
Enam bulan sudah berlalu. Aira belum sadar bahkan tidak ada kemajuan sedikitpun. Dia masih tetap dalam tidur panjangnya.
Javas benar-benar merasa kehilangan mommynya. Setiap hari, dia selalu mengunjungi Aira, meskipun mommynya tetap diam seribu bahasa ketika dia mengajak bicara. Javas yang kini sudah menjadi mahasiswa, selalu datang berkunjung di sela-sela waktu kuliah dan bekerja. Javas kini memang mengelola bengkel yang dia dirikan dari nol tanpa campur tangan Rendra. Bengkelnya memang belum besar, tapi sudah bisa membiayai dirinya sendiri. Modal yang dia gunakan diperoleh dari hoby nya sebagai seorang pembalap. Padahal, Oma nya sudah melarangnya keras, tapi Javas tetap menekuninya.
Hubungan dengan Daddynya belum membaik. Lebih tepatnya, Javas memang membatasi komunikasi dengan Rendra. Masih tinggal satu rumah, tapi Javas dan Rendra sudah tidak berinteraksi layaknya Ayah dan anak. Javas memang masih keras hati. Setiap kali melihat Mommynya, otomatis mengingatkan kecerobohan Daddynya yang tidak bisa menjaga Aira. Sudah banyak yang mengingatkan bahwa apa yang terjadi dengan Aira, bukanlah kesalahan Rendra. Namun, telinga Javas sudah tuli. Tidak lagi bisa mendengarkan nasehat dari orang di sekitarnya.
Rendra berubah. Tidak ada Rendra yang angkuh, tidak ada pula Rendra yang tegas. Suara Rendra, kini menjadi sesuatu yang mahal. Rendra pelit berbicara. Rendra menyesal atas ketidakmampuannya menjaga dan melindungi orang yang paling dia cintai. Rendra merasa bersalah, menyalahkan dirinya sendiri dia putus asa. Tidak terlihat lagi semangat hidupnya. Pola makannya kacau, jam tidurnya berantakan. Rendra mengalami depresi.
Diantara ketiganya, Sharen lah yang paling memikul tanggung jawab besar. Harus mengurus adiknya yang bayi, mengawasi Javas , serta menberikan perhatian kepada Daddynya. Hingga membagi waktunya untuk selalu bisa berkunjung menjenguk mommynya. Dan yang terakhir, Sharen juga yang harus menggantikan Daddynya untuk mengurus Prime grup. Meskipun perannya hanya membubuhkan tanda tangan pada berkas penting. Namun, hal tersebut sangat menyita waktunya. Tidak ingin mengeluh, karena Sharen di bantu oleh orang-orang yang sangat peduli kepada keluarganya. Om Revan, Om Aldo, Tante Vina yang berdiri di samping Sharen untuk terus membawa Prime grup dipuncak kejayaannya.
"Mam lagi sayang...aaaammamam.., ayo dihabisin.., Jaz suka banget ya sama sarapannya? Enak..?",
"Hemm...emmmm...",
"Nanti Moma buatin lagi ya.., sekarang Jaz sama Bibik dulu..",
Sharen meminta bantuan Maid untuk menjaga Jaz. Sharen naik ke atas, dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Daddynya. Ini salah satu kegiatan rutin yang Sharen lakukan setiap pagi.
"Dad..",
Ucap Sharen saat membuka knop pintu kamar Rendra.
"Dad..", ucapnya sekali lagi.
Sharen menuju ke Balkon, karena dia melihat pintunya terbuka. Benar saja, Daddynya sedang berdiri di ujung balkon dengan pandangannya ke bawah. Jantung Sharen berdegup kencang.
"Dad...!!",
Sharen dengan cepat meletakkan nampan yang dibawanya di meja yang berada di sana.
"Mommy kamu, cantik ya Sha..", ucapnya.
Ternyata Rendra sedang memegang foto pernikahannya dengan Aira. Sharen kira, Rendra akan melompat ke bawah.
"Sangat cantik..
Sarapan dulu yuk.., Sharen udah bawain makanannya. Dad sarapan, terus minum obat..",
Sharen dan keluarganya memang tidak ingin membahas Aira di depan Rendra. Bukan berarti ingin membuang Aira dari pikiran Rendra. Namun, setiap kali berbicara tentang Aira. Rendra semakin menyalahkan dirinya sendiri. Dan, itu memperparah tingkat depresi yang sedang dia alami saat ini.
"Dad, mau ke rumah sakit..",
"Boleh.., tapi sarapannya dihabisin..",
"Dad kangen sama mommy Sha..",
"Sharen juga kangen..",
Sharen menatap nanar, Daddynya yang sedang menikmati sarapan paginya. Tidak ada gairah dalam hidupnya. Mata Rendra sayu, tatapannya kosong.
Hidup harus terus berjalan, sedih boleh. Tapi, tidak boleh berlarut-larut. Sharen mencoba tegar. Walaupun sikapnya ini, sering disalah artikan oleh orang-orang yang tidak mengerti keadaan dan apa yang sedang dia alami. Mencoba sabar dan tegar bukan berarti Sharen tidak hancur. Justru, semuanya dia lakukan untuk menutupi kesedihannya.
"Sayang.., sampai kapan marah sama mas? kenapa kamu nggak mau buka mata? mas kangen sama kamu...
Kalo ada predikat suami terburuk di dunia, mungkin mas yang cocok menyandangnya. Mas nggak bisa jagain kamu.., mas lalai Ra...
Javas marah sama mas.., dia menganggap Daddynya nggak sanggup jaga mommynya... Javas sekarang udah berubah.., udah nggak mau ajak ngobrol Daddynya lagi. Jangankan bicara, liat mas aja dia nggak mau..
Kalo kamu buka mata nanti, mungkin kamu jadi pangling liat mas. Badan mas nggak sekekar dulu.., udah kurus karena nggak diurus sama kamu. Sekarang udah nggak bisa lagi makan makanan kesukaan mas yang kamu masak..
__ADS_1
Kapan buka mata sayang? kamu nggak kangen sama mas? mas janji.., kalo kamu buka mata nanti, mas nggak akan pernah ninggalin kamu, meskipun satu detik..", ucapnya dengan menciumi tangan istrinya.
Ucapan monolog Rendra ternyata didengar oleh seorang perempuan yang kebetulan sedang menjenguk Aira. Dia adalah salah satu sahabat kental Aira.
"Tapi, mas Rendra tetap suami yang baik untuk Aira mas..",sahutnya.
Rendra menengok belakang. Dia terkejut dengan suara seseorang yang tiba-tiba terdengar. Rendra bangun dari duduknya.
"Kamu siapa?",
"Mas Rendra nggak inget sama aku? Aku sahabatnya Aira.., Erna..",
"Oh..",
"Ini kali kedua, aku kesini mas.., tapi Aira belum juga bangun...",
"Permisi..", ucap Rendra.
Rendra keluar meninggalkan Erna di dalam. Setiap hari Rendra memang selalu mengunjungi Aira. Dia selalu bercerita kepada Aira, bermonolog dengan mengenang saat-saat mereka berpacaran dulu. Rendra bisa menghabiskan berjam-jam waktunya disini. Namun, dia tidak nyaman jika ada orang yang mendengar obrolannya dengan Aira.
"Mas..,"ucap Erna yang menyusul Rendra keluar. Dia duduk di samping Rendra.
"Terusin aja..",
"Udah.., aku cuma pengen liat Aira aja...",
"Oh...",
"Aku nggak nyangka, keadaan Aira separah ini. udah berbulan-bulan dia tidur, tapi belum juga bangun..",
"Iya..",
"Nggak perlu menyalahkan diri sendiri mas.., ini semua udah ada disuratan takdir..
"Aira cerita apa..?",
"Nggak cerita, cuma aku bisa simpulkan dari kata-katanya..",
"Apa..?",
"Mas Rendra memang galak, dingin.., tapi sayang banget sama Aira, iya kan?",
"Aku sayang.., cinta sama Aira..",
"Kalian pasangan sempurna yang pernah aku kenal, mas. Aku juga tau perjuangan kalian, waktu pacaran dulu, hingga akhirnya milih nikah diam-diam. Sampai menjadi keluarga idaman seperti sekarang ini..",
"Semuanya nggak semulus yang kamu bayangin..",
Rendra mulai mau berinteraksi banyak dengan Erna.
"Iya.., aku tau. Perjalanan kalian panjang, perjuangan kalian nggak mudah kan? tapi akhirnya bisa jadi keluarga harmonis kayak gini. Mas tau nggak? aku bahkan punya cita-cita punya keluarga seperti kalian..",
"Heh.., itu berlebihan..",
"Nggak berlebihan mas..,tapi kenyataanya gitu..",
"Semoga keinginan kamu, jadi kenyataan..",
"Semoga ya. Sayangnya, sampai saat ini aku belum bisa menemukan laki-laki yang tepat..",
__ADS_1
"Belum ketemu?",
"Iya.., aku masih single, belum pernah menikah sama sekali..",
"Oh...",
"Apa yang mas Rendra paling suka dari Aira..?",
"Semuanya.., dari atas sampai bawah, dari dalam sampai luar.., dia sempurna..",
"Wow...,
Yang nggak disuka..?",
"Nggak ada..",
"Manjanya?",
"Itu yang paling aku suka..",
Erna manggut-manggut.
"Pantesan Aira juga cinta banget sama mas..",
"Kenapa?",
"Dari jawaban mas tadi, dapat disimpulkan kalo mas Rendra memang mencintai Aira apa adanya. Mas terima baik dan buruknya Aira..",
"Aku bukan mencintai Aira dengan apa adanya.., karena dia udah mempunyai segalanya..
Aira cerita banyak tentang keluarga kami..?",
"Nggak cerita secara langsung.., tapi aku bisa menangkap dari kata-katanya..",
"Kamu sangat mengenal istriku..?",
"Iya.., sangat. Saat kuliah dulu.., aku yang paling dekat dengan Aira. Sekarang, meskipun hanya melalui chat atau telepon, tapi kami tetap menjalin komunikasi..",
"Menurut kamu, Aira orang yang seperti apa..?",
"Aira baik, dia tulus..,sedikit keras kepala..",
"Haha iya.., kamu benar. Istriku memang orang yang keras kepala. Kamu pasti tau, dia pernah 2 kali kabur saat dia marah, saat kami salah paham dulu..",
"Yang terakhir kabur ke Kalimantan kan ya? itu aku juga ketar-ketir mas.., takut dia kenapa-napa. Mana lagi hamil..",
"Dan seperti yang kamu liat sekarang, Sharen menjadi perempuan yang kuat seperti mommynya. Meskipun saat berada di dalam perut dulu, dia diajak kabur mommynya naik pesawat..",
Mereka bercerita banyak, dan pembahasannya tidak jauh tentang Aira. Rendra yang awalnya berbicara singkat pun, berubah menjadi komunikatif.
Sayangnya, percakapan mereka berdua diawasi dan diperhatikan oleh Javas dari jarak jauh. Javas semakin membenci Daddynya. Mommynya sedang berjuang di dalam sana, tapi Daddynya malah terlihat asyik dengan perempuan lain. Perempuan yang Javas tidak suka sejak awal dia melihatnya. Entah karena apa. Padahal, perempuan itu katanya adalah sahabat mommynya.
"Boleh minta nomor mas Rendra?",
"Boleh..", jawabnya dengan mengambil hape yang disodorkan Erna kepadanya. Rendra kemudian mengetik nomor telepon miliknya.
"Makasih mas...,
Aku boleh nggak kapan-kapan kerumah nengokin adiknya Sharen..?",
__ADS_1
"Boleh.., datang aja..",
Mudah-mudahan bisa lanjut besok ya..Aku ngantuk..