
Tenaga medis yang menangani Aira ketika dia koma selama empat tahun, bergantian masuk ke ruang perawatan Aira. Mereka mengucapkan selamat serta ucapan perpisahan kepada istri Rendra Perdana. Apa yang mereka rasakan? Terharu, bahagia, sekaligus sedih. Orang yang selama ini mereka rawat, akhirnya bisa sadar dan kembali berkumpul dengan keluarganya.
Tenaga medis yang selama ini membantu merawat Aira, mendapatkan gaji diatas gaji yang biasanya mereka terima tiap bulannya. Tentunya, ini kebijakan khusus yang diberikan oleh keluarga Rendra Perdana. Tidak hanya itu, saat Aira dinyatakan sembuh, mereka juga mendapatkan bonus yang nilainya dibilang cukup fantastis.
"Bu Aira.., semoga sehat selalu ya Bu..., jangan balik ke sini lagi Bu...",
"Makasih ya sus.., selama ini sudah merawat saya dengan tulus..",
"Saya bahagia ibu Aira sadar.. tapi saya sedih. Biasanya tiap hari liatnya wajah ibu, tapi mulai besok saya harus merawat orang lain..",
"Gitu ya.., tapi saya bosen disini terus sus.., pengen pulang..",
"Kapan-kapan boleh nggak main ke rumahnya Bu Aira..",
"Boleh dong..",
"Pak Rendra.., terima kasih, bonusnya sudah masuk ke rekening saya.., alhamdulillah bisa buat biaya masuk kuliah anak saya pak.."
"Sama-sama sus.., terima kasih bantuannya selama ini.."
Hari ini Aira sudah diperbolehkan pulang. Meskipun masih harus menjalani beberapa teraphy, tapi dokter menyatakan jika keadaan Aira sudah sehat dan stabil.
Kepulangan Aira dilepas oleh tenaga medis yang selama ini membantu merawatnya. Ada yang menangis haru, tersenyum merekah ada pula yang terlihat lesu.
"Terima kasih semuanya..", ucap Aira tersenyum.
Rendra mendorong kursi roda Aira, disusul oleh putra-putrinya yang berjalan dibelakangnya, Sharen, Javas serta Jaz. Tidak ketinggalan Bian , Mine, serta dokter Kinara.
"Daddy nyetir sendiri?",
"Iya..", ucap Rendra yang mengangkat istrinya masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi depan sebelah kiri.
"Dad, biar disopirin sama kak Bian aja ya?",
"Nggak usah Queen.., ngerepotin Bian..",
"Nggak apa-apa om.., biar Bian aja yang nyetir..",
"Makasih.., nggak perlu Bi..",
"Ya udah, kalo gitu. Pelan-pelan aja ya Dad.., Sha sama kak Bian ada dibelakang..",
Rendra sepertinya sudah sangat merindukan moment berdua seperti ini bersama istrinya. Rendra bahkan lupa, ada anak bungsunya yang sebenarnya tidak bisa lepas dari istrinya. Namun, sore itu Jaz sepertinya mengerti. Jaz terlihat sangat menempel pada Javas. Mungkin, karena beberapa hari yang lalu Jaz berhasil membuat Javas mengeluarkan uang jutaan untuk membelikannya sebuah mainan.
"Jaz.., mau sama Moma?",
"Nggak.., Jaz sama kak Javas aja..",
"Kamu sama Queen aja sana..",
"Kenapa? Jaz kan pengen sama kak Javas..",
"Nggak.., nggak boleh.., kalo nggak kamu sama mbak Sri aja..,naik mobil sendiri. Tuh, kamu kan abis dibeliin mobil sama kak Sharen..",
"Nggak..!! pokoknya Jaz pengen sama kak Javas. Titik!!!!!",
"Tuyul.., ada aja kelakuan kamu.., gangguin orang pacaran aja.."
"Udah lah kak, biar Jaz sama kita aja nggak apa-apa.., Jaz mau dipangku kak mine?",
"Hore...",
"Hora hore.., kakak yang nggak hore..",
Tidak mempedulikan ucapan kakaknya, Jaz malah meraih tangan Mine lalu menarik pacar kakaknya menuju mobil Javas.
__ADS_1
"Ayo kak masuk..", ucapnya.
Javas semakin gemas, andai saja tidak ada Jasmine dan Sharen, sudah pasti dia akan balik mengerjai Jaz.
"Oh ya.., dokter sama Mbak sus ya, dimobil paling belakang..",tunjuknya pada mobil Alphard warna hitam, yang beberapa waktu yang lalu dia beli untuk Jaz.
"Iya mbak..",
"Maaf ya.., dokter di mobil paling belakang..",
"Nggak apa-apa mbak..",
Hari ini, dokter Kinara mulai menjalankan tugasnya untuk memantau perkembangan kesehatan Aira. Untuk sementara waktu, dia memang tinggal di rumah Aira.
"Bebi..",
"Ya..",
"Yang tadi itu dokter yang ngurusin Tante Aira ya?",
"Iya..",
"Aku liat tadi dia bawa koper, tinggal di rumah?",tanya Jasmine kepada kekasihnya.
"Kata Dad sama Queen sih gitu.."
"Dokternya cantik ya kak..",
Javas menghela nafasnya panjang. Ucapan Jasmine, seperti nada seorang perempuan yang mencurigai kekasihnya.
"Namanya juga perempuan..",
"Berarti beneran cantik ya kak?",
"Hmmmmmm..",
"Kenapa? ",
"Nggak apa-apa..",
"Nggak usah nethink sama aku deh Beb..",
"Hehehe nggak.., walaupun ada.., sedikit..",
"Udah ya, nggak usah mulai.., dari kemarin kamu tuh kayak ngajakin aku berantem terus, kamu PMS?",
"Iya..",
"Pantesan aja.., ngajak tarung.., untung ya aku ini sabar...",
"Sabar sih, tapi kalo lagi marah juga nyeremin...",
"Mana pernah aku marah sama kamu? palingan juga kalo kamu telat makan, atau kalo nggak ya karena pergi sama temen-temen kamu sampe nggak inget waktu..",
"Utu-utu.., ayang aku..,
Makasih sayang..",ucapnya dengan mencubit pipi Javas dengan gemas.
"Because i love you..",
"I love you, too..",
"Untung si tuyul ini tidur, kalo nggak.., pasti udah diceng-cengin aku..",
"Jaz itu usil sama kamu, bukan karena dia nakal. Tapi, dia itu cari perhatian sama kamu...",
__ADS_1
"Maksudnya?",
"Kan selama ini kamu galak sama dia. Setelah Tante Aira bangun, kamu berubah sikap. Jadi dia tuh seneng..",
"Iya mungkin..",
"Kamu tuh saudara laki-laki satu-satunya. Jadi, kamu tuh kayak panutannya dia. Makanya, mulai sekarang, jaga sikap. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh depan dia..",
"Iya sayang..",
Sebenarnya, Kinara sudah menolak. Tapi, Sharen memaksanya untuk ikut bersama rombongan keluarganya karena dokter Kinara belum tahu alamat rumah.
"Mbak Sri.., udah lama ikut sama keluarga pak Rendra?",
"Belum mbak.., bulan ini baru genap dua bulan..",mbak Sri yang duduk disamping sopir, berbalik badan, menghadap Sharen yang mengajaknya mengobrol.
"Oh.., baru ya?",
"Iya.., sebelumnya kan Jaz nggak punya baby sitter. Dia dirawat sama mbak Sharen dari kecil, dibantu Maid, sama saudaranya yang lain...",
"Oh gitu..mbak Sharen baik ya?",
"Baik banget dok. Dokter pasti betah deh.., tinggal disana. Orangnya ramah-ramah. Ya meskipun suasananya biasanya sepi. Mbak Sharen sibuk kerja, pak Rendra biasanya lebih suka ada di kamar, mas Javas nggak tinggal disitu, dia tinggal di Apartement..",
"Hmmmm.., mudah-mudahan ya mbak..",
"Panggil sus Sri aja dok..",
"Saya juga jangan dipanggil dok dong mbak.., saya bukan kodok..",
"Ya Allah, maksudnya dokter..., dok..",
"Panggil aja Kinara.., pendeknya Kina.., Kiki, atau Nana juga boleh..",
"Iya mbak Kina..",
"Kalo yang tadi pacarnya mbak Sharen ya sus?",
"Iya mbak.., den Bian.., saya sih baru liat akhir-akhir ini, karena dia biasanya tinggal di luarnegeri.."
"Oh gitu..",
"Nah kalo yang tadi digandeng sama Jaz, itu mbak Jasmine, pacarnya mas Javas. Mbak Jasmine itu anak sahabatnya pak Rendra sama Bu Aira. Mas Javas udah naksir sama mbak Mine dari kecil katanya..",
"Owalah, gitu ya..",
"Mbak Kina asalnya dari mana? bukan orang sini kan?",
"Bukan.., saya anak rantau sus..",
"Wah.., pasti bapak sama ibunya mbak Kina bangga ya, anaknya jadi dokter..",
"Mudah-mudahan bangga Sus.., ibu saya sudah meninggal.., kalo Bapak.., udah jarang ketemu. Sehari-hari ya tinggalnya sama nenek..",
"Maaf loh mbak..",
"Nggak apa-apa..",
"Terus neneknya sekarang sama siapa mbak?",
"Nenek tinggal sendirian, tapi samping rumah nenek ada rumahnya Tante. Nenek nggak mau tinggal bareng Tante, katanya lebih seneng tinggal di rumahnya sendiri...",
"Ya.., maklumlah mbak, namanya juga orang tua.."
Rombongan tersebut akhirnya tiba di rumah. Deretan karangan bunga serta mobil berjejer rapi di halaman rumah. Rupanya, keluarga Aira menyambut kedatangannya.
__ADS_1