
Sore itu, dalam perjalanan pulang di pesawat. Beberapa kali Javas menghela nafasnya panjang. Pandangan dari luar jendela, semakin membuatnya teringat kehangatan kasih sayang Mommy Aira. Tidak pernah Javas bayangkan sebelumnya, jika percakapan beberapa jam yang lalu dengan Aira, adalah komunikasi terakhir sebelum musibah ini terjadi.
Sementara itu, Sharen terus menangis dalam pelukan kekasihnya, Bian. Sama halnya dengan Javas, Sharen juga terpukul saat mengetahui keadaan mommynya. Sharen malah sempat tidak sadarkan diri, ketika Javas memberitahunya. Saat sudah tersadar, tanpa pikir panjang Sharen langsung meng-cancel semua pekerjaannya di Bali. Tidak peduli berapa besar penalty atau denda yang harus dia bayarkan. Yang paling penting, dia harus segera pulang.
"Kita berdoa sayang.., semoga mommy bisa segera sadar.., jangan nangis lagi ya..",
"Hiks hiks.., kenapa jadi kayak gini kak? mom gimana?",
"Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk mommy.., Tante Aira pasti kuat. Nanti juga bangun... sekarang kamu makan dulu ya. Dari tadi siang udah nggak makan..", bujuk Bian.
"Nggak laper..",
"Makan rotinya, sedikit aja..., buat ganjel perut..",
Mereka bertiga turun dari pesawat dengan tergesa. Javas bahkan berlari kencang, tanpa mau menunggu kakak perempuannya yang berjalan tertatih karena kehilangan banyak tenaga karena sering menangis.
Di pintu kedatangan, sudah menunggu Fafa, Revan serta kedua putranya, Kai dan Rai yang memang sengaja menjemput Sharen dan Javas. Sama seperti Rendra saat masih muda dulu. Sifat Javas yang emosional serta dingin membuat Revan dan Fafa mengantisipasi dari awal. Mereka ingin menenangkan Javas, sebelum dia bertemu dengan Daddy nya nanti.
"Bun.., gimana mom? udah bangun kan?", tanya Javas kepada Fafa.
"Tenang kak.., atur nafas dulu..",ucap Fafa yang melihat Javas ngos-ngosan.
"Keadaan mom gimana Bun?",
Fafa menggeleng.
"Mommy udah dipindahin ke ruang ICU.., masih kritis..",
Javas menekam kepalanya. Padahal, dia sudah mempunyai bayangan akan mendapatkan secercah harapan saat turun dari pesawat nanti. Tapi, harapannya pupus.
"Sharen mana Vas?", tanya Revan.
"Di belakang, sama kak Bian..,kita bisa langsung ke rumah sakit aja nggak Om? Javas pengen cepet-cepet ketemu mommy..",
"Sharen gimana?",
"Kai bawa mobil sendiri kan? biar Queen sama Kai..",
"Oke kak.., nggak apa-apa.., aku sama Rai biar nunggu kak Sharen...",jawab Kai.
Fafa adalah orang yang memberitahu Javas tentang keadaan Aira. Fafa orang yang paling dekat dengan Javas setelah Aira. Jangan ditanya bagaimana cara Fafa menyampaikan kabar buruk itu kepada keponakannya. Tentu saja dengan tata bahasa yang sudah dia susun dengan rapi. Tapi, meskipun begitu, tetap saja emosi Javas tidak terkendali. Javas langsung mengumpat, yang tentu saja di tujukan kepada Daddynya yang dia anggap lalai untuk menjaga surganya.
__ADS_1
"Vas.., kamu udah tenang?",
"Udah Bun..",
"Terima kenyataan, oke? semua udah ada yang ngatur..",
"Tetap aja, andai Dad bisa pegang janjinya.., ini semua nggak mungkin terjadi..",
"Dad.. juga sama kayak kamu. Dia terpukul kak..",
"Dad emang nggak becus jaga mom..",
"Ini semua kecelakaan kak.., bukan salah Dad..",
"Feeling Javas udah nggak enak waktu berangkat ke Bali, ternyata ini yang terjadi. Andai Javas tau, Javas nggak akan pergi..",
"Ini semua udah takdir kak.., nggak ada yang bisa lari.., kita lewatin ini sama-sama. Ada om Revan, ada bunda, Kai, Rai..semuanya ada buat kalian..",
"Makasih Bun..",
"Kalo ketemu sama Dad, jangan marah-marah ya kak..",
"Gimana nggak marah, ini semua gara-gara Dad..",
Javas mengangguk, tampaknya dia bisa mencerna ucapan sekaligus nasehat Fafa untuknya.
Fafa menggandeng Javas menuju ruang ICU, tempat mommy nya di rawat. Di depan kamar tempat Aira dirawat dipenuhi oleh keluarga dari pihak Aira dan Rendra. Javas, belum bisa masuk menemui mommy nya karena hanya 2 orang yang diperbolehkan masuk.
"Sebentar ya.., kamu sabar. Di dalam ada kakek sama Oma.., kamu duduk dulu..",
Javas duduk berseberangan dengan Rendra. Daddy sedari tadi menunduk. Bukan karena takut dengan kedatangan Javas tentunya, tapi nampaknya Rendra juga sedang dalam keadaan kacau.
"Kak..., mau bunda ambilin minum?",
"Nggak Bun, makasih..",
Javas sinis menatap Daddynya. Kemarahannya sudah memuncak, tapi dia mengingat kata-kata Fafa. Tapi, Javas tetaplah Javas. Sekuat apapun menahan gejolaknya, tapi dia tetap tak kuasa.
"Jawab Javas Dad...", ucapnya dengan mengguncang bahu Rendra.
__ADS_1
"Kak.., tenang.., inget kata bunda tadi..", Fafa berdiri disamping Javas. Takut jika Javas berbuat yang tidak patut kepada Daddynya.
Rendra menegakkan pandangannya menatap putranya. Rendra berdiri.
"Dad.., emang nggak becus jaga mom.., ini semua salah Dad nak.., Dad bodoh.., Dad nggak bisa jaga istri Dad..", ucapnya dengan suara tercekat, menahan tangisnya.
"Bagus kalo Dad sadar.., Javas janji. Kalo nanti mommy udah bangun dan sadar, Javas yang akan jaga mom.., Javas nggak akan biarkan mommy sakit apalagi celaka.., kalo perlu Javas nggak akan izinin Mom ketemu Dad lagi..",
"Ini semua memang salah Dad, tapi Dad juga nggak mau ini semua terjadi nak..",
"Andai aja Dad nggak nyuruh Javas pergi.., mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini. Dad mau melindungi kak Sha..tapi itu justru bikin Mom celaka..",
"Javas.., tenang kak..tenang..",ucap Vina kali ini.
Ceklek.
Pintu terbuka disusul dengan dua orang tua yang berjalan menuju pusat keributan.
"Javas.., cucu Oma..",
"Mom gimana....,Oma? udah sadar kan?",
"Belum.., kamu mau ketemu mommy sayang.., cepetan..",
"Iya Oma..
Kek.., satu orang yang patut disalahkan karena nggak bisa jaga putri kakek adalah Dad..", ucap Javas kepada Kakek Hendra sebelum dirinya masuk.
Lutu Javas melemas, rasanya sudah tidak kuasa berdiri tegak ketika melihat perempuan yang dicintainya kini lemah tak berdaya. Hidup Aira memang ditopang oleh alat kesehatan yang terpasang di hampir seluruh tubuhnya. Wajah mommnya terlihat putih pucat, sudah tidak ada rona merah yang selalu menghiasi pipi putihnya.
"Mom.., Javas pulang.., mommy nunggu Javas ya? ayo mom..., buka matanya.., Javas disini..
Mommy pasti kangen kan sama Javas? padahal baru kemarin Javas pergi.., harusnya besok Javas udah pulang. Tapi, demi Mom.., Javas pulang. Javas pengen liat mata indahnya mommy.., ayo buka.., mommy cantik.., ayo buka mom..
Javas juga kangen omelan mommy tiap kali liat kamar Javas berantakan. Tiap Javas pergi terus pulangnya telat, pasti mommy marah. Biasanya, Javas paling nggak suka kalo liat mommy marah, karena wajah mommy jadi jelek. Tapi, kali ini Javas pengen banget mommy marah.., ayo mom buka matanya..
Mommy belum mau buka mata? maunya kapan mom? besok..? lusa..? seminggu lagi? atau bulan depan? Nggak apa-apa mom.., Javas tetep nungguin mom.., tapi Mom harus buka mata ya..,
Javas tau mommy perempuan kuat, mommy pasti sembuh..., mommy pasti sehat lagi. Mommy mau kemana? Javas turutin mom...
Mungkin mommy lagi capek banget ya.., ngurus Javas. Mommy mau tidur dulu..? oke mom.., nggak apa-apa.., Javas tunggu sampai mommy bangun..",
__ADS_1
Javas mengajak ngobrol mommynya dengan memegang tangan yang digenggamnya eratm Javas menanti keajaiban. Dia berharap jari-jari tangan itu bergerak meskipun perlahan. Javas menantikan moment itu terjadi.
Kalo sempat, nanti malam dilanjut lagi ya. Pantengin Instagram.