
Eljaz bersikap normal, seperti hari-hari biasa sebelum dia bertemu dengan mommy nya. Sharen juga tidak menaruh curiga sedikitpun. Justru, Javas yang sempat menginterogasi Nathan. Javas memang selalu mengecek siapa saja yang menjenguk mommynya.
"Nath.., kemarin jenguk mommy..?", tanyanya melalui sambungan telepon.
Nathan tidak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Namun, sebisa mungkin dia tenang. Mengatur nafas dan intonasi bicaranya.
"Iya Vas..,kenapa?",
"Nggak....., tumben-tumbenan kamu jenguk mommy..",
"Iya.., aku kemarin jenguk klien yang sakit. Jadi, sekalian nengokin Tante Aira..",
"Oh gitu..? oke-oke..",
"Kenapa? ada masalah..?",
"Nggak.., aku cuma lagi ngecek aja siapa yang mengunjungi mommy..",
"Oh gitu..oke Vas..
Ada lagi yang mau ditanyakan?"
"Nggak ada..
oke..makasih calon kakak ipar..",
Nathan bernafas lega. Javas ternyata tidak bertanya macam-macam. Untungnya, petugas keamanan serta tenaga medis yang bekerja tidak bercerita jika Nathan membawa serta Jaz saat itu. Yang paling membuat Nathan merasa hoki adalah Javas tidak mengecek kamera CCTV seperti yang biasa dia lakukan. Mungkin, memang Javas sudah percaya pada Nathan, Javas sedang sibuk, atau memang Dewi Fortuna sedang menanungi Nathan.
Sudah dibuat hampir jantungan dengan pertanyaan Javas yang tiba-tiba. Nathan kembali meneruskan pekerjaannya. Dia menuju ruangan Sharen untuk meminta tanda tangan.
"Jaz kok tumben nakal? ayolah ganteng..",
"................",
"Kan Jaz biasanya semangat kalo pergi les. Ketemu temen banyak.., eh kan nanti ada temen Jaz yang cantik itu, siapa sih namanya..Hmmm.., Cla apa Cia sih namanya, yang lucu itu..?",
"................",
"Jaz.., jangan gitu dong..Moma kan lagi kerja sayang..",
".....…........",
"Mau dianter sama Dad aja? atau kak Javas? naik motor ya? duduk di depan..pake helm yang Moma beliin..",
".............",
"Ya udah.., kalo gitu Jaz bolos les aja..", ucapnya pasrah.
Nathan memperhatikan raut muka Sharen yang terlihat kesal. Mulutnya cemberut saking kesalnya.
"Kenapa?",
"Nggak apa-apa..
Dimana? disini..?", ucapnya dengan membubuhkan tanda tangannya di atas berkas yang di bawa oleh Nathan.
"Kenapa sih? kok mukanya ditekuk gitu?",
"Ini lho.., Jaz mogok les.., karena sopir yang biasanya nganter dia, nggak masuk karena sakit. Dianter sama sopir yang lain tapi dia nggak mau..",
"Ya udah.., namanya juga anak kecil.., mungkin Jaz lagi capek. Anak sekecil itu tapi kegiatannya udah banyak..",
"Dia enjoy kok..",
"Mungkin Jaz bosen...",
"Iya mungkin.., tapi dia nggak biasanya kayak gini. Kalo les tuh selalu semangat, apalagi hari ini les berhitung. Dia paling suka sama matematika..",
"Hmm.., gitu..?",
"Tadi dia bilang, mau les kalo dianter sama kamu..",
"Lho..? iya kah? ya udah.., biar aku aja yang antar..",
"Kamu kan masih kerja Nath.., lagian ini bukan tugas kamu..",
"Nganterin Jaz pergi les, juga termasuk kerja kan? apa yang kamu suruh, berarti itu tugas aku Sha.., kamu kan atasan aku..",
"Janganlah Nath.., aku nggak enak sama kamu.."
"Kayak sama siapa aja.., udah biar aku aja yang nganter..",
"Beneran nggak apa-apa..?",
"Beneran.., oke aku berangkat kerumah sekarang jemput Jaz ya?",
"Oke..
eh Nath.., gimana secret admirerku? udah ketemu orangnya?",
"Nggak Sha.., misterius..",
"Ckckck ya udah deh kalo gitu..,
tapi tetep cari ya Nath..",
"Iya.., nanti kalo ada perkembangan, aku kabarin. Ya udah, aku pergi dulu ya Sha..",
"Oke..hati-hati ya..
Bilang sama Jaz.., momanya marah..",
"Jangan galak-galak.., kasian Jaz masih kecil..",
Jaz ternyata cerdas. Anak sekecil itu ternyata mempunyai 1001 agar bisa pergi bersama Nathan. Sepertinya Nathan sudah tau apa yang Jaz inginkan.
"Kita ke rumah sakit ketemu mommy.., oke kak?",
"Jaz sengaja ya?",
"Iya.., Jaz pengen ketemu sama mommy.., Jaz mau cerita..",
"Kalo Moma Sharen tau kalo kita ketemu mommy, gimana?",
"Kak Nathan kan udah janji, mau bawa Jaz ketemu mommy. Jaz kangen kak...",
"Oke.., tapi sebentar aja ya, kita punya waktu sedikit..",
"Bilang aja antri..",
"Emang gitu..?",
"Iya.., siapa yang duluan sampai, dia yang diajarin sama Miss..., kalo datengnya telat, nunggu dulu..",
"Berarti siapa cepat, dia dapat?",
"Iya kak..",
"Hmmm.., oke.
Kita ketemu dulu sama mommy.., habis itu kita les. Berarti.., satu jam kita ketemu sama mommy, satu jam Jaz les.., oke?",
"Oke..",
"Let's go..",
"Susnya nggak ikut kan?",
"Nggak usah..",
Nathan terpaksa membawa Jaz untuk membesuk mommynya dengan cara diam-diam seperti sebelumnya.
Untuk anak seusianya, Jaz tergolong anak yang cerdas. Bukan hanya pola pikirnya, tapi mentalnya yang sudah kuat dan tertata. Dia bahkan tidak menangis, meskipun mengaku sangat sedih melihat Mommynya yang sedang terbaring lemah.
__ADS_1
Nathan serius mendengarkan Jaz bercerita. Berkali-kali Nathan membuang tawanya ketika dia mendengarkan cerita Jaz yang terdengar sangat lucu. Jaz bercerita banyak, dari mulai kegiatannya hari itu, teman-temannya hingga suster Sri dan Nathan yang kala itu ikut menjadi obyek ceritanya. Katanya, Sri dan Nathan adalah orang yang sangat baik kepadanya.
"Mommy.., cepetan bangun ya. Jaz pengen banget dimasakin sama mommy. Apa aja mom.., sayur Jaz suka, kue pasti Jaz makan.., asal jangan makanan yang pedas mom.., nanti Moma Sharen marah, katanya makanan pedas buat perut Jaz sakit..",
"Jaz.., ayo..udah waktunya les..",
"Bentar lagi kak..",
"Kita udah lama disini..,
oke lima menit lagi ya..",
"Mom.., kenapa Moma Sharen nggak pernah cerita kalo mommy ada disini lagi sakit? ",
"Karena Moma Sharen nggak pengen Jaz jadi bingung..",
"Bingung kenapa? Jaz kan tau mommy Aira itu ibunya Jaz, kalo Moma Sha itu kakak Jaz kan?",
"Iya.., pinter.
Jaz nggak marah kan sama Moma?",
"Nggak.., Moma kan udah ngerawat Jaz dari kecil.., iya kan kak?",
"Iya.., betul..
Kalo sama Daddy sama mommy Aira?",
"Jaz sayang banget..",
"Sama kak Javas?",
"Hmmm, Jaz nggak suka kalo kak Javas marah..",
"Jadi nggak sayang..?",
"Sayang.., tapi sedikit aja..",
"Nggak boleh gitu.., kak Javas kan kakak Jaz juga..",
"Iya sih...",
"Kalo sama kak Nathan?",
"Sayang dong. Kak Nathan baik...banget. Udah mau nemuin Jaz sama mommy Aira..",
"Kalo gitu, Jaz nurut dong apa kata kak Nathan. Kita pergi sekarang yuk..?",
"Oke..,
Mommy.. Jaz pergi les dulu ya.., besok kita ketemu lagi, Jaz besok kesini lagi ya mom..",
"Kok besok?",
"Besok Jaz ada les bahasa Inggris, kak Nathan anterin Jaz lagi ya..",
"Yah.., nanti ketahuan dong Jaz..",
"Nggak kak.., nanti Jaz aja yang bilang sama Moma Sha. Jaz les berhitung kesini, les bahasa Inggris juga kesini, Jaz juga ada les renang, kak Nathan anterin kesini juga ya..?",
"Jaz kangen banget ya sama mommy?",
"Iya kak.., Jaz kan baru liat mommy.., baru tau kalo ada mommy..",
"Kasian kamu..",ucapnya mengacak rambut Jaz.
Jaz mendongakkan kepalanya sambil tersenyum polos. Yang membuat Nathan semakin iba kepadanya.
"Nanti kak Nathan cari cara dulu ya. Kak Nathan pikirin lagi.., oke..",
"Mommy.., Jaz pamit dulu ya..", pamitnya dengan mencium pipi Aira.
"Tante.., Nathan pergi dulu. Nathan janji, besok bawa Jaz kesini lagi. Nathan pasti jagain Jaz...",
Tidak ada kecurigaan dari Sharen. Karena Jaz juga bersikap biasa. Semuanya berjalan normal. Namun, Sharen merasa sedikit aneh karena adiknya terus saja meminta untuk diantar oleh Nathan.
"Kak Nathan baik.., Jaz dibeliin es krim..",
"Ya udah, Moma nanti kasih uang lebih. Jaz bisa beli es krim sebanyak-banyaknya..",
"Nggak mau.., Jaz tetep mau dianterin sama kak Nathan..",
Nathan tentu saja tidak keberatan. Memang ini tujuannya. Mengantar Jaz, namun terlebih dahulu mampir untuk menjenguk Aira.
Kali ini Jaz sedikit memaksa. Tidak mematuhi kesepakatan yang sudah Nathan buat bersamanya. Jaz tidak mau membagi waktu. Tiba-tiba mogok les karena mengaku sangat ingin bersama mommynya.
"Ayo Jaz.., ini udah waktunya..",
"Jaz mau disini aja.., kak Nathan aja yang gantiin Jaz les..",
"Lucu kamu.., kak Nathan itu udah fasih bahasa Inggris, kakak aja lulusan luar negeri...",
"Kalo gitu, Jaz nggak perlu les ya.., cukup diajarin sama Kak Nathan aja..",
Beribu rayuan Nathan keluarkan, namun tetap tidak menggoyahkan keinginan Jaz untuk bersama Aira. Dan, Nathan akhirnya menyerah dan membiarkan Jaz untuk bolos les. Berdoa, semoga Sharen tidak mengetahui hal ini.
"Nath.., Jaz hari ini les renang. Dia nggak mau berangkat lagi, kalo bukan kamu yang nganter..",
"Oke Sha.., nggak apa-apa. Biar aku anter..",
"Nath.., tapi kamu seharian ini udah bolak balik, proyek kantor, belum lagi meeting di luar..",
"Nggak masalah.., selesai nganterin les Jaz kan aku bisa langsung pulang..",
"Ini bukan tugas kamu. Sumpah.., aku nggak enak sama kamu Nath..",
"Jaz itu udah kayak adik aku sendiri Sha.., santai lah..",
"Hmmm.., kenapa kamu kayaknya seneng banget sih nganterin Jaz, ada apa?",
"Adik kamu lucu..",
"Hmmm.., jangan bilang.., kalo kamu semangat nganterin Jaz karena bisa ketemu sama susternya Jaz..",
"Hah..?",ucapnya kaget. Namun, ini adalah kesempatan agar perhatian Sharen bisa teralihkan.
"Hmmm.., ya iya salah satunya itu..",
"Nath..!! kamu udah punya pacar.., kasian Luna..",
"Iya terus kenapa? Cuma iseng doang..",
"Jangan macem-macem deh..",
"Udah dulu ya.., aku pergi. Kasian Jaz pasti nunggu aku..",
Nathan membawa Jaz untuk keempat kalinya tanpa sepengetahuan Sharen ataupun yang lainnya. Sebenarnya, penuh resiko. Tapi, lagi-lagi hati nuraninya tergerak untuk membantu Jaz . Nathan tidak tega. Melihat wajah Jaz yang langsung cerah ketika bertemu dengan Aira membuat nya ikut bahagia.
"Kakak bisa renang nggak?",
"Bisa dong.., hampir tiap hari kakak renang di rumah..",
"Jaz nggak usah renang aja ya. Di ajarin kak Nathan aja..",
"Nggak Jaz.., kali ini kamu harus pergi. Kemarin kamu udah bolos les bahasa Inggris..",
"Jaz masih kangen sama mommy..",
"Kalo Jaz nggak mau pergi sekarang, kak Nathan nggak mau nganterin lagi..",
"Sebentar lagi ya kak..",
"No.., kita udah terlambat..",
__ADS_1
Sepeninggal Nathan dan Jaz. Jari Aira bergerak, sepersekian detik. Namun, sayangnya hal ini tidak dilihat oleh Nathan maupun Jaz.
Nathan terus menginjak gasnya. Membunyikan klaksonnya agar mobil yang menghalangi memberinya jalan. Hal itu, dia lakukan untuk mengejar waktu agar cepat sampai di salah satu Apartement tempat Jaz akan mengikuti kegiatan renang. Namun sial, mereka malah bertemu dengan guru les yang sudah berganti dengan pakaian.
"Jaz.., kamu telat hari ini. Setengah jam yang lalu udah selesai. Ini bapak mau pulang..",
"Yah..",
"Mas.., nggak bisa minta tolong ya. Minta jam ekstra.., nanti ada tambahan biayanya..",
"Maaf mas.., saya sudah umumkan di grup WhatsApp kalo les renang hari ini jamnya dimajukan. Saya ada keperluan mendesak..",
"Gitu ya.., ya udah..",
Nathan bingung. Kali ini, sepertinya usahanya akan diketahui oleh Sharen.
"Tuh kan, apa Jaz bilang. Nggak usah les..",
"Seneng ya kamu..kakak lagi bingung.. kalo kita pulang, pasti ditanya. Kok rambut kamu kering?",
"Kita renang beneran aja..",
"Ckckck Jaz.., kamu tuh ya nakal...",
Sharen menunggu kedatangan Nathan ke ruangannya. Wajah Sharen kecut, namun masih terlihat sangat cantik seperti biasa.
"Sha.., kamu manggil aku..?",
"Kamu sama Jaz dua hari kemarin, kemana aja?",
"Pergi les kan.., emang kemana?",jawabnya dengan berusaha menetralkan suara dan mimik wajahnya.
"Bohong.., aku tau..",
"Darimana kamu tau kalo aku bohong?",
"Miss yang ngajarin Jaz bilang kalo dia nggak dateng, padahal udah ditunggu... Terus lagi.., guru renangnya Jaz juga bilang, kemarin kalian telat sampe. Padahal, aku kan udah bilang kalo jamnya dimajuin Nath..Jaz.. kamu bawa kemana aja?",
"Nggak kemana-mana.., pas les bahasa Inggris Jaz pengen makan es krim. Ya udah, aku bawa dia ke mall..",
"Bohong.., Jaz bilang kalian nonton..",
"Iya habis makan es krim, aku nonton sama Jaz..",
"Kamu bohong lagi Nath.., Jaz nggak pernah bilang apa-apa. Aku sama sekali nggak tanya ke dia...",
"Tapi aku emang ke mall Sha..",
"Terus kemarin, kamu bawa Jaz kemana? rambut Jaz basah waktu pulang..",
"Renang di rumah ku..",
"Bohong..., waktu les renang.., aku ada di rumah kamu ketemu sama Tante Farah. Nggak ada kamu.., apalagi Jaz ..",
"Sha.., aku bisa jelasin..",
"Kamu bohong Nath. Aku tau kamu bawa Jaz kemana.., Javas udah cerita..",
"Cerita apa?",
"Kamu nengokin mommy, kamu bilang ada klien yang sakit. Tapi, aku tanya sama Om Aldo nggak ada klien kita yang sakit. Kamu bawa Jaz ketemu sama mommy kan Nath..?",
Nathan diam. Namun, dia masih berani menatap wajah Sharen yang terlihat sangat kecewa.
"Nath.., jawab...!!!!",
"Iya Sha.., aku bawa Jaz ketemu sama Tante Aira..",
"Berapa kali?",
"Empat..",
"Empat Nath..?",
"Iya..",
"Keterlaluan kamu Nath..",
"Jaz liat foto kalian berempat di hape kamu. . Om, Tante, kamu sama Javas. Dia bingung, dia penasaran sama perempuan yang terlihat mesra sama Om Rendra..",
"Kamu bisa bilang kalo itu saudaranya Daddy..",
"Terus kalau Jaz tanya, kenapa dia nggak pernah liat. Aku harus jawab apa? Bilang kalo dia udah meninggal?",
"Kamu kan bisa bilang dia keluar negeri atau apa..",
"Jaz perlu tau siapa mommynya. Sha.., andai aja kamu liat wajah bahagianya Jaz setelah ketemu sama mommynya. Mungkin kamu akan merasa bersalah karena berusaha sembunyiin ini semua..",
"Aku memang udah anggep kamu sebagai sahabat, bahkan saudara. Tapi, kali ini kamu udah kelewat batas Nath..",
"Aku melakukan ini atas dasar kemanusiaan Sha..",
"Kalo suatu saat nanti, hal yang nggak pernah aku bayangin dalam hidup aku datang, aku harus ngomong apa sama Jaz? Aku harus bilang kalo mommy-nya koma karena melahirkan Jaz dan akhirnya meninggal? gitu..? kamu bayangin nggak hancurnya Jaz nanti gimana? cuma itu yang aku pikirin Nath.., cuma itu..!!!",
"Tante Aira pasti sembuh Sha..",
"Kalo ternyata sebaliknya? kamu mau tanggung jawab? cukup Daddy, Javas, aku aja yang hancur.., Jaz jangan Nath..",ucapnya dengan penuh emosi.
Nathan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Akhirnya, usahanya membuahkan hasil.
Sharen mendekati adiknya yang sedang mengintip di balik pintu kaca. Meskipun kurang jelas, tapi mereka bisa melihat Mommynya sedang diperiksa oleh tim dokter.
"Vas.., mommy buka mata?",
"Iya kak.., mommy buka mata, mommy bisa gerak..",
"Sha..",
"Dad.., mommy buka mata dad..",
Menunggu hampir setengah jam, akhirnya tim dokter keluar.
"Dok, gimana istri saya..?",
"Sebuah mukjizat, akhirnya ibu Aira sadar dari komanya. Sebenarnya, peluang hidupnya sangat amat kecil. Namun, Tuhan menunjukkan kuasanya. Kami masih harus observasi mengenai keadaannya..",
"Istri saya sudah bisa komunikasi..?",
"Ada yang namanya Natha disini?", tanya dokter.
"Nggak ada dok, kalo Nathan ada. Kenapa?", jawab Javas.
" Mungkin itu maksudnya. Ibu Aira tadi memanggil nama itu..",
"Boleh kami masuk?",
"Boleh.., tapi tolong Ibu Aira jangan diajak komunikasi terlalu banyak..",
"Baik dok..",
Keduanya masuk. Sharen dan Rendra tidak sabar untuk menemui Aira. Sedangkan Javas langsung mencoba menghubungi Nathan agar pergi ke rumah sakit.
"Sayang.., Ra.., kamu sadar sayang..",
"Na- than..",ucapnya terbata.
"Mommy mau ketemu sama Nathan? Javas udah manggil dia kesini mom..",
Daddy Rendra, Sharen dan Javas tidak kuasa lagi membendung tangisnya. Ketiganya bahagia, bercampur haru.
Dengan tergopoh, Nathan berlari agar sesegera mungkin sampai di ruangan Aira. Nathan langsung menuju ke rumah sakit setelah ditelepon oleh Javas. Namun, dia tidak lupa membawa sesuatu untuk dia tunjukkan kepada Aira.
__ADS_1
"Tante Aira..", ucap Nathan . Rendra , Sharen dan Javas kompak menoleh ke arah pintu karena kedatangan Nathan yang tiba-tiba.
"Jaz....", ucap Sharen.