Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Dewi


__ADS_3

"Nggak juga, dia capek aja kayaknya. Capek ngejar cinta kamu yang semakin dikejar malah semakin jauh.....",


"Aku udah ngasih kesempatan dulu.., tapi gagal Tam, dia menjauh...",


"Jadi, kamu sakit hati, mau balas dendam, gitu maksudnya?",


"Ya enggak, aku mikirnya emang nggak jodoh aja sama dia. Jadi mau dicoba kayak gimanapun pasti ada halangannya..",


"Kamu cuma ngasih kesempatan tapi kalian belum coba buat ngejalananin...",


"Kamu sama Dad sama aja deh.., kayaknya dukung Nathan banget..",


"Iya..emang..",


"Kenapa..?",


"Karena dia yang selama ini bisa ngelindungin kamu...",


"Dad, Javas, bahkan Jaz pun bisa..",


"Nggak gitu konteksnya..,


Udah yuk..turun..",


Tama yang sebenarnya sudah sarapan dari rumah, akhirnya ikut makan menemani Sharen yang terlihat lahap.


"Kenapa nggak sarapan? nggak ada yang masak?",


"Nggak lah..",


"Iya mustahil, kamu punya puluhan maid di rumah...",


"Aku males ketemu Daddy...",


"Kenapa..?",


"Ya ngambek aja..aku masih kecewa aja sama Dad..",


"Kecewa kenapa? karena kamu disuruh nikah sama Nathan? ",


"Iya itu salah satunya..",


"Nggak jelas kamu gitu doang ngambek. ., cuma disuruh nikah bukan dipaksa..",


"Apa bedanya..?",


"Kalo dipaksa, berarti om Rendra udah nyiapin semuanya..., hari tanggal tempat.., pasti udah ditentuin. Emangnya udah dikasih tau kapan nikahnya?",


"Belum lah.., kan aku udah nolak..",


"Berarti nggak ada alasan buat kamu ngambek sama om Rendra..",


"Ada..",


"Apa..?"


"Dad kayaknya nggak suka sama Satria..",


"Emang kamu nanya?",


"Ya enggak, keliatan banget yang excited cuma Mommy..",


"Terus om Rendra harus bilang...,hore...hore..anak Perempuanku ada yang deketin gitu? Kamu cantik.., kaya, populer, kalo dideketin cowok juga pasti Om Rendra biasa aja. Emangnya siapa Satria?",


Sharen meninju lengan Tama.


"Ya nggak gitu.., tapi paling nggak ditanya lah gimana perkembangan hubungannya..",


"Nggak penting juga sih menurutku..",


"Kayaknya percuma deh Tam, curhat sama kamu..",


"Ya terserah,


yuk balik...",


"Ke Prime Tam...",


"Iya maksudku gitu...,


bayar dulu...",


"Iya...


Buk bubur ayam 2, teh hangatnya 2....",


"Tiga puluh lima mbak ..",

__ADS_1


Sharen membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya.


"Yah.., nggak ada duit lagi...,


Tam..pinjem duit dong, aku nggak ada tunai ternyata...",


"Bos..tapi nggak punya duit, payah..",


"Bukan nggak punya, tapi duit tunainya ada di dompet satunya, nggak kebawa Tam.."


Tama memberikan uang lima puluh ribu kepada ibu penjual.


"Buk.., kembaliannya buat ibuk aja, makasih ya..", ucap Sharen.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kantor Prime grup.


Sharen menuju ke ruangannya, sedangkan Tama menunggu bosnya di depan ruangan. Tama menyilakan kakinya sambil bermain ponsel. Ya, pekerjaannya sekarang memang sangat santai, tetapi digaji lebih besar dibandingkan jabatan sebelumnya.


"Tam.., Sha ada di dalem..?", tanya Nathan.


"Ada, baru aja masuk...",


"Gila lu ya, sekarang santai bener kerjanya...", ucap Nathan sambil menggelengkan kepalanya.


"Lah, lu kan sebelumnya yang ditawarin sama Om Rendra, tapi lu nolak..",


"Lu kan udah tau alasannya..",


"Iya iya...",


"Masuk dulu...",


Nathan mengetuk pintu ruangan Sharen. Setelah mendengar sahutan dari dalam, Nathan masuk.


"Sha..., minta tanda tangan ya...", ucap Nathan santai sedikit formal. Nathan masih berdiri di tempatnya setelah meletakkan berkas di meja Sharen. Sengaja, karena memang Sharen tidak mempersilahkan Nathan untuk duduk.


"Semua..?",


"Iya, yang udah aku kasih tanda...",


"Oke..",


"Aku tunggu diluar, kalo udah selesai, panggil aja..",


Sharen mengangguk. Diam-diam dia mengamati Nathan yang keluar dari ruangannya. Tidak seperti biasanya memang, Nathan memilih untuk menunggu di luar. Biasanya pemuda itu duduk dihadapan Sharen sambil memandangi wajahnya. Tetapi sekarang berbeda. Nathan seperti sengaja menjauh darinya. Atau memang Nathan hanya mengikuti kemauan Sharen.


"Nggak.., aku mau tunggu diluar aja..",


"Kenapa sih ",


"Nggak apa-apa.., daripada di dalam canggung, mendingan aku disini...",


"Nanti siang, Sharen ada brunch bareng sama Baja hitam..",


"Baja hitam? ",


"Satria...",


"Oh... ",


"Nggak cemburu?",


Nathan tersenyum tipis.


"Gue nggak ada hak Tam..",


"Payah, masa iya bertaun-taun berjuang tapi mau nyerah gitu aja..?",


"Siapa yang nyerah? nggak..,tapi ya kita liat aja maunya gimana? kan gue nurutin dia aja. Mau Deket sama cowok lain? ya, silahkan...",


"Kalo sampe lu sama Sha jadi, gue emang bener-bener saksi hidup kisah cinta kalian Nath...",


"Ya kita liat aja nanti Tam..., happy atau sad ending",


Sharen keluar ruangannya dengan membawa berkas yang sudah ditandatanganinya.


"Nih, udah Nath...",


"Oke..makasih Sha..", ucapnya. Nathan langsung meninggalkan Sharen tanpa mengucapkan basa-basi.


"Dia kenapa Tam..?",tanya Sharen ketika Nathan berjalan menjauh dari mereka.


"Kenapa maksudnya?",


"Dia nggak cerita apa-apa?",


"Kalopun cerita, aku juga nggak bakalan cerita sama kamu..",

__ADS_1


"Dih....", Sharen melempar bantal sofa ke arah Tama yang dianggapnya menyebalkan.


"Aduh.., kenapa sih Sha..",


"Dia atau aku sih bos kamu..?",


"Kamu bos aku, tapi Om Rendra big bosnya. Dan, Nathan ada di pihak om Rendra, jadi aku tetep pilih Nathan..",


"Gila kamu...",


"Gila karena kamu Sha..", canda Tama.


Ya, mereka berdua memang seperti Tom and Jerry, selalu bertengkar tapi cepat pula untuk berbaikan. Baik Sha maupun Tama sudah tahu karakter masing-masing.


Sharen sadar dengan perubahan sikap Nathan. Ini memang kemauannya, tapi rasanya aneh saja. Nathan tidak pernah secuek ini kepadanya.


"Tam..,kebawah yuk...", ajak Sharen ketika jam sudah menunjukkan pukul 11.30


"Mau berangkat sekarang..?",


"Hmmm.., aku dijemput Satria Tam, tapi tunggu di lobby aja deh..",


"Ya udah, ayo tuan putri...",


Tidak seperti sopir pribadi dan Bos. Tama dan Sharen justru terlihat seperti pasangan. Keduanya berjalan beriringan tanpa bergandengan. Untuk ukuran sopir pribadi, paras Tama memang terlalu tampan. Sharen pun tidak pernah menganggap Tama sebagai sopir pribadinya. Tama adalah sahabatnya, sekaligus orang yang biasa dia ajak untuk berbicara alias curhat.


"Tunggu sini aja deh Tam...",


Sha duduk di sofa lobby. Seorang resepsionist langsung menghampiri Sharen.


"Maaf mbak, apa butuh sesuatu? minum misalnya...?", tanyanya pada Sharen.


"Makasih mbak, kayaknya nggak perlu.., saya cuma sebentar aja kok disini, nunggu temen..",


"Baik mbak...",


Resepsionist yang hendak kembali ke tempatnya, tiba-tiba dihampiri oleh seseorang.


"Maaf mbak.., bisa ketemu sama mas Nathan...",


Sharen yang sedang fokus pada ponselnya, dengan spontan melihat ke sumber suara. Rupanya, seorang perempuan muda yang bertanya pada resepsionist tersebut.


"Dengan siapa?",


"Saya Dewi mbak..",


"Sudah janjian sama pak Nathan..?",


"Iya, saya sudah janjian sama Mas Nathan..",


"Sebentar ya mbak, saya konfirmasi dulu sama Pak Nathan.


Dewi berdiri di depan Resepsionist.


"Mbak, kata Pak Nathan, tunggu saja..


Mbak Dewi, bisa tunggu di sebelah sana..", tunjuk Resepsionist pada sofa kosong yang posisinya agak jauh dengan tempat duduk Sharen.


Sharen terus mengamati perempuan yang bernama Dewi. Jika dilihat, Dewi ini seumuran dengan Nathan atau Sharen. Parasnya cantik, penampilannya juga terlihat menarik, meskipun terlihat sederhana. Sebuah dress vintage dengan panjang dibawah lutut ditambah lagi dengan flat shoes. Rambut sebahu bergelombang yang dibiarkan terurai. Dewi terlihat sangat feminim, suaranya tadi juga terlihat sangat lembut.


Lalu, siapa Dewi? bersahabat lama dengan Nathan, tapi Sharen tidak pernah bertemu dengan Dewi. Apa mungkin, Dewi ini pacar baru Nathan?


"Tam, kenal..?",


Tama sepertinya juga terkesima dengan Dewi. Pemuda itu bahkan sampai tidak mendengar pertanyaan dari Sharen. Tama, serius melihat Dewi.


"Tam..., Tama...", tanya Sharen.


"Hah..? apa Sha..?",


"Dia siapa?",


"Itu..? nggak tau, aku ajakin kenalan kali ya..",


"Nggak usah ngawur. Kamu anteng aja disitu..",


Sharen terlihat sangat kesal. Dia kembali serius dengan ponselnya.


"Tam, aku nggak jadi di jemput.., kita cabut sekarang aja..",


"Kenapa nggak jadi? Satria, sibuk..?",


"Nggak.., aku yang nggak mau dijemput, kasian dia. Nanti jadinya bolak-balik.."


"Ya udah kalo gitu, ayo tuan putri, dengan senang hati Tama mengantarkan..",


Sharen yang saat itu berwajah dingin, berdiri dari duduknya yang langsung disambut oleh Resepsionist yang juga ikut berdiri dengan menundukkan kepalanya ketika Sharen keluar dari kantor.

__ADS_1


Dewi melihat ke arah Sharen ketika gadis itu berjalan ke pintu keluar. Dewi tersenyum menganggukkan kepalanya ketika Sharen melihat ke arahnya.


__ADS_2