Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Trial.


__ADS_3

Mommy Aira akhirnya memilih untuk memberitahu Javas apa yang menimpa Kinara. Itu lebih baik, daripada nanti Javas akan mengetahuinya dari orang lain.


"Istri Javas mana mom..?", tanyanya ketika Javas baru saja sampai di rumah Om Revan.


"Ada di kamar lagi istirahat..",


"Kok bisa sih mom? Kina kenal sama demit kayak Erna itu..",


"Masih saudara jauh katanya..",


"Oh...",


"Nggak kaget?",


"Cuma saudara jauh kan? bukan anaknya..., ngapain juga kaget. Tadi Kina diapain?",


"Dikata-katain..,


Tadi mommy mau ditampar, tapi untungnya ditangkis sama Kina.., istri kamu ngajakin duel si Erna..",


"Keterlaluan..,


Tapi istri Javas bisa tegas kayak gitu mom?",


"Perempuan itu bisa lakuin apa aja kalo kepepet..,


Hampir aja jadi ibu tiri kamu ya Vas..", liriknya pada Rendra yang berada disamping Javas.


"Amit-amit..,


Javas ke kamar dulu ya mom..",pamitnya pada Mommynya.


"Kamu ngomong apa sih sayang..",ucap Rendra ketika Javas sudah pergi meninggalkan dia dan Aira.


"Perempuan kayak gitu direspon mas..mas..",


"Mas nggak punya hubungan apa-apa sama dia, sedikitpun nggak ada rasa..",


"Dad...mom...stop.....,


jangan berantem..", ucap Jaz yang tiba-tiba datang. Dia sepertinya sedikit mendengar percakapan kedua orang tuanya.


"Nggak kok sayang...",


"Jaz laper mom..",


"Belum makan siang?",


"Belum mommy..",


"Ya udah makan yuk..",


"Dad juga mau makan mom..", ucap Rendra pada istrinya.


"Iya ayo..",


Javas masuk ke dalam kamar ketika Kinara sedang membereskan barang-barang mereka.


"Na....",


Kinara yang baru membongkar isi kopernya lantas menoleh ketika suaminya menyapa.


"Mas.., udah pulang..?",


"Iya.., ngapain?",


"Beresin baju mas..", ucapnya. Kina lantas berdiri menghampiri suaminya dengan membawa baju ganti untuk Javas.


"Ganti dulu..",


"Kamu nggak apa-apa?", tanyanya dengan memegang sebelah pipi istrinya menggunakan telapak tangannya.


Kina menggeleng.


"Cerita sama mas..",


"Mommy sama mbak Sharen udah cerita kann",


"Iya mommy udah cerita..",


Kina menghela nafasnya panjang, dia lalu duduk di sofa.


"Kina kesel, marah, sedih.., kenapa dia selalu mengusik hidup Kina..",


Javas duduk disamping Kina.


"Kamu masih saudaraan sama Erna?",


"Iya mas..",


"Sedeket apa?",

__ADS_1


"Kayak bumi sama langit..",


"Itu namanya jauh..sayang..", Javas menoel hidung Kina, membuat istrinya tersenyum lucu.


"Kan emang saudaranya jauh, nenek buyutnya itu sepupunya ibu nya nenek..",


"Gimana-gimana?",


"Mas Javas nggak paham ya? sama Kina juga nggak..",


"Lama-lama kamu gemesin ya..",


"Tante Erna yang bikin ibunya Firman nggak suka sama Kina..",ucapnya tiba-tiba.


"Ya baguslah, kalo nggak gitu.., mana mungkin kamu jadi istrinya mas.., nggak bakal kamu jadi menantunya mommy Aira. .",


"Kalo dia nggak suka, seharusnya nggak memprovokasi orang untuk nggak suka kan mas?",


"Tapi kali ini aku dukung Erna..,


Erna punya hubungan apa sama ibunya MANTAN kamu itu..", ucapnya penuh penekanan pada kata mantan.


"Temennya..",


"Kamu mau mas apain Erna?",


"Apain gimana maksudnya? udah nggak usah.., biarin aja dia hidup sama rasa bencinya.. kalo kita bales, apa bedanya kita sama dia?",


"Dia udah buat kamu nangis..",


"Na tadi jadi kangen sama ibu..",


"Abis acaranya Kai selesai, kita ziarah. Mas anterin..",


"Beneran? makasih ya mas..",


Meskipun Javas setuju untuk tidak membalas perlakuan Erna, namun dia tetap akan membuat perhitungan. Perlakuan kasarnya pada Kina menambah daftar hitamnya di mata Javas.


"Mas udah transfer uang bulanan kamu.., udah masuk kan?"


"Na belum ngecek mas..",


"Ya udah cek dulu..",


Kina mengambil ponselnya lalu memeriksa phone bankingnya. Matanya terbelalak ketika tahu nominal uang yang diberikan Javas untuknya.


"500 juta? ini buat sebulan?",


"Banyak banget mas..",


"Beli apapun yang kamu pengen.., semua kebutuhan kamu, mas yang tanggung. Kalo lagi belanja sama mommy, usahain pake uang yang mas kasih ke kamu ya.."


"Iya mas.., makasih..",


"Sama-sama..,


Udah nggak sedih kan?"


Kina menggeleng.


Malam ini mereka akan ke rumah Sea untuk memberikan hantaran calon pengantin perempuan. Sederetan barang-barang sudah di tata sedemikian rupa untuk dibawa oleh keluarga calon pengantin laki-laki untuk diserahkan kepada keluarga calon pengantin perempuan.


Lagi-lagi Javas dibuat terpesona oleh kecantikan Kinara yang malam itu mengenakan kebaya tradisional. Istrinya terlihat sangat cantik dan anggun. Wajahnya dibalut dengan make up ringan, kecantikannya bak putri keraton yang terlihat mahal.


"Cantik..", bisiknya pada Kinara.


Javas memang sebelumnya tidak tahu akan seperti apa wajah istrinya, karena Kina di rias di kamar khusus.


"Bisa jalannya?", tanya Javas kepada Kina yang memang menggunakan kain jarik untuk membalut tubuhnya.


"Bisa mas..",


Javas mengulurkan tangannya. Lagi-lagi dengan posesifnya, Javas menggandeng Kinara.


"Ini apa sih berdua, malah pegangan tangan aja. Bantuin bunda bawa seserahannya dong Kak.., tuh masih banyak..",


"Iya iya Bun.., mana yang Javas bawa?",


"Tuh kak..",


Sebuah prosesi pra acara satu persatu dijalani oleh Kai dan Sea. Besok lusa, adalah hari H dimana Kai akan mengucap janji untuk mempersunting Sea menjadi pendamping hidupnya.


"Sea tadi, cantik nggak Bun..?", tanya Kai ketika rombongan keluarganya sudah kembali ke rumah. Kai memang tidak diperkenankan ikut. Sebelum akad nikah, Kai sudah tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan calon istrinya.


"Mau liat? tuh tadi ada di ponselnya kak Sharen..", ucap Bunda Fafa.


"Mana kak?", tanya Kai yang penasaran.


"Wani Piro..?",canda Sharen.


Hari ini keluarga Rendra Perdana memang secara khusus menginap di rumah Om Revan. Rumah masa kecil Sharen dan Javas sebelum mereka pindah ke rumah baru.

__ADS_1


"Na.., ke kamar yuk..",


"Nanti mas, nggak enak lagi rame gini..",


"Kalian mau istirahat? ya udah nggak apa-apa.., silahkan..", ucap bunda Fafa.


"Tuh kan.., yuk..",


"Kina sama mas Javas permisi dulu..", pamitnya. Sebenarnya Kinara merasa tidak enak, disaat keluarga besar berkumpul. Dia dan Javas malah harus pergi untuk beristirahat.



"Langsung praktek aja ya..",


Javas mendekatkan wajahnya pada istrinya. Sebelum bibirnya mendarat di bibir Kinara, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


Tok..tok..tok..


"Mas.., ada yang ngetuk..",


"Siapa sih, ganggu aja..",


Javas menunda usahanya, dia lantas berjalan untuk membuka pintu kamar.


"Kak.., dipanggil sama pakdhe..",


"Ada apa?",


"Di depan ada relasi yang dateng..",


"Malam-malam gini Rai?",


"Iya..",


"Ya udah.., nanti kakak ke depan..",


Javas kesal, sudah hampir tengah malam tetapi masih ada yang berkunjung. Memang, di rumah Om Revan suasananya masih ramai oleh keluarga dan kerabat yang justru begadang, hanya sekedar mengobrol.


"Mas keluar dulu ya sayang..dipanggil sama Dad.."


"Iya mas..",


"Jangan tidur dulu, tungguin mas ya..",


Kinara mengangguk tersenyum.


Niat hati ingin sebentar saja menyapa relasi yang datang, Javas justru terjebak oleh situasi yang tidak memungkinkan dirinya untuk pamit undur diri lebih awal. Javas terpaksa, ikut mengobrol, dan hanyut oleh percakapan yang ujung-ujungnya membahas tentang pekerjaan.


Javas kembali ke kamar, setelah jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


"Na..sayang..", ucapnya lembut.


Tidak ada sahutan dari Kina, istrinya memang sudah terlelap tidur.


"Kamu udah tidur ya..",


Kina diam.


"Sayang...",


Tangan Javas mulai nakal, menjamah tubuh Kinara, membuat istrinya yang sudah tidur menjadi terganggu.


"Kina ngantuk mas..", ucapnya. Meskipun dengan matanya yang tertutup, tapi Kina berhasil menangkap tangan Javas yang mulai meraba-raba tubuhnya.


"Mas.., diem yach..., tangannya jangan nakal..",ucapnya lembut khas bicara orang yang tidur.


"Suara kamu Na...",


Javas kini memeluk tubuh istrinya yang tidur dengan membelakanginya. Tangan Kina masih saja menahan tangannya agar tidak bergerak kemana-mana.


Javas masih melancarkan usahanya, dia mulai menciumi pundak istrinya, mendusel leher belakang Kinara.


"Mas.., geliiii..",


"Bangun sayang..",


"Kina ngannnntuk...",


Javas akhirnya menyerah, malam pertamanya bersama Kina harus menjadi malam yang paling indah bagi hidupnya. Lagi-lagi Javas menundanya. Kinara kembali terlelap tidur.


Genggaman tangan Kinara lepas, karena dirinya sudah kembali ke alam bawah sadarnya. Hal ini, dimanfaatkan Javas untuk kembali mengarahkan tangannya, memegang payu*dara milik istrinya. Ini pertama kalinya Javas melakukannya.


"Shitttt..., lebih dari apa yang aku lihat selama ini..",


Javas merabanya dari luar. Tidak ada perlawanan dari Kinara, karena istrinya sudah kembali terlelap tidur.


"Siap-siap besok malam sayang.., malam ini kamu masih selamat, tapi besok nggak akan lagi..",bisiknya pada telinga Kinara, lalu kembali menciumi pundak istrinya.


Malam ini adalah masa percobaan Javas, untuk sedikit menjajal medan perangnya agar besok dia bisa lancar ketika berperang.


Next bab guys..,

__ADS_1


Gagal di bab ini, biar ceritanya nyambung dulu...


__ADS_2