
"Beneran Javas mau nyetir sendiri mas?",
"Mas udah ngelarang, tapi ngeyel. Keras kepala sama kayak kamu..",
"Kok Aira...",
"Kan sama kayak kamu keras kepalanya..",
"Iya-iya, kan emang anak Aira. Kenapa diizinin sih mas?",
"Biarin.., Javas baik-baik aja. Dia kayaknya mau healing, mau refreshing..",
"Mas gimana sih, malah Javas disuruh satu mobil sama dokter Kinara..,padahal Javas galak loh ke dokter..",
"Nggak apa-apa.., itung-itung luapin emosinya dia. Selama ini mas liat juga dokter Kinara iya-iya aja kalo Javas marah ke dia..",
"Jahat banget sih mas.., dokter Kinara malah dijadiin umpan..",
"Udah tenang aja.., Javas nggak segalak yang kamu pikir..",
"Ya udah, ayo berangkat. Udah semua kan?",
"Bentar nunggu anak kamu tuker mobilnya..",
Tiba-tiba dokter Kinara menghampiri Aira dan yang lainnya.
"Jaz.., mau semobil sama kak dok sama kak Javas nggak?",
"Nggak dok.., Jaz mau sama mom dad aja..",
"Nanti kak dok beliin es krim kesukaan Jaz, mau ya..",
"Nggak mau, nanti juga Jaz bisa ambil es krim di tokonya kakek, iya kan mom?",
"Iya sayang.
Kenapa dok? takut ya sama mas Javas..? Dia emang ketus, tapi aslinya baik banget. Kalo dia ngomel, dokter diem aja kayak biasa. Kan udah sering kayak gitu..",
Siapa tahu Jaz bisa menjadi penyelamatnya, tapi Kinara salah. Anak itu menolaknya.
"Tuh dok Javas udah tuker mobilnya, kami masuk duluan ya..
Sus.., di depan ya. Bapak biar ditengah aja sama kita..", ucap Aira pada suster Sri.
Dokter Kinara buru-buru menghampiri mobil Javas, memasukkan barang bawaannya. Takut jika Javas berubah menjadi mode singanya.
"Kok banyak.., ini ada punya mommy?",
"Nggak mas.., itu ada oleh-oleh. Dikasih sama Bu Aira, sama kemarin saya beli buat nenek..",
"Oh..",
Kinara memilih diam dibandingkan harus berbicara banyak dan salah berucap. Bisa-bisa Javas nanti akan mengeluarkan kata-kata nyelekitnya.
"Boleh nggak.., kalo kacanya aku buka aja? biar udara segernya masuk..",
"Silahkan mas..",
"Cuma kaca sebelah saya aja kok.., punya anda nggak perlu..",
Kinara mengangguk tersenyum.
Kinara segera memasang seat beltnya ketika mobil hendak dilajukan oleh Javas.
Javas membuka pintu kaca mobilnya. Dengan memakai kaca hitam, kaos hitam slim fitnya, serta jam tangan yang melingkar ditangannya membuat Javas sangat keren hari itu. Wajahnya sangat tampan, terlihat segar dan tidak layu seperti beberapa hari yang lalu.
Ini akan menjadi satu-satunya perjalanan menegangkan yang pernah Kinara alami. Duduk disamping orang yang selama ini dia sangat hindari. Lebih dari season uji nyali, mungkin bisa dikatakan sebagai pertaruhan hidup mati yang taruhannya jiwa dan raganya. Lebay.
Tapi, inilah yang Kinara rasakan. Duduk selama kurang lebih 3 jam membuat ototnya tegang. Bibir kaku, gigi linu, mata sayu bergerakpun terasa lesu.
Hanya radio car yang bersuara. Baik Javas maupun dokter Kinara tidak ada yang berbicara.
"Nggak usah tegang gitu, saya nggak akan macem-macem..",
"Hmm...",
"Kalo mau tidur silahkan..",
"Makasih mas.., saya nggak ngantuk..",
__ADS_1
Mobil Javas berada tepat dibelakang mobil Alphard milik Jaz. Sengaja beriringan meskipun nantinya mereka juga akan berpisah. Javas mengantarkan dokter Kinara pulang, sedangkan orang tua dan adiknya melanjutkan perjalanan menuju rumah kakeknya.
"Ke pom dl ya dok.., saya mau beli minuman di minimartnya..",
"Saya ada air putih mas.., nih kalo mau.., masih baru kok..",
"Nggak apa-apa? nanti kalo anda haus..?",
"Masih ada satu.., tadinya mau dibagi buat pak sopir..",
"Jadi saya dianggep sopir?", ucapnya.
Astaga.., salah ngomong..
"Bukan gitu mas.. maksud saya.., kan tadinya saya mau dianter sama pak sopir..",
"Ya...ya.., hari ini memang saya sopir buat anda..",
Meskipun diawali dengan mengomel, namun Javas tetap mengambil satu buah air mineral yang disodorkan oleh dokter Kinara. Mobil oleng ketika Javas berusaha membuka botolnya. Melihat Javas kesulitan membuka tutup segel, dokter Kinara lantas bermaksud menawarkan bantuan.
"Mau saya bukakan mas?",
Kinara berucap dengan perasaan takut, namun lebih baik dibandingkan harus mempertaruhkan kedua nyawa mereka. Apalagi, keadaan jalanan memang sedang ramai.Tidak menjawab, tapi Javas langsung memberikan botol yang dia pegang kepada Kinara.
Kinara mengambilnya lalu membuka tutup botol dan memberikan kepada Javas ketika dia sudah berhasil membukanya.
"Makasih..", ucapnya tanpa memandang ke arah Kinara.
Dengan tiga tegukkan air sudah berhasil membasahi tenggorokkannya. Javas kembali memberikan botolnya kepada Kinara.
"Tolong dok..",
Kinara kembali memberikan bantuan dengan kembali menutup tutup botol tersebut.
Memang suasana sudah sedikit mencair, tapi bukan berarti membuat Kinara lega. Dia tetap waspada.
Javas menutup kaca pintu mobilnya ketika mobilnya berhenti di lampu merah. Namun, berbanding terbalik dengan doktee Kinara yang langsung membuka kaca pintunya ketika ada seorang kakek mengetuknya. Ternyata kakek itu menawarkan sebuah buku kecil untuknya.
"Mbak.., mau beli juz amma?", tanyanya.
"Berapa harganya kek?",
"Oh..boleh kek..",
Kinara lantas memberikan dua buah uang bergambar pahlawan revolusi kepada kakek itu.
"Kembaliannya buat kakek saja ya, sehat-sehat ya kek..",
"Alhamdulillah terima kasih mbak..
Saya doakan mbak dan mas panjang umur, sehat selalu, pernikahannya selalu diberkahi, dan menjadi keluarga sakinah..",
"Terima kasih kek..",
Kinara sudah tahu resiko yang akan dia dapatkan. Sudah pasti, akan mendapatkan cibiran pedas level 1000 dari Javas.
"Kamu mau ngaji?",
"Nggak mas..",
"Kenapa dibeli?",
"Kasian mas..,
tiap liat kakek jualan seperti itu, saya selalu inget almarhum kakek saya...",
"Oh.., wajahnya mirip?",
"Bukan.., ya keinget aja. Kasian kan udah tua tapi masih kerja cari nafkah, dijalanan pula..",
"Terus kenapa tadi doa kakeknya diamin-in. Emang siapa yang udah nikah? kamu?",
"Saya cuma mengucapkan terima kasih saja karena sudah didoakan yang baik-baik..",
Mengerti maksud Javas, Kinara berkata lagi.
"Nggak perlu dijelaskan juga kalo kita bukan suami istri kan? kakeknya juga nggak kenal...",
Enggan menanggapi jawaban diplomatis dari Dokter Kinara. Javas memilih untuk membesarkan volume radio carnya. Mereka kembali diam, namun Kinara terlihat sudah tidak lagi tegang. Javas pun sepertinya tidak ingin mencari gara-gara. Dia berkonsentrasi mengemudi.
__ADS_1
"Ini masih lurus ya?",
"Masih mas.., perempatan ambil kanan. Sekitar 100m ada tugu. Nanti saya turun disitu..",
"Rumah anda disitu?",
"Bukan.., tapi udah deket. Nanti saya jalan kaki aja. Mas Javas bisa lanjutin perjalanan.., lurus dikit ada pertigaan mas Javas ambil yang kiri, nanti balik lagi ke jalan besar..",
"Saya anterin aja sampe depan rumah..."
"Terima kasih mas.., tapi nggak perlu..",
"Anda takut pacar anda marah? daritadi mainin hape nggak bilang pulang dianter sama saya?",
"Bukan mas.., saya takut ngerepotin aja..",
"Kan udah dari tadi ngerepotinnya, kenapa baru merasa sekarang?",
Kinara terdiam kembali. Jika terus menjawab, bukan tidak mungkin Javas akan kembali mengeluarkan kata-kata tajamnya.
"Saya antar anda ke depan rumah, nggak usah ngeyel..",
Kinara tidak menjawabnya. Lebih baik memang menuruti ucapan Javas dibandingkan mendengarkan omelannya.
"Ini ya tugunya? masih lurus?",
"Iya mas.., itu rumah saya udah keliatan.., pagar hitam..",
"Oh iya deket..",
"Saya nggak bohong kan mas..",
"Sampai...", ucap Javas ketika menghentikkan mobilnya tepat di seberang jalan di depan rumah Kinara. Sebuah rumah tingkat dua bertipe minimalis, jauh jika dibandingkan dengan rumah Javas yang mewah. Namun, terlihat bagus dibandingkan dengan rumah disekitarnya.
"Mas terima kasih sudah diantar.., mau mampir?", tawarnya. Hanya sekedar basa-basi memang.
"Itu siapa?", tunjuknya kepada Nenek yang sedari tadi terlihat memperhatikan mobilnya.
"Oh itu nenek saya mas.., tadi kan saya bilang kalo mau pulang, memang beliau begitu. Suka nungguin saya..",
"Oh..nenek..",
"Mas.., saya turun dulu. Mas Javas hati-hati, sekali lagi terima kasih ya mas..",
"Sama-sama..",
Kinara turun dari mobil Javas, tak lupa membawa dua buah kantong plastik besar yang berisi oleh-oleh untuk neneknya.
"Nenek...",
"Cah ayu...",
"Nenek lama ya nunggunya?",
"Nggak.., nenek baru aja disini..",
"Masuk yuk.., Kina punya oleh-oleh banyak buat nenek sama Tante..",
"Ssshuuutttt itu siapa?", tanya neneknya.
"Siapa?",
Kinara menoleh, ternyata Javas turun dari mobilnya dan berjalan menyeberang menuju ke rumahnya.
"Loh.., mas Javas..",
"Siapa cah ayu?",
Belum sempat menjawab pertanyaan neneknya, Javas sudah terlebih dahulu sampai di depan pagar.
"Assalamualaikum..,
selamat siang..", ucap Javas.
Banyak yang tim Javas-Mine, tapi banyak juga tim Javas-Kina.., siapapun yang sama Javas nanti, memang alurnya seperti itu, hehehe.
Terima kasih yang masih setia baca, terima kasih juga yang mau skip cerita karena tidak sesuai ekspektasi.
Pokoknya terima kasih..😘
__ADS_1