
Kinara udah terbiasa bangun ketika Azan subuh selesai berkumandang. Ada sesuatu hal yang berbeda kali ini. Ketika dia menoleh ke samping kanannya dan melihat ada seseorang yang masih terlelap tidur dengan dengkuran halus. Hampir saja menimpuknya. Namun, dia teringat jika laki-laki yang saat ini masih menikmati tidur adalah pahlawannya. Orang yang berjasa menolongnya dari neraka versi dunia nyata.
Kinara turun dari ranjang tanpa mengeluarkan suara tanpa mengusik Javas yang tertidur. Setelah membasuh mukanya, dia keluar dari kamar menuju ke dapur. Rupanya, sudah ada Nenek dan Tante Tia yang sudah terlihat sibuk.
"Loh.., kok ada Tante?",
"Iya.., mau bantuin Nenek masak..",
"Oh..",
"Udah sholat?",
"Nggak..lagi palang merah..",
"Yah....nggak nina ninu dong..",
"Hah? apaan tuh..?",
"Ya itu...masa nggak tau..",
"Ih..Tante.., apaan sih Kina nggak ngerti..",
Keluarganya sepertinya berekspektasi tinggi atas pernikahannya dengan Javas. Kinara tidak ingin berharap terlalu banyak. Javas menikahinya hanya sebatas pertolongan, tidak lebih. Tapi, disisi lain dia juga tidak ingin keluarganya kecewa. Kinara hanya tidak perlu mengumbar kehidupan rumah tangganya. Cukup hanya dia dan Javas yang tahu.
"Mas Javas kok nggak dibangunin?",
"Kasian..,
capek mungkin. Nanti juga bangun.., jam weker di kamar Kina bentar lagi bunyi..",
"Tuh di atas meja ada sarung itu punya om, tapi masih baru.., mas Javas pasti nggak bawa kan? Kamu kasih gih..",
"Iya.., makasih ya tan..",
"Sama suami mbok ya perhatian tho Na..",
"Iya..iya..",
"Abis itu nggak usah kesini, biar nenek sama Tante aja yang masak..",
"Nggak usah masak banyak, mas Javas nanti mau ngajakin ke rumah kakeknya...",
"Oh..gitu ya..
ya udah nggak apa-apa..",
Kinara kembali ke dalam kamarnya. Ternyata, Javas sudah bangun dan bersiap untuk melaksanakan sholat subuh.
"Udah bangun?
ini sarungnya mas..",
"Hmmm.., makasih.
Kamu udah?",
"Nggak.., lagi halangan..",
Kina kembali keluar dari kamarnya. Karena dilarang membantu di dapur, jadi dia memilih untuk menyapu lantai. Membersihkan satu persatu ruangan yang ada di rumahnya. Termasuk, kamarnya.
Javas sudah menyelesaikan ibadahnya. Dia tampak serius melihat satu persatu foto yang terpajang di dalam sana. Tak terkecuali, foto Kinara bersama Firman yang masih terpampang.
" Banyak juga ya fotonya..",
"Lumayan..", jawab Kinara.
"Kalian sering naik gunung ya..",
"Lumayan mas.., cuma beberapa kali aja..itupun rame-rame..",
"Sayang banget sama dia?",
"Sayanglah, kan kenalnya udah lama. Pacaran juga lumayan..",
"Tapi, kenapa mamahnya nggak suka sama kamu?",
"Nggak tau, mungkin saya kurang cantik, bukan berasal dari keluarga terpandang, seperti mereka..",
"Emang harus ya kalo putih dapetnya putih, kalo tinggi harus sama tinggi?",
"Ya enggak juga.., tapi namanya selera? kan nggak bisa dipaksakan..",
"Kamu nggak berusaha ngambil hati mamanya?",
"Gimana mau ngambil hatinya, tiap ke rumahnya aja ketus banget responnya.., saya takut..",
"Kenapa bertahan?",
"Saya kira suatu saat mamahnya bisa berubah, tapi ternyata nggak..dan saya sudah terlanjur sayang sama anaknya.., ya udah dijalanin aja..",
"Kalo kamu jadi nikah sama dia, gimana ya jadinya?",
"Mungkin saya bakal dijulidin setiap hari..",
"Berarti udah paling bener...kamu jadi mantunya mommy Aira..",
"Hmmm, tapi kemarin ibu Aira kayaknya nggak suka ya mas.., tapi saya udah minta maaf sama ibu..",
"Mom shock aja..",
Kinara mengambil nafasnya, panjang dan dalam. Dia duduk di depan meja rias dengan menghadap ke arah Javas, tangannya masih memegang sebuah sapu.
"Kenapa mas Javas nikahin saya?", tanyanya setelah mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Javas.
"Aku nggak tega liat kamu diperlakukan nggak adil sama bapak kamu. Nggak direstui sama keluarga pacar kamu. Aku membayangkan kalo kak Sharen ada diposisi seperti itu..dan satu-satunya cara buat nolong kamu ya cuma nikahi kamu..",
"Kemarin kenapa tiba-tiba mas Javas bisa dateng kesini?",
"Jaz kangen sama kamu, pengen maen katanya. Mommy minta aku nunjukkin jalannya sama mamang. Eh bukannya aku yang nganter Jaz, malah dia yang nganterin aku nikah..",
"Maharnya kebanyakan mas..",
"Aku cuma pengen orang-orang tau, kalo kamu masih ada nilainya. Nggak seperti yang diucapin sama mamahnya pacar kamu itu..",
"Makasih mas.., saya nggak tau bentuk rasa terima kasih apa yang harus saya kasih untuk membalas kebaikan mas Javas..",
"Cukup nggak buat aku pusing, udah itu aja..",
"Maksudnya gimana?",
Javas tidak menjawab, dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku mau mandi dulu..,
__ADS_1
habis bersih-bersih kamu langsung siap-siap ya. Kita kerumah kakek..",
"Iya mas..",
"Sekalian bawa barang-barang yang kamu butuhin. Dari rumah kakek nggak usah balik kesini, kita ke rumah mom dad..",
"Iya mas..saya selesain ini dulu ya..",
"Nggak apa-apa kan? nenek gimana? di rumah sendiri?",
"Biasanya juga gitu..,nenek udah biasa kok di rumah sendiri. Sering juga nginep di rumahnya Tante..atau kalo nggak ya anaknya Tante yang kesini nemenin..",
Suasana pagi yang sangat berbeda di rumah Kinara. Bertambah anggota keluarga baru yang tidak pernah diduga sebelumnya.
"Makan yang banyak ya cah bagus..",
Nenek menaruh nasi di atas piring Javas.
"Makasih nek..",
"Minumnya mas..", ucap Tante Tia yang memberikan Javas satu gelas teh hangat.
Javas bukan hanya menjadi sosok suami bagi Kinara, juga satu-satunya anggota keluarga laki-laki yang mereka punya. Suami Tante Tia sudah meninggal, dua tahun lalu. Sedangkan kedua anak tante berjenis kelamin perempuan. Satu masih duduk di bangku SMP dan satunya seorang mahasiswa kebidanan yang kesehariannya tinggal di asrama. Itulah mengapa Javas diperlakukan istimewa.
"Nek.., dari Rumah kakek, nanti Kina langsung pulang ke rumahnya Mom Dadnya mas Javas ya.., boleh kan?",
"Kok minta izin sama nenek? ya kalo memang itu kemauannya suami kamu, kamu harus nurut..",
"Iya Nek..",
"Nenek sama Tante mau ikut?",
"Nggak mas..terima kasih..",
"Seharusnya kemarin kakek ikut kesini, cuma kakek ada di toko. Nggak keburu kalo jemput ke toko..",
"Iya mas, nggak apa-apa..",
Bukan hanya Javas yang diperlakukan bak raja. Tapi, Kinara juga bak ratu. Semua perabotan kotor yang biasanya sudah menjadi tugasnya untuk membersihkan, kini diambil alih oleh Tante Tia.
"Makasih loh tan..",
"Cuma sekali doang, karena kamu ini pengantin baru. Kasian nanti kalo tangannya jadi kasar..",
"Alah..bisa aja.."
Kepergian Kina di lepas oleh Nenek, Tante Tia , sepupu serta tidak lupa anak kost yang bersorak ketika Kina keluar bersama Javas.
"Mbak Kina.., suami kita ganteng ya mbak..",
"Suami kita udah makan atau belum mbak?",
Teriakan anak kost hanya ditanggapi senyuman oleh Kinara, juga Javas.
"Nek.., Kina pamit ya..?",
"Hati-hati nduk.. jadi istri Sholehah ya..",
Kinara mengangguk..
"Kami pergi dulu ya nek.., nenek sehat-sehat disini.., Javas nanti pasti sering kesini..",
"Titip Kina ya cah bagus..",
"Mas.., Tante juga titip Kinara. Kalo dia salah diingetin ya mas, tapi jangan dikerasin..",
"Iya Tante..., pamit dulu..",
Javas dan Kina masuk ke dalam mobil. Saat mobil sudah bersiap melaju, tiba-tiba mobilnya dihadang oleh Firman.
"Bang Firman...",
"Ngapain lagi sih?",
Javas melihat wajah Kina yang sepertinya sedih. Firman juga terlihat demikian. Iba, Javas akhirnya mengizinkan Kinara untuk menemui Firman.
"Kamu mau temuin dia dulu..",tanyanya kepada Kina.
"Nggak mas..",
"Jangan boong.., udah nggak apa-apa, kamu keluar dulu..", Javas membuka kunci otomatis pintu mobil.
"Sebentar ya mas..",
Javas tidak ikut turun. Dia hanya memperhatikan dari dalam mobil, Kina dan Firman yang sedang berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepuluh menit berlalu dan tak kunjung selesai. Akhirnya, Javas membunyikan klakson mobilnya.
Tiin....tiiin....tiiinnn..
Kinara melihat ke arah Javas, lalu bergegas meninggalkan Firman, meskipun pembicaraan mereka belum selesai.
Kinara kembali ke dalam mobil.
"Kamu nggak inget kalo masih ada aku?",
"Maaf mas..",
"Kita berangkat sekarang..",
Javas mulai melajukan kendaraannya. Kepo, akhirnya dia bertanya.
"Kenapa lama banget? ngobrolin apa?",
"Nggak apa-apa mas.., bang Firman cuma mau ngobrol dikit..",
"Kamu nggak mau cerita? aku yakin pasti ada sesuatu yang dia bahas..",
"Bang Firman, minta Kina cerai dari mas Javas..",
"Baru aja kemarin nikah, buku nikah aja belum keluar, bukannya diucapin selamat, malah disuruh cerai..",
"Iya mas.., maaf..",
"Terus kamu jawab apa?",
"Saya mau pisah, kalo mas Javas yang minta. Mas Javas udah berbaik hati nolong, masa saya ngelunjak mas?",
Sebuah jawaban sedikit diplomatis yang keluar dari mulut Kinara.
"Hmmm..terus hubungan kamu sama dia, gimana? masih?",
"Sebagai seorang teman..,
saya nggak mau ada fitnah di kemudian hari mas..",
__ADS_1
Javas tidak menanggapi jawaban Kinara. Dia memilih untuk berkonsentrasi mengemudi.
Mereka berdua akhirnya tiba di rumah kakek. Tidak seperti biasa, suasana disana terlihat lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Ada orang yang terlihat lalu lalang mengerjakan sesuatu, seperti akan memasang sebuah tenda.
"Kok rame mas? ada apa?",
"Nggak tau, mommy nggak bilang..", ucapnya.
"Kita turun sekarang..",
Javas dan Kinara turun lalu masuk ke dalam rumah kakek. Sama seperti keadaan diluar sana, di dalam rumah pun demikian. Ada beberapa orang yang tampak mengangkat meja dan menaruhnya keluar.
"Dad..",
"Son.., udah sampe?",
"Pak..", ucap Kinara yang langsung meraih tangan Rendra lalu menciumnya.
"Mom kemana?",
"Di luar...",
"Ini ada apa sih Dad..?",
"Duduk dulu..", ajak Rendra ke ruang tamu untuk berbicara kepada putranya.
"Ada apa Dad? Jaz mau sunat..",
"Oma, om Revan, Tante Fafa dan sepupunya mau ke sini. Keluarga yang lain juga..?",
"Untuk..?",
"Semalem Dad udah cerita sama Oma.., dan Oma pengen ke sini. Eh malah sampe ke Tante Vina.., ke keluarga yang lain juga..", ucap Aira yang tiba-tiba muncul dari luar rumah.
"Mau apa?",
"Ya.., mau ngucapin selamat atas pernikahan kalian.., dadakan banget Vas. Ini mommy minta tolong sama Tante Vina, pasang tenda, orang catering semuanya serba dadakan. Mommy nggak enak kalo ada keluarga dateng tapi nggak ada suguhannya, nggak ada tempatnya..",
"Syukuran nikahannya Javas?", tanyanya lagi.
"Bukan.., cuma makan-makan Keluarga aja.
Kalian mau dirayain?", tanya Aira kepada Javas dan Kinara, terutama pada Kinara karena pandangan Aira menuju kepada menantunya.
"Nggak perlu Bu..",
"Loh kenapa? mommy nggak masalah, tapi ya.., kasih waktu buat nyiapin semuanya..",
"Kalo bisa, pihak keluarga dan kerabat dekat saja yang tau tentang pernikahan saya sama mas Javas Bu.., pak..",
Javas terperanjat. Kina tidak pernah mendiskusikan ini sebelumnya . Tapi, mengapa dia bisa berbicara seperti itu, dihadapan Mom dan Daddynya?
"Kenapa? kamu malu punya suami seperti Javas?", tanya Aira.
"Bukan soal itu Bu..., tapi.., karena saya sehari-harinya tinggal di rumah bapak dan ibu. Orang-orang taunya saya dan mas Javas masing-masing punya pasangan. Saya hanya nggak ingin orang-orang berpikir negatif terhadap kami bu..",
"Nggak usah peduliin apa kata orang..", ucap Rendra.
"Gimana Vas..?",
"Ya..udah nggak apa-apa mom..",
"Kalo ditutupin dari orang-orang, kamu sendiri yang rugi loh Na..", ucap Aira.
"Nggak Bu.., ini semua buat kebaikan mas Javas..",
Javas akhirnya menyetujui permintaan Kinara yang enggan untuk mempublikasikan pernikahan mereka. Sebuah pernikahan yang cukup hanya orang disekitar mereka saja yang tahu.
"Halo kak dok..",
"Halo Vas.., wah udah ganteng ya..",
"Iya dong..,
Kata Mom sama Dad.., sekarang kak dok udah jadi kakaknya Jaz ya? karena jadi pengantin sama kak Javas?"
"Iya..",
"Wah..asyik..., Jaz punya dua kakak perempuan..",
Rombongan keluarga yang pertama kali datang adalah keluarga Om Revan bersama Oma tercinta.
Oma langsung memeluk Javas dengan erat ketika sampai. Beliau sampai menitikkan air mata. Javas menjadi cucu pertama Oma yang akhirnya menikah.
"Selamat ya.., Oma bahagia..",
"Makasih Oma..",
"Istri kamu mana?",
"Tuh..
Na...", panggilnya kepada Kinara.
Kinara langsung menghampiri Oma dan Javas.
"Assalamualaikum Oma..",
"Waalaikumsalam.., cucu menantu Oma.., cantik..",
"Makasih Oma.. Oma sehat?",
"Alhamdulillah sehat..",
"Hadiah buat kamu.., dari Oma..",
Oma memberikan satu buah kotak berwarna merah, dan tidak usah ditebak. Isinya sudah pasti satu set perhiasan.
"Oma kok repot-repot..",
"Oma tau kemarin kamu cuma dikasih mahar sama Javas, kamu pasti belum dikasih apa-apa kan sama mertua kamu? Aira belum sempat, jadi nenek yang mewakilkan..",
"Terima kasih nek..",
"Sama-sama..",
Javas mendorong kursi roda Omanya. Kinara berjalan dibelakangnya sambil berbisik kepada perempuan yang berada disampingnya.
"Nis, kamu kok ada disini?", tanyanya.
( baca bab 41 kalo lupa Nisa itu siapa )
"Aku yang ngerawat Oma.., gantiin kamu. Kamu kok bisa tiba-tiba nikah sama mas Javas?",
__ADS_1
"Nanti aku ceritain, kita masuk dulu..",