
Surti membawa barang-barang milik Kina. Dia berlari tergopoh melewati keluarga Perdana.
"Siapa lagi ini..", ucap Mommy Aira yang melihat Surti mendekati Sharen.
"Mbak Queen, mbak Kina mana?",
"Di dalam...",
"Mbak kok nggak ditemenin? mbak Sharen pusing? ", tanyanya karena melihat Sharen memegangi kepalanya dengan sebelah tangan.
"Ya udah, biar Surti aja ya mbak yang nemenin..., kasian masa iya melahirkan sendiri...",
"Sur.., udah duduk aja sini..,
Kina udah ditemenin sama suaminya..",
"Ditemenin mas ganteng? udah pulang berlayar ya mbak...",
Sharen kembali memegangi kepalanya. Ucapan Surti didengar jelas oleh Mommynya yang sepertinya kaget dengan ucapan Surti.
"Shuut udah diem ya.., sini aja. Berdoa biar Kina sama bayinya selamat..",
"Sha.., ini siapa..?", tanya Mommy Aira.
"Ini siapa mbak?", tanya Surti dengan polosnya.
Sharen bisa memastikan, sehabis ini pasti dia akan mendapatkan amukan dari mommynya.
"Itu mommy Aira.., mertuanya Kina, perempuan yang ngelahirin aku mbak..",
"Mertua mbak Kina? udah nggak sibuk ya, kok bisa ikut nungguin mbak Kina lahiran...",
"Eh..eh..apa maksudnya ngomong kayak gitu..?", protes mommy Aira.
"Kenalin Bu.., saya Surti, yang biasanya nemenin mbak Kina.., saya ART nya mbak Kina..", ucapnya memberikan salam dengan mencium tangan mommy Aira, lalu tangan Daddy Rendra.
Mau marah, tapi sepertinya juga percuma. Surti ini polosnya kebangetan.
"Suaminya mbak Kina, siapa mbak?",tanya Aira.
"Mas ganteng kan buk.., lagi berlayar orangnya..",
Sharen memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ini semua gara-gara Kina yang membuat cerita asal.
"Ampun deh...", ucap Sharen.
"Ya Allah, semoga mbak Kina sama dedeknya selamat Gusti..", ucap Surti menengadahkan tangannya.
Muncul ide Aira, untuk mengorek keterangan dari Surti, tapi nanti setelah cucunya lahir kedunia.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika Javas akan kembali bertemu dengan Kinara dalam keadaan menegangkan seperti ini.
"Aduh...ssssstttt.. huhhhh....",
Suara erangan Kinara yang terdengar berbeda di telinganya. Bukan erangan kenikmatan, tapi erangan kesakitan karena merasakan kontraksi.
"Sabar ya sayang..., sakit ya...",
Kinara hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya masih memegang erat tangan Javas.
"Permisi pak.., mau pasang infus dulu untuk ibu Kinara...",ucap suster tersebut.
Javas perlahan melepaskan tangannya, dan membiarkan suster untuk memasang selang infus pada istrinya.
Kerinduannya selama ini pada Kinara akhirnya terbayarkan. Wajah cantik itu, kini bisa dia lihat lagi secara langsung. Tetap cantik seperti dulu, hanya saja wajah Kinara terlihat tembab karena berat badannya yang baik.
"Periksa dulu ya Bu...",
Javas yang kaget, langsung bertanya ketika melihat Bidan itu memasukkan jarinya pada alat vital istrinya
"Istri saya diapain..?",
"Ini saya lagi periksa pembukaannya pak..",
"Emang harus digituin..?",
"Iya pak, ini sudah pembukaan 6...",
"Terus, kapan istri saya melahirkan..?",
"Kalo pembukuannya 10 sudah lengkap pak...",
Javas kembali duduk menemani istrinya.
"Sakit mas....", keluh Kina.
__ADS_1
"Iya sayang.., sabar ya..kurang 4 lagi...",
Kina kembali mencengkeram tangan Javas. Lama kelamaan cengkeraman itu semakin kuat.
"Sakit....",
"Iya sayang, mas harus gimana...?",
Kinara mencoba mengatur nafasnya, lama kelamaan kontraksinya bertambah sering. Namun, saat dicek kembali oleh Bidan yang berjaga, pembukaan Kinara masih tetap 6.
"Sabar ya Bu....",
"Nggak liat ya, istri saya kesakitan kayak gitu..?",
"Memang seperti ini proses lahiran pak..
Bapak bisa elus punggungnya ibu, biar ibu bisa lebih nyaman..",
Javas melakukannya, dan Kinara menikmatinya. Baru pertama kali ini, selama dia hamil, Kinara mendapatkan sentuhan seperti ini dari suaminya. Biasanya dia hanya mendapatkan usapan dari Surti, ART nya.
"Mas...sakit mas....",
"Iya sayang..sakit banget ya...",
"Ini semua gara-gara mas Javas...",
"Shhhhuutt...nggak boleh gitu. Kita bikinnya sama-sama..",
Suster dan Bidan yang ada di ruang bersalin itu saling pandang ketika mendengar ucapan Javas.
"Kina nggak kuat mas...", ucapnya menyerah.
"Kamu nggak kuat?
Sus ini gimana..?",
"Bagaimana Bu..?
Ini sudah pembukaan 6, sebentar lagi Bu Kina.., sabar ya...",
"Nggak kuat sus.., sakit banget...",
Kinara mulai berkeringat, tenaganya lama kelamaan terkuras. Sudah hampir 2 jam di ruang bersalin, tapi pembukaannya belum juga bertambah.
"Nggak kuat sayang..? mau operasi aja..?",
"Terus gimana...? jangan buat mas bingung sayang..",
"Bu Kina mau operasi saja..? atau masih mau coba lahiran normal Bu.., kalo operasi nanti pulihnya lama..kalo normal bisa cepet Bu..",
"Gimana sayang.., nggak apa-apa kalo mau operasi.., tapi kalo mau normal, mas temenin.., kamu pasti bisa...",
"Mau normal...",
"Kalo gitu, semangat..., kamu kuat..",
Javas mengelus punggung istrinya, mengelus keningnya. Javas juga membiarkan Kina yang beberapa kali meremas tangannya, bahkan sampai menjambak rambutnya ketika Kinara merasakan sakit yang luar biasa.
Ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan 7 bulan ini yang tinggal sendiri dalam keadaan hamil. Javas akan membayar semua itu. Javas akan bertanggung jawab penuh.
"Ibu...nek..., tolongin Kina.......",
Javas panik ketika istrinya menyebut Ibu dan Neneknya yang sudah meninggal. Pikiran Javas kacau. Takut, jika terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Sayang..., kenapa..?",
"Sakit...",
"Iya iya mas tau..., sabar ya sayang...",
Bidan kembali memeriksa pembukaan Kinara, dan ternyata sudah bertambah menjadi 8.
"Ayo Bu..sabar. Ini kepalanya sudah di bawah..",
Kinara tidak ingin menyerah. Sudah merasakan kesakitan karena kontraksi, dan tidak ingin merasakan sakit karena operasi.
"Aduh...., mas...sakit mas...", keluhnya.
"Iya sayang..sabar...",
"Sabar.., sabar..daritadi itu terus..",
"Terus mas harus gimana sayang...",
"Tolongin Kina....",
__ADS_1
"Tolongin gimana sih sayang...",
"Sakit..ngerti nggak...",
"Iya mas ngerti....", ucapnya dengan mengelus perut Kinara.
Javas mendekati perut Kinara dengan membisikkan sesuatu.
"Ini papa sayang. Tolongin Papa ya nak..,kalo mau keluar, keluar aja. Cari jalan lahir yang nggak nyakitin mama ya sayang..kasian Mama daritadi kesakitan. Cepet keluar anak pinter....", ucapnya.
Kinara mendengar jelas suaminya yang mencoba berbicara dengan anaknya. Ajaibnya, kontraksi Kinara semakin sering dia rasakan. Meskipun tetap saki, tapi kali ini Kinara seperti mendapatkan sebuah kekuatan baru. Entah dari mana asalnya.
Dokter datang tepat waktu ke ruangan bersalin saat pembukaan Kinara sudah dinyatakan lengkap oleh Bidan.
"Kalo mau mengejan, usahakan pant*atnya nggak usah di naikkan ya Bu. Rileks saja.., nanti kalo saya pandu.., ibu lakukan sesuai apa yang saya katakan ya.. Kita mulai...
Ambil nafas.., tahan nafas...",
Kinara melakukannya dengan baik. Javas komat-komit melantunkan sebuah doa. Sebentar lagi, statusnya akan berubah menjadi seorang Papa.
"Ayo Bu..dorong......, terus Bu...",
"Huh....aaaaaahhhh...huhh...",
"Iya Bu..terus..pinter..ayo dorong terus Bu...",
",Ehhhhhhhhhh...huh..hhhhhheee......",
"Alhamdulillah........",
Oek...oek...oek....
Kina melahirkan bayi tampannya. Javas langsung sujud syukur, karena putranya telah lahir dengan selamat.
"Alhamdulillah ya Allah....",
Kinara menangis haru, karena bahagia. Apalagi setelah mendengar dari dokter jika bayi laki-lakinya lahir dengan selamat, lengkap dan sehat.
"Makasih sayang...", ucap Javas yang langsung menghujani Kinara dengan menciumi wajahnya.
Kinara menangis ketika pertama kali melihat putranya. Javas setia di samping istrinya, termasuk ketika Kinara harus mendapatkan jahitan.
"Ini kamu nak..., Masya Allah, sayang...",
"Dia mirip banget ya sama mas.."
"Iya karena sewaktu hamil Kina benci sama mas..", ucapnya terus terang.
Javas tahu, Kinara masih marah kepadanya. Tapi, kali ini Javas tidak akan membiarkan istrinya pergi.
Javas bersyukur, doanya ternyata dikabulkan oleh Allah. Javas memohon agar istrinya segera ditemukan dan dia ingin sekali menemani istrinya melahirkan.
Suster mengambil alih bayi tampan itu untuk dibersihkan. Selesai, Javas langsung mengadzani putranya.
"Alhamdulillah.., udah lahir Dad cucu kita..", ucap Aira ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam.
"Alhamdulillah sayang..",
"Sur..keponakan aku udah lahir....", ucap Sharen yang langsung memeluk Surti. Keduanya justru menangis bersama ketika berpelukkan.
Javas keluar dari dalam ruang bersalin.
"Anak Javas udah lahir Dad...mom..",
"Laki atau perempuan?",
"Laki-laki Mom...,
Nih...",Javas memberikan potret bayinya.
"Ini sih mukanya kamu banget...",
"Iya..katanya karena Kina benci sama Javas Dad...",
"Masya Allah, ganteng banget cucu mommy...",
"Iya dong, produknya Javas sama Kina, anti gagal..",
"Gaya lu...", Sharen menoyor kepala Javas.
"Kapan kina sama bayinya dibawa ke ruang rawat?",
"Bentar lagi kak...",
__ADS_1
Lanjut besok lagi..