Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Sebuah Jawaban


__ADS_3

Javas benar-benar menunjukkan rasa cintanya pada Kinara. Sehari selama 24 jam selama istrinya sakit, Javas selalu berada disisi Kinara. Membantunya dari membuka mata sampai memejamkan matanya kembali. Melayani segala keperluan istrinya, selama Kinara di rawat di rumah sakit.


"Mas, Kina kapan dibolehin pulang?",


"Ya makanya cepetan sembuh, biar dibolehin pulang..",


"Kina udah sembuh mas..",


"Belum..",


"Udah, Kina udah seger..",


"Dokter yang lebih tau Na..",


"Kina kan dokter mas..",


Javas tersenyum, dia sepertinya salah berucap. Lupa kalau istrinya ini juga seorang dokter.


"Iya, maksud mas tergantung dokter yang nanganin kamu..",


"Na kangen sama Ze..",


"Nanti video call lagi ya..., sekarang makan dulu..",


"Suapin...", ucapnya manja.


"Iya sayangku..., ayo dibuka mulutnya...",


Kinara sudah terlihat segar, namun dokter memang masih menyarankan agar Kinara tetap dirawat.


Awalnya, Javas melarang keras keluarga dan kerabatnya untuk datang menjenguk istrinya. Namun, atas permintaan Mommy. Javas akhirnya mengizinkan mereka untuk menjenguk Kinara.


"Kalau nanti ada yang jenguk, kamu capek. Bilang sama mas ya..",


"Nggak apa-apa mas..",


"Bilang sayang, sia-sia kamu beberapa hari disini kalo nanti udah mulai membaik, tapi drop lagi gara-gara banyak yang jengukin..",


"Iya, makanya pulang aja mas..",


"Nggak.., kamu tetep disini sebelum dokter bilang kamu boleh pulang...",


"Kasian Ze..",


"Kalo malem, Ze tidur sama Omy nya. Apa yang dikhawatirin?",


"Na kangen mas..",


"Sabar sayang...",


Hari ini, Sharen sudah membuat janji dengan Tante Rida untuk menjenguk Kinara di rumah sakit. Tentunya, dengan didampingi oleh Mommy Aira. Karana Sharen masih belum terlalu dekat dengan Tante Rida, Mami Satria. Lalu, dimana Satria? Tidakkah dia menemani? Jawabannya tidak. Satria berada diluar kota untuk melakukan perjalanan dinasnya.


"Halo Tante..",


"Halo sayang.., cantiknya..",


"Makasih...,


Mommy kamu mana?",


"Udah di dalam Tan...yuk..",


Mereka berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah sakit, menuju ke kamar rawat Kinara.


"Satria udah nyampe di Padang, udah hubungi kamu..?",


"Iya, udah Tante...",


Tante Rida tersenyum. Penampilannya seperti ibu-ibu sosialita pada umumnya. Dari atas sampai bawah mengenakan barang dari brand ternama. Jika dilihat dari tutur kata dan gestur tubuhnya, beliau ini orang baik. Suaranya halus, perkataannya juga tertata baik.


"Selamat pagi....",sapa Tante Rida saat masuk ke dalam.


"Pagi...,


jeng.., udah sampai..", sambut Mommy Aira dengan cipika cipiki.


"Nunggu lama ya..?",


"Nggak kok.., baru aja..


Kok repot-repot...", ucap Mommy Aira ketika melihat Tante Rida meletakkan barang bawaannya untuk Kinara.


"Nggak kok..,cuma jeruk aja..",


"Makasih ya...


Na..kenalin ini Tante Rida, maminya Satria..",


Kinara mengangguk dengan memberikan senyuman manisnya. Tanpa bertanya banyak, karena dia tahu siapa Satria, pemuda yang saat ini sedang dekat dengan Sharen.


"Sakit apa sayang...?", tanya Tante Rida pada Kina.


"Tipes Tante...",


"Ya Allah.., kasian...


pasti kangen sama Baby nya ya..",


"Iya Tante..",

__ADS_1


"Wah itu sih setiap jam juga nanyain jeng.., untungnya Ze anak pinter, nggak rewel sama sekali...",


"Untung punya Oma masih muda ya, jadi nggak masalah kalo direpotin..",


"Ah..nggak direpotin sama sekali kok. Aku malah seneng..,jadi ada kesibukan di rumah...",


Melihat keakraban mereka, menyiratkan jika Mommy Aira dan Tante Rida memang mempunyai hubungan pertemanan yang cukup dekat.


Sesekali Kinara melihat ke arah Javas yang sepertinya merasakan hal yang sama. Rasanya ada sesuatu yang kurang pas. Tapi, Kinara dan Javas juga tidak mungkin menunjukkannya. Apalagi, berterus terang kepada Sharen jika mereka sebenarnya juga kurang setuju dengan hubungan Sharen dengan Satria, mengingat Sharen yang menerima Kinara dengan tangan terbuka, meskipun Javas menikahinya karena awalnya terpaksa.


"Oh ya..Farah katanya mau kesini...",ucap Mommy Aira.


"Wah, kok bisa kebetulan...",


"Iya..jadi ceritanya memang hari ini yang dateng itu kerabat atau relasi. Kemarin khusus buat keluarga. Jadi dibagi, biar Kina juga nggak capek..",


"Gitu ya..",


"Tante.., silahkan duduk dulu..",ajak Sharen.


"Iya sayang..",


Lima belas menit kemudian, pintu kamar rawat Kinara diketuk. Masuklah Tante Farah dengan buah tangan untuk Kinara. Tidak datang sendirian, melainkan bersama seseorang.


"Assalamualaikum...",


"Waalaikumsalam....",


"Loh..Rida udah disini tah...",


"Iya...",


Tante Rida dan Tante Farah cipika cipiki. Raut wajah Sharen berubah. Ibarat cuaca cerah, sekarang berubah menjadi mendung. Namun, Sharen masih bisa tersenyum ketika seseorang yang bersama Tanya Farah tersenyum kepadanya.


"Gimana Na, keadaanya..?", tanya Tante Farah.


"Alhamdulillah, sudah membaik Tante...",


"Dijaga baik-baik istrinya..", tepuk Tante Farah pada pundak Javas.


"Iya Tante...",


"Loh Far, kok nggak dikenalin? siapa itu yang sama kamu..?",


Tante Farah memang datang bersama dengan seseorang.


"Oh..ini namanya Dewi...,


De..tuh sapa dulu Tante Aira nya..",


"Dewi Tante...",ucapnya memperkenalkan diri.


"Ini..yang lagi deket sama Nathan..",


"Pacarnya..?", tanya Mommy Aira mempertegas.


"Ya..gitu lah, namanya juga anak muda. Tau sendiri kan? Nathan kan nggak pernah punya temen cewek banyak, kalo udah dikenalin sama aku atau Papanya, berarti ya istimewa..",


"Hmmm.., cantik..",


Jeng..jeng..jeng..


Akhirnya, pertanyaan Sharen tentang siapa Dewi, terjawab hari ini.


Jadi, Dewi memang pacar baru Nathan.


"Makasih Tante..",


"Kira-kira aku atau kamu duluan ya yang mantu?", gurau Tante Aira.


"Aku sih santai, tinggal Nathan maunya gimana..", jawab Tante Farah.


Kinara melirik kakak iparnya sekilas. Ada raut ketidaksukaan pada wajah Sharen. Dia sepertinya tidak nyaman dengan keadaan ini.


Sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai pertemuan mama-mama dibandingkan dengan sebutan menjenguk orang sakit. Ya, karena memang Mommy, Tante Rida, dan Tante Farah yang mengobrol. Baik Sha, Kina atau Dewi hanya menjadi pendengar saja.


"Mbak..baru punya baby ya?"


"Iya mbak, baru genap 3 hari yang lalu sebulan. Eh, malah saya yang harus masuk rumah sakit..",


"Kecapekan ya mbak..?",


"Ya begitulah...


Tapi, seneng sih. Namanya baru punya anak, ya lagi bahagia-bahagia nya, tapi saya malah dikasih rezeki sakit..",


"Kalo boleh tau, full ASI ya mbak..?"


"Iya Alhamdulillah, udah bisa nyetok juga...",


"Usai pernikahannya udah berapa lama mbak?",


"Baru anniversary 1 bulan yang lalu mbak..",


"Oh..berarti langsung dikasih ya..",


"Alhamdulillah, cuma kosong 3 bulan aja..",


Dewi mengangguk-angguk. Dia memang baru pertama kali bertemu dengan keluarga Sharen. Bertemu dengan Tante Farah juga baru beberapa kali, tapi sudah diajak untuk bertemu dengan teman-temannya seperti ini.

__ADS_1


"Ya udah, kalo gitu kita pamit dulu ya Ra..",


"Lah kok buru-buru Far..?",


"Kasian Kina..biar istirahat.


Ini kan sudah mau jam makan siang, tadi udah janjian sama Nathan juga mau makan siang bareng-bareng..",


"Iya deh, yang udah punya calon mantu..",


"Doain aja...",


"Aku juga pamit ya..",


"Pamit satu, pamit semua ya..",


"Biar Kina istirahat..",


"Sha.., kamu disini atau mau ngantor..?", tanya Mommy Aira.


"Mau ngantor mom.., Sha mau nganter Tante Rida ke depan, sekalian ke butik..",


"Dijemput Tama..?",


"Iya, Tama udah di depan Mom..",


"Oke.., kalo gitu..


Far, Jeng Rida, sama Dewi makasih sudah jengukin Kinara.....",


"Iya sama-sama..


Na..cepet sembuh ya, biar bisa kumpul lagi sama Ze..",


"Makasih Tante Farah..


Tante Rida..makasih


Mbak Dewi..makasih ya udah dijenguk..",


Tante Farah berjalan beriringan dengan Tante Rida. Dan, Dewi dan Sharen berada di belakang mereka. Daripada penasaran, mending Sharen bertanya. a


"Mbak Dewi.., udah kenal lama sama Nathan..?",


"Lumayan mbak..",


"Lumayan lama atau lumayan baru..?",


Dewi tersenyum tipis.


"Ehe...s


Hmmm lumayan baru...",


"Oh, pantesan saya baru liat mbak Dewi..",


"Iya..udah 2 kali ya kita ketemu mbak. Waktu itu, saya ke kantornya mbak..buat nganter makan siang buat mas Nathan..",


"Oh..waktu itu nganter makanan buat Nathan, ya mbak..",


Dewi mengangguk.


Sudah puas dengan jawaban atas pertanyaannya selama ini, Sharen kembali diam. Ternyata, benar Nathan sudah move on darinya.


Wajahnya sedari tadi ditekuk, padahal Tama merasa bahwa dirinya tidak mempunyai kesalahan terhadap Sharen.


"Sha..are you okay..?",


"He'em...",


"Sakit..?",


"Sedikit pusing..",


"Mau mampir apotek..?",


"Aku barusan ketemu sama Dewi..",


"Iya, tadi aku liat..",


"Bener kata kamu, dia pacar barunya Nathan..",


"Iya, aku udah tau..",


"Darimana?",


"Nathan yang cerita..",


"Udah official..?", tanya Sharen memastikan.


"Maybe...",


"Oh...", respon singkat Sharen.


Sedikit memundurkan jok kursinya. Sharen merebahkan badannya. Sepertinya dia memang benar kurang enak badan.


"Tam, kalo udah sampe butik bangunin aja ya..",


"Oke..", ucap Tama.

__ADS_1


Ada perasaan tidak tega saat melihat Sharen yang terlihat lemas. Yang Tama lakukan hanya sebaik mungkin memilih jalan mulus, agar tidur Sharen tidak terganggu.


__ADS_2