
"Nathan..Nathan..Nathan..
Daddy kan udah punya anak laki-laki, 2 malahan...",
"Liat adik kamu..,
Javas tuh..udah sibuk sama istrinya, udah punya kehidupan sendiri.., Jaz.. adik kamu yang satu itu emang masih kecil, tapi tingkahnya kayak orang dewasa. Liat aja gayanya, berlagak kayak mau nyopir mobil..., riweuh sendiri...",
"Iya..tapi kenapa Nathan sih Dad..., males Sha..",
"Kenapa? kamu nggak mau ketemu sama dia?",
"Iya..",
"Takut baper?",
"Aaa...nggak tau ah, Daddy mah gitu..", ucapnya yang langsung menjauh dari Daddy. Sharen langsung menuju sepedanya.
"Daddy..sukanya godain anak gadisnya aja..",
"Lucu sayang.., dia emang sulung. Tapi, tingkahnya kayak adiknya Javas aja..kayaknya dewasa nya udah dihabisin waktu ngurus Jaz, waktu kamu sakit dulu..",
"Iya ya mas.., ya nggak apa-apa, makanya kita manjain dia sekarang...",
"Kamu nggak mau punya menantu kayak Nathan?",
"Ribuan bahkan jutaan laki-laki di Indonesia, kenapa harus Nathan? kayak nggak ada yang lain aja..",
"Yang ganteng, kaya, baik.., emang banyak. Tapi, yang mas percaya cuma Nathan, dia yang bisa jagain anak perempuan mas, seperti mas jagain Sharen.., nggak ada yang lain..",
"Pasti ada.., emang belum nemu aja..",
Aira diam. Berdebat kecil dengan suaminya takut membuatnya bad mood. Lebih baik, mengalah saja. Toh, Sharen juga sepertinya enggan untuk dekat dengan Nathan.
__ADS_1
"Tuh...Nathan mas..", ucap Aira .
Nathan datang, menggunakan sepedanya.
"Kalo diliat, Nathan cakep juga ya mas..",
"Emang dia ganteng, kamu kemana aja?",
"Ya, selama ini Aira pikir cuma mas aja yang ganteng...",
"Kalo itu sih pasti..",
Nathan memberikan salamnya kepada kedua orang tua Sharen.
"Pagi Om..
Pagi Tante..
Maaf Nathan agak telat..",
Nathan melihat ke arah Sharen, namun dibalas gadis itu dengan tatapan kesal. Nathan membalasnya dengan senyuman nakal.
Javas dan Kina yang menggunakan sepeda tandem, berada di urutan paling depan. Disusul dengan Mommy dan Daddy. Sharen yang dijaga ketat oleh Nathan, berada di urutan paling belakang. Jangan tanya Jaz, dia asyik sendiri bersama mamang, menaiki mobil Porsche milik Javas. Dengan rute yang Jaz tentukan sendiri.
"Nanti ketemuan di taman ya sayang...", ucap Mommy pada Jaz yang berbelok ke kiri, sedangkan rombongan keluarga berbelok ke kanan.
"Oke mommy..., bye...",
"Woy bocil..mau kemana..", teriak Javas yang tau jika adiknya malah memilih jalan berlawanan arah.
Sharen bungkam seribu bahasa. Dia malas berbicara pada orang yang berada disampingnya. Entah jampi-jampi Mbah dukun mana yang dia miliki, sehingga Daddynya bersikap seperti ini. Sampai-sampai bersepeda saja harus mengundang dirinya.
"Capek..?", tanya Nathan.
__ADS_1
Sharen menggeleng.
"Kalo capek, bilang ya..",
"Mau apa? mau dibonceng?",
"Nggak..digendong aja..",
"Ckckck...",
"Serius.., ini rutenya lumayan jauh loh..",
"Mommy aja kuat, masa aku nggak..",
"Tante Aira sih kuat, kalo kamu mungkin nggak, kan mageran..",
"Ye.., siapa bilang.., aku kuat. Mo taruhan?",
"Mau..., apa taruhannya?",
"Kalo aku menang, janji kita kayak gini ya. Jangan berharap bisa deket sama aku, lebih dari sahabat...",
Nathan berpikir sejenak.
"Gimana?", tanya Sharen.
"Oke.., tapi kalo aku yang menang, janji kamu mau ngikutin aku? terima aku.., kasih kesempatan untuk bisa buat kamubalas cintaku Sha..",
"Kok gitu.., curang...",
"Kok curang, kan sama kita...",
Sharen terlihat berpikir sejenak, dan akhirnya dia.
__ADS_1
"Oke.., deal...",
Sebuah keputusan berani yang diambil baik Nathan maupun Sharen karena beresiko sangat besar mengenari perasaan mereka berdua. Tapi, mari kita lihat. Siapa yang menang. Sharen atau Nathan?