Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Dingin.


__ADS_3

Javas merasa tertampar dengan pengakuan Kinara. Istrinya ternyata memendam kekecewaan sedalam itu. Dan, itu akibat kesalahan fatal Javas yang dia lakukan berulang kali.


Kinara mengungkapkan isi hatinya dengan lembut, seperti pembawaannya. Tanpa emosi, apalagi menangis. Kinara memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk mengeluarkan uneg-uneg dihatinya. Dan, itu justru membuat Javas merasa sangat bersalah pada Kinara.


Keduanya memang bukan suami istri pada umumnya. Tidak ada tujuan dalam pernikahan, mereka hanya menjalani, sisanya biar Allah yang mengaturnya.


Javas membiarkan Kinara masuk ke dalam kamar, tidak mengejarnya lagi seperti tadi. Javas memberi waktu pada istrinya untuk sendiri.


Kinara sudah berada di atas ranjang saat Javas masuk ke dalam kamarnya. Javas ikut naik ke atas ranjang. Melihat Kinara yang tidur memeluk guling dengan posisi membelakanginya.


Javas membelai rambut yang menutupi pipi Kinara. Istrinya sudah memejamkan matanya. Tidak ada bekas air yang keluar dari matanya. Itu tandanya, Kinara tidak menangis sama sekali. Istri Javas Perdana setegar dan sekuat itu.


"Na....",ucap Javas lembut.


Tidak ada sahutan. Kinara benar-benar terlelap tidur.


Tidak seperti biasa, Kinara yang selalu bangun lebih awal dari suaminya. Subuh ini dibuat heran oleh Javas yang sudah lebih dahulu bangun. Bahkan, suaminya sudah bersiap untuk menunaikan ibadah dua rakaat.


"Udah bangun? mau jamaahan?",


Kinara tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Tanpa...., berbicara sedikitpun.


Javas menghela nafasnya panjang. Javas sadar jika Kinara bersikap tak biasa. Berbeda dengan mommynya yang mengomel jika marah, lain dengan istrinya yang malah diam.


Masih mencium tangan Javas, ketika mereka sudah selesai menunaikan ibadah. Namun, masih diam, tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kamu marah..?",


"Nggak..", ucapnya singkat. Kinara lalu keluar dari kamarnya setelah melipat mukenanya.


Jika biasanya Kinara yang harus bersabar, kini dunia mereka terbalik. Javas harus dibuat banyak bersabar. Jadi, apa yang sedang dilakukan oleh Kinara bentuk dari ketidak sukaannya karena sikap Javas yang semena-mena kepadanya? Mungkin. Atau bisa jadi, ini memang bentuk kemarahannya pada Javas yang berulang kali melakukan kesalahan yang sama.


"Na.., aku nggak mau pake jam tangan ini..",ucap Javas sambil mengembalikan jam tangan kepada Kinara.


Kinara diam, dia kembali berjalan menuju walk in closet untuk menukar jam tangan milik suaminya.


Kinara keluar kembali, membawa dua buah jam tangan.

__ADS_1


"Aku nggak mau dua-duanya..",


Kinara mengangguk.


"Na.., ini terlalu formal, aku nggak ada pertemuan hari ini.., pilihin yang lebih casual aja..",


Jam pilihannya kembali ditolak oleh suaminya. Dan, lagi-lagi Kinara harus memilihkan jam tangan yang Javas inginkan.


"Ini nggak cocok juga Na..", ucap Javas.


Javas memang sengaja, dia ingin mendengar suara istrinya. Yang dia inginkan ialah Kinara mengeluarkan suara dan bertanya kepadanya.


"Mas.., mau jam tangan yang mana?",


Tapi, sayangnya Kinara masih menyimpan suara lembutnya.


Kinara masih saja diam.


"Nggak mau yang ini juga Na..",


"Bukan yang ini..",


Kali ini, Kinara memandang tajam suaminya karena tidak satupun jam tangan yang dia pilih, sesuai dengan keinginan Javas. Ditatap tajam, membuat Javas ciut nyali.


"Aku mau jam tangan yang couple-an sama kamu, kado dari Tante Vina. Aku udah cari, tapi nggak ada..", ucap Javas pada akhirnya.


Kinara masuk kembali ke walk in closet. Dan, kali ini Javas yakin Kinara akan mengeluarkan suaranya. Kenapa? Karena Javas sudah menyembunyikan jam tangan itu.


Tapi, tidak seperti dugaannya. Kinara kembali masuk karena hendak menyimpan jam tangan milik Javas. Kinara justru menuju ke sofa,dan berhasil menemukan jam tangan yang Javas maksud lalu memberikannya pada Javas.


"Makasih..", ucap Javas . Dia bahkan tidak menyangka jika Kinara berhasil menemukannya, padahal Javas sudah menyembunyikan dibawah bantal.


"Darimana dia tau..?", ucapnya lirih ketika Kinara sudah keluar dari kamarnya.


Meja makan memang salah satu tempat yang mereka gunakan untuk mengobrol. Tentunya, setelah selesai menikmati makan.


Wajah yang biasanya berseri, terlihat datar. Parasnya yang ayu, terlihat sedikit layu. Raut muka yang selalu ramah, seperti marah. Hingga membuat Mom Aira dan Dad Rendra sadar, jika ada sesuatu antara menantu dan putranya.

__ADS_1


"Kak Kina nanti jadi bareng Jaz..?", tanyanya.


Kinara tersenyum.


"Jadi.., boleh kan?",


"Boleh dong kak..",


"Loh.., kan aku yang nganterin kamu..",ucap Javas.


"Kita berangkat sekarang aja yuk kak..",ajak Jaz.


"Oke.., yuk..",


Kina menyodorkan tangannya pada Javas.


"Beneran nggak usah dianter?",tanya Javas.


Kinara menggeleng.


Dia pamit kepada kedua mertua serta kakak iparnya.


"Berangkat dulu mom..",


"Iya hati-hati.., nggak mau dianter Javas aja..?",


"Nggak mom.."


"Kinara pamit dad..",


"Hati-hati.."


"Kinara duluan ya mbak..", ucapnya cipika cipiki dengan Sharen.


"Hati-hati Na..",


Semakin terlihat jelas jika Kinara bersikap dingin pada Javas. Memang harusnya seperti itu kan? Untuk apa, jika kehadirannya memang tidak pernah dianggap. Raga bersamanya, tapi hati dan bahkan pikirannya saja masih berpusat pada kisah yang belum usai.

__ADS_1


__ADS_2