Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Kriteria


__ADS_3

Semenjak perkenalannya di acara Aqiqah Ze, Sharen dan Satria memang intens berkomunikasi melalui chat WhatsApp. Meskipun hanya sekedar percakapan basa-basi, tapi sejauh ini obrolan mereka selalu nyambung. Satria enak diajak berbicara, dan sebaliknya Sharen juga tidak kekurangan topik pembicaraan.


Sebenarnya, masih terasa canggung bagi Sharen. Ini baru pertemuan kedua kali untuk mereka.


"Mau makan apa Sha..?",


"Terserah kamu aja deh Sat..",


"Btw, kamu cantik banget hari ini.."


"Ehm, iya? makasih loh.


Daddy juga bilang kayak gitu tadi...",


"Deket banget ya sama ayah kamu..?",


"Banget..


Aku selalu cerita apapun ke Daddy...",


"Termasuk pasangan..?",


"Ya, salah satunya.


Tapi, biasanya Daddy cuma ngasih masukan aja sih..


Aku anak perempuan satu-satunya..Daddy selalu pesan kalo cari pasangan itu yang bener-bener bertanggung jawab..",


"Kalo misalnya, kamu punya pasangan. Terus, Ayah kamu nggak setuju, gimana? lanjut atau nggak...?",


Satria sepertinya sudah mempunyai feeling dari awal kalo Ayah Sharen kurang menyukainya.


"Kenapa tanya kayak gitu..?",


"Ya nggak apa-apa, tanya aja..",


"Aku udah pernah punya pacar, yang sebenarnya Daddy kurang suka kalo aku berhubungan sama dia. Kurang suka ya bukan nggak suka.., tapi Daddy tetep kasih izin kok. Setelah aku putus, Daddy baru bilang alasannya...",


"Kapan terakhir pacaran..?",


"Lebih dari setahun yang lalu sih..",


"Lama banget..


habis itu nggak deket lagi sama cowok? ",


Sharen menggeleng, namun terlihat penuh keraguan.


"Masa...,


Cewek secantik kamu, emang nggak ada yang deketin..?",


"Ada..., tapi ya gitu. Ada hal yang membuat aku susah buat terima dia..",


"Karena..?",

__ADS_1


"Aku nggak bisa cerita..


Kamu sendiri, kapan terakhir pacaran..?",


"Enam bulan yang lalu...",


"Putus karena..?",


"Beda visi misi...",


Sharen mengangguk. Satria ini memang sangat enak diajak untuk mengobrol. Karakternya hampir mirip dengan Tama, tapi Satria ini versi seriusnya.


Melanjutkan obrolan di dalam mobil tadi. Tapi, kali ini sambil menikmati sarapan bersama di salah satu Cafe ternama.


"Tipe cowok kamu, kayak gimana?",


"Nggak muluk-muluk, yang penting tanggung jawab... dalam segala aspek..",


"Segala aspek..?",


"Sebagai seorang laki-laki yang nantinya kelak akan menjadi imam, tentunya dia harus tanggung jawab sama agamanya. Setidaknya solat lima waktu. Dalam segi ekonomi, dia wajib punya kerjaan. Tanggung jawab sama diri sendiri. Berpenampilan bersih, nggak neko-neko. Dan aku nggak suka bad boy. Aku sukanya good boy aja..., udah pusing di rumah liat adik aku tiap hari yang karakternya slengekan..",


"Semua yang kamu sebutin udah ada di aku Sha...",


"Oh ya..? masa...?"


"Mau kenal aku lebih dekat lagi kan..?"


Sharen mengangguk.


"Aku mau coba...


Kriteria yang disebut Sha, sepertinya mengarah ke seseorang, bener nggak sih..?


Satria mengangguk.


"Kriteria cewek kamu, kayak gimana?",


"Kayak kamu...",


"Gombal, belum apa-apa juga..",


"Waktu mami cerita, mau ngenalin anak temennya, aku langsung minta mami foto, nama lengkapnya terus aku searching aku medsosnya. Dan nggak nyangka, kalo itu kamu. Selebgram yang udah terkenal, model cantik, pengusaha, anaknya konglomerat pula. Waktu pertama kali liat kamu, meskipun dari foto, aku udah oke..tinggal kenal kamu lebih deket lagi..."


"Makasih loh pujiannya...",


"Bukan pujian, tapi itu penilaian ku buat kamu...",


"Iya..tetep aja bilang makasih...",


"Oh ya, btw tadi mas-mas yang ada di rumah kamu, siapa? sepupu..?"


"Bukan.., dia anak sahabatnya Daddy. Sekaligus, orang kepercayaan Daddy...",


"Hmmmm..., kirain sepupu, atau pacar kamu mungkin.."

__ADS_1


"Masa iya kalo pacar tapi aku nya kencan sama kamu? nyari mati itu namanya..",


"Ya siapa tau kan..?",


"Enggak-nggak.., jangan ngaco deh...",


"Sha...",


Kali ini satria memegang tangan Sharen, namun gadis itu buru-buru melepasnya.


"Maaf Sha, nggak bermaksud......",


"Its oke...,


mau bilang apa?",


"Boleh nggak kalo aku bilang, kalo aku ini tertarik banget sama kamu..?",


Sharen tersenyum tipis sekaligus tersipu. Ya, siapa yang tidak malu jika ada seseorang yang terang-terangan berbicara seperti itu. Namun, Sharen juga tidak ingin ge-er, dia tetap menyiapkan kuda-kuda. Tidak ingin lagi terjerat dalam hubungan yang salah, seperti hubungannya dengan Bian ataupun Nathan. Sharen kini lebih berhati-hati.


"Itu hak kamu.., dan kita memang dalam tahap mengenal satu sama lain. Kalo memang kita cocok, ayo lanjut, kalo nggak ya berarti cukup sekian dan terima kasih..",


"Ya, dan aku yakin bisa ngambil hati kamu. Mami juga pasti seneng kalo aku bisa sama kamu..",


"Mudah-mudahan...",


"Abis ini mau dianter kemana?"


"Hari ini mau ngantor di butik aja..",


"Oke aku anterin..",


Sejauh ini, kencannya dengan Satria, berjalan dengan normal. Hanya sedikit kendala tadi saat Satria terlambat menjemput karena terjebak oleh macet.


Tok..tok..tok..


"Masuk...",


"Mbak..ada kiriman makanan...", ucap salah satu pegawainya.


"Dari siapa? Satria..?", tanya Sharen.


"Satria..? Siapa mbak..", pegawai itu berbalik tanya.


"Yang nganterin tadi..",


"Oh mas-mas yang tadi? bukan...",


"Terus..?",


"Dari mas ganteng...", jawab pegawai itu dengan sumringah.


Sharen buru-buru membuka kiriman makanan dari Nathan.


"Jangan lupa makan siangnya cantik. Hari ini, belum makan nasi sama sekali kan? ini aku kirimin soto, kayaknya seger banget kalo dimakan siang-siang gini. Lupain dietnya ya, kamu akan tetap dan selalu cantik...",

__ADS_1


Sebuah memo yang dimasukkan ke dalam paper bag tersebut.


"Darimana Nathan tau, kalo aku belum makan nasi sama sekali? kalo di rumah sih iya cuma makan roti pasti dia tau dari Daddy. Tapi, tadi di Cafe cuma makan waffle, dia tau juga? Dari mana coba..? Nathan kirim mata-mata, atau gimana sih..?"


__ADS_2