
"Assalamualaikum...",
"Waalaikumsalam..
Na kok tumben pulangnya malem..", tanyanya pada adik iparnya yang baru saja masuk pulang.
"Iya mbak, tadi sekalian ikut mas Javas, satu acara sama mommy Daddy..",
"Mommy Daddy kemana? kok cuma kalian berdua yang pulang..",
"Mampir ke rumahnya Om Revan mbak, nengok Oma..",
"Oma kenapa?",
"Nggak kenapa-napa, ya mampir aja kata mommy tadi..",
"Sayang.., ayo..",
"Iya mas bentar..",
"Udah..sana Na, diurus dulu Javasnya..",
"Iya mbak..,
Na permisi dulu ya mbak..",
"Oke..",
Sharen masih menemani adik bungsunya bermain. Ya, hanya mengawasi dan menemani dalam artian yang sebenarnya. Jaz, bermain seorang diri di lantai teras rumahnya sembari menunggu kepulangan kedua orang tuanya.
"Jaz, masuk aja yuk..",
"Jaz mau nunggu mom sama dad dulu kak..",
"Nggak ngantuk?",
"Belum...",
Jam masih menunjukkan jam 7 malam, pantas saja adiknya berkata jika belum mengantuk.
Sharen sampai menaikkan kedua kakinya, karena merasa pegal. Ditinggal seorang diri, kasihan. Tapi, ditemanipun rasanya bosan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan masuk ke dalam halaman rumah. Senyum Jaz langsung merekah, tapi tidak dengan Sharen yang langsung menunjukkan wajah datarnya.
"Kak Nath...", ucapnya berteriak.
Nathan keluar, menenteng dua buah paper bag. Yang satu berukuran sedang dan yang satu berukuran besar.
"Halo jagoan.., kok malam-malam duduknya dilantai?", tanyanya menghampiri Jaz lalu duduk disampingnya.
"Kak, itu mainan punya Jaz ya?",
"Iya.., ini punya Jaz..., nih...", Nathan memberikan dua buah paper bag untuk Jaz.
Dengan ekspresi senangnya, Jaz buru-buru membuka mainan yang dibelikan Nathan untuknya.
"Wah... kak keren banget...",
"Jaz suka..?",
"Banget kak.. makasih ya kak..", ucapnya dengan memeluk Nathan.
__ADS_1
"Sama-sama..
Bentar ya...",
Nathan kembali ke mobilnya. Ini kesempatan bagi Sharen untuk masuk ke dalam. Dia memang masih menghindari Nathan, entah dengan alasan apa.
"Sus, jagain Jaz ya..",
"Iya mas..",
Nathan, menyusul Sharen yang masuk ke dalam rumah. Nathan memperlebar langkahnya. Dan, dia berhasil meraih tangan Sharen.
"Sha.., tunggu...",
Sharen menghentikan langkahnya.
"Ada apalagi sih Nath..?",
"Nih, buat kamu...", ucapnya memberikan paper bag bewarna merah bergambar hati.
"Lepasin tangan aku..",
"Masih marah?",
"Niat ngasih nggak? masa iya dikasih orang tapi aku ngambilnya pake tangan kiri. Nggak sopan..",
Nathan lantas melepaskan tangan kanan Sharen yang berada dalam genggamannya.
Sharen langsung menerima pemberian dari Nathan setelah tangannya dilepaskan.
"Makasih..,.
aku mau ke kamar dulu..",
"Apa lagi sih Nath.."
"Aku pengen ngobrol.."
"Aku ngantuk.., aku pengen istirahat..",
"Bentar aja...",
Sharen pergi meninggalkan Nathan menuju ke teras belakang. Dia langsung duduk di kursi. Mendapatkan kesempatan, Nathan tidak ingin menyia-nyiakan. Dia langsung duduk disamping Sharen, namun sayangnya terhalang oleh sebuah meja.
"Mau obrolin apa?",
"Kamu marah sama aku?",
"Belum jelas..?",
"Marah karena apa? Karena aku cinta sama kamu? atau aku pacarin Luna karena cuma manfaatin dia aja..?",
"Dua-duanya...",
"Oke aku jelasin. Aku pacarin Luna karena buat ngelindungin kamu, aku nggak mau kamu dipermainkan sama Bian, dan akhirnya terjadi kan? Dia mainin kamu...",
"Tapi, kamu jahat Nath, Luna nggak tau apa-apa..",
"Iya aku jahat, tapi Bian lebih jahat.., dia pacaran sama kamu, tapi dia main dibelakang kamu, sama sepupu kamu sendiri Sha.."
"Iya aku yang bodoh...",
__ADS_1
"Kamu udah tau?",
Sharen menggeleng.
"Aku nggak punya bukti, tapi feeling perempuan itu kuat...",
"Kamu mau liat buktinya? aku punya..",
"Udah nggak penting...",
"Aku jadiin Luna sebagai jaminan, dan Bian tau soal itu, tapi nyatanya? dia masih main di belakang kamu Sha..",
"Aku yang kurang hati-hati..",
"Kamu udah tau alasannya kan? aku lakuin itu buat kamu..., dan maaf kenapa selama ini aku jadi secret admirer. Aku udah tahan perasaanku buat kamu, tapi nggak bisa Sha.., aku nggak bisa cegah, semuanya terjadi gitu aja..., please.... maafin aku Sha.."
"Maaf Nath, tapi hubungan kita kayaknya nggak bisa kayak dulu lagi. Kamu udah nodai kepercayaan yang aku kasih buat kamu..",
"Aku memang nggak mau hubungan kita kayak dulu.., aku pengen lebih dari itu Sha.., lebih dari sahabat...",
"Nath.., kamu gila ya...",
"Iya..gila karena kamu..."
Nathan sedikit agresif dari yang sebelumnya. Dia memang ingin menunjukkan keseriusannya pada Sharen. Selama ini Nathan memang tidak ingin berharap lebih, tapi Nathan juga tidak bisa memungkiri. Dirinya sebenarnya juga ingin memiliki Sharen, tapi tentunya dengan jalan yang benar.
"Kamu ngomong apa sih Nath..
Kamu tau nggak, kalo kita pacaran, kita putus, justru malah nggak bisa sama-sama lagi. Aku nggak mau hubungan kita kayak gitu Nath. Lebih enak jadi sahabat, jadi saudara..jadi hubungan kita langgeng.., kita bisa sama-sama kok.. tapi sebatas itu.., nggak lebih..",
"Kenapa nggak mau coba sih Sha? kenapa mikirnya nggak.....kita pacaran, kita nikah..sampe nanti kita tua.. punya keturunan anak, cucu..kenapa nggak mau kayak gitu?",
"Karena aku nggak punya perasaan lebih dari sahabat Nath...",
"Oke.., aku nggak mau paksa kamu. Mungkin emang kamu nggak punya perasaan lebih buat aku. Nggak apa-apa.., setidaknya kasih aku waktu buat buktiin ke kamu ya? kalo kita bisa sama-sama.., aku bisa buat kamu jatuh cinta sama aku..",
"Minta waktu? berapa lama Nath..?",
"Minta waktu..seumur hidup kamu Sha....",
Sha menggeleng dengan tersenyum kecut.
"Ngaco....",
"Aku udah izin sama om Rendra..",
"Daddy nyerahin semuanya ke aku..",
"Ya.., aku tau. Tapi, setidaknya Daddy kamu udah ngasih restunya buat aku..",
"Terserah kamu Nath.., capek ngomong sama kamu..", Sharen berdiri, lalu meraih paper bag yang dia letakkan di atas meja. Dia lantas pergi meninggalkan Nathan.
"Mau kemana Sha..?",
"Tidur, aku capek ngomong sama kamu..",
"Selamat tidur sayang,
I love you....",
Sharen menoleh ke arah Nathan dengan raut muka jahatnya. Namun, justru terlihat menggemaskan dan semakin cantik di mata Nathan.
__ADS_1
"Aku pastikan, kamu cuma milik aku Sha...",