
Menyesal rasanya meminta Nathan untuk bercinta. Badan Sharen rasanya remuk redam. Nathan benar-benar memanfaatkan situasi siang itu. Sharen yang agresif mendapatkan perlawanan sepadan dari Nathan.
Ini memang salah satu cara Sharen agar suaminya nanti tidak akan murka ketika dia akan meminta izin untuk melakukan pekerjaannya Minggu depan nanti. Meskipun, sebenarnya Sharen tahu, Nathan tidak akan dengan mudah untuk mengizinkannya. Tapi, paling tidak jika mereka mesra, pertengkaran atau keributan tidak akan terjadi.
Sharen sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Dari balik cermin meja riasnya, Sharen melihat Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sharen tersenyum tipis ketika melihat tubuh kekar Nathan yang menunjukkan dadanya yang bidang. Suaminya memang sekeren itu. Nathan tampan, mapan, dan yang paling penting hanya miliknya seorang.
"Yank.., laper...", rengeknya.
"Laper? bukannya tadi udah makan?",
"Laper yank, kan abis tempur...",
"Bukannya tadi dibawah cuma mende$ah aja ya..",
"Ye..enak aja, kalo diem aja kamu protes.
Sayang, jangan diem aja kayak pelepah pisang dong...",
Nathan tersenyum. Wajahnya sumringah, karena baru saja mendapatkan jatah dari istrinya tanpa harus memintanya terlebih dahulu. Dan, yang paling penting saat bercint*a tadi Sharen benar-benar menikmati, tidak segan untuk meminta posisi yang pas dan enak.
"Mau digojekin apa sayang..?",
"Tiba-tiba pengen MC*D, minumnya Starbu-ks ya..",
"Iya bentar..", ucap Nathan yang langsung menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Nathan selalu memenuhi keinginan dan permintaan Sharen.
Sharen sendiri masih mencari-cari timing yang tepat untuk berbicara dengan Nathan. Tidak mungkin saat ini dia langsung mengajak suaminya berbicara. Nanti, akan ketahuan kalau ajakan bercint@nya tadi hanyalah modus. Padahal, sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu.
Lebih cepat lebih baik. Percuma menutupi dari Nathan, toh cepat atau lambat suaminya harus tahu. Sepertinya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk Sharen meminta izin kepada suaminya.
"Yank....", ucapnya. Sharen membuka tangan suaminya lalu masuk ke dalam pelukan Nathan. Padahal, malam itu Nathan sedang serius menonton pertandingan sepakbola di layar televisi.
"Ngantuk ya..? tidur aja..", usapnya pada kepala Sharen.
__ADS_1
"Mas Nathan....", ucapnya lagi.
"Iya sayang? apa? kepengen lagi? bentar ya ini udah mau selesai nih...",
"Yank..
aku mau ngobrol.., serius..",
"Iya..ngomong aja sayang..",
"Tapi, janji kamu jangan marah...",
"Iya.., apa..?",
"Kamu janji kan kalo selalu dukung apa yang aku kerjain..?",
"Iya..selagi kamu happy, ya nggak masalah. Yang penting kamu selalu ada waktu buat aku. Tapi, aku lebih seneng kalo kamu fokus sama butik aja. Nggak usah lagi kerja di dunia entertainment...",
Belum juga membuka obrolan tentang pemotretannya, Sharen justru sudah terlebih dahulu mendapatkan ultimatum dari Nathan.
"Ya udah, ini yang terakhir kan? oke..kerjain..,pakaiannya nggak aneh-aneh kan..?", tanya suaminya.
Sharen dengan ragu menggelengkan kepalanya.
"Yank, tapi pemotretannya ada partner..., nggak sendirian..",
"Sama siapa? stephany? bukannya dia lagi hamil...?",
"Bukan, tapi sama model luar...",
"Oh..terus..? takut kebanting? istriku nggak kalah cantiknya kok...",
"Yank.., partnernya cowok...",
__ADS_1
"Cowok..? harus satu frame? ada sentuhan? No..., batalin aja kontraknya.. aku nggak suka istriku di pegang-pegang sama cowok lain...",
"Yank.., tapi nggak bisa dibatalin gitu aja, aku nanti kena denda. Udah gitu bisa diperkarain juga..",
"Nanti aku yang bantu.., kalo kamu dipenjara, aku yang bakal gantiin...",
"Yank.., maaf..., tapi aku nggak bisa batalin..",
"Siapa partnernya..?",
"Anthony...",
Nathan meraba, mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas.
Me-searching nama model yang disebutkan oleh istrinya dan muncullah seorang pria tampan yang masih muda. Tidak kalah tampan darinya.
"Ini...?",ucapnya dengan memperlihatkan wajah Anthony.
"Iya yank...",
"Nggak.., pokoknya harus dibatalin..,
besok temuin PH nya.., bilang kalo kamu cancel kontraknya. Nggak peduli berapa uangnya, aku yang akan bayar. Nggak takut sama resikonya, aku yang hadepin..",
"Yank..., jangan gitu...",
"Trus aku harus ngizinin kamu, pegangan, pelukan, tatap-tatapan sama laki-laki lain selain aku? kamu pikir aku nggak cemburu...?",
"Cuma sebatas kerja aja yank..",
"Kalo posisinya dibalik? gimana? kamu sanggup..?",
Sharen menggeleng.
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak mau tau. Pokoknya batalin..,titik. Nggak ada lagi nego-negoan..",
Nathan naik pitam. Sepanjang perjalanan pernikahannya, baru kali ini Nathan terlihat sangat marah dengan raut wajahnya yang merah padam. Dengan begitu, Sharen takut untuk mencoba membujuk suaminya.