
Nathan mengejar Sharen yang keluar menuju ke parkiran mobilnya.
"Mang..ayo...",
"Sha..tunggu...", ucapnya menahan Sharen yang hendak masuk.
"Apalagi yang dijelasin? aku udah tau semuanya Nath.., diam-diam kamu ngirim hadiah-hadiah itu ke aku..",
"Iya selama ini aku salah. Bersembunyi di balik persahabatan kita. Aku memendam rasa selama ini Sha.., aku nggak bisa cegah hati aku buat cinta sama kamu...aku takut bilang ke kamu. Aku takut kamu menghindar, aku takut kehilangan kamu. Lebih baik aku liat kamu bahagia sama yang lain tapi kita masih bisa deket, masih bisa sama-sama. Aku nggak berharap kamu balas rasa sayangku.., aku cuma liat kamu bahagia.., itu udah cukup..",
"Aku benci sama kamu Nath.., aku benci...",
"Maaf udah buat kamu sakit kayak gini..", ucapnya menyentuh pipi Sharen yang terlihat merah karena bekas tamparan Luna.
"Aku pikir selama ini kamu tulus jagain aku, kita dari kecil udah tumbuh bersama, susah seneng bareng. Tapi, kamu nodai itu Nath..",
"Aku nggak bisa bohongi hatiku Sha..., awalnya aku udah berusaha buat mencegahnya, tapi makin lama aku tahan, semakin dalam rasa ini buat kamu Sha...",
"Mulai sekarang, nggak usah temui aku lagi Nath...",
"Sha..please. Aku nggak minta kamu balas, tapi tolong.., terima rasa ini Sha. Aku nggak minta kamu buat jadi pacar aku, tapi tolong jangan benci sama aku..",
Sharen melepas tangan Nathan yang mendarat dipipinya.
"Kamu sayang sama aku, tapi kamu pacarin Luna? maksud kamu apa sih Nath? kamu mau nyakitin aku dengan cara lain? dengan tamparan yang aku terima barusan?",
"Kamu boleh balas tamparan itu Sha..", ucapnya dengan menuntun tangan Sharen untuk menamparnya.
"Nathan...., cukup....!!!!!", Sharen kembali menangis.
"Sha..., jangan nangis lagi..",
"Aku pusing , aku pengen pulang.., jangan halangi aku lagi..", ucapnya dengan mengusap air matanya. Nathan melepas tangan Sharen.
"Jangan menghindar dari aku Sha..",
Sharen menutup pintu mobilnya, tanpa merespon permintaan Nathan.
Dengan berat hati, Nathan membiarkan Sharen untuk pulang. Bukan hanya pasrah dengan kemarahan Sharen, tapi Nathan juga harus bersiap-siap menghadapi Om Rendra yang akan meminta pertanggung jawabannya. Karena, Nathan lalai menjaga Sharen. Anak perempuan semata wayang Rendra Perdana baru saja mendapatkan tamparan di pipi mulusnya.
Tama memang salah satu orang yang selama ini mengetahui semua rahasia Nathan. Tidak heran, saat ini Nathan pergi ke Apartement untuk menemui Tama. Sahabat sekaligus penasehatnya.
"Bangun....", Nathan melempar Tama dengan sebuah guling.
"Apa sih Nath...elah..kalo mau makan bikin aja sendiri..",
"Aku mau cerita...",
"Hmmmm..apa",
"Aku udah putus sama Luna..",
"Bagus dong...",
"Tapi, Sharen udah tau semuanya Tam.., dia tau kalo selama aku yang jadi secret admirernya..",
"Oh.., lu udah tau?",
"Tau..
Heh..? gimana maksudnya? ",
"Ya lu udah tau kalo Sharen udah tau?",
"Jadi selama ini Sharen udah tau Tam..?"
"Udah...",
"Kenapa kamu nggak cerita..?",
Tama bangun dari tidurnya dengan mengusap-ngusap rambutnya.
"Sharen bilang, dia mau pura-pura nggak tau aja. Dia kecewa.., kayaknya dia punya perasaan sama lu, tapi dia masih bingung..",
"Aku harus gimana? Sharen marah, kayaknya aku nggak ada kesempatan lagi buat Deket sama dia Tam..",
"Masa kayak gitu, lu mau nyerah? kan selama ini lu udah dapat dukungan dari Daddy-nya..",
"Justru itu, kali ini om Rendra pasti marah sama aku Tam..",
"Kamu apain anaknya?",
"Sharen abis ditampar sama Luna, karena aku..",
"Haduh...., susah kalo itu..",
"Aku bingung..",
"Udah resiko.., siapa suruh mainin anak orang..",
"Aku juga nggak terima, Sharen dimainin Bian kayak gitu..",
"Terus, rencana lu gimana?",
"Ya udah, terima resikonya. Mau diapain aku pasrah. Yang penting kepercayaan Om Rendra nggak hilang..",
"Nath..Nath..coba aja dari dulu lu udah ungkapin..",
__ADS_1
"Aku baru sadar, waktu Sharen jadian sama Bian, Tam..",
"Terus, lu jadian sama Luna?",
"Hmmmmm.. buat jaminan. Bener kata Luna.., aku jahat, tapi kakaknya lebih jahat..",
"Ya..ya.., lu cinta banget sama Sharen, tapi lu juga jahat banget sama Luna...",
Semenjak pulang dari Cafe tadi, Sharen mengurung diri di kamarnya. Hingga membuat Mommynya bertanya-tanya.
"Na.., kak Sharen tadi udah pulang kan?",
"Udah mommy, mobilnya Jaz uda ada kok..
Mau Na panggilin..?",
"Iya tolong ya.., mommy telepon kamarnya tapi nggak diangkat..dia udah makan atau belum? ",
"Bukannya tadi ke Cafe ya mom?",
"Iya sih, tapi kayaknya cuma bentar jadi nggak mungkin kalo udah makan siang..",
"Na panggilin dulu mom...",
Kinara mengetuk pintu kamar Sharen, tapi tidak ada jawaban, hingga membuat Kinara mengeluarkan suaranya.
"Mbak.. ini Kinara.., mbak Sharen mau makan nggak mbak? udah disiapin sama mommy..",
"Nggak Na..",teriaknya dari dalam.
"Iya mbak...",
Kinara kembali ke lantai dasar dan langsung menyampaikan ke mommy Aira.
"Mbak Sharen nggak makan katanya mom..",
"Gitu ya.., ya udah biarin di beresin sama Bibik aja...
Bik tolong beresin ya..",
Mommy Aira yang dari awal memang sudah mempunyai feeling yang kurang buruk, akhirnya menuju ke kamar Sharen untuk melihat keadaan putrinya.
"Sha..., mommy boleh masuk sayang..?",
Cukup lama Sharen menjawabnya. Dan akhirnya dia bersuara.
"Masuk mommy...",
"Kamu nggak laper? atau udah makan sama Luna tadi?",
"Nanti aja makannya mom..",
"Nggak diapa-apain mom...",
"Beneran?",
"Iya..",
"Bilang sama mommy kalo dia macem-macem sama kamu..",
"Nggak mommy..",
"Tadi Nathan kesini, nyariin kamu..., terus dia nyusul. Ketemu tadi?"
"Ketemu mom..",
"Tumben dia nggak ngajakin kamu jalan-jalan.."
"Mulai sekarang, kalo Nathan cari Sha, bilang nggak ada aja mom. Sha nggak mau ketemu dia..",
"Kenapa? kalian berantem?",
"Sharen nggak enak sama Luna mom..",
"Hmmm gitu..iya deh.., masih pusing sayang?",
"Makin pusing mommy...",
"Ke rumah sakit aja ya?",
"Nggak usah, nanti Sha minta obat lagi sama Kina..",
"Mau diambilin sesuatu?",
"Nggak mom.., Sha pengen istirahat aja..",
"Ya udah, mommy keluar dulu ya.., kamu istirahat aja..",
Mengetahui ada yang tidak beres, akhirnya Aira terpaksa bertanya kepada sopir yang mengantar Sharen tadi.
"Tadi mbak Sharen ditampar sama Mbak Luna bu..",
"Mamang kok nggak laporan ke saya?"
"Mbak Sharen yang ngelarang Bu.., jadi saya nggak berani..,
Mbak Sharen juga tadi berantem sama mas Nathan, mbak Sharen nangis tadi..",
__ADS_1
"Berantem? nangis? kenapa?",
"Nggak tau Bu, mas Nathan tadi mohon-mohon sama Mbak Sharen, tapi nggak dimaafin..",
"Gitu..,
Ya udah mang. Lain kali kalo ada kayak gitu, mamang bilang ke saya ya..",
Aira tentu saja tidak terima karena putrinya diperlakukan seperti itu. Dia lantas mengadu pada suaminya.
"Emang siapa dia mas? nampar anak orang.., salah Sharen apa? gara-gara Nathan? terus Luna nampar pipi Sharen..?",
"Liat aja, mas nanti buat perhitungan sama mereka..",
"Pokoknya Aira nggak terima ya mas, Sharen dapet kekerasan kayak gitu..",
"Nathan juga harus tanggung jawab...",
"Emangnya ada apa sih mas? cinta segitiga?"
"Nggak..",
"Jangan bohong...",
"Nathan cintanya sama Sharen..., bukan sama Luna..",
"Sejarah terulang kembali mas..", ucapnya dengan memegang keningnya.
"Tergantung ketegasan dari Nathan...,
Ini biar jadi urusan mas sama Nathan...",
"Kalo mas nggak bisa selesain, biar Aira aja yang maju..",
Aira meninggalkan suaminya. Sepertinya memang mommy sedang murka. Dan, seketika itu Rendra langsung menghubungu Nathan.
"Jelasin ke Om Nath...!!!",
"Iya om, Nathan minta maaf...",
keduanya lantas bercakap melalui panggilan telepon.
Sharen tidak mengeluarkan sepatah katapun saat menikmati makan malamnya bersama keluarganya. Adik-adiknya pun sepertinya mengetahui keadaanya.
Tidak bisa memejamkan matanya, dan Sharen memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia menuju ke teras rumah.
"Dad..disini..?mommy mana? ", sapanya ketika tahu Daddynya duduk sendiri.
"Mommy ngelonin Jaz.. nanti gantian Daddy..",
"Ih..Daddy..."
Rendra memandangi putri semata wayangnya. Meskipun sudah ditutup menggunakan makeup, tapi Rendra masih bisa melihat luka lebam di pipi putrinya.
"Daddy tau apa yang terjadi sama kamu..",
"Sharen nggak merebut siapapun Dad..",
"Daddy tau sayang..",
Daddy Rendra memeluk putri sulungnya.
"Nathan yang jahat...",
"Dad tau, tapi itu semua dia lakukan buat kamu, caranya yang salah..",
"Kenapa dia nyakitin Luna seperti itu Dad..?",
" Sebagai balasan, karena kakaknya juga nyakitin kamu..",
"Nggak boleh gitu Dad..",
"Dad tau kamu juga kecewa karena tiba-tiba mantan kamu itu tunangan sama kak Gladys. Tapi, Dad juga bangga sama kamu, karena udah relain Bian..",
"Karena Sharen layak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari kak Bian..",
"Nathan..?",
Sharen menggeleng.
"Kenapa Dad sepertinya sangat percaya sama Nathan..?",
"Karena Dad yakin dia mampu jaga kamu, seperti Daddy jagain kamu selama ini Sha.., Daddy sangat kenal Nathan..",
"Dad mau jodohin Sha sama Nathan..?",
"Nggak sayang.., kamu berhak memilih pasangan hidupmu sendiri...",
"Sharen nggak bisa terima Nathan Dad..",
"Nggak perlu dipaksa kalo kamu nggak bisa. Tapi, kamu harus tau. Cuma Nathan yang bisa mencintai kamu dengan benar, sayang..",
"Mencintai dengan benar?",
"Ya..dia nggak pernah bernafsu untuk memiliki kamu. Dia lebih memilih lihat kamu bahagia dengan pilihanmu, daripada bersama dia. Cuma Nathan yang mengenal baik burukmu.., dia tau bagaimana harus memperlakukan anak Daddy...",
"Kalo pilihan Sharen bukan Nathan, Daddy gimana?",
__ADS_1
"Siapapun itu, Daddy setuju, asal anak Daddy bahagia. Begitu juga Nathan, mau dengan siapapun kamu, dia akan tetap memberikan kasih sayangnya buat kamu, nak..",
Sharen memeluk Daddynya erat. Sudah lama rasanya tidak melakukan percakapan serius seperti ini dengan Daddynya. Semua yang Daddynya katakan memang benar, tapi sayangnya Sharen masih belum bisa memahami apa yang dilakukan Nathan terhadap Luna. Sebagai sesama perempuan, Sharen ikut sakit hati. Hingga lupa jika dirinya juga pernah disakiti oleh lelaki lain, meskipun dengan cara yang berbeda.