
"Sha...",
Tama membangunkan Sharen yang masih tidur. Jika dilihat, Sharen tidur dengan sangat lelap. Ucapannya tidak di respon, Tama lantas keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya. Tama menunggu, sampai Sharen bangun.
"Kenapa pak?", tanya security.
"Ini mbak Sharennya lagi tidur pak, nggak tega bangunin.."
"Oh..saya kira kenapa pak..",
"Saya boleh numpang disini nggak pak? sambil nunggu mbak Sharennya bangun..",
"Iya nggak apa-apa.., silahkan mas..",
Menunggu hampir 30 menit dan akhirnya Sharen keluar dari mobilnya. Tama buru-buru mematikan batang rokok ke 2 nya, padahal baru saja dia sulut. Dia segera berlari menuju mobil.
"Udah bangun..?",
"Kenapa nggak dibangunin sih Tam..",
"Nggak tega aku..",
"Hmmmmm...gitu deh.
Kalo diperhatiin kayak gini...Aku rela jadi selingkuhan kamu deh Tam..",
"Jangan kumat lagi gilanya...",
"Hehehe.., aku masuk dulu ya. Mau ikut atau nungguin disini..?",
"Lama atau sebentar..?",
"Sebentar paling 15 menitan..., abis itu pulang..kamu bisa kencan tuh sama Lisa..",
"Oke deh,
makasih loh....",
"Sama-sama..",
"Ya udah, aku tungguin disini aja deh kalo gitu..",
"Oke..",
Hanya sekitar lima belas menit saja berada di butik. Sharen meminta Tama untuk mengantarnya pulang.
"Sha..mau langsung pulang..?", tanya Tama.
Meskipun mengaku sedang baik-baik saja, tapi nyatanya Sharen meminta Tama untuk mengecilkan AC mobil.
"Iya pulang, kemana lagi emang..?",
"Nggak mau mampir makan? atau take away apaan gitu? kamu dari tadi belum makan loh..",
"Kamu laper..? makan di rumahku aja deh nanti ya..",
"Bukan aku, tapi kamu...",
"Aku tadi nyobain martabak telur punya nya orang butik, lumayan buat ngeganjel perut...",
"Ya udah..
mampir apotek..?",
"Buat apa? kan aku udah bilang baik-baik aja Tam..",
"Ya abisnya daritadi kamu rebahan gitu.
Untungnya imanku kuat..",
"Emangnya berani macem-macem..?
Berani sama Daddy? ",
"Ya enggak sih, aku juga nggak nafsu sama kamu..",
"Idih..gayanya selangit..",
"Sha...",
"Hmmmm...",
"Coba pikirin lagi deh, masih ada waktu Sha..",
"Apaan?",
"Kamu sama Nathan.."
"Apaan sih? kenapa emangnya..?",
"Kamu lemas, letih, lesu kayak gini, pasti karena kepikiran sama hubungan Nathan Dewi kan?",
"Nggak..., tapi karena aku anemia, lemah letih lesu.., nanti aku minum Toni*Kum...",
"Elah nih perawan, dikasih tau malah ngelawak..",
"Siapa juga yang ngelawak..",
"Kalo kamu jawab iya, aku yakin kalian bakal ke pelaminan...",
"Aku bukan pelakor Tam...",
"Emang ada yang bilang..? nggak kan?
Nathan deket sama Dewi, itu juga pasti karena dia berusaha move on dari kamu. Bertahun-tahun dia nunggu kamu, tapi segampang itu dia lupain kamu? nggak mungkin Sha...",
"Ya nggak tau juga, tanya dong sama Nathan..",
"Ini juga gara-gara kamu deket sama Satria baja hitam itu..",
"Tam, udah kenapa sih ceramahnya..",
"Bukan ceramah, tapi aku tuh ngasih kamu masukan Sha.., aku sahabat kalian. Jadi, pengen liat kalian itu bahagia..",
"Mungkin udah saatnya Nathan untuk nyerah Tam..
Karena percuma dia nunggu aku lagi...",
"Belum terlambat Sha..
Akhiri hubungan sama Satria, dan bilang ke Nathan kalo kamu sebenarnya juga punya perasaan yang sama ke dia..",
Sharen menggeleng.
"Kenapa? kamu malu? gengsi? atau emang kamu nggak punya perasaan sama dia?",
__ADS_1
"Nathan berhak memilih jalannya sendiri...",
"Sha...",
"Shhuutttt..udah Tam..
makasih banget kamu udah ingetin aku.., tapi jawabanku tetep sama. Aku sama Nathan nggak bisa sama-sama, dan aku juga udah nggak mau coba lagi..",
"Oke..
Tapi inget Sha.., kamu juga berhak bahagia, jangan siksa diri kamu kayak gini..",
Sha tersenyum tipis. Ya, Tama kini adalah satu-satunya teman yang bisa dia ajak untuk mengobrol. Tama bukan hanya sekedar sopir pribadinya, tapi sahabat sekaligus teman curhatnya.
"Makasih Tama..aku masuk dulu ya..
kamu boleh pulang...",
"Beneran kan kamu nggak mau kemana-mana lagi..?",
"Nggak kok.., aku mau istirahat aja..",
"Jangan lupa minum obat Sha..",
Sharen mengangguk. Dia keluar dari mobil langsung masuk ke dalam rumah.
"Bik...bik...", ucapnya setengah berteriak.
Dua Maid nampak tergopoh menghampiri Sharen. Tidak seperti biasa Nona Muda pulang dan langsung memanggil mereka.
"Iya non..",
"Bik..tolong dong buatin jahe anget..gelas gede ya Bik.., minta gulanya agak dibanyakin tapi jangan manis-manis.. Sha nggak mau jahe instant tapi jahe geprek ya. Ngerti kan? Jahe asli beneran itu..",
"Baik non..,
ada lagi..?",
"Hari ini masak apa",
"Banyak non, ada rendang, soto......",belum selesai menjawab tapi sudah disahut oleh Sharen.
"Iya udah, soto aja. Nasinya dikit ya..
anterin ke kamar..",
"Baik non...",
"Sama minta obat sakit kepala sekalian, jangan lupa air putihnya..",
"Baik non..",
"Makasih ya bik...",
Sharen mengganti pakaiannya dengan dress rumahan selututnya. Merebahkan badannya di atas ranjang, sambil memainkan ponselnya. Sharen intens berkomunikasi dengan Satria yang sedang berada diluar kota.
Sharen tidak habis pikir dengan Daddynya yang tidak menyukai hubungannya dengan Satria. Daddy memang tidak secara terang-terangan mengatakannya. Tapi, sebagai seorang anak, Sharen sangat peka dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Daddy.
Sejauh ini Satria baik. Dia juga perhatian dengan Sharen. Lalu, apa yang salah dengan diri Satria?
"Kalo sakit, ya udah istirahat aja ya.., nanti aja chattingannya...",
"Iya bentar ini nunggu makan, minum obat lanjut istirahat. Schedule kamu, hari ini apa?",
"Ketemu klien...",
"Oke sayang...",
Sharen melahap habis makanan yang tadi sudah dimintanya. Meneguk tanpa sisa, jahe yang dibuatkan oleh Maid untuknya. Minum obat, lantas istirahat. Semoga saat bangun nanti, kepalanya tidak berat lagi.
Tapi, sayangnya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Tidak ada peningkatan dengan kondisi badannya sehingga membuat Sharen terpaksa harus berada di dalam kamar dan melewatkan makan malam bersama keluarganya.
"Sha.. mommy masuk ya...",
"Iya mom...",
Mommy masuk membawa satu buah nampan berisi makan malam untuk putri semata wayangnya.
"Kamu sakit..?",
"Pusing aja kok mom..",
"Mommy panggilin dokter ya..",
"Nggak usah, Sha cuma butuh istrinya aja..",
"Ini AC nya mati? rusak apa sengaja dimatiin?",
"Sha matiin.., dingin banget..",
"Mommy suapin ya..?",
"Nggak ah, kayak anak kecil aja..",
"Lah kan lagi sakit...",
"Sha bisa sendiri..",
Mommy menunggu Sharen yang memasukkan satu demi satu sendok makanan ke dalam mulutnya. Memastikan Sharen benar mengisi perutnya.
"Daddy tau kalo Sha nggak enak badan..?",
"Tau..,
Dad lagi asyik sama cucunya..",
"Oh...",
Daddy bahkan tidak mau menengok keadaannya meskipun hanya sebentar. Padahal, Sha yang marah seharusnya mendapatkan bujukan dari Daddy. Tapi, ternyata tidak. Daddy justru meladeni protes sang putri. Mereka berdua sama-sama teguh dengan pendirian masing-masing.
"Udah kenyang mom..",
"Nggak mau nambah lagi..? ayo dihabisin. Tinggal dikit loh..",
"Nggak mommy..",
"Ya udah,
minum obat langsung tidur...",
"Iya mom..makasih...",
Keesokan harinya
Keadaannya sudah sedikit membaik. Sharen bergegas turun. Sudah berganti pakaian kerja karena rencananya dia akan ke kantor Prime.
__ADS_1
"Non.. mau dianterin aja sarapannya ke kamar.."?,
"Nggak usah..Sha makan disini aja
Kok sepi, mommy mana?",
"Tuan sama Nyonya ke rumah sakit. Non Kina sudah diperbolehkan pulang..",
"Ze dibawa?",
"Iya Non..katanya nunggu diparkiran..",
"Oh gitu..",
Tama sudah menunggu Sharen di depan rumah. Sebenarnya dia ragu, dengan keadaan Sharen yang memaksa untuk bekerja hari ini.
"Tam.., ayo..",
"Kamu beneran udah sehat..?",
"Udah..",
"Wajah kamu pucet banget loh Sha..",
"Mungkin karena aku kebanyakan tidur, makanya pucet..",
"Emangnya nggak bisa kerja dari rumah aja..?",
"Bisa sih, tapi aku udah ada janji sama divisi marketing buat meeting..",
"Cancel aja udah.., istirahat dulu aja.."?,
"Ih, manis banget loh kamu kalo perhatian kayak gini..",
"Mulai deh mulai..",
Tubuhnya memang belum fit, tapi atas nama profesionalitas kerja membuat Sharen untuk tetap pergi bekerja.
"Meeting sama divisi marketingnya diundur jam 11 aja ya..",
"Nanggung banget mbak..",
"Iya mau atur nafas dulu, hehe..", ucap Sharen pada salah satu asistennya di kantor.
Seperti biasa, Tama menunggu Sharen di depan ruang kerjanya.
"Sha.., ada Tam?",
"Iya di dalam..",
Nathan masuk dengan membawa beberapa berkas untuk Sharen tanda tangani.
"Aku tungguin di luar aja ya Sha..",
"Nggak usah, ini langsung aku tanda tangani kok..", jawab Sharen tanpa melihat ke arah Nathan.
"Gerah banget, ini AC nya nggak dinyalain emangnya?",
"Nggak.., lagi nggak suka dingin, lagi nggak enak badan..",
"Oh gitu..", respon Nathan.
Dia bahkan tidak bertanya sama sekali mengenai keadaan Sharen.
"Nih udah..",
"Makasih Sha..",
"Sama-sama..
Nath tolong Tama suruh masuk ya..",
"Oke..",
Keduanya seperti orang asing. Hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan. Sharen benar-benar menjaga jarak dan keinginannya juga sepertinya sama dengan Nathan.
"Tam, dipanggil Sharen ke dalam..", ucap Nathan yang duduk di sebelah Tama.
"Ngapain?",
"Ya nggak tau.., tanya aja sama Sharen sana..",
"Bukan itu, kamu ngapain disini..?",
"Ini lho periksa berkas yang udah ditanda tangani Sharen, takut kelewatan..",
"Oh..., ya udah aku masuk dulu...",
Tama masuk. Sharen meletakkan kepalanya di atas meja, dengan kedua tangannya yang dia jadikan untuk bantalan.
"Sha..., ada apa..?",
Sharen belum meresponnya.
"Sha.., kamu tidur...?",
Masih diam, dan tiba-tiba membuat jantung Tama berdegup. Ada sesuatu dengan Sharen.
"Sha...Sha...
astaga pingsan ini anak..",
Bukannya langsung menolong, Tama yang panik malah keluar dari ruangan. Masih ada Nathan di sana.
"Nath..Nath...",
"Hmmm...",
"Sharen pingsan..",
"Nggak usah ngajakin bercanda..",
"Aku serius.., aku kira dia tidur, tapi dia nggak respon waktu aku bangunin..",
Spontan, Nathan langsung membuang berkasnya ke meja.
"Beg*o....!!! kenapa nggak ditolongin..",
"Ya masa aku..........",
"Minggir.....!!!",
Tama hampir saja jatuh ketika badannya didorong oleh Nathan karena menghalangi jalannya masuk ke dalam ruangan Sharen. Nathan tampak panik.
"Sha..Sha...", ucapnya menepuk pipi Sharen tapi masih tidak ada respon.
__ADS_1
Nathan membopong Sharen keluar.
"Tam..siapin mobil cepetan...!!!",