
" Ayo dong mbak.., ya ya.., please tolongin...",
"Ogah.., sus aja yang buat. Aku nggak mau, tadi kan udah dibuatin..",
"Iya mbak.., tapi mas Javas minta lagi..",
"Udah 5 hari ini loh sus aku buatin, masa iya besok lagi? mas Javas emangnya nggak bosen makan sandwich terus?",
"Ya nggak tau.., tadi Jaz bilangnya besok mas Javas mau lagi.., tolong ya mbak..",
"Sus Sri aku ajarin resepnya aja, gimana?", tawar dokter Kinara.
"Meskipun resepnya sama, tapi tangannya beda kan tetep rasanya beda mbak..",
"Nggak mau ah, sus Sri aja yang buatin..",
Berusaha keras untuk membujuk Kinara untuk membuatkan kembali sandwich yang menjadi bekal Jaz dan Javas. Bukan berniat untuk menipu, tapi sus Sri juga bingung menjelaskan kepada Jaz.
"Kenapa sih ini, kok saya liat kayaknya seru, ada apa sus..",
"Hmmmm.. ini loh buk.., gimana ya.., tapi ibuk jangan marah ya Bu..",
"Ada apa? Jaz jatuh sus?", tanya Aira dengan nada naik satu oktaf.
"Eh tapi Jaz lagi sama Daddynya..", ucap Aira kembali.
"Ibu beneran jangan marah ya..",
"Iya.., apa? kan sus belum cerita..",
"Bu Aira tau kan kalo beberapa hari ini mas Javas suka makan bekalnya Jaz?",
"Iya.., kenapa?",
"Bu.., sebenarnya itu bukan saya yang bikin..",
"Oh.., terus dibikinin sama Bibik? ya udah nggak apa-apa..",
"Bukan Bibik Bu.., tapi dibikinan sama mbak Kinara..",
"Lho..kok bisa?",
"Iya.. jadi waktu itu kan saya bangunnya kesiangan bu, belum mandiin, belum buat bekalnya buat Jaz.., saya ke dapur pas ada mbak Kina.., terus dibikinin bekal buat Jaz. Eh, malah Jaz ngasih ke mas Javas. Nggak taunya mas Javas suka..",
"Terus?",
"Ya..,ini kan saya lagi bujukkin mbak Kina biar buatin lagi besok.., tapi mbak Kina nggak mau Bu..",
"Mas Javas akhir-akhir ini emang banyak masalah. Makan aja jarang, kalopun makan juga porsinya dikit. Nggak pernah mau sarapan, tapi beberapa hari ini saya liat Jaz bagi bekal buat kakaknya, saya lega.."
"Bujukin mbak Kina dong buk. Kalo besok nggak ada bekal buat mas Javas, saya yang dimarahin..",
"Dokter nggak mau bikinin buat Javas..?",
__ADS_1
"Bukannya nggak mau, tapi kan Mas Javas nggak tau kalo selama ini yang bikinin itu saya. Kalo mas Javas tau, mungkin juga nggak mau makan.., kan selama ini dia sensi ke saya Bu.., daripada mas Javas ngamuk ke saya, mending kan ke sus Sri aja..",
"Ya Allah mbak Kina jahat banget sama saya..",
"Sebentar lagi saya kan udah nggak ada disini sus, kalo sewaktu-waktu mas Javas minta dibikinin lagi,gimana coba?",
"Bu Aira, tolong bujukin mbak Kina bu.."
"Atur-atur aja deh sus.., ibu nggak ikut campur. Pokoknya besok harus ada bekal buat mas Javas sama Jaz ya.., saya mau ke depan dulu..",
Dengan susah payah sus Sri membujuk, dan akhirnya Kinara bersedia untuk membuatkan bekal untuk Jaz dan Javas. Untuk selanjutnya Sus Sri akan diajari resep membuat sandwich ala Kinara.
"Makasih mbak..",
"Ini yang terakhir ya mbak.."
"Jangan gitu dong mbak..",
Untuk keenam kalinya Jaz membagi bekal untuk Javas. Tapi, entah apa nanti reaksinya ketika tahu jika selama ini sandwich yang disukai Javas ternyata buatan dokter Kinara, bukan Sus Sri atau Bibik.
Javas masuk ke dalam ruang kerjanya. Seperti manusia yang sudah tidak ada gairah hidup. Sehari-hari Javas memang pergi bekerja, ke Prime atau ke bengkelnya. Namun, kerjaannya hanya satu, melamun.
Sebuah chat dengan nomor Australia masuk dalam handphonenya. Javas buru-buru membukanya. Namun, tidak seperti apa yang dia harapkan. Sebuah foto yang membuat hatinya tersayat-sayat, hatinya tercabik-cabik. Javas lantas bermaksud menghubungi nomor asing tersebut, namun sayang. Tidak dapat tersambung.
Kepala Javas rasanya mau pecah. Dadanya sesak. Rasanya ingin membanting semua benda yang ada dihadapannya. Namun, lagi-lagi Javas mengontrolnya. Memilih merasakan kesakitannya dalam diam.
"Aaaaaaaaarggghhhhhhhhhhh.....", teriaknya tertahan.
Perlahan, memukul meja perlahan dengan keningnya.
Ucap Tama yang kebetulan masuk ke dalam ruangan Javas untuk meminta tanda tangan.
"Kamu kenapa?",
Javas berhenti.
Nafasnya tak beraturan, wajah Javas merah padam, menahan amarahnya.
"Apa yang terjadi?"
"Dosaku apa Tam? kenapa Yasmine tega kayak gini sama aku? apa selama ini kurang kasih sayang yang aku kasih ke dia? apa Yasmine perlu bukti seberapa besarnya rasa cinta ku buat dia? kenapa Tam..?"
"Apa yang terjadi?",
"Yasmine tega sama aku..",
"Sabar Vas.., kamu boleh marah, kamu boleh kecewa..,tapi kamu jangan ngelakuin hal bodoh kayak gini lagi. Kening kamu berdarah..",
"Meskipun keningku berdarah, tapi ini nggak seberapa dibandingkan rasa sakit yang hati aku rasakan..",
"Aku ambilin obat dulu ya.., kamu jangan macem-macem, jangan nekad..",
Tama keluar dari ruangan Javas. Terbesit ada sebuah penyesalan yang ada dalam dirinya. Tama mempunyai akses komunikasi dengan Nathan, namun Tama sudah berjanji kepada Nathan untuk tidak ikut campur mengenai hubungan Javas dan Yasmine.
__ADS_1
Setelah menimbang dan berpikir, dengan memposisikan diri menjadi seorang Javas, setidaknya Javas bisa berbicara dengan Yasmine. Sudah memperhitungkan resiko apa yang akan dia dapat jika mengingkari janjinya kepada Nathan. Akhirnya Tama memutuskan untuk membantu. Tama berbalik arah, kembali masuk ke dalam ruangan Javas untuk memberikan ponselnya.
"Kamu mau apa?",
tanya seseorang dibelakang yang langsung mencegah Tama ketika hendak membuka knop pintu ruangan Javas.
"Om Rendra..",
"Cukup tutupi rahasia yang selama ini Nathan sembunyikan. Jangan melampaui batasan..", peringat Rendra yang akhirnya membuat nyali Tama ciut.
"Om tapi kasian Javas.., dia menyiksa dirinya sendiri, keningnya berdarah om. Anda tega Javas seperti itu om?",
"Om nggak bisa berbuat banyak..kecuali menerima apa yang sudah diputuskan oleh Yasmine. Om.., bisa menjaga anak om lebih dari apa yang kamu bayangkan...", ucap Rendra tegas.
"Tama ambilin obat buat Javas dulu om..",
"Nggak perlu, biar om bawa dia pulang aja.., di rumah ada dokter..",
Tama akhirnya ikut masuk bersama Rendra yang ingin membawa pulang putranya.
"Son..jangan bodoh..",
"Javas memang bodoh dad.., Javas lemah.., Javas nggak bisa kayak gini Dad.., Mine tega, om Aldo, Tante Farah, Nathan semuanya tega.., dad tau..kalo..",
"Iya Dad tau. Terima apapun keputusan Yasmine..",
"Nggak bisa Dad.., Javas cinta banget sama dia..",
"Sekarang kita pulang, obati dulu lukanya..",
Javas menurut.
"Tam.., tolong suruh OB rapiin mejanya Javas. Kalo ada berkas yang perlu di tandatangani, kamu bawa ke rumah aja. Biar Om aja yang tanda tangan..",
"Baik om..",
Dokter Kinara membersihkan luka Javas, meskipun dengan rasa khawatir. Takut jika Javas tiba-tiba menolak tangannya. Namun, apa yang ditakutkan tidak terjadi. Javas yang tengah berbaring di tempat tidurnya sudah lemah tidak berdaya.
"Mas Javas demam Bu..", ucapnya ketika memeriksa Javas.
"Ya Allah.., gimana mas..?", tanya Aira.
"Perlu kita bawa ke rumah sakit, dok?",
"Saya beri obat penurun demam dulu pak, kalo 4 jam kedepan demamnya belum turun, kita bawa mas Javas ke rumah sakit..",
"Nggak perlu..", ucap Javas lemah yang membuat Kinara sedikit kaget. Dia kira Javas tertidur, tapi ternyata hanya memejamkan matanya.
"Kalo gitu.., nanti obatnya langsung diminum ya Mas..",
"Iya bawel.., bisa nggak..., nggak usah banyak omong..",
Kinara langsung terdiam. Benar kan dugaannya? Javas memang selalu sensi kepadanya.
__ADS_1
Aira menemani putranya yang sedang sakit. Duduk di samping putra kesayangannya yang tengah tertidur setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter Kinara.
"Ini yang buat kamu sakit, Vas?", ucap Aira ketika melihat sebuah foto di hape Javas yang menunjukkan Yasmine sedang bergandengan mesra dengan seorang pria.