Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Berdebar


__ADS_3

"Nath...lepasin..., aku engap..", keluhnya.


"Iya....",


"Lepasin...",


"Udah..., nih tanganku di atas...", ucapnya dengan tersenyum menyeringai.


Sharen yang sadar langsung buru-buru melepaskan kedua tangannya yang memegang erat pinggang Nathan. Ternyata sedari tadi tangannya yang nakal masih menempel pada tubuh Nathan. Dasar Sharen, katanya nggak mau, tapi hanya malu-malu.


"Nyaman ya pelukannya..?",


"Nggak...",


"Padahal nyaman banget, sampe kepalanya nyender dada. Tadi denger jantung aku kan? berdebar, karena kamu..",


"Nath, udah deh....",


"Iya..iya..,


hmmm mau masakin aku..?",


"Mau....", ucapnya sambil berjalan menuju dapur.


Sharen membuka kulkas, mencari bahan yang akan dia gunakan untuk memasak makanan.


"Kamu bisa masak..?", tanya Nathan. Sharen bisa melakukan apa saja, kecuali memasak.


"Bisa..",


"Masak apa? air?",


"Enak aja, penghinaan...",


"Terus mau masak apa?",


"Masak telur goreng..",


"Telur mata sapi..?",


Sharen menyengir sambil menganggukkan kepalanya.


"Dari dulu sampe sekarang nggak ada peningkatan ya, skill memasak kamu..",


"Hmmmm...yang penting bisa. Mau dimasakin nggak?"


"Iya mau...",


Sementara Sharen masak untuk Nathan, pemuda itu justru sibuk mengabadikan moment tersebut. Dari mengambil foto Hingga video candid. Pemandangan indah ini  akan Nathan lihat setiap pagi. Sharen yang memasak untuknya dan anak-anaknya nanti.


"Nath.., nih udah jadi...",


Sebuah telur mata sapi, yang matanya sudah tidak lagi utuh. Kuning telurnya berantakan. Tapi, tidak apa. Yang paling penting rasanya.


"Makasih sayang...",


"Bisa nggak Nath, jangan panggil sayang...",


"Tuh kamu juga bilang gitu..",


"Nath...",


"Karena aku sayang kamu..",


"Bodo ah.., cepetan dimakan...",


"Suapin Sha..",


"Jangan manja deh..


makan sendiri ya, aku mau mintain obat ke Kinara nih..", ucapnya yang sibuk dengan ponselnya.


"Makasih sayang..",

__ADS_1


Sharen melotot, sedangkan Nathan hanya tersenyum sambil menikmati sarapan paginya.


"Gila niih cewek.., bener-bener minta dikawinin, eh dinikahin. Asin banget rasanya...", ucapnya dalam hati. Namun, Nathan masih meneruskan makannya, tidak masalah rasanya, yang penting siapa yang memasaknya.


"Nath.., nggak ada alergi obat kan?",


"Nggak ada Sha..",


"Tunggu ya, obatnya mau dianterin ke sini..",


"Iya..",


"Enak Nath telurnya?",


"Enak banget..., kalo nanti udah nikah masakin terus ya. Nggak apa-apa telur doang, yang penting kamu yang masakin..",


"Mulai deh modusnya...",


"Nggak modus, tapi itu harapan...",


"Udah.., cepetan makannya dihabisin..",


"Iya sayang..., minumnya nggak sekalian dibuatin?",


"Air putih aja ya.., biar sehat..", jawab Sharen yang langsung mengambilkan minum untuk Nathan.


Sharen masih berada di Apartement Nathan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Satu jam lagi Sharen diharuskan untuk mengikuti meeting di kantor Prime grup, tapi belum ada tanda-tanda dia akan keluar dari situ.


"Kok obatnya lama banget ya Nath..",


"Sabar, mungkin jalannya macet..",


"Udah nggak pusing lagi..?",


"Aku kan udah bilang, kamu obatnya. Aku liat kamu..udah langsung sembuh..",


"Gombal...",


"Nggak gombal.., tapi beneran..",


"Kok lama mang..",


"Iya kan nebus ke apotek dulu non..."


"Oh gitu..


Makasih ya mang..",


"Sama-sama non.."


Sharen segera memberikan obat pada Nathan. Bukannya langsung meminumnya, Nathan justru meminta Sharen untuk membantunya.


"Udah deh, nggak usah manja deh Nath..",


"Cepetan bantu...",


"Kan tinggal di masukkin ke mulut, minum airnya..",


"Nih...", Nathan memberikan gelas kepada Sharen.


Sharen membuang nafasnya, meraih gelas lalu membantu Nathan untuk meminum obatnya.


"Alhamdulillah....", ucap Nathan.


"Gini ya rasanya kalo punya istri..", ucapnya lagi.


"Istri siapa..?",


"Istri aku...",


Sharen panik, ketika ponselnya berbunyi dan ternyata telepon dari Daddynya. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00, dan sialnya Sharen lupa kalo dia ada meeting.


"Nath..Daddy...",

__ADS_1


"Iya udah angkat aja..",


"Aku lupa kalo ada meeting Nath.., Dad pasti marah...",


"Kalo dad marah, bilang aja aku yang minta kamu kesini. Jadi, nanti biar Om yang marah ke aku, bukan ke kamu..",


"Ish..kamu mah...",


Dengan perasaan takut, Sharen mengangkat telepon dari Daddynya.


"Halo Dad...",


"Sha.., dimana? ini Javas udah nungguin kamu lho.., adik kamu udah kayak singa yang mau nerkam mangsanya...",


"Dad.., maaf Sha kelupaan kalo ada meeting...",


"Kamu ada dimana?",


"Lagi di Apartement Nathan Dad...",


"Kok bisa sampe lupa waktu, kalian nggak macem-macem kan?",


"Nggak Dad.., Nathan sakit. Sharen masakin, abis itu Sha mintain obat ke Kina, obatnya lama banget nyampenya..",


"Nathan sakit apa?",


"Masuk angin.., kemarin kehujanan dad..",


"Ya udah, kakak disitu aja nggak apa-apa, biar Dad nanti yang ngomong sama Javas ya.., jagain Nathan ya Sha..",


"Daddy nggak marah..?",


"Nggak sayang..


ya udah, kalian disitu jangan macem-macem ya Sha...",


"Iya Dad...",


Lagi-lagi Sharen dibuat takjub oleh Daddy nya yang justru mendukung keberadaanya di Apartement Nathan. Padahal, ini adalah meeting penting yang seharusnya dia hadiri. Tapi, karena Nathan Daddynya sepertinya memakluminya.


"Nggak marah kan?",


Sharen menggeleng.


Tidak ingin berlama-lama berada di Apartement, yang akan membuat kesehatan jantungnya bermasalah. Sharen akhirnya memilih untuk pulang. Toh, Nathan juga sepertinya butuh berisitirahat.


"Obatnya jangan lupa diminum ya..",


"Iya..makasih ya, udah mau kesini..",


"Iya sama-sama.., aku pergi dulu ya..",


"Hati-hati...",


"Iya..",


Nathan mengantarkan Share sampai ke depan pintu.


"Sha..ada yang ketinggalan..", ucap Nathan.


Sharen menoleh dan kembali menghampiri Nathan.


"Apa..?",


"Ini...", ucap Nathan .


Dia memegang kepala Sharen lantas memberikan kecupan di kening gadis itu.


Cup...


Meskipun singkat, namun terasa dalam sampai hatinya. Sharen juga nampak menikmatinya.


"Makasih untuk hari ini cantik.."

__ADS_1


Sharen mengangguk sambil tersenyum sipu.


"Bye....", ucap Sharen yang melambaikan tangannya lalu berjalan meninggalkan Nathan yang berdiri dengan raut wajah bahagianya.


__ADS_2