
Sayangnya, obrolan ringan plus pedekate yang dilakukan Nathan harus terhenti ketika Surti mendekat.
"Non Sharen, dipanggil sama Nyonya..."
"Ada apa..?",
"Nggak tau..
Non..ini mas siapa namanya..?", tanya Surti.
"Kenalan aja sendiri..",
"Boleh Non?
Mas ganteng, namanya siapa? pacarnya Non Sharen..?", tanyanya pada Nathan.
Nathan hanya tersenyum.
"Bukan..", justru Sharen yang menjawabnya.
"Iya..bukan mbak.
Saya calon suaminya Sharen..",
Sharen membelalakkan matanya.
"Dih..ngarang deh..
Ya udah aku samperin Mommy dulu sur..",
"Iya Non..
Mari mas ganteng..",
"Iya mbak..",
Sharen menarik Surti untuk menjauhi Nathan.
"Genit banget sih..",
"Kenapa kerja disini ketemunya sama orang-orang ganteng ya Non..",
"Bye sayang..", ucap Nathan kepada Sharen.
Sharen yang tidak sadar dengan ucapan Nathan, hanya melambaikan tangannya.
"Manis banget..", ucap Nathan setelah meneguk minuman bekas Sharen. Sampai segitunya? Ya, Nathan memang sudah biasa makan sisa atau join dengan Sharen. Tak jarang, mereka juga sering makan sepiring berdua.
Sharen menghampiri mommy nya.
"Mom...",
Mommy menghentikan obrolannya sejenak.
"Nah..ini Sharen...,
duduk sayang..",
Sharen duduk di dekat mommynya. Entah dengan siapa Mommy nya berbicara, yang jelas Sharen belum pernah melihatnya. Satu orang perempuan yang berumur mungkin beberapa tahun di atas Mommy serta satu laki-laki muda yang sepantaran dengan Sharen.
"Ada apa mom..?",
"Mommy pernah cerita kamu soal Satria kan? Nah..ini dia...",
Ya, beberapa kali Mommy memang bercerita mengenai Satria, putra dari salah seorang teman sosialita Mommy. Satria ini lulusan luar negeri, dan saat ini dia bekerja di perusahaan milik keluarganya. Orangnya mandiri meskipun berasal dari keluarga berada. Pekerja keras, supel, baik, tidak neko-neko. Ini, cerita dari Mommy.
Sharen tersenyum pada Satria. Tidak bisa dipungkiri, Satria memang tampan. Seperti apa yang diceritakan oleh Mommy.
"Satria...", ucap pemuda itu dengan mengulurkan tangannya.
"Sharen...", ucap Sharen.
Mommy Aira nampak senang ketika putrinya berkenalan dengan Satria.
"Kenalin sayang, ini Tante Rida..mamanya Satria..",
Sharen kembali memperlihatkan senyum manisnya.
"Sharen Tante.."
"Rida..
__ADS_1
Cantik banget sih kamu..."
"Makasih Tante..",
"Ya udah, kalian ngobrol aja dulu..., Mommy sama Tante Rida mau nyamperin temen-temen Mommy yang lain..",
Sharen menganggukkan kepalanya.
"Mudah-mudahan mereka cocok ya..",
"Iya jeng, semoga...",
Mommy Aira rupanya benar-benar ingin menjodohkan putrinya. Padahal, Sharen sudah berkali-kali menolaknya.
Sharen diam, rasanya canggung ketika duduk berhadapan dengan Satria, seperti ini. Apalagi, mereka memang baru pertama kali bertemu. Tapi, tidak untuk Satria yang mengaku sudah beberapa kali bertemu dengan Sharen, meskipun hanya berpapasan.
"Udah makan tadi..?",
"Iya udah..barusan aja. Dipanggil sama Mommy, jadi ya langsung kesini..",
"Hmm..maaf ya. Jadi ketunda makannya..",
"Nggak kok.., kebetulan udah selesai..",
Satria ini supel. Dia juga pandai menemukan bahan obrolan, sehingga membuat Sharen tidak bosan.
Dua pasang mata, ternyata mengamati mereka berdua dari jarak yang jauh. Ya, meskipun tidak mendengar secara langsung, tapi Sharen terlihat sangat nyaman. Sesekali juga melihat gadis itu tersenyum dan tertawa.
"Ini di luar kendali Om, Nath..",
"Nggak apa-apa Om..",
"Masih minat jadi mantu om kan?",
"Nathan nggak akan pernah nyerah Om..",
"Kayaknya kamu harus lebih kerja keras lagi Nath, udah ada saingan..",
"Nggak ada yang kenal Sharen, sebaik Nathan Om..",
"Om bakalan bantu kamu..",
"Nggak perlu Om, Nathan bisa berjuang sendiri...",
"Makasih Om..",
Ya, Nathan melihat Sharen yang sedang asyik mengobrol dengan Satria. Nathan tidak gentar sedikitpun, hanya saja benar kata Om Rendra. Dia harus berjuang ekstra kali ini. Tapi, keyakinannya tidak sedikitpun pudar. Nathan tetap percaya, jika Sharen adalah takdirnya.
Acara Aqiqah Zee berjalan dengan lancar dan sukses. Bayi tampan itu, tertidur ketika acara sudah selesai. Benar-benar bayi pintar yang menggemaskan.
Kinara dan Javas mengucapkan terima kasih dengan kedatangan tamu yang sudah meluangkan waktunya untuk mendoakan Zee.
"Makasih Oma..", ucap Kinara yang baru saja mendapatkan kado dari Oma. Sepertinya sebuah satu set perhiasan lagi.
"Sama-sama.., kalian yang rukun ya...",
Kinara hanya tersenyum, tapi tidak dengan Javas yang langsung mengamini doa dari neneknya.
"Makasih Oma,
semoga Oma selalu sehat, jadi nanti bisa lihat anak kedua Javas ya..",
Kinara melihat wajah suaminya yang tersenyum tanpa dosa. Jahitan bekas lahiran kemarin saja belum kering, ini sudah membahas anak kedua. Lagi pula, masalah diantara mereka juga belum selesai.
"Oma pulang dulu ya..",
"Makasih Oma..",
Oma buru-buru pulang, karena esok pagi harus kembali ke Spore untuk check up kesehatan bulanan.
Setelah satu persatu tamu pulang, Kinara masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Dimana Ze? Seperti biasa, bersama Papanya yang asyik mengobrol dengan sepupu-sepupu yang lain.
Kinara sudah selesai mengganti bajunya dengan baju rumahan. Sebuah daster busui, agar mudah ketika hendak menyusui Ze nanti.
Javas masuk ke dalam kamar, dengan menggendong Ze yang masih tertidur. Javas menaruh Ze ke dalam boxnya. Dan, untungnya Putranya itu tidak menangis.
"Sayang.., tolong baju nya mas..",
Javas ini memang bersikap seolah-olah diantara dia dan Kinara tidak terjadi apa-apa. Padahal, Kinara hanya masih memendamnya saja, bukan melupakan.
"Ambil sendiri aja..",
__ADS_1
Javas menghampiri Kinara yang duduk di meja riasnya, sedang menghapus make upnya.
"Kamu kenapa sih? masih belum bisa maafin mas..?",
Kinara berbalik badan dan menghadap ke arah suaminya yang berdiri di belakangnya.
"Iya..",
Kinara berdiri, hendak meninggalkan Javas tapi sayangnya tangan Javas sudah lebih dahulu mencegahnya.
"Mau bicara sekarang..?",
"Nggak perlu..",
"Kenapa..?",
"Kina ada disini, cuma untuk menghormati Mommy sama Daddy, nggak lebih mas..",
"Kamu nggak bisa maafin mas..? nggak bisa bertahan sama mas? nggak mau lagi nerusin pernikahan kita..?",
"Hati Kina udah terlanjur sakit..., Kina hamil harusnya jadi kabar bahagia buat mas.., tapi Kina nggak pernah sekalipun punya kesempatan buat ngomong ini. Mas nggak punya waktu buat Kina.., mas cuma jadiin Kina Opsi, bukan prioritas..",
"Bukan gitu Na, mas nggak bermaksud kayak gitu..",
"Terus apa? faktanya emang gitu kok..",
"Mas khilaf Na..",
"Khilaf itu sekali mas, kalo berkali-kali itu namanya udah kebiasaan. Kalo saat ini mbak mine masih hidup, apa mas bakalan peduli sama anak kita? apa mas peduli sama Na...?",
"Kenapa kamu tanya kayak gitu sih..?",
"Karena Na nggak yakin sama mas Javas..",
"Mas harus lakuin apa biar kamu percaya sama mas? mas nggak seburuk itu..",
"Nggak perlu lakuin apa-apa mas.., karena sulit buat percaya sama mas Javas lagi..",
"Kamu nggak bisa maafin mas, Na..?",
"Susah mas..",
Kinara berani menatap mata Javas yang terlihat gurat penyesalan di sana. Berbeda dengan mata Kina yang menyiratkan sebuah kekecewaan.
Javas bersimpuh dihadapan istrinya. Kinara kaget.
"Mas.., berdiri mas..",
"Mas nggak akan berdiri, sebelum kamu maafin mas.
Na.., mas mohon sama kamu, maafin mas. Kita perbaiki pernikahan kita sayang...",
"Mas.., tiang rumah tangga kita udah roboh..",
"Mas mohon.., mas nggak mau kehilangan Ze..",
"Ze nggak akan kemana-mana. Ze tetep bisa sama mas..",
"Kamu juga kan..?",
Kinara menggeleng.
"Ze nggak akan kehilangan sosok orang tua mas.., kita masih bisa sama-sama rawat dia..",
Javas berdiri.
Dia menarik Kinara dan membawa istrinya mendekati Ze.
"Kamu liat anak kita? liat baik-baik..",
Kali ini Javas terdengar emosional.
"Kamu tega hancurin masa depan dia Na? nggak ada anak yang bahagia di saat kedua orang tuanya pisah. Kalo dikasih pilihan, mungkin lebih memilih untuk tidak dilahirkan dari kedua orang tua seperti kita. Kamu bilang apa tadi? kita masih bisa sama-sama besarin Ze? iya bisa, tapi nggak bisa sepenuhnya. Kamu punya pasangan baru, begitu pula aku. Kita punya keluarga baru, dan kita sibuk dengan keluarga kita masing-masing. Siapa yang perhatiin dia? mommy? Daddy? Kak Sharen? Jaz? ya..mereka bisa.., tapi Ze pasti lebih bahagia kalo dibesarkan sama kita. Kamu mau tau contohnya orang yang kecewa karena nggak dibesarkan sama orang tua kandungnya? nggak usah jauh-jauh, kamu sendiri. Gimana rasanya kamu dibesarin sama nenek, terus liat bapak kamu sama keluarga barunya? gimana perasaan kamu Na..? hancur? kecewa kan? kamu mau liat Ze seperti itu..?",
Kinara berkaca-kaca. Apalagi, ketika melihat wajah polos Ze yang tertidur dengan mulutnya yang mengeny*ot seperti saat dia menyusu.
"Tolong Ze, jangan biarkan dia kecewa sama keadaan kita Na.., maafin mas sayang, kasih kesempatan Ze untuk punya keluarga yang utuh, aku, kamu sama adik-adiknya kelak...",
Kinara justru menangis.
"Kita perbaiki pernikahan kita, mas cinta sama kamu, mas sayang sama Ze. Kita besarin Ze sama-sama.." ucap Javas dengan memeluk Kinara yang sudah sesenggukkan. Tidak menolak, Kinara menangis di pelukan Javas.
__ADS_1
"Besok Mommy sama Daddy mau bicara sama kita, termasuk sama kak Sharen. Mas mohon sama kamu, bilang ke mereka kalo kamu masih mau lanjutin pernikahan kita sayang. Masa depan mas ada di tangan kamu..",