
Tok..tok..tok..
"Queen, aku masuk ya..",
"Iya...",
Javas masuk ke dalam kamar kakaknya. Queen masih diposisinya, tidur. Namun, sambil menonton drama yang sebenarnya tidak benar-benar dia tonton. Hanya saja, cukup untuk membunuh waktunya yang seharian ini tidak melakukan kegiatan apapun. Hanya makan, tidur di kamar saja.
"Gimana keadaan kakak..?",
"Udah enakan kok Vas...
Zee mana..?",
"Lagi tidur kak...",
"Kakak seneng liat kalian...,
jadi suami yang tanggung jawab ya buat Kina. Papa yang baik buat Zee...",
"Iya pasti kak..
Kakak lagi pengen sesuatu nggak?",
"Kakak nggak laper, udah kenyang..",
"Bukan itu..,
Barangkali ada barang yang masih di keranjang belanja, tapi belum di checkout. Checkout sekarang..biar Javas yang bayar...",
"Kakak lagi nggak ada wishlist apapun Vas.., kenapa sih? kok tumben baik banget sama kakak. Kamu kesambet..?",
"Nggak..Javas waras...
Hmmm.. lagi pengen kemana gitu..? pesen tiket sekarang. Ke London? Paris? Jepang? Korea..?",
"Sebenarnya kakak sih pengen ke Thailand, tapi nggak dulu deh..nanti aja..nunggu ada temennya..",
"Ajak aja asisten kakak, si Bella atau siapa itu. Javas bayarin tiketnya, hotel, sama uang saku, nanti Javas yang siapin..",
"Nggak..makasih..
Simpen aja uangnya buat keperluan Ze ya, kakak masih ada tabungan vacation yang bisa di pake kok..",
"Pendidikan Ze, sampe dia kuliah nanti udah Javas siapin, jangan khawatir kak..",
"Sebenarnya ada apa..?",
Javas tersenyum manis pada kakaknya. Dia membelai rambut kakak perempuannya dengan sayang.
"Javas cuma pengen kakak bahagia.., udah itu aja...",
"Kakak kan udah bahagia Vas, ada mommy, Dad, kamu, Jaz, Kina apalagi sekarang ada si kecil Ze...",
"Kak.., maaf karena Javas udah buat keputusan nikah duluan..., Javas nggak nunggu kakak dulu..",
"Kamu kenapa sih? kan udah lama..., kakak juga nggak masalah kok....
Kamu sedih? karena keadaan kakak sekarang ya? ",
Javas mengangguk.
"Kakak nggak apa-apa kok..
"Ibarat barang, kakak ini dagangan yang umurnya udah tua. Dibandingkan dengan barang lain, yang udah lebih dulu kejual. Pemiliknya toko takut akhirnya promo sana sini karena barangnya nggak ada yang mau beli.., padahal barang belum kejual karena terlalu mahal dibandingkan barang lain yang harganya murah. Barang mahal ya nanti yang beli juga orang yang punya uang berlebih kan? kakak ini mahal, bukan nggak laku. Kak Sharen bukan perawan tua..
Kakak jangan merasa kalo Daddy sama Mommy seperti itu, mereka cuma pengen liat kakak bahagia.
Tapi, Javas juga nggak suka kalo kakak dipromosiin kayak gitu. Javas tau kakak Javas ini mahal.
Kakak tenang aja, Javas udah ngomong sama Daddy, sama Mommy juga. Untuk stop jodohin kakak sama siapapun. Termasuk Nathan, Satria atau laki-laki lainnya..",
__ADS_1
"Iya makasih adikku...", Sharen mengacak-ngacak rambut Javas.
"Jangan merasa jadi dagangan yang nggak laku ya kak..",
"Sama sekali nggak..",
"Bilang Javas kalo kakak mau sesuatu. Atau pengen ke suatu tempat. Nggak apa-apa nggak ada pasangan, nanti Javas yang nemenin kakak. Tapi, nunggu Ze agak gedean biar dia ikut..",
Sharen mengangguk.
Awalnya, semua ini memang rencana Dad Rendra dan Nathan. Tapi, justru rencana mereka berbalik merugikan diri sendiri, terutama untuk Nathan. Senjata makan tuan namanya.
Daddy pulang ke rumah. Kecewa pada Nathan, tapi ada hal yang jauh lebih penting untuk dia prioritaskan. Kesembuhan badan dan mental Sharen, yang meskipun dilihat dia baik-baik saja. Tapi, saat ini Sharen memang sedang terganggu pikirannya.
"Kak Sharen di dalam Vas..?", tanya Daddy saat bertemu putranya yang baru saja keluar dari kamar kakaknya.
"Iya Dad..lagi nonton netfl!x..",
"Oke..Daddy masuk..",
Javas hanya melirik map yang bawa Daddynya, tanpa bertanya. Mungkin, ada sebuah kerjaan yang harus mereka bicarakan.
"Sha...,
gimana keadaan kamu? masih pusing, sayang..?",
Sharen menggeleng.
"Daddy mau bicara sama kamu..., bisa?",
"Bisa Dad..",
"Ini soal Satria..",
"Kenapa Dad..?",
"Baca ini..
Daddy udah caritahu dari awal..",
Sharen menggelengkan kepalanya. Berkas setebal ini dan semuanya menunjukkan betapa jahatnya Satria.
"Dia nipu investor Dad..?",
"Iya..., salah satunya orang tuanya Tama...,
Ayahnya bangkrut bukan hanya karena biaya obat ibunya yang besar. Tapi, karena udah nanam modal, tapi uangnya nggak balik..",
"Astaga Dad...",
"Daddy mohon...nurut kata Daddy ya? jauhin Satria..., pikirin reputasi kamu, reputasi Daddy, nama baik keluarga Perdana..., mau kan..?", bujuk Daddy.
"Iya Dad...",Sharen mengangguk.
"Jangan marah sama Mommy karena udah ngenalin kamu sama dia. Maksud mommy baik, tapi salah orang aja...",
"Iya Dad...",
"Mulai sekarang, Daddy juga nggak mau lagi paksa kamu untuk terima Nathan. Siapapun pilihan kamu, Dad setuju. Asalkan...., dia berasal dari keluarga baik-baik..",
"Berarti boleh dapat pasangan bule kan..?",
"Boleh, asal seiman dan dia bener - bener tanggung jawab sama kamu...",
"Nggak dilarang sama Mommy lagi kan?",
"Nggak sayang..",
"Dad....",
"Iya...",
__ADS_1
"Sha mau stay di Aussie aja...,
Sha masih punya Visa Aussie.. boleh Dad..?",
"Untuk berapa lama?",
"Pengen disana terus.., lanjutin kuliah.., boleh Dad..?",
"Kamu udah pikirin ini..?",
"Udah..."
"Boleh.., kalo itu buat kamu seneng...",
"Makasih Dad..,
Sha mau prepare dari sekarang.."
Sebenarnya Nathan juga enggan pulang ke rumah. Namun, ada barang yang harus dia ambil. Nathan perlu memikirkan bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya.
"Nath.., udah pulang..?"
"Ada barang yang ketinggalan Ma..",
"Mama bisa ngomong..?",
"Iya.., ada apa mom..?",
"Nath.., sebelum Dewi ketemu kamu , dia kesini nemuin Mama..", ucap Mama Farah lembut.
Nathan terang saja kaget. Dewi ternyata satu langkah lebih cepat. Dia pintar.
"Bawa Mama Papa ketemu sama orang tuanya Nath...",
"Buat apa sih mah..?",
"Dewi hamil kan..?",
"Iya Mah, tapi itu bukan anak Nathan..",
"Nggak usah bantah, Mama nggak marah sama kamu. Mama memang kecewa, tapi semuanya kan udah terlanjur. Sebagai laki-laki, kamu harus tanggung jawab..",
Sialan, Dewi ternyata senekad ini. Dengan beraninya dia bertemu dengan Mama nya dan berbicara bohong seperti ini.
"Itu bukan anak Nathan mah..",
"Nath, dari kecil kamu udah diajarin tanggung jawab sama Papa sayang...
Kasian Dewi, hamil muda tapi tinggal di Apartement kamu sendirian..., mulai besok biar dia tinggal disini ya.., sambil persiapin acara pernikahan kalian..",
"Kalo Dewi tinggal disini, Nathan yang keluar dari rumah ini Ma..",
"Nath, gimanapun juga bayi yang ada dalam kandungannya Dewi, itu anak kamu, cucunya Mama..",
"Mah.., itu bukan anak Nathan, itu anaknya Satria. Dewi itu pacarnya Satria, bukan pacarnya Nathan.
Nathan ngakuin Dewi sebagai pacar, itu bagaian dari rencana biar Sharen itu sadar kalo dia itu sebenarnya juga cinta sama Nathan..",
"Nath..kamu masih terobsesi sama Sharen? lupain dia Nath.., sekarang udah ada Dewi..., dia lagi ngandung anak kamu..",
"Ini bukan obsesi Ma, tapi Nathan bener cinta sama Sharen, udah dari dulu..",
"Nath, dengerin mama dulu..",
"Gimana caranya biar Mama percaya kalo anak di perut Dewi itu bukan anak Nathan?",
"Biar nanti Papa yang bicara sama kamu..",
"Terserah Mama...., tapi sampai kapanpun Nathan nggak akan tanggung jawab..",
Nathan masuk ke dalam kamarnya. Dia mengemasi barang-barangnya, dan setelah siap dia kembali keluar dari rumah.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?",
"Pergi jauh....", ucap Nathan.