Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Bertemu mommy


__ADS_3

Bersama Baby sitter, Nathan membawa Eljaz untuk bertemu dengan Aira, untuk yang pertama kalinya. Entah apa respon Jaz nanti, namun ini adalah satu pembuktian bahwa Nathan bukanlah laki-laki yang ingkar janji. Nathan menepati janjinya untuk membawa Eljaz menemui ibu kandungnya. Apapun yang terjadi nanti, biarkan menjadi resiko yang akan Nathan tanggung. Toh, niatnya baik.


Suster Sri duduk di samping Nathan, dengan memangku Jaz. Anak asuhnya sedari tadi diam, tidak banyak bicara karena merasakan kantuk.


"Jaz malah tidur mas..",


"Nggak apa-apa sus, kalo sampe juga bangun..",


"Tadi dia bangun pagi.., katanya nggak sabar naik motor sama mas Nathan..",


"Iya..ya..kasian..", ucapnya mengelus kepala Jaz.


"Saya suka sedih kalo liat Jaz mas..",


"Makanya aku mau nemuin dia sama Tante Aira. Gimanapun juga, Jaz harus tau.. Dari kecil Jaz udah diasuh sama Sharen.., memang udah dianggep anaknya sendiri..",


"Kenapa Jaz nggak ditemuin aja sama ibunya mas?",


"Aku udah pernah bilang ke Sharen sama om Rendra juga. Tapi, mereka mau tunggu sampe Jaz ngerti.., Jaz memang terlalu kecil untuk memahami ini semua. Kalo Jaz nggak liat foto kemarin, mungkin aku juga nggak akan senekat ini... Aku kasian sama dia..",


" Iya mas.., mudah-mudahan niat baik mas Nathan nggak disalah artikan...",


"Nggak apa-apa, aku udah siap sama resikonya. Sharen udah pasti marah, tapi ya udahlah itu urusan belakang..",


"Mudah-mudahan mbak Sharen nggak marah ya mas..",


"Nggak tau juga.., Sharen itu susah ditebak orangnya..",


"Mas Nathan udah kenal lama sama mbak Sharen..?",


"Udah.., dari kecil.., dari masih jadi zygot, sampe keluar jadi bayi.., sampe dewasa ini...",


"Mas Nathan cocok lho sama mbak Sharen.., kenapa nggak pacaran aja mas..?",


"Husst.., Sharen udah punya pacar. Kalo aku sama Sus aja gimana? kan masih muda juga..",


"Maaf mas.., nggak levelnya.., bagai bumi sama langit.., jauh....",


"Alah.., sus bisa aja. Aku juga udah punya pacar sus... Aku sama Sharen itu sahabatan, udah kayak saudara.., jadi enak kayak gini..",


" Tapi kalo diliat mirip mas, kalo mirip katanya jodoh..",


"Udah.., aku sama Sus aja lah.., oke..deal..",


"Mas Nathan bisa aja loh..,


Ini kita mau ke Rumah sakit keluarga ya mas? Nyonya Aira disana kan?",


"Iya.., lho kok tau..?",


"Hmmm.., anu.., saya kan biasanya ngobrol sama Maid di rumah.., mereka suka cerita-cerita tentang Nyonya Aira. Orangnya baik banget ..",


"Iya.., Tante Aira emang orangnya baik..


Sus yang betah ya jagain Eljaz..",


"Mudah-mudahan saya nggak dipecat ya mas kalo ketahuan..",


"Nggak sus.., nanti aku yang ngomong sama Sharen pokoknya..",


Mereka bertiga akhirnya sampai di rumah sakit. Namun, Jaz masih belum membuka matanya. Anak kecil itu masih terlelap tidur.


"Ini gimana mas?"


"Coba bangunin..",


Sus Sri menepuk pipi Jaz dengan lembut untuk membangunkannya.


"Jaz sayang.., ayo bangun. Kita udah sampe. Katanya mau ketemu sama Tante yang difoto?",


Tanpa menunggu lama, Jaz bangun dari tidurnya. Dia membuka mata, lalu memperhatikan sekitar. Deretan mobil berjajar rapi, karena mereka sedang berada di parkiran mobil.


"Sus.., kita dimana?",


"Katanya mau ketemu sama Tante itu. Yok.., kita keluar. Kak Nathan gendong ya..",


Nathan terlebih dahulu keluar dari mobil dan membuka pintu bagian kiri. Dia mengambil Jaz dari pangkuan Sus Sri, lalu menggendongnya.


"Jaz.., beneran mau ketemu sama Tante itu?",


"Mau..",


"Kenapa mau ketemu?",


"Mau aja..",


"Apa yang buat Jaz pengen banget ketemu sama Tante itu?",


"Jaz nggak tau.., pengen ketemu aja..",


"Ya udah, yok..kita ke dalem ya..",


Mengulang pertanyaannya dan jawaban Jaz masih sama. Keinginannya untuk bertemu dengan Aira sepertinya sungguh besar. Mungkin nalurinya sebagai anak menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuannya.


"Sus.., tunggu disini aja ya. Yang masuk ke dalam cuma 2 orang.., nggak boleh lebih..",


"Iya mas..",


Sus Sri menunggu di ruang tunggu disekitar koridor yang menuju ke ruangan Aira. Penjagaan disana memang cukup ketat. Ada beberapa petugas keamanan yang berjaga disana.

__ADS_1


"Siang mas.., ada yang bisa saya bantu..?",


"Mau masuk..",


"Kartunya..?",


Nathan mengeluarkan kartu yang diminta dari saku celananya. Kartu itu seperti KTP yang dilengkapi dengan barcode beserta identitas diri. Bahkan disertai dengan masa berlaku kartu. Jadi sangat kecil kemungkinan untuk memalsukan kartu tersebut.


"Nathan Aleric Putratama..",ucap pertugas itu membaca nama Nathan.


"Iya.., itu nama saya. Perlu saya keluarkan KTP? SIM.., ATM atau credit card..?",


"Nggak.. nggak perlu mas.., silahkan masuk..",


"Oke..",


"Maaf mas.., anak kecilnya..", tunjuk pertugas keamanan pada Jaz yang digendong oleh Nathan.


"Ini adik saya.., nggak mungkin kan anak sekecil ini saya tinggal sendirian? bapak mau jaga? kalo nangis gimana? mau tanggung jawab?",


"Tapi peraturan disini, yang boleh masuk cuma yang punya kartu...",


"Perlu saya telepon Javas atau Om Rendra?",


"Hmmm..., nggak perlu mas.., silahkan..",


Nathan akhirnya lolos, dan berhasil membawa Jaz untuk segera bertemu dengan Aira. Nathan menarik nafasnya perlahan, lalu membuka knop pintu kamar inap Aira.


Suara alat medis yang dipasang di tubuh Aira terdengar bersahutan ketika keduanya masuk ke dalam sana. Nathan menurunkan Jaz dalam gendongannya.


"Jaz.., boleh dekat tapi nggak boleh nyentuh alatnya. Oke..",


Jaz mengangguk mengerti. Dia segera mendekati Aira. Jaz memperhatikan dan sepertinya mengamati. Mungkin, dia mengingat wajah perempuan yang sedang digandeng oleh Daddynya di foto, dengan perempuan yang ada dihadapannya sekarang.



Nathan menghampiri Jaz lalu berlutut dihadapan Jaz. Dia mencoba menjelaskan kepada Jaz dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak seumurannya.


" Jaz keluar dari perut mommy Aira.., ",


"Bukan dari perut Moma Sharen?",


"Bukan.., Moma Sharen itu kakak Jaz..yang ngerawat Jaz dari kecil. Ini mommy Aira, ibunya Jaz..",


Jaz berdiri mematung. Mungkin mencoba mencerna ucapan Nathan.


"Ibu Jaz..?",


"Iya..,


Hmmm.., kayak kak Nathan sama Mama Farah.., kayak Bunda Fafa sama Kai, Mama Zara sama Zoya.., Jaz ngerti kan maksudnya?",


Jaz mengangguk lemah.


"Mommy sakit udah lama Jaz.., nggak tau sakit apa..", bohongnya untuk menutupi kebenaran agar Jaz tidak bersedih.


"Kenapa mommy nggak mau bangun? dia nggak sayang sama Jaz?",


"Mommy sayang banget sama Jaz..",


"Kenapa nggak pernah pulang kerumah? kenapa malah tidur disini?",


"Mommy Aira belum bisa bangun.., mommy Aira kan lagi sakit..",


"Kapan sembuhnya?",


"Jaz berdoa aja.., supaya mommy bisa cepet bangun. Oke..",


"Oke..", angguk Jaz.


"Jaz seneng nggak, ketemu sama mommy?",


Jaz menggeleng.


"Nggak seneng ya? kenapa?",


"Jaz sedih liat mommy sakit..",


"Makanya.., Jaz doain mommy biar cepet sembuh ya..",


"Iya..,


Ya Allah.., semoga mommy cepet sembuh. Kabulkan doa Jaz ya Allah..", ucapnya dengan menengadahkan kedua tangannya.


"Aamiin...", ucapnya mengusapkan telapak tangannya pada wajah.


"Aamiin..


Anak pinter..sekarang kita pulang..",usapnya pada kepala Jaz.


"Jaz mau digendong..",


"Oke..sini Kakak gendong..",


"Kak.., Jaz pengen cium mommy..",


"Boleh..",


Nathan mendekatkan Jaz kepada Aira, lalu dengan sangat hati-hati, Jaz mencium pipi Aira meskipun terhalang oleh alat medis yang dipasang.

__ADS_1


"Jaz pulang dulu ya mommy..", pamitnya pada Aira.


Namun yang terjadi. Mata Nathan melihat dengan jelas, air keluar dari sudut mata Aira. Dia menangis.


"Tante.., tante nangis..?",ucapnya.


"Kenapa kak?",


"Mommy kamu nangis.., kita panggil suster Jaz..",


Dengan menggendong Jaz, Nathan yang panik berlari menuju ruang suster. Dia bahkan tidak sadar jika sebenarnya Nathan bisa memanggil Suster dari dalam ruangan Aira.


"Sus.., Tante Aira nangis sus..",


"Nangis mas..?",


Dengan tergesa mereka berlari masuk kedalam ruangan. Suster memeriksa keadaan Aira.


"Gimana sus?",


"Memang ada beberapa kasus yang dialami oleh pasien koma. Salah satunya menangis. Ini tandanya ada refleks otak yang menandakan bahwa otaknya masih bekerja..",


"Berarti ada kemajuan dong sus..?",


"Bisa dibilang seperti itu meskipun sedikit...saya disini cuma suster. Saya panggilkan dokter, biar beliau yang menjelaskan..",


"Nggak perlu sus..


Tante Aira nggak kayak gini, kan sebelumnya?",


"Sepertinya tidak..",


"Berarti ini pertama kalinya Tante kayak gini?",


"Iya mas..",


"Oke makasih..


Bisa tinggalkan kami sus..?", usir Nathan pada suster secara halus.


"Kalo ada apa-apa panggil saya mas.."


"Oke..makasih.."


Melihat usahanya membuahkan hasil, Nathan semakin bersemangat untuk mencuri waktu membawa Jaz bertemu kembali dengan Aira. Meskipun belum ada kemajuan yang berarti setidaknya Aira menunjukkan responnya.


"Jaz..!!",


Nathan melihat Jaz yang naik ke atas kursi untuk menjangkau tubuh Aira.


"Hati-hati Jaz..",


"Jaz cuma mau ngusap pipi mommy. Kasian.., pipinya basah karena nangis..", ucapnya dengan mengelap pipi Aira dengan menggunakan tissue.


"Darimana kamu punya tissue?"


"Dari tas Jaz..", jawabnya dengan menoleh , menunjukkan tas kecil yang digendongnya.


"Anak pinter..


Tante.., Nathan janji. Akan bawa Jaz kembali kesini untuk bertemu dengan Tante. Jangan khawatir, Nathan pasti tepatin janji..",


"Mommy jangan sedih lagi. Jaz pasti kesini lagi ketemu sama Mommy.., sekarang Jaz pulang dulu ya..", pamitnya dengan mencium kembali pipi Aira.


Jaz melambaikan tangannya ketika hendak keluar dari ruangan Aira.


"Sus....", teriaknya menghampiri baby sitternya.


"Jaz.., udah ketemu sama Tante yang difoto?",


"Itu bukan Tante.., itu mommy sus..",


"Mommy..?",


"Aku udah cerita sus..",ucap Nathan.


"Jaz udah tau ya? mommy lagi sakit.., berdoa biar mommy cepet sembuh ya..",


"Tadi Jaz udah berdoa..",


"Anak pinter.."


"Jaz.., nggak boleh bilang ke moma atau Daddy Rendra ya kalo kak Nathan ngajakin kamu kesini?",


"Kenapa?",


"Nanti kak Nathan dimarahi sama Moma Sharen.., jadi nanti Jaz nggak bisa ketemu lagi sama Mommy Aira..",


"Jaz nggak akan bilang..Jaz mau ketemu mommy lagi..", jawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan bicara tentang mommy Aira ya. Ini rahasia kita bertiga..", bisik Nathan.


"Oke..,tapi kak Nathan janji kan? mau bawa Jaz kesini lagi..?",


"Pasti ganteng.., asalkan..Jaz nggak nakal. Nurut sama Moma Sharen.., sama Sus Sri ya..",


"Iya kak....",


"Kita pulang yuk? oh iya..kamu kan pengen es krim? kita mampir beli dulu ya..", elus Nathan pada kepala Jaz.

__ADS_1


"Asyik..",


Nathan sudah menepati janjinya pada Eljaz. Kini, dia harus memutar otaknya kembali untuk menepati janjinya pada Aira. Yang akan kembali membawa Jaz ke Rumah Sakit. Sepertinya susah, namun Nathan tetap bersemangat. Mengingat, kehadiran Jaz yang memberikan kemajuan pada keadaan Aira, meskipun tidak signifikan.


__ADS_2