
Kalo kalian lupa sama jalan ceritanya. Please, baca lagi bab " Antara Ada dan Tiada"
Oke cuss lanjut
"Jaz udah tidur ya sus, tumben..",
"Iya mbak..kecapekan mungkin..",
"Capek buka kado ya? pasti dia seneng banget dapet kado banyak..",
Baby sitter Jaz menggeleng, dengan raut muka sedih.
"Kenapa? Jaz ngambek? ada kado yang nggak dia suka? dia pengen apa? biar malem ini aku beliin sus..",
"Tadi, Jaz nyamperin mas Javas. Jaz marah.., tadi dia liat waktu mas Javas marah-marah..",
"Gimana-gimana? maksudnya mbak?",
"Jadi.., tadi Jaz masuk ke kamarnya mas Javas.., terus tadi dia marah.
Jaz sayang sama kak Javas, tapi kenapa kakak benci sama Jaz..,
gitu mbak ngomongnya..",
"Ya Allah.., Jaz bisa ngomong kayak gitu?",
"Iya mbak.., kasian..",
"Tapi Jaz nggak diapa-apain kan sama Javas?",
"Nggak mbak.., tadi ada mbak Yasmine yang nenangin mas Javas.., saya bawa Jaz keluar kamar, Jaz nangis tadi....",
"Ya udah, makasih sus.., lain kali kalo ada Javas, Jaz nya diajak menjauh aja ya. Aku takut Jaz nanti malah tambah benci sama Javas..",
"Baik mbak..,
Jaz tadi nggak mau makan malam..",
"Nggak mau makan ya sus? tapi mau minum susu kan?",
"Mau mbak..",
"Syukurlah kalo gitu.., maaf ya tadi aku nemenin tamu.., nggak enak kalo ditinggal..",
"Nggak apa-apa mbak..
Mbak..., saya besok bisa minta izin keluar?",
"Berapa lama? dari jam berapa sampe jam berapa..",
"Pagi mbak.., jam 7.., tapi saya tetep nyiapin Jaz , mandinya, sarapannya pokoknya sampe Jaz siap ke sekolah. Cuma saya nggak bisa jemput aja..",
"Oke..nggak apa-apa.., biar Jaz aku aja yang antar jemput sekolahnya. Tapi, besok bisa nyusul ke kantor nggak sus? aku ada meeting..",
"Baik mbak..bisa. Sebelum jam makan siang, saya bisa jemput Jaz di kantor..",
"Oke..
Jangan lupa siapin baju ganti buat Jaz juga ya..",
"Baik mbak..
Terima kasih mbak sudah diizinkan..",
"Sama-sama.., kalo gitu aku masuk kamar dulu.., kalo nanti tengah malam Jaz tiba-tiba bangun minta makan. Tolong gorengin nugget aja, itu kesukaan dia kalo lagi kelaperan..",
"Baik mbak..",
Jaz sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Seperti obrolan semalam, hari ini Sharen yang akan mengantar dan menjemput Eljaz ke sekolah.
"Jaz.., udah ganteng aja...",
Eljaz hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan mengunyah roti sebagai sarapannya.
__ADS_1
"Hari ini, Moma yang antar jemput sekolah ya. Mbak Srinya izin sebentar.., kamu seneng nggak..?",
"Happy..",
"Pinter..., Moma sarapan dulu ya. Terus kita pergi ke sekolah..",
"Dad, mana?", tanyanya tiba-tiba.
"Dad? di halaman belakang. Ada apa?",
"Teman-teman Jaz bilang, mereka selalu makan sama-sama Papa Mama...",
"Oh.., gitu. Oke.., nanti malam kita makan sama-sama ya. Jaz mau makan di rumah atau makan di luar. Kita ajak Daddy..",
"Di rumah aja..",
"Oke.., nanti biar Bibik masak yang spesial buat Jaz.., Jaz pengen apa lagi? kadonya udah dibuka semua?",
"Jaz pengen adek..",
"Boneka? Jaz kan laki-laki..., mainannya ya mobil-mobilan, robot, puzzle, tembak-tembakan.., bukan boneka sayang..",
"Bukan boneka, tapi adek bayi..",
Sharen terdiam. Mencoba berpikir cepat untuk memberikan pengertian kepada Jaz.
"Nggak bisa Jaz.., adek bayi itu.., hmmm dikasih sama Tuhan..",
"Moma sama Dad, kan bisa punya adek bayi kan?",
Sharen terdiam kembali. Adik yang sudah dianggapnya sebagai anak ini, memang menganggap Sharen dan Daddy nya adalah sepasang suami istri, bukan anak dan ayah.
"Nggak bisa, sayang..",
"Kenapa nggak bisa? temen-temen Jaz punya adek bayi dari Mama Papanya..",
"Pokoknya nggak bisa..",
"Ya udah.., Jaz nanti bisa maen sama adik bayinya temen Jaz aja..", ucapnya dengan nada kecewa.
"Jaz.., kemarin marah sama kak Javas..? kenapa?",
"Dia jahat..",
"Jaz diapain?',
"Kak Javas selalu jahat sama Jaz, dia nggak kayak kak Nathan sama Kak Bian..",
"Kamu mau naik motor sport? nanti Moma minta tolong kak Nathan, nanti keliling sama kak Nathan, Jaz mau?",
"Mau..",
"Oke..nanti sore ya.., sekarang kita berangkat dulu..",
"Moma nggak sarapan..?",
"Nanti aja sayang.., let's go..",
Gimana bisa kak Sharen bisa ngunyah makanan, setelah tau permintaan kamu Jaz?
Sharen memang ingin membuat bahagia Jaz dengan cara memenuhi permintaannya. Mainan, makanan, jalan-jalan, semuanya akan Sharen turuti selagi bisa. Tapi, setelah mendengar barusan, sudah tentu Sharen tidak akan bisa mewujudkannya.
Setidaknya, Eljaz bersikap normal. Tidak ada raut kesedihan di wajahnya. Hanya, permintaan mempunyai adik bayi yang membuat Sharen sedikit kaget.
Sharen menunggu Eljaz yang hari itu hanya bersekolah selama 2 jam. Tanggung, jika harus ditinggal. Daripada harus bolak-balik Sekolah - Prime grup yang masih memerlukan waktu selama hampir 30 menit. Lebih efektif bagi Sharen untuk menunggu hingga Eljaz pulang.
"Jaz, ikut Moma ke kantor ya. Nanti Mbak sus nyusul Jaz kesini..",
"Oke..",
Eljaz adalah anak yang penurut. Dia selalu menuruti apa kata Sharen.
Jaz duduk di sofa, mengamati ruang kerja Sharen yang dulunya adalah ruang kerja Daddy nya.
__ADS_1
"Ada jagoan disini ya.., halo bro..",
"Halo kak.., nanti jadi nggak?",
"Jadi...?
Apa Sha..?", tanya Nathan kepada Sharen.
"Jaz minta naik motor.., bisa kan Than..?",
"Oke.., nanti kak Nathan ambil motor dulu di rumah ya. Nanti kak Nathan maen ke rumah Jaz..",
"Oh iya.., nanti sekalian makan malam di rumah ya Than..",
"Ada acara apa? bukannya ulang tahun Jaz, udah kemarin?",
"Jaz pengen makan malam sama-sama katanya. Sama Daddy sama Moma..",
"Pengennya kan sama Daddy sama Moma..",
"Udah.., ikut aja. Buat ngeramein..",
"Oke..
Lima belas menit lagi, meeting dimulai Sha.., kamu siap-siap ya..",
"Bukannya meetingnya setelah makan siang..?",
"Dimajuin.., aku udah revisi schedule kamu lho.., nggak dibaca..?",
"Nggak Than..
Terus Jaz, gimana? dia sendirian dong..",
"Iya ya.., Tante Vina juga ikut, nggak ada yang jagain Nathan..",
"Mana Jaz nggak bawa mainan sama sekali..",keluh Sharen.
"Mbak sus kemana, emangnya?",
"Ada urusan. Sebelum jam makan siang dia udah janji kesini, paling bentar lagi sih..",
"Ya udah, tinggal aja Jaz disini.., pasti dia berani...",
"Iya sih.., disini juga kan aman.
Jaz, moma tinggal Jaz sendirian disini. Berani nggak?",
"Berani..",
"Sipp.., gitu baru laki-laki..", ucap Nathan.
"Biar kamu nggak bosen.., nih hape Moma boleh dimainin..",
"Thanks Moma..",
"Moma tinggal dulu ya Jaz..",
"Oke..",
"Enjoy ya.., kalo butuh sesuatu, telepon kak Nathan pake hapenya moma. Bisa kan?",
"Bisa..",
Jaz menonton film kartun kesukaannya. Mengambil posisi tidur di Sofa . Meskipun dari kecil sudah terbiasa dilayani dan sekarang sudah mempunyai baby sitter. Tapi, Jaz adalah anak yang mandiri. Apalagi, di sekolahnya juga sudah diajari untuk mandiri sejak dini. Itulah mengapa, Jaz jarang sekali bersikap manja. Ditinggal sendiri dalam ruangan seperti ini saja, dia tidak merengek.
Menonton kartun lebih dari 30 menit, tapi Jaz akhirnya bosan. Mencoba mencari aplikasi game di hape Sharen, tapi ternyata tidak ada. Javas akhirnya membuka galery foto milik Sharen.
Jaz tersenyum ketika melihat acara ulang tahunnya kemarin yang diadakan secara sederhana di rumahnya. Meskipun, bayangan acara ulang tahun yang meriah sudah ada dibenaknya. Namun, Jaz tetap happy karena bisa mendapatkan kado yang begitu banyak. Pikirannya sebagai anak kecil usia 4 tahun seusianya memang hanya sebatas pada kado. Jaz menggeser satu persatu foto.
Jaz melihat banyak sekali foto yang berada di galery ponsel Sharen. Bukan hanya foto Sharen yang terpampang disana. Malahan, kebanyak foto Jaz baik yang diambil diam-diam ataupun memang foto we-fie nya bersama Sharen.
Jaz menyelam jauh, karena penasaran dengan foto-foto yang disimpan oleh Sharen. Hingga akhirnya, di melihat foto keluarga yang terpampang disana. Ada 2 orang laki-laki dan 2 perempuan yang tiga diantara mereka sangat Jaz kenal.
__ADS_1
"Ini kak Javas, ini Moma.., yang ini Daddy. Terus, yang di gandeng Daddy, ini siapa? kok Jaz baru lihat..", ucapnya bermonolog.