Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Tak Sengaja


__ADS_3

Rendra menyusul istrinya ke dalam kamar. Rendra mendapati istrinya menangis dengan mengemasi beberapa pakaiannya. Mau minggat?


"Kamu nangis..?",


Aira tetap diam dengan memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam koper kecil.


"Mau kemana?",


Masih diam.


"Maaf, mas nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu...",


"Kalo Aira nggak bodoh, mana mungkin mau nikah diam-diam padahal masih mahasiswi. Mana mau terpaksa nikah karena mas emang sengaja ngelakun itu.., mas baru sadar kalo Aira ini bodoh? nyesel? punya istri kayak Aira..?",


"Sayang.., kenapa sih ngomong kayak gitu..? mas nggak pernah mikir sampe sana. Mas minta maaf kalo kamu sakit hati..", Rendra menghampiri Aira, melepaskan tangan istrinya yang sedang memegang koper. Rendra langsung memeluk istrinya.


Tangisan Aira pecah dalam dekapan hangat suaminya.


"Udah ya, mas minta maaf. Mas kayak gitu bukan mau bilang kalo kamu ini bodoh. Tapi, dunia bisnis itu bukan sekedar saling menjatuhkan, tapi kita juga udah tau sepak terjang kompetitor atau klien kita.


Masalah Sharen jangan sampe buat kita berantem. Kita cuma beda pendapat...",


Aira masih menangis.


"Kamu harus percaya sama mas. Apa yang mas lakuin, itu semata buat kebaikan Sharen..",


"Sharen berhak memilih pasangannya mas..",


"Iya mas tau, tapi nggak bisa sembarangan Ra..Sharen anak perempuan mas satu-satunya...


Jauh sebelum kamu kenal sama Rida atau Satria, mas udah lebih dulu tau siapa suami Rida.


Bahkan mas udah menutup akses perusahaan mereka untuk bisa kerja sama dengan Prime grup...",


"Itu dulu kan mas? Mereka dari keluarga baik-baik mas.., Aira tau..",


"Kita belum sepakat soal ini.


Kamu masih keras hati dan mas juga masih pada prinsip mas.


Mas nggak akan kasih restu sama hubungan Sharen...",


"Karena mas berharap Sha sama Nathan kan..? gimana sama Dewi..?",


"Kamu mau tau soal Dewi? kayaknya percuma karena kamu juga nggak pernah percaya sama mas..",


"Ya udah kalo gitu..", Aira melepaskan pelukannya.


"Kamu mau ngapain? mau kemana? ",


"Mau nungguin Sharen.., kalo mas marah sama Sharen, paling nggak ditengokin..dia lagi sakit..",


"Iya mas nanti ke rumah sakit..",


Mereka berdua berdamai, tapi masih pada keputusannya masing-masing. Daddy tim Sharen Nathan , dan Mommy lebih memilih Satria untuk bisa menjadi pasangan putrinya. Sepertinya Daddy memang harus membuka fakta yang sebenarnya di hadapan istrinya.


Ya, meskipun Rendra kecewa dengan Sharen. Tapi benar kata Aira, Rendra harus tetap memperhatikan putrinya yang katanya hanya satu-satunya. Tidak lagi, bersikap dingin Rendra langsung memeluk Sharen ketika sampai di rumah sakit.


"Daddy ngurus kerjaan di rumah, jangan mikir macem-macem..",


"Daddy marah ya sama Sha..?",


"Cuma kecewa aja, karena kamu nggak mau dengar kata Daddy...",


"Daddy mau tetap paksa Sharen untuk terima Nathan?"


"Kamu sakit kayak gini aja karena kamu baru denger kabar kalo Nathan itu punya pacar. Sebenarnya kamu cemburu kan?",


"Nggak Dad..",


"Persis kayak Mommy kamu, kapan sadarnya sih Sha..?",


"Nathan udah berubah Dad.., dia juga udah punya pacar, jadi please kasih Sha ruang...",


"Sikap Nathan itu tergantung sikap kamu ke dia Sha. Soal Dewi? nggak akan ada Dewi kalo nggak ada Satria..",


"Mas bisa kita bicarakan nanti setelah Sha sembuh..?",


"Oke..


Dan mulai besok pagi, nggak ada yang boleh jenguk Sharen . Siapapun itu, kecuali saudaranya Javas, Jaz atau Kina. Dad bakal naruh 2 orang di depan kamar, buat jaga Sharen...",


"Kayak tawanan aja..",


"Ini konsekuensi karena kalian nggak denger omongan Daddy..",


"Iya Dad..", ucap Sharen pasrah.


Berat untuk meninggalkan putranya di rumah. Tapi, tidak bagus juga untuk membawa Ze. Hari ini rencananya Kina menjenguk Kina ke rumah sakit. Kina tidak enak hati, karena terhitung sudah 2 hari kakak iparnya dirawat tapi Kina belum juga menjenguknya.


"Sebenarnya sih nggak apa-apa kalo kamu nggak jenguk, kamu kan juga baru sembuh Na..",


"Kita ke rumah sakit kan bukan cuma jenguk mbak Sharen aja mas, tapi sekalian Kina kontrol ke dokter..",


"Iya sayang..,


mau ngajak Ze..?",

__ADS_1


"Nggak usah deh mas.., dia biar di rumah aja. Kalo kata orang Jawa, lusa nanti baru dia boleh dibawa jalan-jalan keluar rumah..",


"Kenapa emangnya?",


"Ze kan udah 40 hari, lusa nanti..",


"40 hari ya? berarti udah boleh ya sayang..",


"Boleh apa..?",


Javas mengedip-ngedipkan mata genitnya.


"Ih..mas..",


"Siap-siap ya.., malam pertama untuk kedua kalinya..",bisik Javas.


Kinara hanya menyengir kuda. Membayangkan saja rasanya sudah ngilu.


"Mas.., tante Tya kan ambil cuti, rencananya lusa mau ke sini, pas 40 hariannya Ze...",


"Ya nggak apa-apa, kesini aja. Mau dijemput? suruh mamang ..",


"Rencananya mau nginep, boleh..?",


"Boleh sayang...",


"Kina bilang ke Mommy dulu ya..",


"Iya, bilang aja sama mommy, pasti dibolehin..",


"Mommy masih panas..? Kina takut..",


"Mommy nggak sakit sayang..",


"Maksudnya masih emosi.., kata mas kan kemarin abis berantem sama Daddy..",


"Kayaknya udah baikan, abis itu kan pergi bareng juga..",


"Hmmm gitu, masalah Satria sama mas Nathan lagi..?",


"Kayaknya sih gitu..",


Saat sampai di depan kamar Sharen, Kina dibuat heran dengan keberadaan dua orang yang menjaga disana.


"Ini apa mas..?",


"Biasa Daddy..",


"Kayak waktu Kina lahiran ya?takut kabur..?",


"Ya gitu..",


"Iya..,


Kalo udah protective ya kayak gini..",


"Over namanya..",


"Ya biarin..",


Masuk ke dalam ruang rawat Sharen, tapi tidak ada keberadaan Daddy, hanya Mommy yang menjaga Sharen.


"Mbak..maaf ya baru bisa jenguk..",


"Iya nggak apa-apa, kakak ngerti kok..",


"Lho.., Daddy mana mom..?",


"Keluar bentar sama Vano..",


"Oh...,


Ze diajak nggak..?",


"Di rumah mom.., kasian tadi baru tidur..",


"Yah, padahal Mommy kangen banget..",


"Javas buatin cucu kedua, gimana mom..?",


"Nggak mas..


nafas dulu, nunggu Ze umur 3 taun..", sahut Kina.


"Yah, mau ya sayang.


Bibit kita unggul loh, sayang banget kalo nggak dimanfaatin..",


"Nggak dulu mas...",


Mommy dan Sharen hanya terkekeh mendengar Javas yang sudah diultimatum istrinya untuk menunda kehamilannya yang kedua.


"Mbak.., Kina pamit dulu ya. Mau kontrol juga.., udah janjian sama dokternya..",


"Iya Na.., makasih ya..",


"Sama-sama..

__ADS_1


Mom..Kina pamit ya..",


"Iya Na..,


Mommy titip Jaz ya.., kalo rewel anterin kesini aja..",


"Jaz nggak pernah rewel kok mom.., dia pinter..",


Setelah bertemu dengan dokter, Kinara dinyatakan sehat. Hanya saja memang harus mengatur pola makan serta jam istirahatnya. Kinara sedang berada di depan Apotek untuk menebus resep.


"Nyonya Kinara....",


Namanya disebut dan Kina maju untuk mengambil obat miliknya.


"Ini diminumnya 2x sehari,


yang lainnya diminum 3x sehari sesudah makan..",


"Baik, terima kasih...",


Saat menoleh ke samping kanannya, ternyata dia mendapati seseorang yang baru-baru ini dikenalnya.


"Mbak Dewi...",


"Mbak Kina ya..wah nggak sengaja kita ketemu disini..",


"Iya..


tebus obat juga..?"


"Iya mbak..",


"Yang sakit siapa?",


"Saya..kurang enak badan aja.., jadi dikasih vitamin sama dokter..",


Kinara melirik obat milik Dewi yang baru saja dia masukkan ke dalam kantong plastik.


"Mbak Kina udah sembuh..?",


"Alhamdulillah udah..",


"Mbak Dewi sendirian, atau sama siapa?",


"Sendiri mbak..


Oh ya maaf saya buru-buru mbak.., saya duluan ya mbak..",


"Iya mbak..",


Kinara melihat Dewi berjalan menjauh darinya. Kinara yang melamun, sampai tidak sadar jika suaminya yang tadi pamit ke kamar kecil, sudah kembali.


"Na..udah..?",


"Na..obatnya udah semua?",


"Sayang...",


"Hah..., apa mas..?",


"Obatnya udah..?",


"Iya udah..., yuk pulang..",


"Kamu liatin siapa sih, sampe kayak gitu?",


"Tadi ketemu sama mbak Dewi disini, Nebus obat juga..",


"Pacarnya Nathan?",


"Iya mas..",


"Sakit juga dia..?",


"Kayaknya sih nggak..",


"Terus, ngapain?",


"Mas.., tadi bukan obat yang dia tebus, tapi vitamin..",


"Oh.., berarti nggak sakit ya..",


"Nggak..


vitaminnya sama persis sama vitamin yang selalu Kina minum sebelum ngelahirin Ze..",


"Maksudnya, vitamin apa?",


Sepanjang perjalanan Javas terus saja mengumpat ketika Kinara memberitahu maksud ucapannya.


Kinara terus berusaha untuk menenangkan suaminya.


"Mas..udah ya, tenang dulu..",


"Pokoknya, mas bakalan tanya tuh sama si Nathan.., dan Daddy juga harus tau..",


"Iya-iya, nyetirnya pelan-pelan aja ya. Kalo kenapa-napa sama kita, kasian Ze mas..",

__ADS_1


Mendengar nama Ze, membuat Javas memelankan laju kendaraannya. Rupanya, dia berpikir waras jika mengingat ada putranya di rumah yang menunggu kepulangannya.


__ADS_2