Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Bertemu kembali


__ADS_3

"Dad.., jangan lupa beliin Jaz oleh-oleh ya..",


"Lho.., kemarin kan udah dibeliin Daddy mainan.., mahal lho mainan kemarin..",


"Kan Jaz minta oleh-oleh Mom.., bukan minta mainan..",


"Iya nanti Daddy beliin oleh-oleh ya.., Jaz mau apa..?",


"Gudeg ya Dad...",


Yang lainnya tertawa ketika mendengar permintaan Jaz. Lagi-lagi Jaz mendapatkan cibiran dari kakak laki-lakinya.


"Yul..tuyul.., kalo Gudeg itu dari Jogja..,


kalo ke Bali itu oleh-olehnya Leak, mau..?",


"Mau kak.., beliin ya..",


Jaz yang polos hanya mengiyakan ucapan Javas, tanpa tau apa yang dimaksud oleh kakaknya.


"Leak tuh hantu Jaz.., kamu di bohongin tuh sama Kak Javas..", ucap Sharen.


"Terus apa dong kak..?",


"Mau pie susu, atau kacang disco..banyak.., bilang aja sama Dad nanti di beliin..",


"Iya Dad, itu ya Dad kacang yang bisa joget..",


"Iya nanti Daddy beliin deh.., asal Jaz di rumah nggak nakal ya.., nurut sama Mommy..",


"Oke Dad...",


Ini baru Jaz belum lagi nanti kalo Zee sudah bicara, mungkin akan cerewet seperti unclenya.


"Sha.., ikut Dad yuk...",


"Dari semalem kan Sha udah bilang, Sha di rumah aja Dad..",


"Nyesel.. kalo nggak mau ikut..",


Sharen menggeleng. Padahal, Daddy nya tau alasan terbesar Sharen tidak ikut karena putrinya ingin menyambut kepulangan Nathan.


"Nggak Dad.., oleh-olehnya aja deh..",


"Mau apa ?",


"Daster aja ya Dad, adem tuh...",


"Iya nanti Daddy nyuruh orang aja..",


"Mommy juga Dad...",


"Iya sayang..kamu tetep nomor satu..",


"Kina mintanya sama Javas aja ya Na..", ucap Mommy.


Kinara hanya tersenyum.


"Tenang Na,nanti mas beliin yang banyak, selusin, sekodi, sebakul-bakulnya juga bisa...",


"Ada-ada aja..",


Bayi berusia tiga bulan itu, erat mencengkeram lengan kemeja Papanya. Dia tidak mau beralih, dari gendongan Papanya ke dekapan Mamanya. Nampaknya, Ze tahu jika sebentar lagi dia akan ditinggal beberapa hari oleh Papanya.


"Pelan-pelan sayang..",ucap Javas ketika Kinara sedikit memaksa Zee untuk melepas pegangannya.


"Iya mas.., ini kenceng banget lho..",


"Ze anak pinter, lepasin dulu ya Nak..,


Papa kerja dulu.., cuma sebentar sayang...",


Ze mewek. Dia menangis ketika Mamanya sudah berhasil menggendongnya dengan paksa.


"Cup..cup..cup...,


Sebentar aja kok, ya...


Papa nggak lama sayang.., nanti kalo Ze agak gedean, Papa ajak dinas ya.., sekarang Ze di rumah dulu sama Mama, Omy, Onty Sha, ada uncle Jaz juga...", bujuknya pada sang Putra, tapi sayangnya tidak terpengaruh. Zee tetap menangis.


"Manja banget sih sama Papa..",


"Mas jadi nggak tenang ninggalinnya..",


"Nggak apa-apa mas.., nanti juga diem. Emang lagi rewel aja..",


"Ya udah, sini sama Papa dulu..",


"Mas kan bentar lagi berangkat..",


"Nggak apa-apa, Daddy juga masih di dalam kan.., ini Ze mas ajakin muter-muter halaman dulu..,


Mang mau pake dulu..", ucapnya pada driver.


Javas mengajak putranya untuk memutari halaman rumahnya menggunakan mobil. Zee langsung diam dia berhenti menangisketika di pangku Papanya. Zee terlihat sangat anteng.


Puas mengitari halaman rumahnya, Javas turun dari mobil dengan keadaan Ze yang terlelap tidur.


"Rewel, ternyata dia ngantuk..",


"Iya mas, tadi kan sebelum subuh udah bangun..", Kinara mengambil alih Zee.


"Udah ya..


mas pergi dulu.., kamu baik-baik di rumah..", ucapnya dengan mencium kening istrinya.


"Hati-hati ya mas..",


"Iya sayang..",


Seperti juniornya, Daddy dan Mommy juga melakukan hal yang sama. Daddy mencium kening dan kedua pipi Mommy sebelum masuk ke dalam mobil.


"Baik-baik di rumah ya..",


"Iya..mas sehat-sehat disana..",


Sharen hanya diam memperhatikan kedua pasang suami istri itu.


"Kak Sharen, pengen kayak gitu ya...", goda Jaz.


"Iya pengen..., tapi kakak juga bisa kok..


nih....", Sharen menciumi adiknya yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Kak Sha.., Jaz kan mau berangkat ke sekolah, malah dicium-cium kayak gini..", protesnya.


"Biarin, abisnya kamu jahil..",


"Jaz mau berangkat...,


Ayo sus...", ajaknya pada baby sitternya.


Mobil Jaz keluar dari halaman rumahnya diikuti oleh mobil yang ditumpangi oleh Daddy dan kak Javas.


Seperti pagi sebelumnya. Kegiatan rutin Sharen adalah menghubungi Nathan agar kekasihnya itu bangun.


"Halo sayang..",


"Cepet banget...


Hmm..tunggu deh, kok udah rapi aja Nath..",


"Iya sayang, mau berangkat...",


"Kan biasanya juga belum bangun, belum mandi, ini sudah ganteng aja..",


"Dari dulu kan emang udah ganteng sayang..",


"Hmmmm.., iya deh percaya..


Udah sarapan..?",


"Nanti aja deh sarapan disana aja.., ini udah telat banget..",


"Emangnya ada apa..?",


"Nggak ada apa-apa..,


Aku hubungin kamu mungkin nanti agak malaman ya..",


"Kenapa..?",


"Ya aku bilang dulu, takut kamu mikir macem-macem..",


"Hmmm.., ya udah deh kalo gitu..,


Have a nice day.., cintaku..",


"Makasih sayang..


I love you.., see you..",


"I love you, too..",


Nathan sepertinya sibuk di tempat kerjanya hari ini. Mungkin, karena sebentar lagi dia akan keluar dari tempat itu dan meninggalkan Aussie untuk kembali ke Indo. Ya, Sharen juga tidak mempermasalahkannya. Toh, sebentar lagi Nathan akan pulang dan mereka akan segera bertemu.


Kali ini, Bali menjadi tempat Daddy dan timnya untuk bertemu dengan kliennya. Jauh-jauh datang ke Bali, karena kebetulan Klien luar negerinya sedang holiday disana.


"Kalian istirahat yang cukup.., nggak apa-apa kalau mau jalan-jalan. Tapi, jangan jauh-jauh sebelum magrib nanti balik ke Hotel. Kalian pelajari materi yang udah Daddy kasih.


Vas, kamu stay di hotel aja, jangan macem-macem, inget anak istri. Kai juga...",


"Iya Dad, emang Javas mo kemana sih.., ini juga mau langsung ke kamar kok, mau ngasih tau Kina kalo Javas udah sampe..",


"Vano sama Rai, mau keluar ya Dad..",


"Hmm..boleh..


"Vano aja Dad, yang dinasehatin? Rai nggak..?",


"Alah, kamu kan emang belum mau serius sama perempuan...",


"Udah Dad, kan di rumah udah ada..",


"Ya udah, minta sama Papamu buat nikah..",


"Ceweknya belum mau Kak.., biarin mereka pacaran dulu aja..", jawab Revan.


Prime grup memang sudah beralih pimpinan dari Daddy Rendra kepada Javas. Tapi, Daddy tetap memantau dan tidak serta merta melepasnya begitu saja. Regenarasi memang perlu, tapi pantauan juga tidak kalah pentingnya.


Keesokan harinya.


Pagi ini mereka sudah bersiap-siap untuk meeting bersama klien berserta jajarannya di ruang pertemuan di hotel bintang lima milik Prime grup.


"Pagi semuanya..",


Sapaan dari seseorang yang membuat Javas dan sepupunya terkejut adalah kehadiran Nathan yang tiba-tiba. Padahal, Nathan sudah lama resign dari Prime grup, dan lagi-lagi dia bisa masuk kembali.


"Gila lu ya.., udah keluar, sekarang masuk lagi. Udah gitu, ikut meeting sepenting ini...", ucap Tama. Dia sendiri tidak menyangka Nathan kembali pulang.


Nathan hanya tersenyum. Dia langsung menghampiri Daddy Rendra serta Papanya yang juga turut serta dalam pertemuan ini.


"Pagi Dad..",


"Pagi....?",


"Pah...", sapanya pada Papa Aldo.


"Akhirnya kamu kembali Nath.., tepuknya pada pundak sang putra.


"Duduk Nath..", ucap Daddy yang menunjukkan tempat duduk untuk Nathan.


"Apa kabar Vas..?", tanyanya pada Javas yang berada disampingnya.


"Baik.., kemana aja lu..", jawab Javas yang terlihat santai menanggapi pertanyaan Nathan.


"Ada..disini aja..",


Apa tujuan Daddy membawa orang-orang terdekatnya untuk bertemu klien pentingnya kali ini? Selain ingin mempersentasikan program Prime untuk proyek kali ini, Daddy juga ingin memperkenalkan tim baru yang sebagaian besar adalah orang terdekatnya yang akan ada dibalik suksesnya Prime grup.


"Sudah anda ketahui bahwa sebelumnya saya bersama dengan Revan dan Aldo. Mereka ini memang yang selama ini berdiri di belakang saya, membawa Prime grup berada di puncak tertinggi.


Tapi, proyek yang akan Prime tangani, mungkin tidak akan banyak ada campur tangan dari saya, Revan dan Aldo lagi. Proyek ini akan di handle oleh junior kami. Prime sendiri memang sudah berada di bawah pimpinan putra kebanggaan saya, Javas..",


Javas berdiri dengan sedikit membungkukkan badannya. Lalu, dia kembali duduk.


"Dia yang akan menggantikan posisi saya, memimpin proyek kerja sama. Tapi, jangan khawatir. Di belakang Javas nanti akan ada orang-orang yang sudah kompeten. Salah satunya ada menantu saya, Nathan...", ucap Daddy.


Javas menoleh ke belakang, mengedarkan pandangannya ketika Daddy mengucapkannya. Javas kira ada Kinara, tapi menantu yang dimaksud disini adalah Nathan? Daddy....Daddy...


Nathan melakukan hal yang sama dengan apa yang tadi dilakukan oleh Javas.


"Ada Kai...


Rai...


Vano

__ADS_1


dan juga Tama..,


Mereka ini nanti yang akan turun langsung menghandle proyek ini. Tapi, jangan khawatir, saya, Revan dan Aldo juga akan tetap mengawasi mereka...", ucap Daddy mengakhiri perkenalan tim baru Prime grup.


Klien nampaknya puas dengan pemaparan yang dilakukan oleh Javas. Mereka optimis proyek yang menjadi kerja sama antara kedua perusahaan ini akan berjalan lancar dan tanpa halangan.


Tidak se-formal saat meeting tadi. Kali ini, suasana nampak santai dengan menikmati makan siang sebagai jamuan untuk klien. Semua makanan berasal dari makanan khas Indonesia. Daddy nampak berbincang dengan klien ditemani oleh Om Revan dan Om Aldo.


"Udah dianggap menantu aja ya lu, sama Om Rendra..",


Nathan hanya terkekeh dengan ucapan Tama.


"Makan yang banyak.., jangan ngoceh mulu..",


"Udah ketemu sama Sha..?",


"Belum lah, aku baru landing tadi malam. Semalaman aku tidur.., dia aja belum tau kalo aku udah di Indo..",


"Cewek lu marah, baru tau rasa..",


"Tadi pagi udah aku hubungi, tapi telepon aja..",


"Oh.., ya udah..


Rukun-rukun sama dia Nath..",


"Iya...",


Sharen melotot ketika melihat status WA yang dipasang oleh Kai. Tidak ada yang aneh, tapi ada seseorang yang sangat dia rindukan, berdiri di antara deretan laki-laki berjas yang berjajar disana. Matanya tidak minus, itu benar Nathan.


Sharen segera menghubungi kekasihnya, namun kali ini menggunakan video call.


"Halo sayang..",


"Kamu dimana?",


"Lagi dimobil..",


"Di Aussie atau udah di Indo..",


Nathan justru hanya tersenyum.


"Nath.., jawab aku...",


"Iya, di Bali sayang..",


"Kamu ikut meeting sama Daddy..?",


"Iya..",


"Kok bisa..?",


"Bisa..kan aku masuk Prime lagi..",


"Kenapa nggak bilang kalo kamu ikut? tau gitu kan aku ikut..,ih jahat...",


"Mendadak, aku aja baru tau.., dihubungi sama Daddy, aku langsung re-schedule tiketnya. Untung tempat aku kerja nggak masalah kalo aku keluar h-2 lebih cepet..",


"Berarti kamu balik nanti malam, bareng sama Daddy sama yang lainnya..?",


"Nggak sayang..",


"Terus, kapan Nath..?",


"Ini aku udah di mobil, mau ke Ngurah Rai..,


3 jam lagi kita ketemu sayang..",


"Beneran Nath..?",


"Iya.., jadi jemput kan..?",


"Jadi..., aku siap-siap dulu ya..",


"Iya sayang.., ini aku sudah sampe Bandara. Aku masuk dulu ya..,


sampai ketemu nanti..",


Sharen mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian terbaiknya. Sebentar lagi, dia akan kembali bertemu dengan kekasihnya.


"Mommy, Sha mau pergi dulu ya..",


"Kemana?",


"Jalan-jalan,


Sha pinjem mobil Jaz ya mom...",


"Iya, dianterin Mamang kan?",


"Iya mommy..,


Bye..",


Terlihat sangat girang, Mommy saja sampai menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan putri sulungnya.


"Kemana non..?", tanya Mamang.


"Ke Bandara Mang..",


"Jemput bapak Non..? tapi bukan saya yang ditugaskan jemput Non..",


"Bukan.., Daddy masih nanti malam landingnya. Pokoknya kita ke bandara sekarang ya mang..",


"Siap Non..",


Sharen menunggu Nathan di pintu kedatangan. Rasanya, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya kembali.


Senyum Sharen mengembang lebar, ketika dari kejauhan sudah nampak seorang laki-laki tampan nan gagah berjalan cepat mendekat ke arahnya. Dia, Nathan kekasih hatinya.


Nathan melepas koper yang diseretnya, dia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Seperti di film-film, Sharen berlari kecil dan langsung menghambur memeluk Nathan.


"Aku kangen banget...",


"Akhirnya, kita ketemu lagi sayang...",


"Jangan pergi lagi, Nath...",


"Nggak akan sayang..",


Kata-kata mungkin tidak cukup untuk menggambarkan perasaan kedua sejoli yang sudah lama dipisahkan oleh jarak dan waktu. Sharen sangat bahagia bisa berjumpa dengan Nathan, begitu pula sebaliknya.


"Kita pulang..", ucap Nathan. Dia menggandeng erat tangan Sharen.

__ADS_1


__ADS_2