
Rendra tahu betul jika BBM yang berada di tangki mobil sangat minim. Tidak ingin putranya yang sedang kesal akan mengalami kesulitan, Rendra memerintahkan drivernya untuk mengikuti Javas.
"Lho.., ini kok pada keluar bawa tas pula.., mau pada ngapain? Bibik pada pulang? kenapa? kok semuanya? ada apa?", tanya Sharen yang panik karena melihat semua maidnya berkumpul di halaman rumah dengan berpakaian rapi.
"Kita kan mau diajakin tuan sama nyonya liburan mbak..",
"Hah?",
"Daddy ngajakin kita semua liburan sebentar sayang..",
"Liburan? kemana mom?",
"Ke resort, nanti malam pulang kok..",
"Sama semuanya?",
"Iya.., sama driver , security juga..",
"Semua? rumahnya nggak ada yang jaga? ",
"Ada.., Dad udah nyuruh security kantor yang jaga..",
"Gitu yah..",
Sharen mau heran, tapi ini Daddy nya. Daddy Rendra memang kerap melakukan hal yang tidak terduga, seperti sekarang ini. Mengajak seluruh pekerja dirumahnya yang jumlahnya puluhan untuk pergi liburan singkat bersama.
"Ini tanggal berapa sih? nggak ada yang ulang tahun, ini juga bukan anniversary nya dad sama mom kan?",
"Emang nggak..", ucap Rendra.
"Terus dalam rangka apa?", tanya Sharen penasaran.
"Daddy mau ngerayain aja.., Javas kan sebentar lagi mau gantiin Daddy jadi Presdir..",
"Presdir itu apa dad..?", tanya Jaz yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
"Presiden direktur..",
"Presiden?",
"Iya.., kak Javas kan sebentar lagi jadi presiden..",
"Kakaknya Jaz jadi presiden ya dad?",
"Iya dong..hebat kan?",
"Maksudnya dad, presiden di kantor sayang..",
"Nggak kayak pak Jokowi, ya mom?",
"Bukan.., kalo pak Jokowi pemimpin negara, kalo kak Javas pemimpin perusahaan..",
"Ya nggak apa-apa.., yang penting namanya Presiden.., hore.., Jaz punya kakak presiden..", ucap Jaz girang.
Dia tidak tahu saja, dia juga anak seorang presdir. Tapi, Jaz masih terlalu kecil untuk mengerti.
"Sus.., ayo kita naik duluan..", ajaknya pada sus Sri. Jaz naik terlebih dahulu ke bus yang baru saja masuk ke halaman rumahnya. Rendra meminta Vina untuk menyiapkan bus executive milik Prime grup untuk membawa keluarga dan pekerjanya untuk berlibur singkat bersama.
"Javas belum bilang iya loh dad..",
"Ya.., kalo Javas nggak mau, berarti kamu yang sebentar lagi gantiin Daddy..",
"Sharen kan udah serahin sama Javas Dad..",
"Sharen ikhlas..?",
"Ikhlas mom.., Sharen yakin Javas mampu. Sha nanti juga masih tetap ngantor, tapi bantuin Javas aja..",
"Mudah-mudahan Javas bisa jadi kayak dad ya..,
Kalo gitu, kamu sekarang siap-siap..,
ajakin Bian kalo dia mau..",
"Sharen pake mobil aja kalo gitu, nanti Sharen nyusul sama kak Bian.., mom hati-hati..",
"Oke sayang.., mom sama dad naik duluan ya. Adik kamu kayaknya udah nggak sabar.."
"Iya mom.., hati-hati..,
loh.., dokter Kinara nggak ikut?", tanyanya yang melihat dokter Kinara masih menggunakan pakaian rumahannya.
"Nggak mbak, habis ini saya mau siap-siap ke rumah sakit..",
"Oh gitu..",
__ADS_1
"Mommy pergi dulu ya..",
Ini bukan liburan dadakan, karena sepertinya Dad Rendra sudah menyiapkan dengan matang. Buktinya, Jaz juga sudah tahu kalau dia mau diajak pergi naik bus. Adiknya keliatan sangat senang, padahal setiap hari juga dia naik mobil. Bukan tanggung-tanggung, mobil mewah malahan. Sepertinya, kebanyakan anak kecil sangat senang jika diajak pergi naik bus dibandingkan dengan mobil pribadi.
Sementara itu, apa yang diprediksi Rendra memang benar adanya. Mobil baru Javas, menepi mendadak ketika pengemudinya menyadari jika BBMnya sekarat.
Javas keluar dari mobil mewahnya . Malu bercampur kesal tentunya. Jika bukan mobil baru yang harganya milyaran, mungkin Javas akan keluar dengan sedikit membanting pintunya.
"Sial...",
Javas menscroll mencari sebuah kontak yang bisa membantunya. Namun, ketika hendak memencet tombol untuk menghubungi seseorang, sebuah mobil Hyundai Palisade hitam tiba-tiba berhenti di depan mobil porschenya.
"Dad..", gumamnya.
Namun, perkiraannya salah. Yang keluar dari pintu kanan ternyata adalah driver Daddynya.
"Mang..",
"Udah habis ya den?",
"Kok tau?",
"Iya..kata bapak bentar lagi BBMnya habis..",
"Aku lupa kalo mobil ini mobil baru.., udah pasti BBMnya cuma ala kadarnya.., terus gimana ini mang?",
"Tenang.., saya udah bawain den.., bentar..",
Satu buah drigen berisi 5 liter BBM berpindah tempat ke dalam Tanki mobil Javas. Tidak banyak memang.
"Maaf den nggak bisa banyak-banyak tadi belinya.., di depan kan ada SPBU nanti den Javas bisa isi disana..",
"Iya mang, makasih..",
"Kalo gitu, saya duluan ya den..
nanti den Javas nyusul kan?",
"Nyusul? kemana?",
"Bapak kan ngajakin liburan orang rumah ke resort..termasuk saya sama pekerja yang lain..",
"Semuanya?",
"Iya..",
"Buat ngerayain jabatan baru buat den Javas..",
"Astaga.., Daddy..",
"Selamat ya den, bentar lagi jadi pemimpin perusahaan..", ucapnya dengan mengulurkan tangan, mengajak Javas berjabat tangan.
Javas hanya menganggukkan kepalanya. Tidak habis pikir, bisa-bisanya Daddynya mengadakan perayaan sedangkan Javas saja belum mengiyakan. Kejam.
Rumah Yasmine adalah tujuan Javas. Dia ingin mengadu kepada kekasihnya, menumpahkan kekesalannya yang bertubi-tubi hari ini.
"Bebi.., kok nggak ngabarin kalo mau kesini?", tanyanya.
"Kenapa? aku ganggu kamu?",
"Nggak gitu.., biasanya kan bilang dulu kalo mau kesini. Liat deh aku..", jawabnya.
"Kamu sakit? kok pucet wajahnya..?",
"Nggak..., karena belum dandan aja kok.., aku kekamar dulu, tunggu sini yah...", ucapnya manja.
Setelah menunggu kurang dari setengah jam, akhirnya Mine keluar masih menggunakan pakaian rumahnya, namun kali ini dengan make up tipisnya. Wajahnya keliatan lebih segar dibandingkan sebelumnya.
"Kenapa kak?",
"Ternyata dad sama Queen serius sama ucapannya tempo hari..",
"Apa?",
"Sebentar lagi, aku yang gantiin posisinya Dad..",
"Wow.., congratulations sayang..",
"Kamu tau kalo aku nggak suka..",
"Om Rendra sama kak Sha percaya sama kakak.., pasti bisa..",
"Sayang.., jangan gitu lah.., aku belum siap..",
"Pasti bisa kak.."
__ADS_1
"Kita nikah aja yuk..",
"Mine kuliah dulu ya.., calon suami Mine bukan orang sembarangan.., jadi Mine pengen memantaskan diri dulu..",
"Mommy orang biasa, beliau memutuskan berhenti kuliah setelah punya anak..,aku juga gitu. Nggak perlu punya istri yang berpendidikan tinggi, yang penting kamu mau dampingin aku..",
"Mine mau dampingin kakak.., tunggu ya.., mau kan?",
"Iya sayang..",
"Kak Javas nggak mau karena takut nggak bisa jadi kayak om Rendra kan? bisa belajar kak.., banyak yang mendampingi..",
"Yang bikin aku tambah kesel, aku belum setuju sama keputusan Dad, tapi hari ini Dad malah ngajakin orang rumah pergi liburan..",
"Tau.., mamah sama papah juga tadi diajakin, tapi nggak bisa karena harus ke rumah nenek kakek.., ada acara disana..",
"Gimana nggak kesel coba..",
"Jangan kesel, mending sekarang kita jalan-jalan. Mine mau test Drive dong mobil barunya ayang..",
"Kamu ngeledek ya..",
"Ayang.., ayo..",
"Pake baju kayak gitu?",
"Nggak.., aku ambil sweater dulu ya..
tunggu bentar ayang..",
Javas mengajak Mine pergi berkeliling kota dengan menggunakan mobil baru miliknya. Hanya berkeliling tanpa ada tujuan yang jelas. Mine memberikan ide agar mereka menyusul rombongan keluarganya liburan ke resort. Tapi, Javas menolak, rupanya kekasihnya masih saja kesal pada Daddynya.
Menjelang petang, Javas mengantarkan kembali Yasmine ke rumahnya.
"Abis ini kakak mau ke bengkel ya sayang.., ada anak-anak disana. Ada yang mau konsultasi, modif mobil..",
"Konsultasi apa mau balapan?",
"Konsultasi..",
"Beneran? nggak bohong kan?",
"Nggak sayang..",
"Ya udah kalo gitu hati-hati..",
"Salam buat om sama tante..",
"Mamah papah belum pulang..",
"Kamu dirumah sendirian?",
"Ada maid, bentar lagi kak Nathan juga pulang kok..",
"Oke sayang..,
bye.., see you..",
Meet up dengan teman-temannya membuat dirinya lupa waktu. Javas pulang kembali kerumahnya hampir tengah malam.
Rombongan keluarganya sudah pulang kembali kerumah. Entah sejak kapan, Javas juga tidak peduli. Rasa kesalnya membuatnya lupa segalanya, termasuk makan. Javas juga lupa mampir untuk membeli makanan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Javas menghidupkan lampu yang menerangi ruangan dapur rumahnya. Dapur bersih yang lebih tepatnya bisa disebut sebagai pantry. Hanya ada beberapa bahan makanan disana, diantaranya mie instan dan telur yang bisa dimasak sebagai makanan sebagai pengganjal perutnya malam ini.
Mulai menghidupkan kompor dan menaruh panci yang berisi air di atasnya. Suara langkah kaki seseorang terdengar menuju dapur. Bukan hantu tentunya, tapi entah siapa. Javas hanya mencuri pandang ketika tahu jika dia adalah dokter Kinara. Entah apa yang dia lakukan tengah malam begini.
Dokter Kinara kaget karena ada Javas disana.
"Oh..ada mas Javas..",
"Iya..,
ngapain malem-malem begini ke dapur? kelaperan juga?",
"Mau ambil air minum, di lantai atas kebetulan habis..",
"Oh..",
Kinara mengambil satu buah botol lalu mengisi pada gelas kosong yang dibawanya.
"Heh.., ada apa bro..?", ucap Javas yang tiba-tiba dihubungi oleh seseorang. Javas pergi meninggalkan pantry.
Kinara yang hendak kembali ke kamarnya, mendadak melihat kompor yang masih menyala dengan air yang terdengar sudah mendidih. Tidak ada tanda-tanda Javas kembali, karena samar-samar Kinara mendengar Javas masih berbincang melalui sambungan telepon.
Javas yang sadar, langsung kembali ke pantry setelah menghabiskan lima belas menit waktunya untuk menjawab panggilan telepon dari temannya. Satu yang dikhawatirkan Javas, yaitu sebuah insiden kebakaran yang diakibatkan oleh kompor yang dia nyalakan. Namun, setelah kembali dia melihat kompor sudah dalam keadaan mati. Panci sudah kembali ke tempat asalnya. Serta ada sebuah mangkok yang berisi mie rebus lengkap dengan telur dan sayur.
__ADS_1
Javas segera menyantap makanan yang seharusnya dia masak sendiri, tapi malah dimasakkan oleh dokter Kinara. Sebuah kebetulan yang sebenarnya tidak Javas inginkan.
"Hmmm..enak juga...", gumamnya.