Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Akhirnya....


__ADS_3

"Bodoh bodoh bodoh..., kenapa aku bilang ke Nathan kalo aku cinta sama dia..?", ucapnya mengutuk dirinya sendiri. Beginilah yang namanya cinta mampu merubah segalanya. Baru saja menangis, sekarang dengan secepat kilat suasana hati Sharen mendadak galau.


"Kalo dia udah sama Lila.., gimana? aku ditolak, aku malu...,


Mommy...tolongin Sharen....",


Malam tadi, tidur Sharen tidak nyenyak. Sedikit -sedikit terbangun karena memikirkan kebodohannya yang mengungkapkan perasaannya.


Jika hari ini tidak ada jadwal sekolah, mungkin dia akan berada di Apartement seharian.


Tetap terlihat kusut meskipun sudah mandi. Mood Sharen acak-acakan hari ini.


"Pengen nggak masuk sekolah, tapi hari ini ada tes...", ucapnya.


Beberapa kali menguap karena rasanya masih sangat mengantuk. Menyeduh kopi, meskipun perutnya sama sekali belum terisi oleh makanan. Hari ini, hanya menyiapkan sandwich untuk sarapannya. Sengaja, Sharen membawa nya ke sekolah, karena dia tidak sempat memakannya. Sharen tidak mempunyai banyak waktu, karena dirinya sudah hampir terlambat.


Bel Apartementnya berbunyi, disaat dirinya bersiap-siap untuk pergi.


"Dih.., petugas kenapa nggak tau sikon banget sih, orang lagi buru-buru juga...",


Sharen keluar untuk berangkat ke sekolah sekaligus berbicara kepada petugas kebersihan untuk tidak mengambil sampah Apartemennya pada hari ini. Sharen tergesa-gesa.


"Pak.., sampahnya.........",


Sharen menghentikan ucapannya ketika melihat siapa yang datang. Bukan petugas kebersihan, melainkan laki-laki yang sudah sejak malam masih memenuhi pikirannya hingga saat ini.


Sharen membatu, entah apa yang harus dikatakannya pada Dave setelah ucapan bodohnya tadi malam.


"Mau berangkat..?",


"Iya..,


Kamu mau apa kesini..?",


"Ada titipan dari Icha, jaket kamu semalam ketinggalan, dompet kamu juga..",


"Makasih.., aku buru-buru...",


"Hari ini, ada bekal buat aku..?", tanya Dave.


Sharen mengernyitkan dahinya. Bisa-bisanya Dave percaya diri bertanya seperti itu. Padahal, sandwich dan jus kemasan yang berada di tas yang ditentengnya ini adalah bekalnya. Bukan bekal untuk Dave.


"Hmmm..nggak ada...",


"Itu apa..?", tanyanya.


"Aku nggak ada bekal buat kamu. Aku nggak bisa masak, rasanya nggak enak...", jawabnya menyindir Dave yang tempo hari berbicara seperti itu.


"Aku belum sarapan pagi ini. Makanan itu buat aku kan?", lihatnya pada bekal yang Sharen bawa.


"Nggak.., ini buat aku..",


"Buat aku aja, boleh...??",


Sharen memandang Dave dengan tatapan kesal, tapi akhirnya dia merelakan sandwichnya untuk pemuda itu.


"Ya udah, nih..",


"Makasih..",


"Sama-sama..",


"Kamu pulang jam berapa..?", tanya Dave. Mereka berjalan beriringan menuju lantai dasar.


"Jam 2 siang...",


"Aku pulang jam 5 sore..",


"Aku nggak tanya..",


"Kamu marah..?",


"Nggak...",

__ADS_1


"Aku tau aku salah karena nggak peduliin kamu. Sebagai permintaan maaf, nanti malem dinner , mau ya..?",


"Kamu punya uang? aku nggak mau kalo disuruh bayar sendiri-sendiri.., kartu kreditnya udah limit...",


"1 kartu aja kan? yang 5 pasti belum..", goda Dave. Sharen memang mempunyai 6 kartu kredit yang batas limitnya tentu besar. Salah dua diantaranya malah unlimited.


"Ya biarin, pokoknya aku nggak mau..",


"Mana ada, pelayan pake jam tangan rolex, topi pake dari Gucci, ikat pinggang dari Versace, masa buat traktir kamu makan malam aja, nggak bisa..?",


Sharen yang awalnya memasang wajah jutek, akhirnya tersenyum ketika Dave menirukan ucapannya tempo hari.


"Ih..apaan sih..",


"Nah gitu dong, senyum kan cantik...",


"Iya udah, nanti jemput aja..",


"Aku jemput jam 7 malam, oke..",


"Hmmm...",


"Kamu jalan kaki..?",


"Mau naik Banana, abis sekolah mau belanja bentar, beliin titipannya Mommy..",


"Banana apa..?",


"Mobil yang dibeliin Daddy kan warna kuning, kayak Banana..",


"Ya udah kalo gitu, jangan ngebut ya.."


"Hmmm, aku pergi dulu..",


"Iya hati-hati..",


"Kamu juga..", ucap Sharen.


Mereka berdua akhirnya berpisah tujuan. Sharen menuju ke basement untuk mengambil Banana sedangkan Nathan keluar untuk segera pergi bekerja.


Dave sudah bersikap seperti biasanya. Menatapnya dengan tatapan hangat, berbicara dengan lembut serta selalu memberikan perhatian kepadanya. Nathan kembali.


Sharen sama sekali tidak berkonsentrasi dengan ujiannya. Raganya di sekolah, tapi pikirannya tetap memikirkan Nathan. Tidak peduli, seperti apa hasil tesnya. Rasanya ingin segera memutar jam agar berputar lebih cepat. Pulang sekolah, pergi ke outlet salah satu brand ternama untuk membelikan titipan kado Mommy untuk Tante Fafa. Lalu, pulang dan pergi makan malam dengan Nathan.


" Ayo dong mom.., pilih yang mana..?",


"Bagusan merah atau item, Sha..?",


"Apa aja mom.., merah keliatan glamour, kalo item keliatan elegant terus netral..",


"Yang mana ya? ",


"Sharen disini udah setengah jam, tapi belum ada barang yang cocok..",


"Udah cocok, itu yang kamu pegang, tapi Mommy bingung pilih warnanya..",


"Ya udah, tanya tante Fafa, mau item atau merah..?",


"Ngawur aja.., namanya juga kado, masa iya kita tanya yang ulang tahun. Nggak surprise namanya..",


"Terserah mommy deh, yang penting, cepatan..",


"Iya-iya..,


Kamu mau kemana sih?buru-buru banget...",


"Pengen pulang aja mom..",


"Mau pergi kemana?",


"Mau pulang..",


"Ya udah, ambil yang merah aja deh...",

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 5 sore, dan Sharen bingung untuk memilih pakaian yang nanti dikenakannya. Semua pakaian yang dibawanya, dikeluarkan dari lemari. Sharen mengepasnya satu persatu sambil berdiri di depan kaca.


"Pake ini apa ini..ya? kalo ini dress, bagus sih.., tapi aku kan nggak tau mau diajakin dinner dimana..? iya kalo ke restoran? kalo cuma makan di kedai aja kakayk kemarin, masa iya pake dress kayak gini. Tapi, kalo pake jeans, keliatan casual banget..


Masa iya aku tanya sama dia, mau dinner dimana?",


Memutuskan untuk mengenakan rok hitam dengan panjang setengah betis, dipadu padankan dengan kaos rajut warna merah berkerah tinggi seleher. Tak lupa mengenakan kalung pemberian Nathan yang dia pake diluar kaosnya. Rambutnya dia kuncir kuda dengan menyisakan sedikit sambut disisi kanan dan kiri wajahnya. Penampilan Sharen malam itu  terlihat anggun, tidak berlebihan sama sekali. Sharen terlihat sangat cantik.


"Udah siap..?", tanya Nathan ketika Sharen membuka pintu Apartementnya.


"Hmmm..udah...",


Nathan sepertinya enggan untuk beranjak, sehingga membuat Sharen bertanya-tanya.


"Ayo..nunggu apa lagi..?",


"Kamu cantik banget...",


"Makasih...",


Nathan membukakan pintu mobil untuk Sharen. Sekaligus membuat gadis itu bertanya-tanya.


"Mobil siapa..?",


"Mobil aku..",


"Pelayan, tapi punya mobil..",


Nathan tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum dengan memperlihatkan gigi putihnya.


Nathan membawa Sharen pergi ke salah satu restoran mewah di kota Sydney. Tentu saja bukan makan malam biasa. Entah suatu kebetulan atau tidak, tapi hanya mereka berdua yang ada disana. Kedatangan mereka bahkan langsung disambut oleh alunan musik biola.


"Kok sepi Nath..?",


"Hmmm.., mungkin karena bukan malam minggu..",


Nathan menyeret kursi, dan mempersilahkan. Sharen untuk duduk.


" Makasih Nath..."


"Sama-sama..


Sha..aku ke toilet dulu ya.."


"Iya..",


Sharen memang bukan penyanyi, tapi dia pecinta seni. Sharen menikmati permainan biola dan piano yang sangat terdengar merdu ditelinga. Meskipun hanya musik instrumental tanpa nyanyian, tapi sudah terdengar romantis di telinga.


"Sha...",


Sharen menoleh ke samping dan apa yang dilihatnya membuat dirinya spontan menutup mulutnya.


Nathan berlutut dengan membawa bunga ditangannya.


"Will you be my lover...?", ucap Nathan tanpa basa-basi.


"Nath...",


"Aku nggak ingin membuang waktu lagi.


Aku nggak mau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya...",


Sharen mengangguk.


"So..?",


"Iya..aku mau...",


Seharusnya memberikan bunga itu pada Sharen. Tapi, Nathan justru membuangnya setelah mendengar jawaban dari Sharen. Nathan memeluk Sharen.


"Aku juga nggak mau kehilangan kamu lagi, Nath...",


"Kita berjuang sama-sama ya...",

__ADS_1


Sharen mengangguk.


Restoran mewah ini memang sengaja disewa oleh Nathan hanya untuk mengungkapkan rasa cintanya untuk Sharen. Bukan hanya membutuhkan uang banyak, tapi juga effort yang tinggi. Cintanya pada Sharen memang sangatlah besar. Dari dulu, dan kini kesabaran dan kegigihan Nathan terbayarkan. Dia berhasil mendapatkan Sharen.


__ADS_2