Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Mama dan Mommy


__ADS_3

"Kita pulang..", ucap Nathan. Dia menggandeng erat tangan Sharen.


"Pulang..?",


"Iya.., ketemu sama Mama Farah...",


"Tapi Nath...",


Nathan menghentikkan langkahnya yang otomatis diikuti oleh Sharen.


"Kenapa? takut..?",


Sharen menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Pengen cepet-cepet sama aku terus kan? Katanya nggak mau ditinggal? katanya nggak mau kalo aku pergi-pergi lagi. Ini aku udah masuk ke Prime lagi loh sayang, sebentar lagi pasti ada banyak perjalanan dinas kayak biasanya. Pasti aku juga bakalan sering ninggalin kamu..


Ya, terserah kamu sih, nggak apa-apa kalo belum mau. Tapi, resikonya ya...siap-siap aja nanti kita LDRan lagi.., mungkin bisa lebih lama dari kemarin..", rayu Nathan. Namanya juga laki-laki, ya begitulah. Pandai merangkai kata.


"Nggak mau..",


"Nggak mau apa? nggak mau ketemu sama Mama Farah? ya udah nggak apa-apa..", ucap Nathan. Dia kembali melangkahkan kakinya namun tangannya ditarik oleh Sharen.


"Nggak mau kalo LDR lagi...",


Nathan tersenyum. Jawaban ini yang dia mau dengar dari Sharen.


"Gimana..?",


"Iya aku mau ketemu sama Tante Farah..


Tapi, kalo aku ditolak, kamu nggak akan berubah pikiran kan? kita bakalan tetep sama-sama kan Nath..?",


"Pasti sayang..,


apapun jawaban Mama, nggak akan merubah keputusan ku untuk memilih kamu.."


Berhasil meyakin kan Sharen, dan saat ini mereka menuju ke kediaman orang tua Nathan.


"Mang.., tolong kopernya..",


"Baik mas..,


mas Nathan apa kabar? lama nggak keliatan..",


"Iya mang


saya sehat...",


Sharen dan Nathan duduk di kursi penumpang. Tanpa melepas tautan tangan mereka.


"Kok bawa mobilnya Jaz..",


"Lebih enak aja pake ini...",


"Tangan kamu dingin banget..",


"Aku tegang...", bisiknya pada Nathan.


"Ada aku.., udah tenang aja..


Kayak ada yang aneh ya sama tangan kamu..",


"Aneh....? kenapa kasar ya? nggak halus lagi? apa mungkin gara-gara di Aussie aku sering masak? aku emang belum sempet perawatan Nath..",


"Nggak gitu..


harusnya di jari manis kamu ada cincin dari aku...,


besok kita beli ya..",


"Hmmmm.., nggak usah..,


nanti aja kalo udah tunangan..",


"Nggak perlu tunangan, kelamaan..., langsung gas aja..",


"Langsung nikah..?",


"Habis ketemu sama Mama Farah, nanti ketemu sama Mommy kamu ya..",


"Hah...?", Sharen terang saja kaget.


"Kenapa?",


"Kamu jangan bikin aku shock dong Nath..",


"Aku serius sayang.., lebih cepat, lebih baik kan..?",


"Tapi Nath..?",


"Takut kalo aku ditolak..?",


"Nggak ada Daddy Nath..",


"Aku kan udah ketemu Daddy di Bali, sayang...",


"Daddy udah bilang oke..?",


"Ya pasti oke..",


"Pede banget..",


"Tapi kan dari Daddy belum cukup, kalo belum ada keputusan dari Mommy kamu, iya kan..?",


"Iya..",


"Kamu cukup duduk manis aja nanti, biar aku yang ngomong ke Mamah sama Mommy kamu, oke..?",


Sharen mempererat genggaman tangannya. Nathan meraih kepala Sharen lalu menyematkan sebuah kecupan di keningnya.


"Nath, ada mamang..", bisiknya.


"Ya, biarin aja, kenapa emangnya..?


Mamang nggak liat kan mang..?", tanya Nathan. Dia menggoda Sharen.


"Nakal..",


Jantung Sharen berdebar kencang setelah mobil yang ditumpanginya sampai di halaman rumah Nathan.


"Mang, makasih ya..


langsung pulang aja Mang, nanti Sharen biar saya anterin.., ini mobilnya Jaz nanti malah dicariin sama yang punya..",


"Baik mas..",


"Nih buat beli rokok mang..", Nathan memberikan tips kepada driver Sharen.


"Makasih Mas..",


Bukannya mengikuti langkah Nathan, Sharen justru berdiri mematung.


"Ayo masuk...",


"Takut Nath..",


Kesal, padahal tadi Nathan sudah membujuk Sharen, tapi sepertinya tidak mempan.


"Oke.., mumpung kita belum masuk..


Pikirin lagi.., kalo kita masuk ke dalam, kita bisa sama-sama.., atau kita balik tapi nantinya sering LDR...?


kamu pilih mana..?",


"Nggak mau Nath...kan aku tadi udah bilang..", rengeknya.


"Nggak mau LDR atau nggak mau masuk? bilang yang jelas sayang..",


"Nggak mau LDR lagi..",


"Ya udah,


ayo..", Nathan memberikan tangannya dan langsung disambut oleh Sharen. Mereka masuk dengan bergenggaman tangan.


Sebelum sempat membuka pintu, justru mereka sudah disambut oleh Maid, yang mungkin mengetahui kepulangan Nathan dari security yang berjaga.


"Mas Nathan...akhirnya pulang...",


"Iya...",


"Mbak Sharen..", sapanya pada Sharen.


"Iya mbak..",


"Mamah ada..?",


"Ada mas..",


"Panggilin, aku tunggu disini..",

__ADS_1


"Kenapa di ruang tamu mas? kenapa nggak masuk aja? nyonya lagi di ruang keluarga, sama mbak Dewi...",


Sharen meremas tangannya ketika nama Dewi disebut. Nathan melihat wajah Sharen yang terlihat sangat kesal.


"Panggilin aja..!!", ucap Nathan dengan nada bicara meninggi.


"I-i-iya mas...", sebentar.


Nathan menenangkan Sharen yang gelisah.


"Kuncinya cuma satu sayang,


Percaya sama aku.., ya..?",


Sharen mengangguk.


Tidak lama kemudian, Mama Farah keluar, tidak sendiri melainkan bersama Dewi yang perutnya sudah terlihat membuncit.


"Nath..., akhirnya kamu pulang...",


Nathan menghindar ketika Mama kandungnya hendak memeluk.


"Kamu masih marah sama Mamah..?",


Nathan diam.


"Ada Sharen..?", sapanya pada Sharen.


Sharen langsung menjabat tangan Mama Farah dan menciumnya.


"Tangan kamu dingin banget, Sha..",


"Nathan mau bicara Mah..",


"Ya udah, ayo duduk..."


"Nathan mau ngomongin hal serius, jadi tolong cuma keluarga aja yang denger..", ucapnya dengan memandang tajam Dewi. Perempuan hamil itu langsung menunduk. Merasa, akhirnya Dewi pamit.


"Tante.., Dewi permisi pulang...",


"Tunggu Tante di dalam Wi..",


"Nggak Tante, ini sudah malam...",


"Ya udah,


kamu dianterin sama sopir ya..",


Dewi pamit pulang, dia juga sempat menyapa Sharen sebelum keluar.


"Mari mbak..",


Dibalas Sharen dengan senyuman tipis.


Nathan dan Sharen duduk berdampingan, dengan tangan mereka yang saling bergenggaman. Wajah Mama Farah langsung berubah ketika melihatnya.


"Kalian....",


"Iya seperti apa yang Mamah liat..",


"Bukannya kamu pacaran sama gadis yang waktu itu upload foto kamu? iya kan?",


"Nggak..., itu nggak bener...


Nathan cuma mau bilang ke Mamah, 5 hari dari sekarang, Nathan mau lamar Sharen ke keluarganya..",


"Nath, tapi kan kamu tau kalo Mamah nggak setuju sama hubungan kalian. Iya, Mamah bilang ke Papah kalo Mamah setuju sama siapapun gadis yang kamu pilih, tapi bukan Sharen...",


Tangan Sharen kembali mempererat genggamannya dan membuat hati Nathan memanas.


"Sharen yang sesempurna kayak gini Mamah tolak jadi menantu? Terus gadis yang seperti apa yang Mamah mau? kayak Dewi tadi..? yang nggak sedikitpun Nathan sentuh, tapi dia bilang hamil anak Nathan..? Yang udah fitnah Nathan dan nggak sama sekali minta maaf sama Nathan?",


"Jangan salah paham Nath, Mamah udah nggak berharap Dewi buat jadi menantu Mamah. Dewi cuma main aja. Dia udah nyesel sama perbuatannya.


Mamah bukannya nggak suka sama Sharen, nggak gitu Nath.., kamu kan udah tau alasan Mamah..",


"Mamah takut kalo Nathan disepelein sama keluarga Sharen ,karena Nathan ini cuma karyawannya? Mamah takut kalo Nathan di jadiin robot sama Daddy nya? itu kan yang Mamah takutin..?


Emangnya Mamah jadi kaya raya kayak gini, itu karena siapa Mah? karena Daddy nya Sharen yang emang udah menaruh kepercayaan sama Papah. Seharusnya Mamah berterima kasih karena kebaikan mereka..",


"Semua yang Papah kamu dapatkan, itu semua karena kerja kerasnya Nath..",


"Iya.., Nathan tau..


Tapi, Mamah juga harus tau, nggak gampang mendapatkan hati gadis yang sekarang ada disamping Nathan, kalo sekarang Nathan bisa dapetin hati dia, itu juga karena kerja teras Nathan yang nggak nyerah ngejar dia.


Mamah mau Nathan bahagia nggak sih mah..?",


"Ya udah, pilihan Nathan ya Sharen..",


"Nath, kita bicarakan ini sama Papah dulu ya..",


"Papah udah ngizinin tapi, Mamah tetep nggak ngizinin kan..?",


Tidak ada jawaban dari Mamah Farah. Itu tandanya Mama Farah memang tidak memberikan lampu hijau untuk hubungan Nathan dan Sharen.


" 90 persen keputusan, ada di tangan Nathan. 5 persennya lagi dengerin pendapat Mamah, sisanya masukan dari Papah. Kalo Papah udah oke, itu berarti udah 95 persen fix. Jadi, Nathan juga nggak perlu denger pendapat Mamah.


Nathan bisa minta keluarga dari pihak Papah buat dampingi Nathan. Nenek, Om, Tante, sepupu-sepupu yang lain juga pasti mau buat nemenin Nathan. Mamah juga harusnya tau, laki-laki nggak perlu wali untuk menikah..,


Mamah ternyata masih egois, nggak pernah mikirin Nathan sama sekali...sebenarnya Nathan ini, anak kandung atau bukan sih? ",


Mamah Farah menangis, namun tidak mendapatkan respon sama sekali dari Nathan. Dia justru mengajak Sharen untuk pergi.


"Kita pergi, sayang..",


Nathan menggandeng Sharen keluar dari ruang tamu. Tak lupa, membawa kembali koper yang tadi dia bawa.


"Pak.., minta kunci mobil...",


"Baik mas..",


Sharen sendiri baru melihat wajah seram Nathan saat tadi kekasihnya berbicara kepada Mama Farah.


"Nath..., tenang...jangan emosi ya..",


"Nggak apa-apa sayang.., aku udah lega karena udah ngeluarin uneg-uneg yang selama ini aku pendam. Aku kira Mamah berubah setelah aku pergi, ternyata nggak..",


"Mamah kamu pasti sakit hati, kamu ngomong kayak tadi..Tante Farah sampe nangis..",


"Aku nggak bermaksud buat Mamah sakit hati, tapi apa yang aku ucapkan tadi untuk memperjuangkan kamu..",


"Makasih Nath...",


"Karena kamu layak diperjuangkan, Sha..", ucapnya dengan mencium tangan Sharen yang digenggamnya..",


"Nath aku mau tanya..",


"Apa sayang..?",


"Beneran kamu mau ngelamar aku..?",


"Iya.., waktu di Bali aku udah ngobrol sama Daddy.., sekarang tergantung Mommy kamu..


Mommy kamu kan kepengen anaknya menikah tapi lewat prosesi pada umumnya kan? ya udah, aku lamar kamu secara keluarga dulu.., acara resminya seperti apa, aku nurut sama Mommy kamu..",


"Kalo Mommy nggak setuju, karena Mamah kamu nggak setuju, gimana Nath..?",


"Kita kan belum coba sayang..,


kamu cuma perlu bersikap kayak tadi. Diem disamping aku, biar aku yang ngomong..",


"Iya Nath..",


"Good girl.., aku suka kamu sekarang nurut.., nggak ngeyelan lagi..",


Sharen tersenyum sipu.


Mommy, Jaz, Kinara dan Zee ternyata berada di depan teras saat mobil Nathan masuk ke halaman rumahnya.


Jaz yang awalnya sibuk dengan mainannya langsung berdiri karena sudah tahu pemilik mobil tersebut.


"Kak Nath....", teriaknya.


"Halo Jaz...",


"Kok lama nggak kesini Kak..?",


"Iya.., kakak pergi...,


Jaz nunggu Daddy pulang ya..?",


"Iya kak.., katanya pesawatnya baru mendarat..",


Sebagai seorang ibu, Mommy Aira tentunya mempunyai feeling mengenai kedekatan mereka. Apalagi, Nathan dan Sharen datang bersama-sama.


Nathan menghampiri Mommy Aira, menyapanya dengan sopan.


"Tante.., apa kabar..?",

__ADS_1


"Baik Nath.., kalian abis jalan-jalan..?",


"Iya Tante..,


Sharen tadi jemput Nathan di bandara..


Tante.., Nathan bisa bicara sama Tante..?",


"Boleh.., mau disini apa di dalam?",


"Di dalam ya Tante,


Nathan mau ngobrol serius..",


"Oke.., yuk masuk..


Jaz kamu nunggu Daddy sama Kak Kina disini dulu yah, Mommy mau ke dalam..",


"Iya mommy..",


Tidak seperti posisinya saat di rumah Nathan tadi. Sharen duduk di dekat mommy nya, berhadapan dengan Nathan.


"Kemana aja kamu Nath..? kok baru keliatan. Tiba-tiba kemarin ada di Bali..",


"Di Aussie Tante..",


"Loh.., jangan-jangan kalian ketemu disana..?",


"Iya Tante..nggak sengaja ketemu..",


"Owalah.., bisa kebetulan ya..


Mau ngomongin apa Nath..?",


Sebenarnya, Mommy Aira mungkin sudah tahu apa maksud Nathan. Tapi, Mommy hanya basa-basi saja.


"Tante, 5 hari lagi keluarga saya mau kesini, mau minta Sharen untuk saya..",


"Hah..? apa Nath..? kamu mau ngelamar Sharen, maksudnya gitu..?",


"Iya Tante..",


"Kok tiba-tiba gini Nath..? Kalian nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan?",


"Nggak Tante..,


Nathan emang nggak mau lama-lama pacaran sama Sharen..",


"Udah pacaran berapa lama..?",


"Mau jalan 3 bulan tante..",


"Nath sebelumnya Tante mau minta maaf ya..",


"Mom...", ucap Sharen.


"Biarin Mommy ngomong dulu...


Tante nggak bisa mutusin ini sendiri, tanpa Daddy..",


"Iya Nathan ngerti, tapi sebelumnya Nathan udah bicara sama Daddy..",


"Daddy setuju..?",


"Iya Tante..",


"Gimana sama Mama kamu? Tante sih tergantung dia, kalo Farah nggak bolehin, ya Tante juga nggak..


Putri Tante harus diterima dengan baik sama keluarga calon suaminya..",


"Kalo boleh jujur, Mamah memang belum memberikan izinnya Tante..


Tapi, Nathan kan laki-laki.., nggak perlu wali nikah kan Tante.


Kalo nikah nanti, juga Nathan nggak akan bawa Sharen tinggal di rumahnya Mamah Papah, tapi tinggal sendiri di Apartement untuk sementara waktu. Nathan punya tabungan buat beli rumah, meskipun mungkin nggak sebesar seperti rumah ini..",


"Nath, tante nggak ngomongin materi.


Tapi, gimana sama mamah kamu nanti..?",


"Mungkin Mamah juga nggak dateng tante, tapi Nathan bawa perwakilan dari keluarga besar Papah..",


"Tapi ini nggak bener Nath..,


Restu Mamah kamu juga penting..",


"Tante udah sahabatan lama sama Mamah, pasti Tante juga udah paham sama karakter Mamah..",


"Iya Nath..


Tapi, Tante tetap harus obrolin ini sama Daddy nya Sharen dulu ya...",


"Iya Tante, nggak apa-apa.., yang penting Nathan udah bilang ke Tante..",


"Iya..",


Tidak mendapatkan penolakan, tapi Mommy Aira juga belum bisa mengiyakan maksud Nathan.


"Nathan permisi dulu ya Tante..",


"Kamu nggak nunggu Daddynya Sharen dulu..?",


"Nggak Tante, kan tadi udah ketemu..",


"Ya udah, kalo gitu..


hati-hati ya Nath..,


"Makasih Tante..",


Sharen mengantarkan kekasihnya ke depan. Sharen nampak kecewa karena Mommy juga belum memberikan izinnya.


"Sayang, aku pulang dulu ya..


Aku ke Apartement, nggak pulang ke rumah..",


"Kenapa kamu bisa sesantai ini sih Nath..?",


"Maksudnya gimana..?",


"Daddy udah oke, tapi kalo terpengaruh sama Mommy, juga nanti bisa diganti nggak oke Nath..",


"Daddy pasti oke kok..,


tenang aja..",


"Pasti diizinin..?",


"Pasti.., kamu percaya deh sama aku..",


"Kalo nggak..?",


"Pasti diizinin...",


"Semoga ya..",


"Aku pulang dulu ya, kamu istirahat yang cukup. Besok, kamu tanyain ke Mommy, gimana keputusannya..",


"Dikasih lampu ijo?",


"Pasti sayang..",


Nathan memegang wajah Sharen dengan kedua tangannya.


Cup...


Dia mengecup bibir Sharen.


"Nath, kalo diliat Satpam gimana?",


"Biarin..


aku dari tadi udah gemes sama kamu..",


"Nakal...", protesnya, namun Sharen juga membubuhkan ciumannya pada pipi Nathan.


"I love you...",


Nathan tersenyum simpul.


"I love you, sayang


Aku pamit dulu ya..",


"Hati-hati nyetirnya..


Sampe di Apartement, nanti kasih kabar ya..",


"Iya sayang...",

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Nathan melaju keluar dari halaman rumah. Sharen kembali masuk ketika mobil yang ditumpangi kekasihnya hilang dari pandangannya.


__ADS_2