
"Sumpah, gw kayak orang tol*ol...",
Javas menumpahkan kekesalannya dengan memukul meja. Tama sudah menyelidiki siapa pemilik mobil yang ditumpangi oleh istrinya. Dan, ternyata platnya palsu alias bodong.
"Istriku pasti nggak mikir sejauh itu Tam..., pasti ada orang dibelakangnya..",
"Iya pasti, dia udah antisipasi sejauh itu. Sampe plat nomor pun diganti kan?",
"Apa mungkin istriku diculik Tam..?",
"Nggak lah..,
Bu bos paling emang nggak ketemu sama kamu dulu..",
"Harus gimana lagi minta maaf sama dia?",
"Sabar bos.., mungkin emang Bu bos perlu waktu..",
"Sampai kapan?",
"Sampai dia capek.., terus mau pulang..",
Javas frustasi. Sepertinya semua usahanya untuk menemukan keberadaan istrinya masih buntu. Tidak ada jalan keluar.
"Kamu yakin? om Rendra nggak tau?",
"Nggak tau.., Daddy sepertinya emang nggak tau apa-apa.., kenapa bilang gitu?",
"Ya..cuma tanya aja. Siapa tau Om Rendra tau...",
Javas menggeleng.
"Aku pulang dulu Tam.., ada acara di rumah..", pamitnya pada Tama.
Sebenarnya, Tama juga kasihan dengan bosnya itu. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Javas pulang ke rumah. Ya, meskipun saat ini dia seperti orang asing. Mommy, Kakak, serta adiknya tidak pernah bertegur sapa dengannya. Saat berkumpul bersama di ruang makan pun, Javas tidak berani berbicara banyak. Takut, jika salah akan fatal akibatnya. Hanya Daddy nya yang berada di pihaknya. Itupun, karena dulu Daddy pernah mengalami hal yang sama dengannya. Ditinggal, saat istrinya sedang hamil muda.
Oh ya, hari ini ada acara arisan keluarga di rumah Javas.
Javas pulang saat rumahnya sudah dalam keadaan ramai. Javas hanya setor muka saja, tidak ingin ataupun berniat mengikuti acara hinggap selesai. Jika melihat saudara, sepupunya, atau kerabatnya yang datang bersama pasangan, membuat hatinya tercabik-cabik. Sakiiiiitttttt.
"Kok baru pulang kak..?", sapa Tante Fafa
"Iya Bun, kerjaan banyak...",
"Mau makan dulu? Bunda ambilin ya?",
"Nggak usah, makasih Bun..",
"Mau kemana kak?",
"Mau ke kamar aja..",
"Rame gini kok ke kamar...?
Samperin Oma dulu sana.., dari tadi nyariin kamu..",
"Iya Bun..",
Seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Javas lunglai, lemah letih lesu. Tidak mempunya semangat sama sekali
"Sore Oma..",
"Cucu Oma..,
Istri kamu kemana? Oma tungguin daritadi nggak ada..",
Javas tidak mungkin berbicara terus terang. Keluarganya memang sepakat untuk menutupinya dari Oma. Beliau sudah sepuh, lebih baik tidak diberitahu, mengingat kondisi kesehatannya yang kerap naik turun.
"Iya Oma.., belum mau pulang, masih betah disana..",
"Cepetan dijemput, Oma kangen..,
Apalagi, lagi hamil. Oma pengen elus-elus perutnya..",
Kepala Javas rasanya mau pecah. Setiap kali orang-orang membahas istrinya yang sedang hamil. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin dan menangis histeris. Mereka tidak tahu apa yang dia rasakan. Hancur-sehancurnya.
"Iya Oma...",
"Oma mau kasih hadiah buat Kina.., biar dia seneng..",
"Makasih Oma...",
Tante Fafa yang berada di tengah-tengah mereka pun merasa terharu. Lebih harunya lagi, melihat wajah Javas yang terlihat sangat sedih, matanya berkaca-kaca ketika berbicara dengan Omanya. Javas memang menahan tangisnya. Pantang baginya untuk menangis, apalagi di hadapan orang banyak seperti ini. Ya, walaupun sebenarnya hatinya sudah menangis.
Arisan keluarga sebenarnya hanya berkedok saja. Keluarga besarnya memang ingin bersilaturrahmi dan memberikan dukungan untuk keluarga Rendra Perdana atas menghilangnya Kinara.
"Sabar kak..",
"Kamu kan punya temen banyak Rai, coba lah kamu tanya-tanya mereka, siapa tau ada yang pernah liat Kina..",
__ADS_1
"Iya Kak, nanti Rai coba share ke mereka.
"Kakak ke atas dulu..",
Javas kembali ke dalam kamarnya.
"Mas kangen sayang, kapan kamu mau pulang? kamu ada dimana? anak kita gimana?", ucapnya ketika memandangi foto Kinara.
Kinara senang, karena hari ini dia mendapatkan teman. Seorang perempuan yang berstatus Janda, yang umurnya sekitar 35 tahun yang akan berkerja untuknya. Mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menemaninya.
"Semoga betah ya mbak..",
"Iya mbak Kina..
Mbak lagi hamil ya? mau dibikin sesuatu? ",
"Nggak usah mbak, makasih...",
Jika dilihat penampilannya. Mbak Surti yang berhijab ini terlihat telaten dan sabar.
"Mbak Surti..sebelumnya kerja dimana?"
"ART juga mbak, cuma kemarin waktu ibu saya sakit, saya berhenti..",
"Lah, sekarang ibunya gimana?",
"Alhamdulillah, sudah sembuh mbak..",
"Anaknya berapa mbak?",
"Satu mbak, ada di pesantren.., jadi mbak Kina jangan khawatir. Saya nggak akan kebanyakan izin pulang, paling kalo mendesak saja.."
"Iya mbak..",
"Mbak Kina tinggal sendirian ya? suaminya kerja dimana mbak?",
"Hmmm..suami saya..kerja di kapal. Pelayaran mbak, jadi ya pulangnya bisa setahun atau dua tahun sekali. Mungkin juga pas lahiran nanti, suami saya belum pulang..",bohong Kina.
"Oh gitu..",
"Oh ya, mbak Surti bisa naik motor? ",
"Nggak bisa mbak..",
"Terus, gimana dong kalo mau belanja mbak?",
"Gampang, nanti bisa jalan kaki..",
Kalo mobil? bisa..?",
"Motor aja nggak bisa, apalagi mobil..",
"Gimana ya.., kalau sepeda, bisa?"
"Kalo itu bisa mbak...",
"Nanti saya beliin sepeda listrik aja ya.., jadi kalo kemana-mana bisa pake itu..",
"Oke mbak...",
Memajukan jadwal check upnya dengan berbagai pertimbangan. Hari ini, Kinara bersiap pergi keluar kota hanya untuk menemui dokter kandungan yang beberapa bulan ke depan akan menjadi konsultannya.
"Udah nggak ada yang ketinggalan kan?",
"Nggak ada..",
"Mbak Surti, jaga rumah baik-baik ya mbak. Kalo ada apa-apa, hubungi saya atau Kinara..",
"Baik Non...",
Tidak menggunakan pesawat terbang, tapi cukup dengan menaiki kereta api saja. Dua jam menempuh perjalanan dan akhirnya mereka berdua sampai dikota tujuan. Langsung menuju hotel, karena janji bertemu dengan dokternya masih nanti malam.
"Gimana?cocok sama mbak Surti..?",
"Iya.., cocok. Kayaknya nanti sekalian kalo anak ini lahir, mbak Surti aja baby sitter nya. Orangnya telaten..",
"Iya..terserah kamu aja..
Udah minum susunya? vitaminnya?",
"Vitaminnya udah, susunya nanti malam aja deh..",
Kinara berbaring. Dengan jelas, dia melihat perkembangan anaknya melalui layar.
"Alhamdulillah, bayinya berkembang sesuai dengan usianya ya Bu..",
"Alhamdulillah...",
"Ada keluhan ibu?",
"Nggak ada dok.., paling kalo pagi aja sedikit pusing. Kalo udah mandi, sama sarapan, pusingnya hilang..",
__ADS_1
"Nggak apa-apa ibu, itu hal yang sangat wajar. Nanti saya resepkan obat sama vitaminnya.., biar ibu selalu sehat..",
"Dok.., boleh nggak foto USG nya dicetak 2kali..?",
"Boleh mbak..",
Rumah sakit yang mereka datangi adalah rumah sakit unggulan di kota tersebut. Sudah tahu kan, alasan kenapa Kinara harus chek up di luar kota? Ya, agar dia lebih leluasa tanpa khawatir untuk ketahuan oleh suami atau keluarganya.
"Buat apa dicetak jadi dua..?"
"Yang satu mau dikirimin ke ibu mertua kamu, nggak apa-apa ya..?",
"Jangan..buat apa?"
"Kamu boleh marah sama anaknya, tapi jangan sama ibunya...setidaknya ibu mertua kamu tau, kalo kamu baik-baik aja..",
Kinara menganggukkan kepalanya setuju. Bahkan, dia sempat menuliskan surat untuk ibu mertuanya.
"Mommy.......", teriak Jaz saat dia pulang dari sekolah.
"Kok teriak-teriak, kenapa sayang..",
"Mom.., Jaz punya sesuatu. Kata, sus...ini foto dedek bayi ya mom..? ini juga ada surat dari kak Kina..",
"Hah..mana sayang, coba mommy lihat...",
Assalamualaikum Mommy..
Mommy, ini Kinara.
Maaf, Kina kirim surat ini ke sekolahan Jaz.
Kina cuma mau bilang, kalo Na baik-baik aja disini. Mommy jangan khawatir ya mom.., Kina sehat, anak Kina juga. Cucu mommy sehat mom, dia juga nggak nakal. Anak Kina udah 10 Minggu mom..Dia tumbuh dengan baik mom, sesuai dengan usianya.
Mommy, Kina minta doanya. Semoga Kina dan anak dalam kandungan Kina, sehat dan selamat sampai Kina lahiran nanti. Suatu saat, Kina pasti akan pertemukan Mommy sama cucu Mommy.
Salam hormat Kina untuk Daddy. Salam sayang untuk mbak Sharen dan Jaz.
Wassalamu'alaikum,
Kinara.
"Ya Allah Kina...
Jaz, tadi yang nganterin surat ini siapa?",
"Nggak tau Mommy.., tadi Miss yang kasih. Katanya, Abang ojek yang nganterin..., itu bener foto adik bayi ya mom...?",
"Iya sayang.., ini foto keponakan kamu. Dia masih kecil, dia masih ada di perut kak Kina..",
"Gara-gara kak Javas, Jaz jadi nggak bisa liat anaknya kak Kina. Kak Javas jahat.....",
"Jaz.. ganti baju dulu sayang..
sus..bawa Jaz masuk ke kamar..", perintah Daddy Rendra.
Tangisan Mommy Aira pecah. Beliau tidak kuasa menahannya. Membayangkan Kina tinggal seorang diri dalam keadaan hamil. Bagaimana kesehariannya? Apa dia makan dengan benar? Tepat waktu? makanannya bergizi? masak sendiri atau beli? Lalu, bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya?Siapa yang akan menolongnya..?
"Ini semua gara-gara kamu Vas.. menantu mommy kabur, cucu mommy gimana? Kamu memang suami yang nggak bertanggung jawab...",
Javas diam, karena apa yang dikatakan mommynya benar.
Javas bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.
"Mom..Dad.., kasiani Javas. Tolong Javas Mom..Dad.., Tolong Javas untuk bisa menemukan Kina. Javas ngaku salah, Javas nggak bisa jaga istri dan anak Javas dengan baik. Tapi, tolong..., bantu Javas agar Javas bisa memperbaiki kesalahan Javas.
Mommy, Javas memang salah. Javas akuin itu Mom.., tapi Javas juga nggak tau harus bagaimana Mom...., maafin Javas mommy...",
Mommy akan Iba? Salah. Mommy mengabaikan Javas dan memilih untuk pergi dari hadapan Javas. Mommy memang sangat marah kepada putranya.
"Berdiri son...",Dad membantu Javas untuk berdiri.
"Daddy kenapa nggak bantu Javas..?",
" Sepertinya, istri kamu memang belum mau bertemu son..",
"Dad.., please..
Daddy tau dimana Kina..?",
Daddy menggeleng.
"Dad bener-bener nggak tau Son..., Kina sepertinya memang marah sama kamu. Kamu mau bersabar?",
"Bersabar seperti apalagi Dad..?",
"Biarkan Kina menghabiskan kemarahannya Son..",
"Sampai kapan Dad.., sampai kapan...?", ucapnya. Javas akhirnya tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis dalam pelukan Daddynya.
__ADS_1