
Kegelisahan Kinara sepertinya di dengar oleh Javas yang tiba-tiba membuka matanya.
"Sayang.., kok belum siap..malah mondar-mandir disitu..",
Kinara mendekati suaminya, dia duduk di bibir ranjang.
"Mas.., hairdyernya nggak bisa Na pake.., kayaknya rusak..",
"Masa? mungkin kamu yang nggak bisa ngidupin.., coba lagi..",
"Nggak bisa mas..",
"Ya udah, mas pinjemin Kak Sha aja..",
"Mas.., jangan...",
"Kenapa?",
"Kina malu...",
"Malu kenapa?",
"Rambut Na kan basah.., pasti mbak Sharen ngiranya kita abis ngapa-ngapain..",
Javas mengernyitkan dahinya. Merasa aneh dengan ucapan istrinya.
"Emang kamu pikir kita abis ngapain? lupa? Mas Javas..ah..mas ..mas..", ucapnya menirukan Kinara yang tadi Mendes*ah manja.
"Ih.., gitu deh..",
"Terus maunya kamu gimana? coba mas tanya.."
"Na tadi mau coba minta hairdryer pengganti, tapi teleponnya juga nggak bisa..",
"Emang mas cabut kabelnya..",
"Kenapa? handphone Na juga mas yang simpen?",
"Biar nggak ada yang ganggu, teleponnya mas cabut, ponselnya mas simpen..",
"Mana mas..?",
"Lain kali tanya dulu sayang, nggak usah panik gitu. Ini mas mintain hairdryernya...",
"Nggak usah pake marah ya..",
"Iya nggak...",
Javas meminta hairdryer ke pihak hotel untuk istrinya. Seorang laki-laki gemetar saat mengantarkannya untuk kamar Javas. Dia tahu jika yang menginap disana adalah bosnya.
"Lain kali dicek dulu..",
"Siap pak..",
"Makasih ya pak..",
"Sama-sama ibu, saya permisi dulu.."
Kinara langsung bergegas mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ada yang spesial karena kali ini dia dibantu oleh Javas.
"Mas jadi kayak orang Salon..",
"Mas yang berbuat, mas yang tanggung jawab..", ucapnya.
__ADS_1
"Makasih mas..",
Kinara duduk manis di depan meja rias. Dia langsung menyalakan ponselnya yang semalaman sengaja dimatikan oleh Javas. Sebuah panggilan langsung masuk, ketika ponselnya sudah kembali aktif.
"Halo.., iya mbak..",
"Na.., daritadi kakak telepon tapi nggak bisa..",
"Iya mbak.., maaf..",
"Cepetan ke kamar ya, kamu tuh udah telat. Harusnya kamu duluan yang di make up..",
"Iya mbak maaf.."
"Kok berisik banget Na..",
"Iya mbak..",
"Iya mbak..terus.
Suara hairdryer ya.., lagi ngeringin rambut?",
"Iya bawel.., sebentar lagi juga selesai..", sahut Javas.
"Hmmm, iya iya ngerti.., cepatan ya adik ipar..",
"Iya mbak.., Na bentar lagi ke situ.."
Kina menutup teleponnya bersamaan dengan Javas yang mematikan hairdryer.
"Kina jadi nggak enak kan mas..",
"Udah nggak apa-apa. Mas anterin yuk..",
"Mas ngantuk banget..",
"Mas ngantuk ya? mas pikir Kina nggak..?",
"Kamu bikin candu Na..",
"Ahhh...,udah nggak usah dibahas lagi..,
Na keluar sekarang ya mas..",
"Tunggu sayang..",
Javas mencegah Kina untuk meninggalkan kamarnya. Apalagi kalau bukan meminta untuk berciuman.
Javas memeluk erat pinggang istrinya, sedangkan tangan yang satunya dia gunakan memegang punggung untuk merapatkan tubuh istrinya. Lagi-lagi tidak ada perlawanan, Kina menurut dan meladeni permainan Javas. Semakin lama ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas yang menuntunnya untuk berbuat lebih jauh. Kinara langsung menyingkirkan tangan Javas yang sudah bergerak bebas di dadanya.
"Stop mas.., Kina mau pergi..",
"Nanti lagi ya sayang..",
Kina mengangguk pelan. Dia berusaha mengatur nafasnya yang terengah.
"Pergi dulu..", pamitnya dengan mencium tangan suaminya. Kinara buru-buru keluar kamar dengan hanya membawa ponsel miliknya.
"Padahal cuma di kamar sebelah, tapi pake cium tangan. Istri sholehah..", gumamnya.
Kinara buru-buru ke kamar Sharen. Disana sudah menunggu MUA yang akan memoles wajahnya hari ini. Sharen sudah terlihat dimakeup, masih setengah jalan. Ada mommy Aira yang masih persiapan, beliau baru dikeringkan rambutnya. Sebuah tanda tanya besar bagi Kinara.
"Mantu mommy, baru bangun ya Na..?",
__ADS_1
"Hehe iya mom..",
"Mommy juga sama ya kayak aku..?", tanyanya dalam hati. Jika Mommy Aira terlihat santuy, berbeda dengan Kinara yang memang merasa tidak enak, terlebih pada kakak iparnya, Sharen.
"Kina telat ya mbak..", ucap Kina membuka obrolan.
"Iya.., telat setengah jam..
mommy juga telat, telat semua. Cuma aku doang yang on time..",
"Iya mbak maaf..",
"Nggak apa-apa, mommy dulu yang dimake up, nanti giliran kamu..",
Kinara langsung menuju ke sofa. Disana sudah ada si kecil Jaz yang ternyata sudah bangun dan sedang asyik dengan gadgetnya.
"Pagi kak Dok..",
"Pagi sayang.., kamu kok udah bangun?",
"Iya udah daritadi. Disini berisik..",
"Kasian.., mau bobok dikamarnya kak dok nggak?",
"Sama kak Javas..? nggak ah.., Jaz nggak ngantuk kok..",
"Hmmm..oke.., kak dok duduk disini ya Jaz..",
"Oke..",
Kinara memanfaatkan waktu menunggunya dengan memejamkan matanya. Kepala rasanya berat, matanya juga lelah, aktivitasnya tadi malam bersama Javas benar-benar membuatnya lelah, tidak hanya itu juga mengganggu waktu tidurnya.
"Kak Kina..kak..", ucap Jaz memanggil Kina tapi tidak ada sahutan. Kina ketiduran.
Jaz yang pintar, mengerti jika Kina sedang tidur, dia tidak membangunkan kakak iparnya. Jaz lalu berjalan mendekati sang mommy.
"Mommy tolongin..", pintanya pada mommy Aira. Jaz memberikan gadgetnya pada Mommy Aira untuk meminta bantuan.
"Nih udah.., mbak sus sebentar lagi kesini. Jaz langsung mandi, abis itu pake bajunya ya..",
"Iya mom..
Mommy.....",
Jaz membisikkan sesuatu. Mommynya langsung menoleh ke arah Kina yang terlelap tidur. Mommy Aira memberikan sebuah jawaban dengan bisikkan.
"Kak Javas kok jahat..",
"Bukan jahat, justru karena kak Javas sayang sama kak Kina..",
"Ada apa sih?", tanya Sharen kepo.
"Ada deh..",
Tidak lama kemudian, mbak Sus masuk ke dalam kamar.
"Nah.., ini mbak sus udah dateng, Jaz mandi sekarang ya sayang..",
"Oke mommy...",
Jaz langsung menggandeng mbak sus, namun sebelum masuk ke kamar mandi, dia berbisik pada susternya, dengan menunjuk Kina.
Suster Sri hanya menahan tawanya, merasa lucu dengan kata-kata Jaz. Entah apa yang dibisikkan Jaz kepadanya.
__ADS_1