Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Nasehat


__ADS_3

Kina sudah bangun saat Javas kembali. Istrinya sudah berganti piyama menjadi daster rumahan. Wajahnya sudah terlihat sedikit segar dibandingkan tadi. Javas memberikan obat semprot tenggorokkan kepada Kinara.


"Nih Na obatnya..",


Javas memberikan satu buah kantong plastik. Rupanya bukan hanya obat yang Kina minta, tapi ada beberapa obat yang Javas beli untuknya.


"Kok banyak mas obatnya?"


"Iya.., biar cepet sembuh..",


"Obat penurun panas, radang, alergi, flu..", ucap Kina yang memeriksa satu persatu obat yang suaminya beli.


"Cepetan minum..",


"Kina minum obat penurun panas aja..,


Makasih ya mas..",


"Iya.., mau sesuatu?",


"Iya..",


"Apa?",


"Jus.., tapi udah dibuatin Bibik kok..


Mas Javas nggak ngantor..?",


"Kamu sakit, terus aku kerja gitu?", ucapan singkat Javas sukses membuat hati Kina "maknyess". Kinara sadar jika Javas perhatian kepadanya. Tapi, ya begitulah. Kina masih takut, takut salah mengartikan.


"Kina nggak apa-apa.., cuma butuh istirahat aja..",


"Semalem waktu sama Jaz, kalian makan apa?",


"Jaz kan nggak makan.., Kina makannya juga menunya sama kayak mas Javas, kenapa?",


"Tuyul juga sakit..",


"Jaz sakit.., apa mas? udah diperiksa belum? kina ke kamarnya ya..",


"Nggak...nggak usah. Kamu dikamar aja. Jaz udah diperiksa sama dokter tadi.., siapa itu pacarnya Rai?",


"Ni...Nisa..maksudnya?",


"Iya temen kamu tadi kesini..",


"Terus kenapa mas katanya?",


"Cuma demam biasa aja. Kayaknya Jaz sakit hati sama mommy, karena diomelin..",


"Kasian...",


"Aku ke ruang kerja.., kalo butuh sesuatu bilang ya..",


"Mau kerja? kenapa nggak disini aja mas..?",


"Kamu mau ditemenin?",


Kinara menggeleng.


"Kalo disini, bisa-bisa jadi nggak konsen..",


"Kenapa? kan nggak ada yang gangguin..",


"Nggak ada yang ganggu, tapi....


Ck.., aku keluar aja..",


Meraih satu buah laptop dimeja, Javas keluar dari kamarnya. Kinara yang memang tidak peka jika berhubungan dengan omongan Javas yang penuh makna, terang saja tidak mengerti apa maksud suaminya.


Javas masuk ke dalam ruang kerja. Ini adalah ruang kerja milik Daddy, milik Sha dan dirinya. Tepatnya ruangan yang mereka gunakan untuk berkonsentrasi penuh dengan pekerjaan. Padahal ingin mencari ketenangan, mengerjakan pekerjaan agar cepet selesai, dengan begitu Javas bisa segera menemani Kinara. Tapi di dalam sana, malah sudah ada Sharen yang melakukan siaran langsung melalui media sosial instagramnya.


Sadar jika ada adiknya, Sharen langsung mengakhirinya. Sharen berdiri dari kursi singgasananya, menghampiri Javas yang duduk di Sofa .


"Ngapain kesini? lanjutin aja..",


"Udah selesai, cuma mau ngabari aja sama mereka kalo aku udah balik indo..",


"Sok seleb deh..",

__ADS_1


"Lah emang seleb...",


"Iya-iya..


Udah nggak dipake kan kursi sama mejanya. Javas mau pake..",


"Bentar, kakak mau ngobrol.., mumpung bisa berdua..", Sharen mencegah Javas yang hendak berdiri.


"Apa?" Javas kembali duduk. Sepertinya Sharen ingin berbicara serius.


"Kenapa nikahin Kina?",


"Pertanyaan keseribu kali, Javas sampe bosen jawabnya..",


"Kakak kan baru tanya sekarang..",


"Kenapa tanya kayak gitu?",


"Kakak penasaran..",


"Javas kasian.., udah...",


" Oke.., kakak terima alasan itu.., bener nggak ada alasan lain?",


"Karena kakak..,


Javas bayangin kalo seumpama yang ada dalam posisi saat itu, adalah kakak. Javas nggak tega kak..",


"Iya sih.., kakak juga nggak bisa ngebayanginnya..",


Sebuah tanggapan yang berbeda dari yang lain. Sharen tidak seperti Kai, Rai atau Vano, yang bilang jika Javas sebenarnya memang tertarik pada Kinara.


"Terus mau sampe kapan?",


"Apanya?",


"Nikahnya...",


"Kakak doain Javas cerai?",


"Kakak kan cuma tanya.., nikahnya cuma karena kasian kan?",


"Hati-hati.., nanti terlalu nyaman..",


Javas tidak menjawab.


"Kenapa? sekarang udah nyaman ya? dari semalem kakak perhatiin kamu. Nyuapin Kina, bukain pintu mobil.., itu udah menunjukkan kalo kamu sebenarnya ada rasa sama dia.."


"Sok tau..",


"Mom bilang katanya kamu juga abis sidang isbat, sekarang lagi nunggu ketuk palu aja. Diresmiin? bukannya nikah karena kasian?",


"Biar statusnya jelas..",


"Oh.., gitu..


Kinara gimana udah baikan?",


"Udah.., tapi nggak mau makan..", ucapnya. Sebuah jawaban yang sebenarnya bagi Sharen lebih dari cukup. Javas memang menaruh rasa pada istrinya.


"Javas beliin dia obat karena rasa tanggung jawab. Nggak lebih..", ucap Javas lagi.


"Iya kakak tau..",


Sharen ini memang tidak menghakimi Javas, tapi mengintrogasi dengan caranya. Yang dia tangkap adalah sebuah rasa yang masih disembunyikan Javas, padahal dia sudah menunjukkan seperti apa perasaanya. Javas gengsi.


"Kakak baru beberapa jam disini, tapi kakak udah pengen aja pindah ke mars, biar nggak liat betapa uwunya perlakuan kamu ke Kina..",


"Lebay.., Javas nggak ngapa-ngapain juga..",


"Gimana sama Mine?",


Javas kaget nama itu disebut kembali. Semenjak menikah dengan Kinara, seisi rumahnya tidak membahas sedikitpun mengenai mantan kekasihnya.


"Nggak tau..",


"Udah bisa lupain?",


"Belum...",

__ADS_1


"Kalo tiba-tiba Mine balik, kamu gimana?",


"Kakak masih komunikasi sama Nathan?",


"Sesekali aja, udah jarang..",


"Nathan tau Javas udah nikah?",


"Udah.., kakak udah cerita..",


"Tanggapannya?",


"Biasa aja..",


"Kalo Mine balik, menurut kakak. Javas harus gimana??",


Sharen tersenyum penuh arti.


"Kakak tau kamu sulit melupakan Mine, nggak semudah itu jatuh cinta sama Kinara. Tapi, yang kakak juga tau kalo kamu adalah laki-laki yang memegang teguh komitmen. Menikahi Kinara adalah sebuah komitmen yang kamu buat sendiri. Nggak ada yang nyuruh, Dad sama Mom juga udah cerita. Kinara nggak minta kamu nikahi, tapi kamu dengan sukarela meminang dia..",


Javas diam.


"Mungkin mine adalah cinta yang kamu jaga sampai detik ini. Tapi, Kinara adalah perempuan yang dunia akhiratnya menjadi tanggung jawab kamu..terlepas alasan apa kamu untuk menikahi dia. Apapun yang kamu perbuat ke dia, yang ada hanya dua. Dosa atau pahala yang kamu dapat..",


"He'em..",


"Kakak nggak perlu bilang kamu harus gimana saat Mine nanti balik lagi, semua ada di tangan kamu..",


Dad dan Mommynya tidak berbicara sedalam ini saat Javas memilih untuk menikahi Kinara. Kedua orang tuanya menerima, walaupun awalnya sempat ada penolakan dari mommy. Tapi, mommy menerima dan terlihat jelas jika mommynya juga menyayangi istrinya.


"Kakak tau kalo kamu nggak pernah nyentuh Kinara..",


"Darimana kakak tau?",


"Wajah kamu nggak bisa boong tadi, waktu mommy bilang kalo Kinara hamil. Gimana bisa hamil, kalo sampe saat ini Kinara masih gadis, iya kan?",


"Iya..


Javas nggak tau harus mulai darimana..",



"Kinara cuek.., Javas udah berusaha buat kasih perhatian, tapi dia biasa aja..",


"Berarti kamu ada keinginan buat jadiin dia istri seutuhnya kan?",


"Javas nggak tau, bingung..",


"Pernah ngomongin hati ke hati sama dia?",


Javas menggeleng.


"Kinara tau kalo kamu belum selesai sama Mine. Kinara pasti merasa kalo selama ini kamu cuma kasian aja sama dia..",


"Javas harus gimana?",


"Ya nggak tau, usaha dong. Ngomong pelan-pelan, mau dibawa kemana pernikahan yang kalian jalani sekarang..",


"Pusing..",


"Cinta ada karena biasa.


Jangan gengsi makanya.., udah ah kakak mau keluar dulu..",


Javas menyandarkan kepalanya ke kursi. Mengingat nasehat yang kakaknya berikan, dan semuanya benar. Javas memang selama ini sudah mencoba , tapi Kinara memang belum tau maksud Javas.


Setelah merenungi nasehat dari kakaknya, Javas justru keluar dari ruang kerja. Kembali menuju ke kamarnya.


Kinara kembali tertidur, mungkin efek dari obat yang diminumnya. Javas duduk dipinggir ranjang dekat Kinara. Memperhatikan dan memandang wajah cantik yang kala itu terlihat pucat.


Javas menyentuh pipi Kinara dengan punggung tangannya. Sudah tidak panas seperti sebelumnya. Mengelus rambut istrinya dengan lembut.


Cup...


Javas mengecup kening istrinya yang tertidur. Kali ini apa yang Javas lakukan membuat Kinara membuka matanya.


Javas tersenyum.


"Tidur lagi..", ucapnya lembut.

__ADS_1


Kinara kembali memejamkan matanya. Mungkin dia merasa jika sedang berada di alam mimpi. Padahal, ini nyata.


__ADS_2