
Melihat Dave bersama Lila, membuat dadanya sesak, jantungnya berdetak kencang, kepalanya mendadak menjadi pusing. Lama-lama Sharen bisa mati berdiri jika terus-terusan berada di sana. Segera pergi, tanpa berpamitan dengan Icha yang sedang berada di dalam kamar.
"Cha.., kakak pulang aja ya.., tiba-tiba pusing banget..",
Sialnya, Sharen lupa kalau ponsel Icha low bat.
Sharen terus berjalan. Sebenarnya ada rasa takut ketika dia memutuskan untuk pulang, apalagi berjalan kaki seperti ini. Uang sepeserpun, Sharen tidak memegangnya karena tasnya tertinggal di kamar Icha. Tidak ada pilihan lain selain meneruskan perjalanannya.
Langkah Sharen semakin cepat ketika dia menyadari jika ada seseorang yang membuntutinya. Jalanan sepi, karena malam sudah mulai larut.
Sharen dengan sangat tergesa-gesa. Sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Sha terus berdoa dalam hatinya, semoga saja dia selamat sesampainya di Apartement.
Sharen berjalan dengan kedua tangannya yang saling berpegangan.Cuaca malam itu sangat dingin, dan apesnya jaket yang tadi dia bawa masih berada di kamar Icha.
Sharen semakin takut, karena orang yang membuntutinya semakin mendekat. Apalagi, orang itu berjenis kelamin laki-lakuli. Sharen melihatnya dari bayangan badannya . Sharen memejamkan matanya ketika laki-laki itu berada tepat di belakangnya. Sepertinya ingin membekapnya dari belakang. Namun, perkiraannya salah, karena justru sebuah jaket menutupi pundaknya.
"Kamu pengen uji nyali..? ini Aussie bukan di Indo..., udah malem gini tapi pulang jalan kaki sendirian...",
Hampir saja jantungnya copot. Suara yang sangat Sharen kenal.
Sharen menoleh ke belakang, dan pemuda itu masih tetap stay cool. Mengomel , tapi tanpa sedikitpun memandang Sharen.
"Aku nggak butuh jaketnya, nih..." Sharen melepas jaket yang Dave kenakan pada pundak Sharen.
"Nggak usah ngeyel, pake aja. Daritadi aku liat kamu kedinginan..",
"Sok tau..",
"Berhenti bentar..",
"Nggak...",
"Belvanya....!!!!", ucapnya mengintimidasi.
Dan, spontan membuat Sharen ciut nyali, dia menghentikan langkahnya.
"Kenapa keras kepalanya, belum ilang juga sih..?", ucap Dave. Dia memakaikan jaket pada Sharen, namun kali ini dengan cara yang benar. Kedua tangan Sharen masuk ke kedua lengan, tak lupa Dave menutup reselting jaketnya.
"Masih Peduli...?", tanya Sharen. Beraninya dia memandang Dave dengan tatapan tajam dan dalam.
Dave masih memasang wajah coolnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba kabur kayak gitu..? nggak pamit, nggak bilang sama Icha, dia khawatir sama kamu..",
"Terus buat apa aku disana? Liat kamu sama gebetan baru kamu, gitu...?",
"Gebetan baru..? siapa? Lila...?",
"Ya nggak tau..",
"Kenapa? kamu keberatan?",
Sharen mencoba menetralkan nafasnya, namun gagal. Dadanya naik turun dengan cepat dan jelas.
"Kalo aku bilang iya, kamu keberatan..?",
"Kenapa harus keberatan?",
__ADS_1
Sharen diam.
Mereka berdua saling pandang.
"Selama ini kamu juga bebas kan deket sama laki-laki lain? Kenapa aku nggak boleh deket sama perempuan selain kamu?",
Sharen masih diam, ingin menumpahkan seluruh isi hatinya tapi mulutnya terasa kelu.
"Kasih aku alasan, kenapa tadi kamu tiba-tiba pergi...",
"Aku pengen pulang aja.., udah malem..",
"Pulang jalan kaki sendiri ditengah malam kayak gini? Konyol...",
"Daripada harus liat kamu sama Lila..? mending aku pulang...",
Dave tersenyum licik.
"Kamu cemburu..?",
"Nggak.., tapi nggak suka aja..",
"Takut kalah saing...?",
Sharen ingin sekali menampol mulut Dave, tapi rasa sayangnya jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa kesalnya.
"Silahkan kalo kamu mau sama perempuan lain, aku nggak apa-apa..."
"Oke..,
aku nggak akan berjuang lagi buat kamu. Daddy , satu-satunya orang yang dukung aku selama ini pun nggak percaya kalo aku bisa jagain kamu. Aku capek, dan kamu berhak mendapatkan laki-laki yang lebih dari aku..",
Dave sedikit kaget dengan ucapan Sharen.
"Kamu pikir, selama ini kamu sendiri yang berjuang? aku juga Nath....,
Aku sakit waktu denger mama kamu, malah bahas perempuan lain, sedangkan disitu ada aku. Mama kamu malah berniat jodohin kamu sama anak temannya. Padahal, mama kamu tau kalo kita ini lagi mencoba untuk lebih dekat..
Mommy selalu bilang kalo dia khawatir kalo kita ini punya hubungan lebih dari ini. Mommy tau kalo mama kamu nggak suka sama hubungan kita..,
Dari situ aku berpikir ulang mengenai hubungan kita..",
"Kenapa kamu nggak pernah bilang soal itu..?",
Sharen tidak merespon pertanyaan Dave. Dia masih ingin menumpahkan isi hatinya.
"Aku mencoba buat terima Satria, waktu itu. Berharap aku bisa mengalihkan rasaku buat kamu. Tapi, aku salah.., nggak segampang itu Nath. Aku emang munafik, aku egois dan aku bodoh karena baru sadar setelah kamu nggak ada. Aku nyesel, tapi nggak ada gunanya karena kamu udah sama Dewi..",
"Sha.., tapi aku sama Dewi nggak ada hubungan apa-apa, aku sekalipun nggak pernah sentuh dia..,, anak itu bukan anakku. Sha..",
"Kamu tau Nath? kenapa aku memutuskan ke Aussie? Karena aku mau buka lembaran baru disini, berharap aku lebih happy disini. Tapi, ternyata aku salah. Aku menghindar dari kamu, tapi justru kita ketemu disini.."
Aku berharap hubungan kita membaik, meskipun mungkin rasa yang kamu punya buat aku, nggak lagi sama. Tapi, justru beberapa kali aku mendapatkan penolakan. Kamu cuek, kamu dingin dan kamu jahat..!!!!!",
Sharen lantas berlari masuk ke dalam gedung Apartementnya. Kali ini, Dave tidak membiarkan Sharen pergi, dia berlari mengejar Sharen yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift. Melihat lantai yang menjadi tujuan Sharen, Dave langsung berlari menuju tangga darurat berniat menyusul Sharen.
"Sha.., tunggu Sha...",
__ADS_1
Sharen berlari, dia ingin masuk ke dalam Apartemennya, namun pintunya sudah terlebih dahulu diganjal oleh tangan Nathan.
"Apalagi..?",
"Kita belum selesai bicara..",
"Bicara apa..?",
"Kamu punya perasaan yang sama kayak aku..?",
"Perasaan apa..?",
"Jangan kayak orang bodoh...",
"Iya aku bodoh.., karena masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu. Aku bodoh karena sayang sama kamu, aku bodoh karena aku cinta sama kamu...",
Sharen menumpahkan isi hatinya, dia juga menumpahkan air matanya. Sharen menangis, dia masuk ke dalam Apartemennya dan kali ini tanpa mendapatkan cegahan dari Dave yang masih mematung setelah mendengar ucapan dari Sharen.
"Sampai saat ini pun aku masih sangat mencintai kamu Sha..",
Ingin sekali saat ini memeluk dan menenangkan Sharen, tapi Dave memilih meninggalkan Apartement Sharen dan membiarkan gadisnya agar jauh lebih tenang.
Dave merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, sambil berpikir.
"Mungkinkah ini jalannya? apakah kisah kita kali ini akan berjalan lancar, Sha..?",
Dave sampai lupa satu hal yang ingin dilakukannya dari tadi. Menelepon seseorang.
"Halo.., kenapa kamu nggak bilang kalo Share juga disini..?",
"Heh curut.., emangnya aku tau kalo kamu minggat ke Aussie..? nomor lu juga sok-sokan ganti.
Coba aja lu disini, udah aku ajakin tanding di ring tinju. Pengen banget tuh nabok muka lu..",
"Seharusnya aku yang marah, bukan kamu..",
"Marah kenapa?
Kamu mau marah? atau mau nyuekin perempuan yang jelas-jelas cinta sama lu..? sok jual mahal, padahal dulu nya kamu ngejar mati-matian. Nggak inget lu? pikun? atau amnesia..",
"Gimana kabar lu..?",
"Sangat baik.., Dave Nathaniel Adyasta..",
Inget..emak lu tuh tiap hari nangis-nangis karena anak satu-satunya ilang. Tega lu sama Tante Farah..?",
"Hmmm..iya besok aku kasih kabar ke mereka..",
"Ya udah, ada angin apa tiba-tiba kamu telepon..?",
"Nggak apa-apa, cuma mau ngabari kalo disini, aku baik-baik aja..",
"Dih..siapa juga yang peduli.
Anak perawan orang noh, jangan dibuat nangis lagi.., kasian...",
"Iya-iya, kalo kali ini dia ngomong mau, bakalan langsung aku lamar..",
__ADS_1
"Beneran ya, awas aja kalo dia ngadu ke gue kalo lu nyuekin dia lagi. Ganti aja noh celana lu sama rok..",
"Iya-iya, cerewet kayak mbok jamu lu..",