
Kinara menikmati peran barunya sebagai istri Javas. Menyiapkan segala keperluannya, dari membuka hingga menutup mata, dari bangun hingga kembali tidur lagi. Kecuali, satu yaitu memenuhi kebutuhan di atas ranjang. Meskipun hampir dua Minggu menjadi istri, Javas tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Ingat, mereka menikah karena keadaan bukan perasaan.
Statusnya sebagai istri memang hanya berlaku saat Kinara berada ditengah keluarga dan orang terdekat saja. Diluar itu, dia dan Javas bagaikan orang asing untuk menutupi pernikahan mereka.
"Na.., ikut aku ya.., nggak ada kegiatan di rumah sakit kan?",
"Nggak mas.., kemana?",
"Udah ikut aja.., nanti juga tau..",
"Mas Javas nggak ngantor?",
"Nggak.., udah bilang sama Tama..",
"Kina ganti baju dulu mas..",
"Hmmm.., aku tunggu disini..",
Tidak tahu akan diajak kemana, acara apa, Kinara sudah bertanya tapi tidak dijawab oleh Javas. Kinara memilih untuk menggunakan kemaja dengan bawahan jeans yang terlihat cocok dibawa ke acara apa saja.
"Kenapa pake warna merah sih Na?"
"Emangnya kenapa mas?",
"Kita udah kayak bendera.., kamu diatas, aku dibawah. Merah sama putih..",
"Kan nggak ada yang mau ngibarin kita di tiang bendera mas..",
"Ganti sekarang..",
"Kina kan nggak tau mau diajak kemana..",
"Aku minta kamu buat ganti atasan.., cepetan.., ganti ya..", ucap Javas yang menyuruh Kinara dengan perintah setengah membujuk.
"Iya mas.., Kinara ganti. Terus disuruh pake apa? kemeja putih juga?",
"Iya.., punya kan?",
"Punya.., ya udah Kina ganti..",
Kinara kembali ke atas untuk mengganti kemejanya. Atas, permintaan suaminya. Jika di pikir-pikir sebenarnya Javas ini memang sudah menunjukkan perhatiannya kepada Kina. Namun, entah kenapa Kina sepertinya susah untuk mengerti maksud Javas.
Javas terganggu dengan ponsel Kinara yang sedari tadi berdering. Kinara memang meninggalkan ponselnya, karena dia terburu-buru kembali naik ke atas. Kinara, mendapatkan panggilan nomor yang tidak dikenal. Berkali-kali ponsel Kinara berbunyi, panggilan dari nomor yang sama. Javas yang tidak tahan, akhirnya meraih ponsel Kinara yang diletakkan di atas meja, tanpa persetujuan. Javas mengangkat panggilan tersebut.
"Sayang..",
".............",
"Na.., kamu denger Abang kan? kenapa nomor Abang kamu blok..?",
"Masih punya nyali?", ucap Javas singkat dengan suara yang terdengar santai.
"Javas..",
"Iya.., kenapa?",
"Kinara dimana?",
"Istriku baru ganti baju? ada perlu apa?",
"Lepasin Kinara Vas.., biarkan dia bahagia dengan orang yang dia cinta..",
"Anda menginginkan saya menjadikan Kinara janda? Anda tega? begitu cara anda mencintai Kinara? ",
"Kalian nggak saling cinta..",
"Saya peringatkan, ini terakhir kalinya anda menghubungi istri saya..!!!", ucapnya lalu menutup telepon. Javas lantas memblokir nomor baru Firman.
Javas tidak habis pikir, kenapa Firman masih berusaha untuk menghubungi Kinara. Jika cara halus tidak bisa membuat Firman berhenti, terpaksa Javas akan melakukan cara kasar untuk menghentikkannya.
"Ayo mas..",
__ADS_1
"Udah..?",
"Udah mas..", jawabnya.
Kinara menyadari betul jika letak ponselnya berubah. Namun, dia tidak berani bertanya kepada Javas.
Muka Javas terlihat dingin. Jika sudah seperti ini, Kinara memilih untuk diam, tidak ingin mencari gara-gara. Jika Javas tidak mengajaknya mengobrol, Kinara memilih untuk terus menyimpan suaranya.
Ya Allah, ternyata ini endingnya.
Batin Kinara yang akhirnya tahu jika Javas membawanya ke kantor Pengadilan Agama. Meskipun pernikahan baru seumur jagung, bukan pernikahan yang sesungguhnya, menjadi istri pura-pura, namun tetap saja ada kesedihan yang dia rasakan. Sebentar lagi, Kinara akan menyandang status sebagai seorang janda.
"Kenapa bengong? ayo masuk..",
Sedih, namun dari awal Kinara sudah siap. Cepat atau lambat, perpisahannya dengan Javas pasti terjadi.
Javas masuk dengan membawa amplop coklat yang sepertinya berisi berkas. Kinara berjalan di belakang Javas dengan pandangan tertunduk.
"Kita masuk sekarang udah ditunggu..",
"Kita sidang mas..?",
"Iya..sidang..",
Menerima dengan ikhlas, apapun yang diputuskan oleh Javas yang akan mengakhiri pernikahan mereka.
Mengikuti sidang, menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan oleh hakim kepadanya. Javas lancar memberikan jawabannya, tetapi tidak dengan Kinara yang shock. Semua di luar dugaannya. Sidang yang berlangsung kurang dari 1 jam akhirnya selesai.
"Pak..,terima kasih sudah membantu kami..", ucap Javas kepada kedua saksi pernikahannya kala itu. Satu tetangga , yang satunya masih kerabat dekat Kinara.
"Sama-sama mas..",
"Mas.., kami permisi dulu..",
"Silahkan pak, sopir saya sudah nunggu di depan..",
Bukannya sidang perceraian yang diajukan oleh Javas, melainkan sidang isbat agar penikahannya tercatat resmi oleh Negara.
"Kenapa mas Javas nggak bilang, kina kira kita.....",
"Apa? pisah?",
"Heemm...",
"Makanya jangan suuzon.., aku lakuin ini biar status kita jelas..",
Pernikahan mereka memang masih belum tercatat alias pernikahan sirih. Pernikahan yang berganti-ganti mempelai pria yang akhirnya hanya bisa dilakukan di bawah tangan, karena tanpa persiapan berkas sebelumnya.
Kinara tidak perlu bertanya karena Javas memang sudah mengutarakan alasannya kenapa berkeinginan mencatatkan pernikahannya. Di hadapan majelis hakim, para saksi dan tentunya di hadapan Kinara.
"Mau mampir ke rumah nenek..?",
Kinara menggeleng..
"Nggak kangen?",
"Pulang aja.., mas Javas besok kan masih kerja..",
Kinara baru ingat, obrolan Javas dengan seseorang diujung telepon saat itu. Mungkin, inilah yang dimaksud Javas tentang"syarat" itu. Ternyata Javas diam-diam telah mengurus permohonan sidang isbat di pengadilan Agama.
Mom, Dad, serta Jaz memang belum kembali pulang. Mereka masih betah berada di rumah kakek. Daddynya ikut mengawasi proyek renovasi toko sembako milik kakek.
Javas melakukan panggilan video call dengan Jaz, yang mengaku sangat kangen dengan kakak laki-lakinya.
"Makanya, pulang yul.., jangan disitu terus..",
"Tapi, enak kak.., disini Jaz tuh banyak yang sayang..",
"Apa? karena tiap hari jumpa ibu-ibu, gitu ya..",
"Iya.., Jaz dapet banyak hadiah, katanya mereka kasian karena Jaz nggak punya mainan. Padahal, mainan Jaz banyak ya kak, satu kamar penuh. Jaz kan emang nggak bawa banyak mainan kesini..",
__ADS_1
"Iya.., wah..mereka payah banget ya dek. Nggak tau kalo kamu itu anak sultan..", ucap Javas ikut meninggikan Jaz.
"Nggak apa-apa kak.., Jaz jadi punya mainan baru..",
"Tapi Jaz nggak boleh minta-minta loh...",
"Nggak kok Vas.., pasti mommy ganti uang kalo ada yang ngasih Jaz hadiah.., daripada ditolak, nanti dikiranya sombong..",ucap mommy Aira.
"Iya sih mom...",
"Kak Vas.., udah makan belum..?",
"Belum lah, ini kan masih sore.., kalo mau tanya tuh udah mandi atau belum..?",
"Iya.., kak Vas.., udah mandi belum..?",
"Belum Yul.., bentar lagi.., baru disiapin sama kak Dok.."
"Apanya yang disiapin? kancutnya?",
"Hussst.., ngomong apa sih?",sahut Aira yang berada di samping Jaz.
"Iya.., kan kalo mbak Sus biasanya nyiapin buat Jaz kan mom?",
"Dasar tuyul.., udah dulu ya. Kakak mau mandi dulu..",
"Kak dok mana kak? Jaz pengen ngobrol dong..",
"Bentar.., kakak panggilin dulu yak..
Na...., Na..",
"Iya mas..", jawab Kinara.
Kinara yang baru saja mengambil baju ganti untuk Javas, berjalan menuju ke arahnya.
"Ada apa?",
"Nih.., si tuyul kangen katanya..",
"Oh..., halo Jaz..",ucapnya dadah-dadah ke kamera.
"Halo kak.., mau mandiin kak Javas ya..",
"Bukan Jaz.., nih kakak nyiapin baju buat kak Javas.., Jaz kapan pulang..?",
"Dua hari lagi.., kak Sha juga mau pulang..",
"Oh ya..? wah..., rumah bakalan rame dong..",
"Na.., pegang aja hapenya, aku mau mandi dulu..",ucap Javas kepada Kina.
Kalian harus percaya, inilah pertama kalinya Kinara berani memegang ponsel milik Javas. Itupun, atas kemauan Javas.
"Jaz udah mandi belum?",
"Udah kak.., kakak udah mandi belum?",
"Udah.., nih udah wangi.., udah cantik..",
"Kak..tunggu Jaz pulang ya. Nanti kita maen bareng-bareng lagi..",
"Oke.., kakak tunggu ya..",
"Oke kak.. udah dulu ya.., see you..",
Jaz yang pertama kali mengakhiri panggilan mereka. Sesaat kemudian, Kinara melihat sesuatu dari ponsel yang dipegangnya. Sebuah gambar wallpaper ponsel Javas yang membuat Kinara bertanya-tanya.
Seorang perempuan memakai atasan putih yang sedang memasang seat belt, sayangnya wajahnya tidak terlihat jelas karena melihat ke arah samping. Kinara menduga perempuan itu adalah dirinya. Diperkuat oleh tali tas yang dipakainya tadi pagi saat pergi ke pengadilan Agama bersama Javas. Tapi, apa benar itu dia? Diam-diam Javas memotret dan memasang fotonya? Benarkah?
"Ini aku kan?", ucapnya.
__ADS_1