
Kepulangan Aira disambut oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Belasan mobil mewah dan puluhan karangan bunga yang berisi ucapan selamat berjejer dihalaman rumah megah milik keluarga Rendra Perdana.
Ini adalah moment pertama bagi Aira bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Selama berada di rumah sakit, Rendra memang tidak mengizinkan istrinya untuk dijenguk, agar Aira mempunyai banyak waktu untuk beristirahat. Dan benar, keputusan yang diambil Rendra ternyata tepat. Perkembangan kesehatan Aira berangsur membaik dalam waktu yang dibilang cukup singkat. Di luar prediksi dari dokter.
Ayah Hendra menjadi salah satu orang yang sangat terharu ketika melihat putrinya diturunkan dari mobil. . Beliau, langsung menghampiri memeluk putri bungsunya.
"Nak.., ayah kira kita akan bertemu dengan suasana duka, tapi sekarang ayah bisa peluk kamu lagi...", ucapnya menahan haru.
"Ayah....", jawabnya. Aira langsung mengeluarkan air matanya ketika Ayahnya memeluknya.
"Ayah kangen sama kamu, nduk..",
"Aira juga kangen sama Ayah.., sehat-sehat ya Yah..",
Sharen mengusap matanya ketika melihat momen haru antara kakek dan mommynya. Belum cukup sampai disitu, Oma Widya juga tak kalah bahagianya melihat kepulangan menantunya. Meskipun dengan langkah tertatih, dibantu oleh Fafa menantunya. Beliau, bergantian dengan Ayah Hendra memeluk Aira.
"Mantu mamah.., akhirnya pulang juga...",
"Alhamdulillah Ma..",
"Jangan tinggalin anak sama cucu mamah lagi ya Ra, rumah ini sepi tanpa kamu. Anak mamah udah kayak mayat hidup, mamah nggak tega liatnya..",
"Maafin Aira mah...",
"Ra...", sapa Fafa yang tak kuasa menahan air matanya. Dia terharu melihat ipar sekaligus adik sepupunya yang akhirnya bisa kembali berkumpul di tengah mereka.
"Mbak.., kok nangis..",
"Jangan gitu lagi ya.., kamu tidur sampe empat tahun, nggak capek?",
"Capek.., tapi aku nggak bisa bangun...
Kak Sofia mana mbak?",
"Tuh..., dia udah ngabisin 2 pack tissue.., liat deh matanya sampe bengkak..",
"Kak...", ucap Aira memanggil Sofia yang sedang duduk, terlihat sesenggukkan. Mengelap ingusnya menggunakan tissue yang berada dalam pangkuannya.
"Huu...huu....,huu....,
kamu pulang dek..? mbak kangen...",
"Sini kalo kangen, peluk dong..", ucap Aira membuka tangannya lebar-lebar.
Aira memang belum bisa berjalan dengan lancar. Langkahnya kaku dan berat. Dia memang masih harus menjalani terapi untuk melemaskan ototnya.
"Mas.., Jaz mana?",
"Tadi di mobil Sharen sayang..",
"Mana? itu Sharen sama Bian..",
"Queen.., adek dimana?", tanya Rendra kepada Sharen
"Sama Javas tadi Dad.., kayaknya tidur..",
"Oh ya udah.., Aira kira ketinggalan di rumah sakit..",
Ini hanya penyambutan kecil-kecilan yang dilakukan oleh keluarga. Rencananya, mereka akan membuat tasyakuran atas kesembuhan Aira.
"Gimana kak? Minggu depan ya?", tanya Vina kepada Rendra dan Aira.
"Kamu atur aja Vin.., kakak ngikut..",
"Oke.., semua acara diserahin ke Vina ya?",
"Iya ., kamu atur aja..",
"Aira mau ngundang temen-temen mas.."
"Iya sayang, boleh..", jawab Rendra.
Benar kata sus Sri tadi. Keluarga Rendra memang sangat ramah. Kinara mengamati, sambil menghafal satu persatu nama keluarga yang ada di sana. Untuk beberapa bulan kedapan, memang dia akan tinggal di rumah ini.
"Dokter.., jangan sungkan-sungkan ya. Ini semua keluarga.., memang kami keluarga besar, jadi kalo lagi kumpul ya rame banget kayak gini..",
"Iya mbak..",
"Jangan malu-malu ya.., anggap aja rumah sendiri..",
"Makasih mbak..",
Kinara mencoba berbaur, meskipun canggung.
"Dokter yang nanti ngawasin Tante Aira ya?",
"Iya mbak..",
"Kenalin.., aku Gladys, keponakannya Tante Aira..",
"Kinara mbak..",
"Masih muda ya dok, cantik lagi..",
"Makasih Tante..",
"Saya Farah.., sahabatnya Aira..",
"Ini calon besannya Tante Aira dok.., mamahnya Mine, pacarnya Javas..", sahut Gladys.
__ADS_1
"Oh iya.., saya Kinara Tante..",
"Ayo loh silahkan, dimakan jamuannya dok. Jangan malu-malu, ya meskipun Tante bukan tuan rumah, tapi nggak apa-apa ya. Anggap aja perwakilan..",
"Iya Tante..",
"Ini salad bangkoknya enak loh Tante, mamah yang bawa..",
"Bikin sendiri Dys?",
"Enggak.., kayaknya pesen ditemennya mamah. Ayo dok.., cobain deh..enak.."
"Makasih mbak..",
"Nathan kok nggak keliatan, Tan?",
"Biasa.., lagi jemput pacarnya..",
"Mau kesini?",
"Iya...",
Nathan? siapa lagi coba? kayaknya memang keluarga besar. Harus ngafalin namanya satu-satu ya? ampun...., ucap Kinara dalam hatinya.
"Itu yang lagi ngobrol sama kak Gladys, siapa kak?", tanya Rai kepada Javas.
"Dokternya mommy..",
"Cantik..",sahut Kai.
"Inget Chelsea kak.., Rai aduin sama dia, baru tau rasa.."
"Kakak kan cuma bilang, cantik.., salahnya dimana? bener cantik kan Kak?", tanya Kai kepada Javas.
"Hah? hmmm.., iya namanya juga perempuan..",jawab Javas.
"Tuh kan.., emang cantik Rai..",
"Kayaknya buat Rai aja deh, kebetulan lagi jomblo..",
"Jomblo? tumben...",
"Rai mau cari perempuan satu, tapi yang bener gitu kak Javas. Bosen jadi playboy terus..",
"Emangnya kamu bisa jadi laki-laki bener? pacar aja ada dimana-mana..",
"Sebenarnya Rai tuh biasa aja, tapi mereka aja yang baper..",
"Sok cakep lu..", sahut Kai.
"Emang cakep..",
Sharen menghampiri dokter Kinara yang malah sibuk ikut membantu membereskan sisa acara tadi.
"Dok.., udah nggak usah.., biar diberesin sama Bibik aja..",
"Nggak apa-apa mbak..",
"Saya mau tunjukkin kamar dokter..", ucap Sharen.
Memang hanya sebuah kamar tamu. Namun, bagi Kinara, ini lebih dari cukup. Bahkan, lebih bagus dibandingkan kamarnya sendiri. Lebih layak dari kamar kosnya.
"Nah.., ini kamarnya dokter..",
"Terima kasih mbak..",
"Oh ya dok.., disini dokter kerjanya bukan ikut beres-beres rumah, tapi buat memantau kesehatannya mommy. Nggak perlu sungkan dok, anggep aja rumah sendiri. Kalo butuh apa-apa, minta tolong sama maid atau mbak Sri aja...",
"Saya nggak enak mbak..",
"Pokoknya saya marah ya kalo dokter ngerjain apa-apa sendiri. Saya yang jadi nggak enak..",
"Mbak Sharen bisa aja..",
"Kamar saya ada disitu..", tunjuknya pada pintu kamarnya.
"Kalo kamar mommy diujung..", ucapnya lagi.
"Iya mbak..",
"Silahkan kalo dokter mau istirahat.., saya tinggal dulu ya dok..",
"Iya mbak.., terima kasih..",
Suasana pagi ini terasa berbeda. Rumah yang dulunya sepi dan sunyi, kini terasa hidup kembali. Ini karena kehadiran si nyonya besar yang sudah kembali.
"Pagi mommy..pagi Daddy, pagi Moma Sha..", sapa Jaz yang sudah ganteng memakai seragam sekolahnya.
"Pagi ganteng.., Jaz sarapan dulu ya nak..",
"Oke mom..",
"Pagi Oma.., pagi Kakek..", sapa ya bergantian kepada Oma dan kakeknya yang memang sedang bermalam disana.
"Pagi cucu Oma..",
"Cucu kakek ganteng ya..",
"Kak Javas mana?", tanyanya.
__ADS_1
"Yah.., kak Javas lagi..kak Javas lagi..",celetuk Sharen.
"Padahal Jaz mau dianter sekolah sama kak Javas..",
"Pagi ini, yang anter Daddy sama mommy..", ucap Rendra.
"Beneran Dad?",
"Iya dong.., beneran.., tapi mommy belum bisa nungguin Jaz sekolah, mommy masih perlu istirahat..",
"Oke Dad..., Jaz seneng dianterin Daddy sama mommy..", jawab Jaz antusias.
Selain fokus pada kesembuhan istrinya, Rendra juga ingin menebus waktu yang hilang untuk Jaz.
"Mbak Sri.., tolong panggilin dokter Kinara ya, biar sarapan disini..",
"Baik mbak..",
"Pagi semuanya..", ucap Fafa yang baru ikut bergabung bersama Revan suaminya.
"Mbak ayo sarapan dulu..",
"Wah.., menunya banyak banget Ra..",
"Kan memang yang makan banyak mbak..",
"Nah.., ini dokter Kinara.., ayo sarapan dulu dok..",
"Iya mbak..", ucapnya malu-malu.
Ditengah menikmati sarapan tiba-tiba Javas dan Mine tiba. Mereka datang bersama, sehingga menimbulkan kecurigaan Sharen.
"Kalian vibesnya udah kayak pengantin baru aja ya..", goda Sharen.
"Nggak usah ngawur kalo ngomong..",jawab Javas yang mengerti arah pembicaraan kakaknya.
"Vas....",sapa Aira lembut.
"Semalem, Javas nganterin Mine kerumahnya mom. Mine kesini dianter sama sopirnya. Kita baru aja ketemu di depan..",
"Bener?", tanya Rendra kali ini.
"Iya om.., tanya aja sama papah kalo nggak percaya..", jawab Mine.
Meskipun sudah menyetujui hubungan Javas dan Mine. Namun, baik Rendra maupun Aldo masih membatasi keduanya. Tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Ya udah.., ayo sarapan bareng..",
Kursi kosong hanya tinggal untuk satu orang. Hal ini, membuat dokter Kinara yang notabene orang lain, langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf.., saya permisi dulu. Saya sudah selesai..",
"Kok buru-buru dok? kita ngobrol dulu..",
"Tapi bu Aira..., ini kursinya.....", tidak meneruskan ucapannya karena dia yakin Aira mengerti maksudnya.
"Jaz dipangku dulu sama Daddy ya Nak..",
Jaz yang juga sudah menghabiskan sarapannya, langsung berdiri dari duduknya lalu duduk di atas pangkuan Daddynya.
Obrolan didominasi oleh Rendra dan Revan yang malah membahas soal bisnis. Sesekali, Sharen menimpali. Sepertinya, Rendra akan kembali mengurus bisnisnya.
Javas yang memang dari awal tidak tertarik untuk ikut terjun menangani Prime hanya diam, dengan menikmati sarapannya.
Dokter Kinara hanya menjadi mengamat, namun sesekali dia berbicara saat Fafa dan Oma Widya bertanya kepadanya.
"Oma nggak ada suster?", tanyanya.
"Masih seneng diurus sama mantunya dok..", gurau Fafa.
"Oh begitu Bu.., tapi memang lebih enak diurus keluarga sendiri ya Bu..",
"Iya.., kan mamah juga masih bisa aktivitas seperti biasa. Kalo jalan jarak jauh aja yang susah dok..",
"Faktor usia juga mempengaruhi Bu..", jawabnya.
Dokter Kinara sebenarnya canggung, tidak enak hati karena hanya dia yang notabene orang lain. Namun, beruntungnya semua yang berada disana menganggapnya seperti layaknya keluarga.
"Oh ya dokter.., kita belum kenalan ya..", ucap Mine yang langsung ditoleh oleh Javas.
"Iya mbak.., saya Kinara..",
"Saya Jasmine.., biasa dipanggil Mine..",
"Salam kenal mbak..", ucapnya ramah.
"Dokter cantik ya..",
"Mbak juga cantik.., wajahnya blasteran..",
"Padahal saya asli SNI loh dok..",
"SNI?",
"Iya.., asli buatan Indonesia..",
"Mbak bisa aja..",
Mine duduk berhadapan dengan Dokter Kinara. Sedangkan Javas berada diujung, yang berarti posisinya dekat dengan Mine dan Kinara ( posisinya kayak huruf V, author susah jelasinnya). Pemuda itu hanya memandang ke sisi kanannya, tempat Mine duduk. Javas tidak berani menoleh ke sisi kirinya, tempat dokter Kinara berada. Javas takut tidak bisa menjaga pandangannya.
__ADS_1
"Semoga imanku kuat..", batinnya.