
Disingkat ya guys.
Dua Minggu sudah, Sharen dan Nathan berada di Aussie. Mereka tinggal di Apartement milik Sharen, saat dia mengambil modelling school dulu. Mereka menjalani hari-hari seperti biasa. Makan, jalan-jalan, bercinta, tidur dan berulang kembali. Nathan menghandle pekerjaan melalu layar laptopnya. Tak masalah, dia menantu kesayangan Rendra. Lagi pula, Javas juga tidak mempermasalahkannya. Toh, Nathan juga tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik.
"Udah yank..?",
"Bentar lagi sayang..",
"Jangan diforsir dong...",
"Nggak.., ini mumpung Javas bisa diajakin komunikasi...",
"Jangan lama-lama ya..
kasian makanannya nanti jadi dingin...",
"Iya sayang..bentar..",
Sharen benar-benar menikmati perannya sebagai istri. 24 jam waktunya hanya untuk Nathan. Pekerjaannya juga bisa dihandle lewat laptop atau handphone.
Keputusan Nathan untuk membawa Sharen tinggal berdua jauh dari keluarga ternyata tepat. Meskipun mereka di dera oleh prahara rumah tangga yang sebagian besar orang menganggapnya sebagai masalah besar. Sharen dan Nathan justru semakin solid. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Rumah tangga mereka sedang diuji, tapi mereka membuktikan jika cinta mereka dia atas segalanya.
"Pinter banget istri aku masaknya..",
"Makasih yank...",
"Sore ini mau jalan-jalan..?",
"Boleh...
mau cariin kado buat anaknya kak Gladys..",
"Cewek apa cowok..?",
"Cewek..",
"Mau dikirim ke Indo..?",
"Nggak lah, ribet..
nanti aku titipin ke Vano aja..kalo dia balik ke Indo...",
"Vano di Aussie juga sayang..?",
"Rencana sih gitu..
besok nyampe nya...,
Mau nyamperin tunangannya...",
Baik Nathan dan Sharen juga belum ingin membahas permasalahan tentang hasil tes reproduksi mereka. Keduanya, sangat menikmati hidup di Sydney, tempat paling bersejarah bagi mereka dimana keduanya akhirnya bisa bersatu.
Sebenarnya perasaan Sharen sedih ketika berada di baby shop. Mencari kado untuk putri Gladys yang baru saja lahir. Meskipun keduanya sering berdebat, tapi Sharen tetap menganggap Gladys sebagai kakak sepupu yang baik.
"Lucu nih, sayang...",Nathan mengambil sebuah sweater kecil berwarna pink yang dipenuhi dengan bulu.
"Iya ih lucu banget...,
ambil ya yank..",
"Itu udah banyak...", ucapnya dengan melihat keranjang milik Sharen yang sudah dipenuhi oleh pakaian bayi yang dipilihnya.
"Nggak apa-apa..,
ini terlalu menggemaskan..",
__ADS_1
"Ya udah, ambil aja..
nggak usah banyak-banyak kadonya.., kasian nanti bagasi Vano penuh..",
"Nggak.., dia mah pasti nggak keberatan. Kan ini keponakannya juga..",
"Kalo mas jadi dia sih ogah..., ngasiinnya..",
"Kenapa gitu..?",
"Ya kan Gladys mantannya.., mereka putus kan karena Gladys yang selingkuh",
"Terus..? aku juga nggak boleh gitu ngasih kado? kan kak Gladys nikahnya sama mantannya aku..",
"Udah deh.., nggak usah inget-inget masa lalu...",
"Ye.., kan mas yang mulai..",
"Tapi, mas nggak bawa-bawa Bian ya Sha.."
"Kan Sharen juga nggak bawa-bawa Bian..mas aja yang sensi..",
"Kemarin aja waktu kita ketemu Lila, sampe Apartement kamu marah nggak jelas.., padahal Lila juga bukan siapa-siapanya mas..",
"Kenapa sampai bahas Lila segala sih.., aneh..",
Sharen bete. Mereka memang sering berdebat dengan hal-hal kecil seperti ini. Itu pun, karena mereka terlalu posesif dan pencemburu.
"Udah dong.., nggak usah cemberut gitu..
mas minta maaf...", ucap Nathan ketika istrinya ternyata marah karena perdebatannya di baby shop tadi.
"Mas yang bahas, malah nyalahin Sharen..",
"Ya..
"Sharen juga nggak suka kalo mas bahas Lila, kenapa..?",
"Iya..mas salah..
mas yang mulai tadi...",
"Hmmmm...",
"Jangan cemberut lagi dong...",
"Heeee.......", ucap Sharen yang memperlihatkan gigi putihnya. Dia sedang sibuk membungkus kado untuk keponakannya. Tak lupa menulis kata-kata sebagai ucapan.
Semoga menjadi putri cantik yang lemah lembut, tumbuh menjadi anak pintar, nggak bawel, nggak cerewet, nggak rese kayak mamahnya. ( Aunty Sha & Uncle Nath )
"Itu beneran ucapannya kayak gitu, sayang..?",
"Bener...",
"Nanti berantem lagi sama mamahnya..?",
"Ya biarin, orang dia yang mulai duluan kan biasanya..",
"Iya..tapi kalo kayak gini kan kamu yang mulai duluan...",
"Nggak apa-apa, dia juga biasanya mulai duluan kok..., sekarang gantian...",
"Loh..sayang..,
ini ketinggalan sweaternya..",
__ADS_1
"Emang sengaja nggak dibungkus kok yank..',
"Buat ngado siapa lagi? anaknya Kai? emang udah ketauan kalo cewek..?",
"Nggak..
aku mau nyimpen aja..
kali aja kita dikasih anak perempuan kan nantinya..", ucapnya.
Nathan tersenyum getir. Andai saja, hasil ters menunjukkan keduanya normal dan baik-baik saja. Sudah pasti Nathan akan membawa Sharen ke dokter terbaik untuk memulai program hamil.
"Nggak usah sedih.., kita usaha lagi ya..", Nathan memeluk istrinya.
"Aku kuat karena ada kamu Nath..,
aku nggak sedih, cuma berharap aja..",
"Kita cari dokter terbaik disini ya..? kita cari solusinya..",
"Nggak...!!",
"Lho..kenapa..?",
"Aku masih pengen berdua sama kamu..",
Terang saja Sharen menolak. Jika mereka berdua pergi ke dokter, itu sama saja akan membuka kebohongan yang selama ini dia tutupi.
"Oke..
berarti mas nunggu sampe kamu mau kan..?",
Sharen mengangguk.
"Kalo gitu janji sama mas..",
"Apa yank..?"
"Nggak boleh sedih lagi,apalagi nangis kalo liat baby atau ada orang yang tanya kenapa sampe sekarang belum hamil..? bisa janji kan?",
"Bisa..",
"Mas nggak mau kamu sedih sayang..
kamu tau.., mas bawa kamu ke sini biar kamu nggak stress sama pertanyaan dari orang-orang..",
"Iya Sharen tau...",
"Oke..good girl...,
Udah selesai bungkusnya..?",
"Udah..",
"Sekarang waktunya mas unboxing kamu...",
"Ih takut...", goda Sharen.
"Oh..ngeledek ya..
awas aja..mas buat kamu nggak bisa jalan nanti..",
Nathan membopong Sharen menuju ke kamar mereka diiringi oleh teriakan Sharen yang takut dengan ancaman suaminya.
"Jangan mas...., jangan....ampun....",
__ADS_1
"Liat aja nanti ya Sha...",