dulu ya..",
"Abis Itu ke mall ya Mom..",
"Iya.., kamu ganti baju dulu aja, minta mbak sus..",
"Asyik...",
"Sayang, mau sekalian ngemall?",
"Boleh mas, Kina mau beliin Ze baju..
mbak mau ke mall juga..?",
"Nggak deh, males.., mau ke kamar aja..",
Mommy Aira, masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
"Mas..",
"Sayang...apa..?",
"Mas lagi apa? lagi ngitungin duit..?",
"Nggak.., tadi periksa laporan.., nggak sengaja tiba-tiba nemuin foto anak-anak waktu kecil..",
"Mana mas..liat..",
Mommy Aira mengambil alih foto album yang dipegang oleh Daddy yang menunjukkan potret salah satu anaknya.
"Sharen ya mas.., gemoy banget dia mas..",
"Iya.., mana cantik sendiri..",
"Ya kan putri kita cuma satu mas..,
ini waktu dia masih bayi.., lucu banget..",
Daddy Rendra memperhatikan istrinya yang berbinar melihat potret Sharen saat putrinya itu masih kecil.
"Ra.., kamu percaya kan sama mas..?",
"Kenapa tanya gitu..?",
"Apapun yang mas lakuin, pasti yang terbaik buat keluarga kita, terutama untuk anak-anak, kamu percaya kan?",
"Percaya, selama ini mas udah jadi kepala keluarga, suami, Daddy, buat Aira, Sharen, Javas, Jaz, Kinara, Ze.., mas Rendra yang terbaik..",
"Makasih sayang..",
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu sih..?",
"Nggak apa-apa.., cuma pengen bilang gitu aja..",
"Mas.., anak-anak abis dikasih duit..?"
"Iya.., kenapa?",
"Mas baru banyak duit..?",
"Duitnya mas kan emang banyak...",
"Kok Aira nggak dikasih?",
"Kamu kan pegang kartunya mas.., kurang..?",
"Ya nggak kurang, tapi pengen dikasih aja sama mas..",
"Kamu pengen apa?",
"Ke mall yuk, jalan-jalan. Jaz ngerengek minta beli mainan, katanya mau ngabisin duit sepuluh juta yang dikasih tadi..",
"Kamu mau apa? ya udah yuk..",
"Beneran mas..?",
"Iya sayang..
kita siap-siap..",
__ADS_1
"Makasih Daddy..",