Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Salah lagi


__ADS_3

Mom Aira dan Dad Rendra sadar, jika ada sesuatu antara menantu dan putranya. Karena tidak seperti biasa, menantunya bersikap seperti ini pada Javas.


"Itu yang kamu bilang nggak pernah marah? yang barusan apa?", tanya Dad Rendra.


"Selesaikan secepatnya kak, nggak boleh berlarut-larut...",


"Iya mom..",


"Kena karma kamu.., ketulah sama omongan sendiri", ucap Rendra.


"Dad.., nggak boleh gitu..",


"Masalahnya apa?", tanya Sharen. Bunga yang dikirim Firman adalah pemicunya, tapi bukan itu penyebab Kinara bersikap seperti ini pada Javas.


"Biar jadi masalah rumah tangga Javas sama Kina, Sha nggak boleh kepo...", ucap Aira.


" Tuh.., dengerin Mommy.., nggak usah kepo..",


"Emangnya masalah apa kak?", tanya Aira.


"Hahaha mommy kepo juga..", ledek Sharen.


"Hehehe nggak Sha .., cuma heran aja. Kinara tuh kayak nggak pernah marah sama Javas, sekalinya marah bikin Javas kayak gini, semrawut..",


"Javas emang nggak tidur semalem...",


"Karena kepikiran sama Kina? kenapa nggak diselesain..?",


"Semalem dia udah tidur mom...",


"Kalo marahnya diem kayak gitu, nyeremin ya mom..",ucap Sha.


"Masih mending, daripada mommy dulu sukanya kabur...", celetuk Rendra yang membuat istrinya membelalakkan matanya.


"Kita baru aja baikkan loh mas.., mau Aira sebutin satu persatu salahnya Daddy apa?",


"Jangan sayang.., mas kapok.., udah kita damai aja..",


"Kalo Mom lagi marah, Dad gimana?",


"Gimana mom..?",tanya Rendra pada istrinya.


"Ya dirayu-rayu.., dibaik-baikin..,


kamu udah lakuin itu belum?",ucap Mommy.


"Belum..",


"Usaha dong..",


"Iya Queen.., cerewet..",


"Semoga masalahnya cepet selesai ya..


Mommy sama Daddy nggak mau ikut campur, kalian yang punya masalah, kalian juga yang harus selesain sendiri. Tanpa, campur tangan siapapun. Minta pendapat boleh, tapi..kalian yang punya jalan keluar..",nasehat Aira.


"Iya mom..,


Javas berangkat dulu..",


"Hati-hati nyetirnya..",


Kesalahan yang dibuatnya tanpa sadar. Memang membuat Kinara berubah. Dari awal menikah, istrinya sekalipun tak pernah marah, dan selalu mengalah padanya.


Permasalahannya dengan Kinara, ternyata sangat mempengaruhi pekerjaannya. Hingga membuat Tama melayangkan protesnya.


"Udah 4 kalo aku ngeprint form ini ya Vas.., kalo salah ngasih paraf sama tanda tangan di masing-masing halaman, awas aja..",


"Kasih keterangan yang bener dong..",


"Udah.., tulisan segede itu, emangnya kamu nggak bisa baca..",


"Huft...",


"Ada masalah..?",


"He'em...",


"Ini yang buat aku belum mau nikah sampe sekarang.., karena bikin ribet..",


"Bilang aja karena nggak ada calonnya..",


"Ngeledek.., enak aja.., gini-gini banyak yang antri..",


"Aku bingung sama Kinara.., dari semalem nggak mau ngomong sama aku.."


"Kamu punya salah apa?",


"Aku salah sebut nama dia, Mine..


fatalnya lagi dia ngitung...",


"Wow.., berapa kali emangnya? sepuluh kali?",


"Du-a pu-luh e-nam kali...."jawabnya dengan mengeja.


"Crazy..., gila lu ya...",


"Aku nggak nyadar Tam...",


"Mata lu belekkan, minus apa buta? yang didepan mata itu Kinara bukan Yasmine..",


"Spontan...",


"Itu karena yang ada di otak cuma Mine.., bukan Kinara. Pantes aja dia marah..",


"Terus gimana? namanya juga nggak sadar..",

__ADS_1


"Kamu sadar, tapi ya itu.., nggak bersyukur punya istri cantik, nggak banyak nuntut, selalu nurut sama kamu..",


"Sok tau..",


"Sharen yang suka cerita..",


"Terus aku harus gimana?",


"Minta maaf.., gitu aja susah..,


Kamu bukan dewa, jadi jangan gengsi minta maaf, kamu emang salah..",


"Iya.., aku tau..",


"Ada yang gampang, kenapa harus pilih yang susah. Ada yang deket, kenapa mikirin yang jauh..?",


Minta maaf mungkin adalah jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kinara. Rencananya Javas akan mengajak istrinya makan siang bersama. Tidak menghubungi Kinara terlebih dahulu, tapi Javas langsung menuju ke rumah sakit.


"Na...", teriaknya ketika melihat istrinya sedang berjalan bersama dengan Nisa.


"Nis.., kamu duluan aja..",


"Cieh yang disamperin ayang..",


"Hustt...",


Javas mendekati Kinara.


"Mau makan siang..?",


Kinara mengangguk.


"Makan bareng ya, ada yang mau aku omongin..",


"Iya mas..",


Akhirnya.., aku denger suara itu lagi Na.


"Keluar aja ya, jangan disini..",


"Disini aja, Kina nggak punya waktu banyak..",


Mereka berdua menuju kantin rumah sakit.


Javas yakin, kali ini usahanya pasti akan berhasil.


"Silahkan dok..",


"Makasih bu..",


Kinara memilih menu makan siangnya.


"Soto betawinya 1 ya Bu.., minumnya teh hangat aja..",


"Temennya apa mbak?", tanya ibu kantin.


"Mas mau apa?",tanya Kinara.


"Oh kakaknya ya..",


"Samain kamu aja Na..",


"Berarti dua ya Bu..",


"Oke mbak dokter..",


Javas terlihat sangat kesal karena dirinya disebut sebagai kakak oleh Ibu kantin.


"Emangnya kita mirip? sampai-sampai dibilang kakak adik? ",


"Ya nggak tau, tanya aja sama ibu kantinnya..",


"Kenapa kamu nggak bilang kalo kita ini suami istri..?",


"Terus kalo dikira kakak adik kenapa? bedanya apa? toh sama-sama dilayani kan?",


"Kamu kayaknya emang nggak pernah anggep aku sebagai suami kamu ya Na..",


"Mas nggak ngaca? selama ini mas juga anggep Kina sebagai orang lain kan?",


Mas kesini cuma mau ngajakin berantem? kenapa nggak sabar nunggu Kina di rumah..


Mas Javas selalu benar.., Kina yang selalu salah..",


"Na.., nggak gitu..",


Kinara yang kesal langsung bangun dari duduknya, lalu meninggalkan Javas yang lagi-lagi membuat Kinara marah.


"Na..., tunggu Na..",


Kinara tidak peduli, dia langsung pergi meninggalkan kantin. Tidak ingin membuat kegaduhan, Javas membiarkan istrinya.


"Salah lagi.., salah lagi..", keluhnya dengan mengoyak rambutnya sendiri.


"Silahkan mas..",


"Ckck..gara-gara ibu.., jadi berantem lagi sama istri saya..",


"Kok saya mas..? mbak dokternya mana?",


"Istri saya pergi.., gara-gara ibu..",


"Mbak dokter istrinya mas..?",


"Iya.., Kinara istri saya..",


"Owalah.., maaf ya mas..",

__ADS_1


"Sotonya buat ibu saja. Ini uangnya, kalo ada kembalian, buat ibu saja..",


Niat hati ingin segera menyelesaikan masalah, Javas justru malah menambah masalah kembali.


Javas benar-benar menyesal, seharusnya saat di kantin tadi dia menahan egonya.


Kinara kembali bungkam, tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Setelah menyiapkan keperluan mandi, baju ganti untuk Javas, Kinara keluar kamar. Memilih untuk bermain bersama Jaz dan mengobrol dengan suster Sri.


Aira dan Rendra saling pandang, ketika melihat sikap Kinara yang dingin pada suaminya. Muka Javas terlihat anyep, menandakan jika dia dan Kinara masih belum juga baikkan. Tidak bisa berbuat apa-apa, Aira dan Rendra justru lucu ketika melihat Javas yang seperti anak yang sedang dimarahi ibunya.


"Kak dok udah selesai makannya?",


"Udah.., kenapa?",


"Jaz ada PR.., bantuin ya..",


"Iya.., mau sekarang?",


"Ayo kak..,PR Jaz banyak loh..",


"Ya udah ayo..


Kinara permisi dulu..", ucapnya dengan sedikit membungkukkan badannya.


Jaz menggandeng kakak iparnya, menuju lift untuk naik ke lantai atas. Lagi-lagi Javas kalah dengan adik kecilnya yang terlihat sangat posesif dengan Kinara.


"Kak dok lagi sedih ya..?", tanya Jaz ketika mengamati wajah Kinara yang terlihat sendu.


"Nggak kok..", geleng Kinara.


"Kalo kak Javas nakal, bilang aja sama Jaz. Nanti biar Jaz yang bales..",


"Nggak usah.., Jaz kan anak baik..",


"Berarti bener ya? kak Javas yang buat kak Dok jadi sedih..",


"Ayo cepetan dikerjain PRnya.."


"Oke kak..",


Kinara beruntung mempunyai ipar seperti Sharen dan Jaz yang sangat sayang kepadanya. Terlebih,Jaz yang sangat perasa. Dia bahkan tau jika Kinara sedang tidak baik-baik saja. Meskipun usianya masih kecil, tapi Jaz memang pintar untuk anak seusianya.


"Kak dok temenin Jaz tidur ya..",


"Kan ada mbak Sus Jaz..",


"Maunya ditemenin kak Kina..",


"Ya udah.., yuk..",


Sementara itu, Javas terlihat gelisah dikamarnya. Dia menunggu Kinara kembali.



"Kak Kina bilang apa tadi..?",


"Nggak bilang apa-apa, tapi Jaz tau kalo kak dok lagi sedih.., pasti gara-gara kak Javas kan?",


"Iya..",


"Jahat..,


udah sana balik ke kamarnya kak vas sendiri..",


"Kak Javas ikutan tidur disini ya Jaz..",


"Nggak boleh..",


"Kamu sedih nggak kalo kak Kina sedih..?"


"Sedih dong.., kasian kakak cantik..",


"Kalo Jaz kasian sama kak dok.., seharusnya Jaz bolehin kak Javas tidur disini.., biar besok kak Kina nggak sedih lagi..",


"Kak Javas mau apain kak Kina?",


"Kak Javas mau minta maaf sama kak dok..",


Jaz nampak berpikir.


"Boleh ya Jaz..?",


"Beneran mau minta maaf?",


"Iya bener..",


"Oke boleh deh..,


Kak Javas mau tidur di kamar Jaz? ",


"Iya.., kamu tidur dikamarnya mom sama Dad aja sana..",


"Ini kamar Jaz, kenapa kakak ngusir..?",


"Ya udah, bobok bertiga yuk..?",


"Nggak deh.., Jaz mau ke kamar Moma Sha aja..",


"Ya udah sana.., besok Kak Javas kasih hadiah..",


"Beneran ya..",


"Iya..",


Berhasil merayu adiknya, Javas akhirnya bisa berduaan bersama Kinara. Istrinya sudah terlelap tidur, dan Javas menyusulnya naik ke atas ranjang, menggantikan posisi Jaz. Kinara memeluk Javas, karena merasa yang ada disampingnya adalah Jaz, bukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2