
"Dad.., Jaz laper..", ucapnya merengek pada sang Daddy.
"Jaz laper ya..? tadi belum disuapin sama mbak Sus?",
"Belum..", gelengnya.
"Tunggu bentar ya, nunggu moma Sha kesini..",
"Mas.., anterin Jaz makan dulu aja..",
"Kalo mas nganter Jaz, kamu sendirian disini? bentar lagi makan siang.., Sha katanya mau kesini..",
"Nggak apa-apa..",
"Jaz.., beneran laper?",
"Iya Dad..",
"Kita beli makan dibawah, tapi makan disini aja ya. Kasian Mommy..",
"Mommy.., Jaz mau beli makan. Mommy disini dulu ya.., Jaz sama Dad nggak lama kok.., Mommy berani sendiri kan?", tanyanya polos kepada Aira.
"Iya sayang..",
Muach..
"Jaz pergi dulu mom..", ciumnya pada pipi Aira sebelum Jaz pergi.
"Mas pergi dulu ya sayang, bentar aja kok...",
"Iya mas..",
Rendra meninggalkan Aira di ruang rawatnya. Aira sudah keluar dari ruang ICU, dia sudah dipindah di ruang rawat biasa. Dua hari yang lalu, Aira baru saja menjalani operasi transpalasi ginjal. Sehingga masih membutuhkan banyak istirahat untuk memulihkan keadaannya. Aira juga harus menjalani beberapa therapy agar bisa hidup kembali dengan normal.
Mata Aira tertuju kepada benda pipih yang ditinggalkan suaminya di atas nakas. Iseng dan penasaran, Aira meraihnya. Untuk bisa membuka ponsel Rendra, Aira harus memasukkan beberapa digit nomor , karena ponselnya terkunci. Aira berhasil membukanya karena password ponsel Rendra masih sama.
Memeriksa satu persatu pesan dari DM instagram, Inbox Facebook serta Line. Tidak ada yang janggal serta mencurigakan. Hanya ada beberapa message dari teman Rendra yang mengucapkan keprihatinan atas keadaan Aira. Namun, berbeda dengan pesan yang Aira baca diaplikasi WhatsApp.
Di aplikasi ini, Aira menemukan banyak pesan yang dikirim oleh teman, keluarga serta anaknya. Saat menscroll dari bawah ke atas, tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi. Ada panggilan masuk dari seseorang.
"Erna? ",ucapnya dengan nada keheranan.
Aira membiarkan saja ponsel suaminya berbunyi hingga panggilan tersebut berakhir otomatis. Hati Aira lantas tergerak untuk mencari nama Erna di WhatsApp.
Oh.., ternyata seperti dugaannya. Erna ternyata cukup intens mengirimi suaminya pesan. Aira membacanya dari paling bawah sampai ke atas.
"Mas Rendra mau dibawain apa? aku nanti ke rumah..",
"Nggak usah makasih..",
"Aku bawain makanan kesukaan mas Rendra ya...",
Tidak ada jawaban dari Rendra.
Sudah tersirat dari bahasanya, jika Erna ini sangat perhatian kepada suaminya.
"Selamat malam mas.., selamat istirahat.., jangan lupa jaga kesehatan..",
"Makasih, kamu juga..",
"Sama-sama.., semoga mimpi indah..",
Tidak ada juga balasan dari Rendra.
Rasa sesak Aira rasakan. Si Erna ini memang yang terlihat aktif memberikan perhatian kepada Rendra. Meskipun hanya dijawab sekenanya oleh Rendra, namun tetap saja Rendra menanggapinya dengan baik. Yang bisa saja si Erna ini salah mengartikan tanggapan dari Rendra.
__ADS_1
"Ini Erna siapa? sahabatku Erna? atau Erna yang lain? Dia coba mendekati mas Rendra?", gumam Aira.
Meninggalkan Aira selama 30 menit, akhirnya Rendra dan Jaz kembali. Nampak juga Sharen yang datang, mengenakan pakaian ala kantornya.
"Assalamualaikum, mommy cantik..",
"Waalaikumsalam.., dari kantor ya Sha?",
"Iya mom..
Cuma bentar aja kesininya. Abis ini lanjut meeting, terus nanti mau dijemput sama Kak Bian, sekalian dinner. Nanti malam, Sha nggak kesini dulu ya mom, Sha pulang ke rumah.., tapi besok Sha kesini kok.., full time..",
"Iya sayang..
Jangan paksain kesini kalo kamu lagi capek..",
"Nggak kok mom.., Sharen nggak capek..",
"Jaz.., udah makan?", tanya mommy-nya.
"Belum.., ini mau makan. Tadi Jaz mau beli bungkusin buat Mommy, tapi nggak boleh sama Dad..",
"Iya.., kan Mommy belum boleh makan yang macem-macem..", sahut Sharen
"Kalo gitu, Jaz makan dulu..
Selamat makan...", ucapnya.
"Idih.., selamat makan. Orang yang makan kamu doang, Moma sama Dad nggak makan..",
"Oh iya ya.., nih..kak Sha mau?", ucapnya menawarkan fried chicken yang siang itu menjadi menu makan siangnya.
"Nggak usah, Moma udah bawa sendiri, buat Moma sama Dad..",
Dari atas ranjangnya, Aira menyaksikan suami dan putra-putrinya makan bersama. Meskipun, dirinya belum bisa ikut bergabung. Namun, sebentar lagi moment kebersamaan dengan formasi lengkap anggota keluarga mereka akan terwujud. Aira optimis, dia akan segera sembuh dan bisa beraktifitas normal kembali.
Sharen membelalakkan matanya. Sungguh, situasi saat ini belum terpikirkan olehnya. Sharen sendiri tidak menyangka jika Aira akan mengetahui dengan cara yang tidak terduga seperti ini. Sudah memprediksi apa yang akan terjadi setelahnya, Sharen mencoba untuk mengajak Jaz untuk keluar dari kamar. Sharen tidak ingin adiknya menyaksikan kemarahan Aira.
"Jaz.., kita pergi dulu yuk.., Moma pengen jajan..",
"Kan habis makan, masih laper..?",
"Iya.., Moma masih laper..",
"Katanya diet?",
"Batal.
Mau dijajanin nggak?",
"Oke.., tapi Jaz mau dijajanin es krim aja ya..",
"Sip...",
"Bye Mom.., Dad.., Jaz pergi dulu..",pamitnya.
Aira tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada putra bungsunya. Aira ingin memastikan. Apakah Erna, perempuan yang memberikan perhatian kepada suaminya, adalah sahabatnya atau bukan?
"Mas.., kok nggak dijawab?", tanyanya lagi.
Rendra mendekat.
"Apa sayang?",
__ADS_1
"Erna ini siapa? Erna sahabatku? Erna mantannya Arif? atau Erna siapa?",
"Iya.., Erna.., temen kamu..",
"Oh..,
ada hubungan apa mas sama dia? Jadi, selama Aira koma, mas deket sama dia? sering ke rumah ? bawain makanan? sering jalan bareng?",
"Nggak pernah sayang..",
"Dibawain makanan, kalo itu sering kan?",
"Iya.."
"Mas nggak nolak ya? ",
"Sayang.., kamu udah baca sendiri kan chatnya, mas udah nolak.., tapi dia maksa..",
"Tetap aja kan? nggak ada benteng dari diri mas..",
"Mas cuma menghargai dia sebagai temen kamu.., udah itu aja..",
"Dia nggak tau kalo Aira udah sadar..?",
"Belum..",
"Ngomongin apa aja kalo sama dia?",
"Kamu...",
"Kamu..? Ngomongin aku maksudnya..?",
"Iya..siapa lagi..,
semua orang yang dirumah selalu mengalihkan topik tiap kali mas bicara tentang kamu.., mereka nggak mau kalo mas sedih. Tapi, mas butuh kamu, meskipun hanya sebatas kenangan sama kamu..",
"Erna selalu dengerin mas?",
"Iya.., dari dia mas jadi tau. Kalo kamu sangat bangga punya suami kayak mas..",
"Mas nggak takut kalo dia menganggap mas lebih dari sekedar teman?",
"Dia pernah ngomog kalo punya perasaan lebih ke mas...",
"Erna ngomong gitu mas?",
"Iya sayang..,
Maaf kalo udah bikin kamu kecewa. Tapi, mas jamin. Mas nggak pernah punya perasaan lebih dari sekedar teman...",
"Buktinya apa? ini cuma sebatas chat, bisa aja mas udah hapus..",
"Nggak ada satupun chat yang mas hapus Ra..
Kamu butuh bukti?",
"Iya..",
"Besok mas akan kasih bukti ke kamu..,
Tapi, jangan marah sama mas sayang.., mas udah tersiksa 4 tahun ini. Jangan sampai mas tersiksa lagi..",
"Mungkin, kalo perempuan ini bukan Erna ,Aira nggak akan se-kecewa ini. Bagaimanapun juga, dia adalah sahabat Aira. Empat tahun ini, Aira pergi bukan liburan, bukan pula senang-senang, tapi Aira berjuang antara hidup dan mati. Rasanya, seperti dikhianati ketika sahabat kita tau keadaan yang sebenarnya, tapi dia malah memanfaatkan. Kesempatan dalam kesempitan namanya..",
"Maafin mas sayang..",
__ADS_1
"Aira butuh bukti mas..",
"Mas pasti tunjukin sama kamu..", ucapnya dengan nada tegas.