
Acara resepsi pernikahan Kai dan Sea selesai pada pukul 10 malam. Hanya ada tersisa keluarga yang masih di dalam venue, serta para panitia yang menjadi pendukung acara. Kai dan Sea turun dari pelaminan dan langsung mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan orang-orang yang turut membantu dan mendukung acaranya.
"Terima kasih semuanya.., pakde Rendra, budhe Aira, kak Sharen, kak Javas, kak Kina juga...,
Mas mbak semuanya.., terima kasih banyak..", ucap Kai. Dia lega karena rangkaian acaranya berjalan dengan lancar.
"Sama-sama.., selalu rukun ya kalian..", nasehat Aira.
"Makasih budhe..",
Ini adalah saat yang ditunggu oleh Kinara. Kembali ke kamar untuk segera beristirahat. Meskipun sempat tertidur saat acara tadi, namun tidak mengurangi rasa kantuknya.
"Mas keluar dulu ya Na.. mau ngopi dulu sama Vano, sama Rai. Di bawah ada klien dari luarkota yang ngajakin nongkrong bareng..",
"Iya mas..,
masih pake jas?
"Iya.., nggak apa-apa, cuma bentar aja kok.
Tunggu mas ya.."
Kinara tak menjawab. Dia masih sibuk meneruskan kegiatannya untuk menghapus make up yang menghiasi wajah cantiknya. Tidak banyak pertanyaan ketika Javas meminta izin kepadanya untuk sekedar kongkow bersama sepupu serta kliennya. Tidak curiga? Javas sudah dewasa, semestinya suaminya itu bisa membedakan mana hal yang harus dijauhi dan dihindari. Mana sesuatu yang harusnya dia lakukan.
Wajahnya sudah polos, makeupnya sudah dia bersihkan. Kinara yang sebenarnya sudah ingin untuk beristirahat malam justru masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Tubuhnya sudah segar, air telah membasahi seluruh badannya. Namun, tidak dengan matanya yang sudah ingin dipejamkan. Kinara yang memakai handuk kimono lantas membuka lemari, untuk mengambil baju tidurnya. Sesuatu yang baru dia ingat adalah baju tidur yang dibawakan oleh Bibik ke hotel bukanlah piyama, melainkan lingerie.
"Ckckk..lupa.., nggak punya baju tidur disini..", keluhnya. Dia lantas menutup kembali lemari, lalu berpindah membuka lemari yang berisi pakaian suaminya.
Kinara mengambil satu buah kaos milik Javas, yang ketika dia pakai akan berubah seperti dress pendek.
"Kayaknya gini lebih enak. Nggak kedinginan, nggak keliatan..", ucapnya bermonolog.
Kinara lantas naik ke atas ranjangnya bersiap untuk tidur malam. Mengubur tubuhnya di bawah selimut tebal. Sunggu nikmat.
Javas kembali ke kamarnya ketika jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Javas melihat istri cantiknya sudah terlelap tidur. Dia yang masih berpakaian rapi, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Dengan bertelanjang dada dia naik ke atas ranjang untuk menyusul Kinara. Bukannya ikut tidur, Javas justru mengusik tidur istrinya. Membuka selimut yang menutupi tubuh Kinara, memeluk istrinya dari belakang dan "mendusel-duselkan", wajahnya.
"Na...",
"Hmmmm..",
"Belum tidur..?",
"Udah...",
__ADS_1
"Kok bisa jawab..",
Tidak ada sahutan lagi.
Javas yang baru menyadari jika istrinya sedang memakai kaos miliknya, menjadi mendapatkan ide yang sangat bagus.
"Kamu pakai kaos mas ya..",
"Hmmm...",
"Kenapa?",
"Mas mau apa?", tanyanya ketika Javas memaksanya untuk melepas kaos yang dipakainya.
"Ini kaos mas kan, mas pengen pake..",
Dengan posisinya yang berbaring, Javas melepas paksa kaos yang dipakai oleh Kinara. Istrinya hanya pasrah, tidak protes. Yang paling penting untuk Kinara saat ini adalah dia bisa menikmati waktu tidur malamnya.
Kinara kembali mengubur tubuhnya menggunakan selimut. Dan tidur dengan membelakangi suaminya.
"Na...",
"Hmmmm...",
"Jangan tidur dulu.."
"Jangan hmmmm terus.., mas jadi pengen. Bercinta lagi yuk sayang..",
"Ngantuk..",
"Mas pengen Na..",
"Hmmmm..",
Bukannya marah karena mendapatkan penolakan dari istrinya, Javas justru semakin menggebu.
Kinara yang tidur miring, digulingkan tubuhnya menjadi berbaring.
"Mas...", ucap Kinara yang langsung membuka matanya.
"Iya sayang..",
Kinara tidak bersuara lagi, dia kembali memejamkan matanya.
"Kenapa kamu pake kaosnya punya mas...",
"Pinjem..",
__ADS_1
"Ada upahnya ya..",
"Hmmmm...",
"Mas pengen.., bercinta ya Na..",
"Ngantuk..",
"Menolak suami itu dosa..",
Kinara membuka matanya, namun hanya sebelah.
"Emang iya..",
"Kamu nggak pernah denger ceramahnya pak ustad?"
Kinara menggeleng.
"Sayang...",
"Iya...",
"Kalo mas nggak ngajakin kamu, ngajakin siapa lagi coba.., mau ya..?"
Kinara akhirnya mengangguk.
"Nah.., gitu dong....",
"Mas lakuin apa aja, yang penting Na bisa tidur..",
"Iya...",
Javas mengiyakan perkataan istrinya. Namun, dia juga tidak yakin Kinara akan diam saja ketika diapa-apakan.
Javas kembali membuka selimut . Kini hanya tinggal br*a dan celana* dal*m yang membungkus tubuh Kina.
Javas mulai mencumbu Kinara, dia awali dengan mengecup pundak istrinya.
Kinara diam, masih memejamkan matanya. Javas ingin melihat sekuat apa pertahanan istrinya.
Javas beralih membuka br* yang kina pakai. Lalu, dengan perlahan menggunakan mulutnya untuk menikmati sesuatu yang menjadi bagian favoritnya. Menyapu dengan lidahnya, gundukan kenyal padat berisi yang dihiasi oleh warna kemerahan, hasil keganasan mulutnya tadi malam.
Kinara mengernyitkan dahinya, memejamkan matanya dengan kuat, bertanda jika bentengnya yang dia bangun telah runtuh.
"Masih mau diem..?", ucap Javas yang semakin memperkuat decapan mulutnya.
"Hhhmmmm mas.. ",
__ADS_1
"Jangan kayak pelepah pisang sayang, jangan simpan des*ahan merdu kamu.."