
"Abis ini pulang?",
"Belum tau kak.., kayak masih pengen hidup berdua dulu..",
"Kenapa sih? orang kalo di rumah juga nggak ada yang ganggu kalo mau ngapa-ngapain..",
"Nanti deh kalo kakak nikah juga tau rasanya gimana.., bedanya hidup berdua sama hidup rame-rame..",
"Sayangnya kakak nikahnya masih lama..,
iya-in aja deh, percaya sama yang udah nikah..",
"Nggak boleh ngomong gitu, kalo besok atau lusa dapet yang cocok, langsung nikah.., siapa tau kan?",
"Belum kepikiran...",
"Lah katanya mau ke butik..? kok malah balik ke atas..?",
"Mau ambil tas dulu, mau nyamperin adik ipar dulu sebentar..",
"Oh ya Tam, nanti resume meeting tadi kalo udah jadi, langsung antar ke ruanganku ya..",
"Oke bos..",
"Bunga yang ada di meja ku tadi, dari siapa?", tanya Sharen pada Tama.
"Biasa..secret admirer..",
"Hmmm.., nggak ada bosen-bosennya..",
"Emangnya masih belum ketemu ya siapa orangnya kak?",
"Kakak males cari tau.., udah biarin aja kalo bosen juga berhenti sendiri...",
"Siapa tau itu jodohnya kakak..",
"Nggak tau...", jawabnya. Setelah putus dari Bian, Sharen memang terkesan cuek dengan masalah percintaannya. Entah belum bisa move on, atau memang dia sedang menikmati masa kesendirian. Atau bisa jadi, Sharen trauma. Apalagi, fakta di depan mata yang menunjukkan jika mantan kekasihnya ternyata menjalin hubungan dengan kakak sepupunya.
"Halo Na...",
"Halo mbak...",
mereka cipika cipiki.
"Apa kabar..?",
"Alhamdulillah baik mbak..",
"Makin cantik aja..",
"Makasih.., mbak Sharen juga gitu.
Kapan perawatan bareng lagi..?",
"Wah kemajuan, tumben kamu mau antusias perawatan...",
"Hehehe.., nggak usah dijelasin kan kenapa mbak? oh ya, makan dulu yuk..? Kina udah pesenin makanan mbak..",
"Kamu pesen apa?",
"Japanese food mbak..",
"Yah.., kakak lagi pengen makan sayur..., makasih deh. Mau makan diluar aja Na.., maaf ya..",
"Iya nggak apa-apa.., mau makan sama siapa?",
"Sendirian lah.., emangnya sama siapa? kan nggak punya pacar, apalagi suami..",
"Emang belum ketemu jodohnya aja mbak, padahal diluar sana banyak yang ngarepin jadi pasangan mbak, tapi mereka insinyur..",
"Insecure maksudnya..",
"Iyah..",
"Hehe kamu bisa aja.
Kakak pamit dulu ya.., mau makan lanjut ke butik..",
"Loh.., gitu ya..., hati-hati ya mbak..",
"Iya Na.., makasih.., kakak duluan ya..",
Sharen undur diri. Dia keluar dari ruangan Javas dan menuju ke ruangannya untuk mengambil tas, seperti apa yang diucapkannya pada Javas. Itulah Sharen, perempuan independent yang kesehariannya terbiasa mandiri. Bukan tidak membutuhkan kehadiran laki-laki atau pasangan, hanya saja memang dia sudah terbiasa sendiri.
"Mas jadi kasian sama kak Sha..",
"Kenapa mas..?",
__ADS_1
"Nih..baca sendiri..", ucapnya memberikan undangan pertunangan Bian dan Gladys.
"Mas Bian mau tunangan sama mbak Gladys mas..?"
"Bian aja, nggak usah pake mas.."
"Iya maksudnya mas eh maksudnya Bian..., kok bisa..",
"Ya itu nyatanya bisa..",
"Belum jodoh mas..",
"Tapi, kenapa harus kak Gladys..? emangnya nggak ada perempuan lain?",
"Iya sih.., kesannya gimana gitu ya..
Mbak Sharen, gimana?",
"Kalo yang mas liat tadi sih dia biasa aja, tapi nggak tau dalem hatinya kayak gimana..",
"Sama ya mas kayak kita.., pacaran sama siapa, akhirnya nikah sama siapa..",
Javas menarik tangan Kinara, istrinya itu jatuh di atas pangkuannya.
"Mas kenapa? ", tanyanya ketika tiba-tiba Javas memeluknya dengan sangat erat.
"Pengen aja kayak gini, peluk kamu...", bisiknya pada telinga Kinara.
"Mas nggak makan dulu..",
"Makan kamu aja, boleh nggak..?",
"Jangan disini...",
Javas diam, dia menciumi leher Kinara. Hanya mencium tanpa memberikan stimulasi. Entah apa yang ada dipikiran Javas saat ini. Namun, satu hal yang pasti. Javas mungkin merasa jika takdir seseorang tidak ada yang tahu. Menjalin hubungan dengan siapa, akhirnya berujung pelaminan dengan perempuan lain.
"Mas kenapa sih?"
"Ingetin mas, kalo sampe mas nyakitin kamu. Cukup sekali aja mas lalai karena nggak kasih kamu nafkah. Itu terakhir kalinya mas berdosa sama kamu. Jangan sampai mas berbuat kesalahan lagi ya...",
Kinara mengernyitkan dahinya diiringi dengan tangannya yang meremas kuat tangan Javas. Kinara takut, ada sesuatu hal yang terjadi dengan pernikahannya dengan Javas.
"Ada apa sih mas..?",
"Nggak ada apa-apa sayang.., mas cuma pengen jadi laki-laki yang bertanggung jawab buat istri mas.., itu aja..",
Apa ada hubungannya sama mbak Mine?, ucapnya dalam hati. Namun, Kinara sudah sangat percaya dengan Javas. Suaminya kini sudah banyak berubah.
"Hmmm.., suapin ya?"
"Iya..., lepasin dulu..., Kina ambilin makannya..",
Kinara mengambil makanan untuk dia masukkan pada mulut suaminya. Dengan posisi, masih seperti sebelumnya . Dalam pangkuan Javas.
"Nggak boleh keseringan makan kayak gini ya mas..",
"Kan kamu yang pesen..",
"Kemarin mas kan bilang pengen makan Japanese food, ya udah Kina pesenin...",
"Baik banget sih istri mas..",
"Bilang makasih dong...",
"Makasih sayang..", ucapnya dengan mengecup pipi Kinara.
"Udah kenyang sayang..",
"Nggak diabisin..?",
"Udah..kenyang banget..",
"Ya udah..",
Javas selesai makan, bersamaan dengan itu seseorang mengetuk pintu ruangan Javas. Kinara yang hendak turun dari pangkuan, Javas justru mempererat pelukannya.
"Mas lepasin..., ada yang Dateng..",
"Terus kenapa?",
"Iya masih Na dipangku kayak gini..",
"Udah nggak apa-apa, palingan juga Tama..
Masuk Tam...",
Tama masuk ke ruangan Javas, membawa beberapa berkas. Tama langsung menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Ganggu?",
"Nggak.., duduk aja..
Udah jadi..?"
"Udah.., nih..",
Bukannya Javas yang malu, justru Tama yang malu. Matanya terkontaminasi dengan kelakuan Javas yang tidak tahu situasi. Tapi, dia kan bos jadi ya terserah.
Kinara juga terlihat tertunduk, merasa malu.
"Oke nih..", ucapnya dengan menaruh berkas tersebut dengan sedikit melemparnya.
"Minta tanda tangan bos..", ucap Tama yang menaruh berkasnya.
"Bawa sini..",
"Bisa tanda tangan sambil pelukin bini kayak gitu..",
"Bisa.., siniin pulpennya..",
Javas membubuhkan tanda tangan dengan posisi tangannya yang masih mengukung tubuh istrinya. Sedikit kesulitan memang, tapi tetap bisa. ( Posisi Kina dipangku, terus Javas tanda tangan? bisa bayangin ya gaes ya..?
"Tuh.., bisa kan?",
"Iya iya..apa sih yang nggak bisa..",
"Tam..kamu beneran nggak tau siapa secret admirernya kak Sha..?",
"Nggak tau..",
"Apa jangan-jangan justru kamu sendiri Tam..?",
"Kalo iya, lu restuin nggak?",
"Tergantung, berapa banyak isi tabungan lu..", gurau Javas.
"Sialan.., gajiku aja nggak ada seujung kukunya sama hartanya Sharen...",
"Hahaha..itu tau..
Nggak..nggak, aku bercanda Tam.., siapapun laki-laki yang jadi suaminya kak Sha, yang penting itu pilihan kak Sharen..."
"Hmmm.., makasih udah direstuin.."
"Tam, tolong deh lu susulin kak Sha ke butik, gua khawatir..",
"Kenapa? karena undangan tunangannya Bian sama Gladys? santai, itu undangan udah seminggu yang lalu, dan Sharen ok. Dia fine-fine aja..",
"Tapi aku khawatir..",
"Udah.., tenang, nggak apa-apa..,
Kerjaanku masih banyak disini.."
"Iya deh iya,
oke lu boleh keluar.."
"Oke bos..",
Tama keluar.
"Kita pulang aja gimana mas..?",
"Mau apa?"
"Nemenin mbak Sharen.."
"Nggak usah deh, Mom sama Dad nanti malem udah pulang.."
"Cepet banget.."
"Iya kan cuma check up aja..",
"Hmmm..gitu..",
"Belum mens kan sayang..?",
"Belum..", geleng Kinara.
"Asyik.., nanti malem lagi dong.
sekarang pemanasan dulu..",ucapnya.
Javas langsung memutar tubuh Kinara, menghadap kepadanya. Dengan cepat, Javas langsung melahap bibir istrinya. Mereka berdua berciuman, tidak peduli jika saat ini mereka berada di kantor.
__ADS_1
"Ciuman aja ya mas, jangan lebih..",
"Iya sayang..",